Ruangan salon mendadak menjadi sunyi sesaat setelah air dingin itu mengguyur seluruh tubuh Alya.

Jam dinding di sudut salon mewah itu baru saja menunjukkan pukul satu siang ketika Alya duduk tenang sambil membolak-balik majalah mode. Di luar gedung, lalu lintas Jakarta masih dipenuhi suara klakson dan hiruk-pikuk kota, tetapi di dalam ruangan beraroma bunga melati itu, suasana mendadak berubah mencekam sejak seorang wanita bernama Siska Amanda melangkah masuk.

Dengan tas bermerek yang menggantung di lengannya dan sepatu hak tinggi mengilap, Siska berhenti tepat di depan Alya. Tatapannya dipenuhi penghinaan.

“Kenapa salon ini membiarkan orang seperti dia masuk ke sini?” tanyanya ketus kepada para pegawai.

Tari, salah satu pegawai salon, buru-buru menghampiri sambil meminta maaf. Namun permintaan maaf itu tidak cukup memuaskan Siska. Wanita itu justru semakin menjadi-jadi, mengolok pakaian sederhana Alya dan menyebutnya tidak pantas berada di tempat semewah itu.

Alya sebenarnya sudah terbiasa dipandang rendah sejak memutuskan meninggalkan kehidupan lamanya lima tahun lalu. Dulu, ia adalah putri bungsu keluarga Wijaya, keluarga konglomerat asal Surabaya yang menguasai bisnis properti, pelayaran, dan investasi di berbagai kota besar Indonesia. Namun demi cinta kepada Rendra Pratama, pria yang saat itu belum memiliki apa-apa, Alya rela meninggalkan kenyamanan hidupnya.

Ia bahkan menerima kemarahan ayahnya yang merasa putrinya telah membuang masa depan hanya demi seorang pria biasa.

Ketika Siska dengan bangga membuka kotak beludru hitam dan memperlihatkan berlian merah muda senilai puluhan miliar rupiah, jantung Alya seolah berhenti berdetak.

Ia mengenali berlian itu dalam hitungan detik.

Berlian tersebut adalah warisan terakhir dari mendiang ibunya. Lima tahun sebelumnya, Alya pernah menggadaikannya demi membantu Rendra membangun perusahaan kecil yang kini telah berkembang menjadi Pratama Group.

Seminggu lalu, berlian itu hilang dari brankas rumah mereka.

Saat itu, Rendra marah besar, bahkan memecat kepala pelayan tua yang dituduh mencurinya. Alya sempat mengusulkan agar mereka melapor ke polisi, tetapi suaminya menolak mentah-mentah dengan berbagai alasan.

Kini semuanya terasa jelas.

Berlian itu tidak pernah dicuri oleh pelayan mana pun.

Pelakunya adalah pria yang selama ini tidur di sampingnya.

“Suamiku yang memberikannya kepadaku,” kata Siska sambil tersenyum penuh kemenangan. “Namanya Rendra Pratama.”

Untuk sesaat, Alya merasa seluruh ruangan berputar. Namun wajahnya tetap tenang.

Ia hanya memandang wanita itu dan bertanya pelan, “Kapan kalian menikah?”

Siska tertawa mengejek.

“Orang miskin sepertimu tentu tidak akan mengerti dunia kami.”

Percakapan mereka semakin memanas hingga akhirnya Siska menampar Tari hanya karena pegawai itu mencoba menenangkan keadaan. Uang puluhan juta rupiah dilemparkan begitu saja ke lantai, seolah harga diri orang lain bisa dibeli.

Alya yang selama ini diam akhirnya berdiri.

Tatapannya berubah dingin.

“Suatu hari nanti, kesombongan akan menghancurkan orang yang memeliharanya.”

Siska hanya tertawa.

Tak lama kemudian, ponsel wanita itu berdering. Dengan sengaja, ia menyalakan pengeras suara.

Suara Rendra terdengar jelas dari seberang.

“Siapa yang membuat kekasihku menangis?”

Mendengar suara suaminya memanggil wanita lain dengan panggilan mesra, Alya merasa dadanya sesak. Dua hari sebelumnya, Rendra berpamitan kepadanya. Ia mengaku harus terbang ke Amerika Serikat untuk menandatangani kontrak kerja sama bernilai ratusan miliar rupiah.

Ternyata semua itu hanyalah kebohongan.

Pria itu justru berada di Jakarta, menghabiskan waktu bersama wanita lain.

“Cepat datang ke salon,” rengek Siska. “Ada perempuan miskin yang mengaku berlian ini miliknya.”

Rendra tertawa kecil.

“Tunggu aku lima belas menit. Aku akan menunjukkan kepada wanita itu siapa yang sebenarnya berkuasa di kota ini.”

Telepon pun terputus.

Alya memejamkan mata sejenak.

Di dalam hati, sesuatu yang telah ia pertahankan selama bertahun-tahun akhirnya runtuh sepenuhnya.

Tanpa berkata apa-apa, ia mengirim pesan singkat kepada Dimas Wijaya, kakak laki-lakinya.

Datang sekarang.

Hanya dua kata itu.

Dua puluh menit kemudian, pintu salon terbuka.

Rendra masuk dengan langkah tergesa-gesa, mengenakan jas mahal dan jam tangan yang dulu dibelikan Alya sebagai hadiah ulang tahun. Namun begitu matanya bertemu dengan istrinya, seluruh warna di wajahnya lenyap.

“Alya?”

Siska yang masih bergelayut manja di lengannya tampak kebingungan.

“Kalian saling kenal?”

Tidak ada yang menjawab.

Alya berdiri perlahan dan menatap pria yang pernah ia cintai sepenuh hati.

“Perjalanan bisnis ke Amerika berjalan lancar?”

Suasana salon mendadak sunyi.

Rendra membuka mulut, tetapi tak satu kata pun keluar.

“Aku bisa menjelaskan semuanya,” katanya akhirnya.

Alya tersenyum tipis.

“Kalau begitu, jelaskan kenapa berlian ibuku ada di tangan wanita ini.”

Siska tertawa sinis.

“Mas, kenapa kamu diam saja? Tunjukkan invoice pembeliannya.”

Dengan tangan gemetar, Rendra mengeluarkan sebuah map dari tas kerjanya. Namun sebelum ia sempat membuka dokumen itu, suara langkah kaki terdengar dari luar.

Lima orang pria berpakaian jas hitam memasuki salon, diikuti dua polisi dan seorang pria berkacamata.

Seluruh pegawai langsung menyingkir.

Pria berkacamata itu membungkuk hormat di depan Alya.

“Nona Alya Wijaya, semua dokumen telah kami siapkan.”

Wajah Siska mendadak pucat.

“Nona Wijaya?”

Pria itu menyerahkan beberapa berkas.

“Laporan kehilangan berlian telah diterima kepolisian. Selain itu, keluarga Wijaya juga telah membekukan seluruh aset pribadi milik Tuan Rendra Pratama sampai proses penyelidikan selesai.”

Rendra terhuyung.

“Tidak mungkin…”

Alya menatapnya tanpa emosi.

“Perusahaan yang kau banggakan berdiri dengan modal dari keluargaku. Saham mayoritas yang menopang bisnismu berasal dari investasi ayahku. Bahkan koneksi bisnis pertamamu datang melalui kakakku.”

Ruangan menjadi hening.

Maya, pegawai salon yang sebelumnya menyiram Alya dengan air dingin, mundur beberapa langkah sambil gemetar.

Siska memandang Rendra dengan mata berkaca-kaca.

“Mas… siapa dia sebenarnya?”

Pria itu menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Siska melihat ketakutan di wajah lelaki yang selama ini dianggap sempurna.

“Alya adalah istriku.”

Kalimat itu terdengar seperti ledakan.

Tubuh Siska langsung melemas.

“Tidak mungkin…”

Alya mengambil kotak berlian dari tangan wanita itu.

“Dan berlian ini adalah milik keluargaku.”

Tangis Siska pecah saat itu juga.

Namun bagi Alya, rasa sakit yang ia rasakan jauh lebih besar.

Lima tahun lalu, ia pernah memilih meninggalkan keluarganya demi pria itu. Ia rela hidup sederhana, tinggal di rumah biasa, menahan diri untuk tidak menggunakan nama besar Wijaya agar harga diri suaminya tetap terjaga.

Namun pengorbanannya justru dibalas dengan pengkhianatan.

Hari itu, Alya meninggalkan salon tanpa menoleh ke belakang.

Beberapa jam kemudian, berita tentang skandal pemilik Pratama Group menyebar ke seluruh media sosial. Foto Rendra bersama Siska di salon tersebar luas. Nilai saham perusahaan anjlok hanya dalam waktu semalam.

Keesokan paginya, Alya kembali ke Surabaya.

Rumah besar keluarga Wijaya yang sudah lima tahun tidak ia datangi masih berdiri megah seperti dulu. Saat memasuki halaman rumah, ia melihat ayahnya menunggu di teras.

Pria tua itu tampak lebih kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu.

Tanpa sepatah kata pun, ayahnya memeluk Alya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alya menangis di pelukan orang tuanya.

“Ayah minta maaf,” ucap pria itu pelan.

Alya menggeleng sambil menangis.

“Bukan Ayah yang salah.”

Hari-hari berikutnya dipenuhi pertemuan dengan pengacara, pemeriksaan polisi, dan sidang perceraian. Bukti demi bukti bermunculan. Ternyata selama dua tahun terakhir, Rendra diam-diam memindahkan aset perusahaan ke rekening pribadi dan menghabiskan miliaran rupiah untuk membiayai kehidupan mewah Siska.

Lebih mengejutkan lagi, Alya mengetahui bahwa kepala pelayan yang dulu dituduh mencuri berlian ternyata dipaksa menandatangani surat pengakuan palsu.

Dimas segera mengirim orang untuk mencari lelaki tua itu.

Beberapa minggu kemudian, kepala pelayan tersebut ditemukan tinggal sendirian di sebuah kontrakan kecil di pinggiran kota.

Saat Alya datang menemuinya, pria tua itu langsung menangis.

“Saya tahu Nona pasti akan menemukan kebenarannya.”

Tanpa ragu, Alya meminta maaf dan membawanya kembali bekerja di perusahaan keluarga.

Sementara itu, kehidupan Siska berubah drastis.

Keluarganya di Menteng yang selama ini bangga memiliki calon menantu kaya raya mendadak menjadi bahan pembicaraan tetangga. Semua fasilitas mewah yang diberikan Rendra perlahan menghilang.

Pria itu sendiri menghadapi tuntutan hukum dan kehilangan kendali atas perusahaannya.

Suatu sore, beberapa bulan setelah perceraian resmi diputuskan, Rendra datang ke Surabaya.

Ia berdiri di depan kantor pusat Wijaya Group dengan pakaian sederhana dan wajah lelah.

“Aku hanya ingin bicara lima menit,” katanya.

Alya menatap mantan suaminya dari balik meja kerja.

Pria yang dulu penuh ambisi itu kini tampak jauh lebih tua.

“Aku kehilangan semuanya,” bisik Rendra.

Alya terdiam.

“Aku tahu.”

“Aku menyesal.”

Untuk beberapa saat, ruangan itu dipenuhi keheningan.

Kemudian Alya berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota Surabaya.

“Aku dulu pernah kehilangan keluargaku demi dirimu,” katanya pelan. “Aku kehilangan harga diri, waktu, dan kepercayaan. Tapi satu hal yang tidak pernah hilang dariku adalah kesempatan untuk memulai lagi.”

Rendra menunduk.

“Bisakah kau memaafkanku?”

Alya memandang langit senja yang mulai berubah jingga.

“Aku sudah memaafkanmu.”

Wajah Rendra sedikit terangkat.

“Tapi memaafkan bukan berarti mengulang kesalahan yang sama.”

Pria itu tersenyum pahit.

Ia berdiri, membungkuk pelan, lalu berjalan meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.

Setelah pintu tertutup, Alya menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasakan amarah.

Beberapa bulan kemudian, Alya mengambil alih salah satu divisi sosial milik keluarga Wijaya. Ia membangun yayasan pendidikan dan membuka pelatihan kerja bagi perempuan yang kehilangan pekerjaan karena ketidakadilan.

Tari menjadi salah satu orang pertama yang direkrut untuk membantu mengelola program tersebut.

Suatu hari, saat menghadiri acara pembukaan yayasan, Tari bertanya kepadanya.

“Nyonya Alya, setelah semua yang terjadi, apakah Anda tidak pernah menyesal memilih jalan hidup ini?”

Alya tersenyum.

Ia memandang anak-anak yang sedang berlari di halaman yayasan.

“Dulu aku mengira kekayaan adalah sesuatu yang bisa melindungi segalanya,” jawabnya.

“Ternyata yang benar-benar menentukan nilai seseorang bukanlah uang, jabatan, atau berlian puluhan miliar rupiah.”

Tari tersenyum kecil.

“Lalu apa?”

Alya menatap langit biru di atas mereka.

“Cara seseorang memperlakukan orang lain ketika ia merasa memiliki segalanya.”

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alya menyadari bahwa berlian paling berharga yang pernah ia miliki ternyata bukan batu merah muda yang hilang dari brankasnya, melainkan keberanian untuk melepaskan orang yang salah dan memulai hidup yang baru.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang