Mereka bilang bahwa hujan adalah cara langit berduka bagi orang-orang yang kehilangan.

Mereka bilang hujan adalah cara langit ikut menangis untuk orang-orang yang ditinggalkan. Namun malam itu, hujan dingin yang mengguyur Jakarta terasa terlalu kecil untuk membasuh seluruh luka yang menumpuk di dalam dadaku.

Namaku Clara. Aku berlutut di atas tanah basah di TPU San Diego Hills, tepat di depan makam ibuku yang baru saja ditutup beberapa jam sebelumnya. Bibirku pecah, darah menetes perlahan ke mantel hitam yang sudah kusam. Dengan kedua tangan gemetar, aku memeluk perutku yang telah membesar, melindungi kehidupan kecil yang sudah lima bulan tumbuh di dalam sana.

Tetapi rasa sakit dari pukulan yang baru saja kuterima masih kalah dibandingkan tatapan penuh kebencian dari perempuan yang berdiri di depanku.

“Kau cuma pembantu, tapi berani merebut suamiku?”

Suara Isabella menusuk telingaku. Putri tunggal Senator Armand Wijaya itu berdiri angkuh di bawah payung hitam yang dipegang pengawalnya. Di belakangnya, enam pria berbadan besar berjaga seperti tembok hidup.

Tamparan yang baru saja mendarat di pipiku masih terasa panas.

“Aku sudah melihat cara Marcus memandangmu,” lanjutnya sambil menendang bunga yang kubawa untuk ibuku. “Sekarang kau hamil. Berapa uang yang kau mau supaya kau menghilang dari kota ini?”

Aku mengangkat wajah. Air hujan bercampur darah mengalir di pipiku.

“Anak ini bukan anak Marcus.”

Isabella tertawa mengejek.

“Jangan bohong. Perempuan sepertimu tidak mungkin bisa mendekati pria lain.”

Aku ingin membalas, tetapi tubuhku terlalu lelah. Ibuku baru meninggal tiga hari sebelumnya akibat gagal ginjal. Semua tabunganku habis untuk biaya rumah sakit. Setelah dipecat dari rumah keluarga senator, aku bahkan tak mampu menyewa apartemen kecil lagi.

“Aku tidak menginginkan apa pun dari keluargamu,” kataku pelan.

Tatapan Isabella berubah dingin.

“Kalau begitu, jangan pernah muncul lagi.”

Ia berbalik pergi bersama para pengawalnya, meninggalkanku sendirian di tengah hujan.

Begitu mobil-mobil hitam mereka menghilang, aku akhirnya menangis.

Bukan karena tamparan itu.

Bukan karena hinaan yang kuterima.

Tetapi karena aku benar-benar sendirian.

Ayahku meninggal saat aku masih kecil. Ibuku bekerja sebagai perawat hingga tubuhnya tak sanggup lagi. Aku diterima bekerja di rumah keluarga senator dua tahun lalu sebagai pengurus administrasi. Di sanalah aku mengenal Marcus, suami Isabella, seorang politikus muda yang ambisius.

Marcus memang tampan dan pandai berbicara, tetapi di balik senyumnya, ia adalah pria yang haus kekuasaan. Beberapa kali ia mencoba mendekatiku dengan cara yang membuatku tak nyaman. Aku selalu menolak.

Semuanya berubah enam bulan sebelumnya.

Saat itu, ibuku mendadak kritis dan membutuhkan operasi mahal. Aku berlari ke berbagai tempat mencari pinjaman, tetapi tak ada yang mau membantu. Malam itu, dalam keputusasaan, aku duduk sendirian di ruang tunggu rumah sakit.

Di situlah aku bertemu dengannya.

Pria itu mengenakan kemeja sederhana dan topi hitam. Tidak ada yang mengenalinya. Ia duduk di sebelahku sambil menyerahkan sebotol air mineral.

“Kau belum makan sejak pagi.”

Aku menatapnya heran.

“Apa kita saling kenal?”

Pria itu tersenyum tipis.

“Mungkin belum.”

Namanya Adrian.

Selama beberapa hari berikutnya, ia sering muncul di rumah sakit. Kadang membawa makanan, kadang membantu mengurus administrasi. Aku tidak pernah bertanya terlalu jauh tentang pekerjaannya karena ia selalu mengalihkan pembicaraan.

Yang kutahu hanya satu hal: bersamanya, aku merasa tenang.

Malam sebelum operasi ibuku, aku menangis sendirian di tangga darurat rumah sakit. Adrian menemukanku di sana.

“Aku takut kehilangan satu-satunya keluarga yang kumiliki.”

Tanpa berkata apa-apa, ia memelukku.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa tidak sendirian.

Hubungan kami berkembang begitu cepat, mungkin terlalu cepat. Kami sama-sama terluka dan saling menemukan di waktu yang tidak tepat. Selama beberapa minggu, Adrian menjadi tempatku bersandar.

Lalu, suatu pagi, ia menghilang.

Nomornya tidak aktif. Apartemen yang pernah ia sebut ternyata kosong. Tidak ada jejak apa pun.

Beberapa hari setelah kepergiannya, aku menyadari bahwa aku hamil.

Aku mencoba mencarinya, tetapi gagal.

Bersamaan dengan itu, Marcus mulai menyebarkan rumor bahwa aku sengaja hamil demi memeras keluarganya. Isabella mempercayai semua kebohongan itu. Aku dipecat tanpa diberi kesempatan menjelaskan.

Kini, berdiri di depan makam ibuku, aku merasa hidupku telah runtuh.

Tiga hari kemudian, aku kembali ke kamar kontrakan kecilku di pinggiran Jakarta. Pemilik kontrakan mengetuk pintu.

“Clara, maaf. Kalau bulan depan belum bisa bayar, kau harus pindah.”

Aku hanya mengangguk.

Malam itu, perutku mendadak sakit. Aku terjatuh di lantai dan hampir pingsan.

Tiba-tiba telepon genggamku berdering.

Nomor tak dikenal.

Dengan tangan gemetar, aku mengangkatnya.

“Apakah saya berbicara dengan Nona Clara?”

“Ya.”

“Mohon maaf mengganggu. Kami dari Blackwood International ingin bertemu dengan Anda.”

Aku mengernyit.

“Ada kesalahan.”

“Tidak, Nona. Mobil kami sudah menunggu di bawah.”

Jantungku berdegup kencang.

Dari jendela kontrakan, aku melihat tiga mobil hitam mewah berhenti di depan gang sempit. Tetangga-tetangga mulai keluar rumah.

Seorang pria tua berjas turun dari mobil dan membungkuk begitu melihatku.

“Nona Clara, Tuan Adrian meminta kami menjemput Anda.”

Namanya menghantam dadaku seperti petir.

“Adrian?”

Pria itu mengangguk.

“Tuan Adrian Blackwood.”

Aku membeku.

Nama itu tidak asing.

Blackwood International adalah perusahaan investasi terbesar yang berbasis di Boston dengan jaringan bisnis di Asia. Pendirinya, Richard Blackwood, dikenal sebagai salah satu orang paling berpengaruh di dunia keuangan.

“Siapa Adrian sebenarnya?”

Pria tua itu tampak ragu.

“Dia adalah pewaris tunggal keluarga Blackwood.”

Dunia di sekelilingku terasa berhenti.

Aku teringat pria sederhana yang membawakanku mi instan di rumah sakit, pria yang duduk bersamaku hingga larut malam, pria yang menghilang tanpa penjelasan.

“Kalau dia begitu kaya, kenapa dia meninggalkanku?”

Wajah pria tua itu mendadak muram.

“Karena enam bulan lalu, pesawat pribadi yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di Samudra Atlantik.”

Tubuhku limbung.

“Tidak mungkin…”

“Semua orang mengira beliau meninggal. Tetapi dua minggu lalu, Tuan Adrian ditemukan hidup di sebuah desa nelayan. Ia kehilangan ingatan selama berbulan-bulan.”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

“Di mana dia sekarang?”

“Di Singapura. Dan ada sesuatu yang harus Anda ketahui.”

Pria tua itu menyerahkan sebuah amplop.

Di dalamnya terdapat foto hasil pemeriksaan medis.

Tanganku gemetar ketika membaca nama Adrian.

Tumor otak stadium lanjut.

“Ingatan Tuan Adrian baru kembali sebagian. Hal pertama yang ia ingat adalah nama Anda.”

Dua hari kemudian, aku terbang ke Singapura.

Rumah sakit tempat Adrian dirawat terlihat lebih seperti hotel mewah. Namun semua kemewahan itu tidak mampu menyembunyikan kenyataan bahwa pria yang kucintai sedang berjuang melawan waktu.

Ketika aku memasuki kamarnya, Adrian sedang menatap keluar jendela.

Ia menoleh perlahan.

Matanya membesar.

“Clara?”

Aku tidak mampu menjawab. Air mata sudah lebih dulu mengalir.

Ia bangkit dengan susah payah dan mendekat.

“Aku mencarimu…”

Aku memukul dadanya pelan sambil menangis.

“Kau pergi begitu saja.”

“Aku bahkan tidak ingat siapa diriku sendiri.”

Tangannya berhenti di perutku yang membesar.

Tatapannya berubah.

“Apakah…”

Aku mengangguk.

“Ini anakmu.”

Adrian menutup mata. Bahunya bergetar.

Selama berminggu-minggu berikutnya, aku tinggal di Singapura. Untuk pertama kalinya, aku mengetahui siapa Adrian sebenarnya.

Ia bukan sekadar pewaris perusahaan raksasa. Di balik kekuasaan keluarganya, hidupnya penuh tekanan. Sejak kecil, ia dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya. Ia melarikan diri ke Indonesia demi merasakan kehidupan biasa.

Dan di rumah sakit kecil itulah, ia bertemu denganku.

Suatu malam, saat kami duduk berdua, Adrian berkata pelan, “Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan pernah biarkan anak kita hidup dalam kebencian.”

Aku menggenggam tangannya erat.

“Kau akan sembuh.”

Tetapi dokter tidak menjanjikan apa pun.

Sementara itu, berita tentang hubunganku dengan Adrian mulai tersebar. Media menemukan fakta bahwa aku pernah bekerja di rumah keluarga senator. Marcus dan Isabella panik.

Beberapa hari kemudian, mereka datang ke rumah sakit.

Untuk pertama kalinya, Isabella tidak lagi terlihat angkuh.

Ia menatap Adrian dengan wajah pucat.

Marcus mencoba tersenyum.

“Ternyata ada kesalahpahaman.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Adrian yang duduk di kursi roda menatap mereka dingin.

“Kau yang menyebarkan fitnah tentang Clara?”

Marcus terdiam.

“Aku…”

Belum sempat ia menjawab, pria tua kepercayaan keluarga Blackwood melangkah maju dan menyerahkan setumpuk dokumen.

“Tim hukum kami telah mengumpulkan bukti pemerasan, penyalahgunaan dana kampanye, dan pelecehan yang dilakukan Tuan Marcus.”

Wajah Marcus langsung memutih.

Isabella menoleh tidak percaya.

“Apa maksudnya ini?”

Pria itu menjawab singkat.

“Karier politik suami Anda berakhir hari ini.”

Marcus berteriak marah, tetapi petugas keamanan sudah menggiringnya keluar.

Isabella berdiri mematung. Untuk pertama kalinya, tidak ada kekuasaan ayahnya yang bisa menyelamatkan keadaan.

Sebelum pergi, ia menatapku.

“Aku menampar orang yang salah.”

Aku mengusap perutku pelan.

“Bukan itu kesalahan terbesarmu. Kesalahanmu adalah percaya pada orang yang salah.”

Beberapa bulan kemudian, anakku lahir.

Seorang bayi laki-laki dengan mata yang sangat mirip Adrian.

Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar.

Pada suatu pagi yang tenang, dokter memanggilku.

Operasi Adrian gagal.

Aku berlari menuju kamarnya.

Ia terbaring lemah, tetapi tersenyum saat melihatku menggendong bayi kami.

Dengan sisa tenaganya, ia menyentuh wajah putranya.

“Aku menyesal tidak punya cukup waktu.”

Air mataku jatuh.

“Kau memberinya sesuatu yang lebih penting.”

“Apa?”

“Cinta.”

Adrian tersenyum.

Beberapa menit kemudian, monitor di samping tempat tidurnya berbunyi panjang.

Dan dunia seolah berhenti.

Dua tahun berlalu.

Aku kembali ke Jakarta bersama putraku, Ethan.

Suatu sore, kami mengunjungi makam ibuku. Hujan turun pelan, persis seperti hari ketika hidupku berubah.

Ethan yang masih kecil menunjuk foto Adrian yang kusimpan.

“Ayah ada di mana?”

Aku memeluknya.

“Dia ada di tempat yang sangat jauh.”

“Apakah Ayah hebat?”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

“Bukan karena dia kaya atau berkuasa. Ayahmu hebat karena dia mengajarkan Ibu bahwa cinta sejati tidak melihat siapa kita, dari mana kita berasal, atau seberapa besar dunia memisahkan kita.”

Ethan mengangguk meski belum sepenuhnya mengerti.

Saat kami hendak pergi, sebuah mobil hitam berhenti di dekat makam. Pria tua kepercayaan keluarga Blackwood turun sambil membawa sebuah kotak kecil.

“Ada sesuatu yang ditinggalkan Tuan Adrian untuk diberikan ketika Ethan berusia dua tahun.”

Dengan tangan gemetar, aku membuka kotak itu.

Di dalamnya ada sebuah surat dan rekaman video.

Aku menekan tombol putar.

Wajah Adrian muncul di layar.

Jika kalian sedang menonton ini, berarti aku sudah tidak ada. Clara, maaf karena aku datang ke hidupmu hanya untuk pergi begitu cepat. Tetapi terima kasih karena telah memberiku kehidupan yang selama ini tidak pernah kumiliki.

Lalu ia menatap kamera sambil tersenyum.

Untuk putraku, jika suatu hari kau bertanya siapa ayahmu, jangan dengarkan cerita tentang perusahaan, uang, atau kekuasaan. Ingatlah satu hal: ayahmu pernah menjadi pria paling kaya di dunia, bukan karena hartanya, melainkan karena pernah dicintai oleh ibumu.

Aku memeluk Ethan erat-erat sementara hujan kembali turun.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam di makam itu, aku tidak lagi merasa sendirian.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang