Hari pemakamanku seharusnya menjadi akhir dari segalanya. Setidaknya, itulah yang diyakini Roman.
Aku berdiri di seberang jalan, di bawah langit Jakarta yang mendung, memeluk putraku yang baru berusia satu bulan. Wajahku tersembunyi di balik kacamata hitam dan syal tebal. Dari kejauhan, aku melihat deretan mobil mewah memenuhi halaman kapel. Karangan bunga berjejer di sepanjang pintu masuk, masing-masing bertuliskan kalimat belasungkawa yang terdengar begitu munafik.

Di tengah kerumunan, Roman berdiri mengenakan jas hitam yang sempurna. Kepalanya tertunduk, tetapi dari tempatku berdiri, aku masih bisa melihat senyum tipis yang sesekali muncul di bibirnya. Di sampingnya ada Vanessa, sahabatku sendiri, perempuan yang dulu sering datang ke rumah membawa makanan dan hadiah untuk calon bayiku.
Kini, dia berdiri di sisi suamiku.
Tangannya menyentuh lengan Roman dengan lembut, seolah-olah sedang menghibur seorang duda yang patah hati.
Dadaku terasa sesak, bukan karena kesedihan, melainkan karena kemarahan yang nyaris membuatku kehilangan kendali. Aku menunduk menatap bayi di pelukanku yang tertidur tenang.
“Aku janji,” bisikku pelan. “Mereka akan membayar semuanya.”
Selama sebulan terakhir, aku bersembunyi di sebuah rumah kecil di Bandung milik Pak Arman, penjaga gunung yang menyelamatkanku malam itu. Pria tua itu hidup sederhana bersama istrinya dan tidak pernah bertanya terlalu banyak tentang masa laluku. Namun, dia tahu seseorang telah mencoba membunuhku.
“Apa yang akan kamu lakukan setelah sembuh?” tanyanya suatu malam.
Aku menatap putraku yang sedang tidur.
“Aku akan merebut kembali hidupku.”
Pak Arman menghela napas panjang.
“Balas dendam tidak selalu menyembuhkan luka.”
“Mungkin,” jawabku. “Tapi membiarkan mereka menang akan menghancurkanku.”
Aku tidak lagi menjadi Celeste yang dulu. Perempuan lembut yang percaya bahwa cinta mampu mengalahkan segalanya telah mati di jurang bersalju itu. Yang tersisa hanyalah seorang ibu yang bersedia melakukan apa pun demi anaknya.
Beberapa hari kemudian, aku mulai mencari jawaban.
Dengan bantuan seorang teman lama ayahku bernama Adrian Wijaya, seorang pengacara senior yang dulu sangat kuhormati, aku mengetahui sesuatu yang membuat darahku membeku.
Polis asuransi lima puluh juta dolar itu hanyalah sebagian kecil dari rencana Roman.
Ayahku ternyata meninggalkan saham perusahaan keluarga senilai ratusan miliar rupiah atas namaku dan putraku. Jika aku meninggal sebelum melahirkan, seluruh aset itu akan jatuh ke tangan Roman sebagai wali sah.
Semuanya telah direncanakan dengan sempurna.
Pernikahan kami.
Liburan ke pegunungan.
Bahkan tanggal keberangkatan.
Roman tidak hanya ingin membunuhku. Dia ingin menghapus seluruh garis keturunanku.
“Ada sesuatu yang lebih buruk,” kata Adrian sambil menyerahkan sebuah map.
Di dalamnya terdapat foto-foto Roman dan Vanessa yang diambil beberapa bulan sebelum kecelakaanku. Mereka sudah menjalin hubungan diam-diam sejak lama.
Aku menatap foto itu tanpa berkedip.
Vanessa pernah menemaniku memilih pakaian bayi.
Dia pernah memegang tanganku saat aku menangis karena mual selama kehamilan.
Sementara di belakangku, dia tidur dengan suamiku.
“Aku ingin menghancurkan mereka,” kataku.
Adrian menggeleng pelan.
“Kamu tidak bisa melakukannya dengan emosi. Kamu harus lebih cerdas dari mereka.”
Untuk pertama kalinya sejak malam di jurang itu, aku mulai menyusun rencana.
Secara hukum, dunia menganggapku sudah mati. Itu memberiku keuntungan yang tidak dimiliki Roman.
Aku menjual beberapa perhiasan warisan ibuku dan menyewa seorang penyelidik swasta. Selama berminggu-minggu, kami mengikuti setiap langkah Roman.
Dan semakin banyak yang kami temukan, semakin menjijikkan kenyataannya.
Roman tidak berduka.
Dua minggu setelah pemakamanku, dia dan Vanessa pindah ke penthouse mewah di kawasan SCBD. Mereka mengadakan pesta hampir setiap malam. Uang asuransi yang belum sepenuhnya cair sudah lebih dulu mereka habiskan.
Namun, ada sesuatu yang lebih mengejutkan.
Roman ternyata terlilit utang besar akibat investasi bodong dan perjudian ilegal. Jika uang asuransi tidak cair dalam beberapa bulan, dia akan bangkrut.
Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu.
Bagiku, pembalasan bukan lagi soal membuatnya menderita.
Aku ingin memastikan dia kehilangan semua yang telah dia bunuh demi mendapatkannya.
Kesempatan itu datang lebih cepat dari yang kuduga.
Tiga bulan setelah “kematianku”, perusahaan ayahku mengadakan gala tahunan di sebuah hotel mewah di Jakarta Selatan. Roman hadir sebagai duda pewaris keluarga, sementara Vanessa datang mengenakan gaun merah menyala.
Malam itu, seluruh pengusaha dan media ternama berkumpul.
Dan aku memilih malam itu untuk kembali.
Aku masuk melalui pintu utama dengan gaun hitam sederhana. Rambutku dipotong pendek. Tidak ada yang mengenaliku pada awalnya.
Hingga aku berdiri tepat di belakang Roman.
“Apakah kamu menikmati uangku?”
Tubuhnya membeku.
Perlahan, dia berbalik.
Wajahnya pucat seketika.
Gelas anggur di tangannya jatuh dan pecah di lantai marmer.
“Tidak mungkin…” bisiknya.
Vanessa mundur beberapa langkah sambil menutup mulutnya.
Semua orang memandang kami.
“Aku rasa kalian berdua tampak seperti melihat hantu,” kataku tenang.
Keributan memenuhi ruangan. Kamera ponsel mulai terangkat. Beberapa wartawan berlari mendekat.
Roman mencoba memegang tanganku.
“Celeste… dengarkan aku…”
Aku menepis tangannya.
“Jangan sentuh aku.”
Dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang, aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di gunung. Tentang dorongan itu. Tentang malam ketika aku melahirkan sendirian di tengah salju. Tentang pengkhianatan yang telah direncanakan.
Roman tertawa gugup.
“Dia tidak waras. Trauma membuatnya berhalusinasi.”
Aku sudah menduga dia akan berkata begitu.
Lalu Adrian melangkah ke depan.
Di layar besar ballroom, muncul rekaman dari kamera keamanan kabin pegunungan yang berhasil ditemukan penyelidik.
Semua orang terdiam.
Dalam video itu, Roman terlihat berbicara dengan Vanessa melalui telepon beberapa menit sebelum membawaku ke jurang.
Suara Roman terdengar jelas.
“Besok semuanya selesai. Setelah dia mati, kita akan memiliki semuanya.”
Vanessa langsung terduduk.
Roman berteriak marah dan mencoba mematikan layar, tetapi petugas keamanan hotel menahannya.
Aku mengira semuanya berakhir malam itu.
Aku salah.
Dua hari kemudian, Roman menghilang.
Polisi menemukannya meninggalkan apartemen bersama sejumlah uang tunai dan paspor palsu. Vanessa ditangkap lebih dulu karena keterlibatannya dalam percobaan pembunuhan dan penipuan asuransi.
Sementara Roman menghilang tanpa jejak.
Selama enam bulan berikutnya, hidupku berubah menjadi penantian panjang.
Aku kembali mengurus perusahaan ayahku sambil membesarkan putraku, yang kuberi nama Elian. Setiap malam, aku bertanya-tanya apakah Roman masih berkeliaran di luar sana, menunggu kesempatan untuk kembali.
Aku memasang sistem keamanan di rumah. Aku mengganti nomor telepon. Namun, ketakutan itu tidak pernah benar-benar hilang.
Hingga suatu malam, saat hujan deras mengguyur Jakarta, bel rumahku berbunyi.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Aku melihat layar kamera.
Roman berdiri di depan pagar.
Wajahnya kurus, matanya merah, dan jas mahal yang dulu selalu dia banggakan telah berubah lusuh.
Aku seharusnya memanggil polisi.
Namun, entah mengapa, aku keluar.
Kami berdiri saling berhadapan di bawah hujan.
“Aku hanya ingin melihat anakku,” katanya pelan.
“Kamu tidak punya anak.”
Air hujan mengalir di wajahnya.
“Aku kehilangan semuanya.”
Aku menatap pria di depanku dan nyaris tidak mengenalinya lagi. Dulu, dia tampan, percaya diri, dan penuh ambisi. Kini, dia hanyalah bayangan dari dirinya sendiri.
“Kenapa?” tanyaku akhirnya. “Aku mencintaimu. Kenapa?”
Roman menunduk lama.
Ketika dia berbicara, suaranya nyaris tenggelam oleh hujan.
“Ayahku meninggalkan utang besar. Aku pikir kalau mendapatkan warisanmu, semua masalah akan selesai. Awalnya aku hanya ingin memanfaatkanmu. Tapi lama-kelamaan, aku benar-benar mencintaimu.”
Aku tertawa pahit.
“Orang yang mencintai tidak mendorong istrinya yang hamil ke jurang.”
Matanya berkaca-kaca.
“Aku tahu.”
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.
Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari saku mantel.
Aku langsung mundur ketakutan.
Tetapi benda itu hanyalah sebuah gelang bayi berwarna biru.
“Aku membelinya sebelum semuanya terjadi,” katanya. “Aku tidak pernah sempat memberikannya.”
Aku mengambil gelang itu tanpa berkata apa-apa.
Beberapa detik kemudian, suara sirene terdengar dari kejauhan.
Roman tersenyum kecil.
“Aku sudah menyerahkan diri.”
Aku menatapnya kaget.
Mobil polisi berhenti di depan rumah. Dua petugas turun dan menghampirinya.
Sebelum mereka membawanya pergi, Roman menoleh untuk terakhir kali.
“Aku tidak meminta maaf agar kamu memaafkanku,” katanya lirih. “Aku hanya ingin kamu tahu bahwa monster yang mencoba membunuhmu malam itu akhirnya membunuh dirinya sendiri.”
Dia pergi tanpa menoleh lagi.
Aku berdiri sendirian di bawah hujan, menggenggam gelang kecil itu.
Beberapa bulan kemudian, Roman dijatuhi hukuman penjara bertahun-tahun atas percobaan pembunuhan, penipuan, dan konspirasi kriminal. Vanessa menerima hukuman yang lebih ringan karena bekerja sama dengan penyelidikan.
Orang-orang sering bertanya apakah aku merasa puas setelah semuanya berakhir.
Jawabannya tidak pernah sederhana.
Balas dendam memang membawaku kembali pada keadilan, tetapi tidak pernah mengembalikan malam-malam yang hilang, rasa percaya yang hancur, atau perempuan yang pernah begitu mencintai tanpa syarat.
Namun, setiap pagi ketika Elian tertawa dan menggenggam jariku, aku menyadari sesuatu.
Mereka memang pernah mencoba menguburku di bawah salju dan kebohongan.
Tetapi terkadang, hal paling kuat yang bisa dilakukan seseorang bukanlah membalas dendam.
Melainkan bertahan hidup, bangkit kembali, dan membuktikan bahwa bahkan setelah dikhianati oleh orang yang paling dicintai, hati manusia masih mampu memilih untuk terus melangkah.
