Dia membungkukkan tubuhnya yang ramping di hadapan saya, mengulurkan kedua tangannya ke arah leher saya, tepat pada dasi yang melingkar erat di kerah kemeja saya, lalu melonggarkannya perlahan dengan gerakan yang sangat hati-hati.

Hujan mengguyur Jakarta tanpa ampun sore itu. Dari balik dinding kaca lantai tertinggi Buenaventura Tower, kota yang biasanya tampak megah berubah menjadi lautan abu-abu yang muram. Petir menyambar langit SCBD, memantulkan cahaya putih ke seluruh ruang kerja pribadi milik Aditya Buenaventura, seorang pria yang selama puluhan tahun dikenal sebagai raja properti paling ditakuti di Indonesia.

Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, lelaki yang selalu berdiri paling tinggi itu justru berlutut di lantai marmer yang dingin.

Tangisnya pecah tanpa kendali.

Di depannya, Siti berdiri dengan mata sembab sambil menggenggam liontin perak tua yang selama ini dianggap telah hilang bersama masa lalu keluarganya.

“Aku tidak datang untuk meminta apa pun, Pak,” ucap Siti pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan. “Ibu hanya ingin aku menemukan keluarga yang selama ini tidak pernah bisa ia lupakan.”

Aditya mengangkat wajahnya perlahan. Air matanya mengalir tanpa henti. Selama empat puluh delapan tahun hidupnya, tidak ada seorang pun yang pernah melihat dirinya menangis. Para direktur takut padanya, para pesaing membencinya, bahkan para pegawainya menganggapnya seperti mesin tanpa perasaan.

Tetapi saat itu, semua topeng yang selama ini ia kenakan runtuh seketika.

“Maya… bagaimana keadaan Maya selama ini?” tanyanya dengan suara serak.

Siti menggigit bibirnya.

“Ibu meninggal tiga bulan lalu.”

Kalimat itu menghantam dada Aditya lebih keras daripada kebangkrutan atau pengkhianatan apa pun yang pernah ia alami.

Ia terduduk lemas.

Bayangan adik perempuannya kembali memenuhi ingatannya. Maya kecil yang selalu mengejarnya di halaman rumah keluarga mereka di Yogyakarta. Maya yang diam-diam menyelipkan surat penyemangat ke tas sekolahnya. Maya yang menangis ketika ayah mereka memutuskan bercerai dengan ibu mereka.

Hari itu, Aditya baru berusia delapan belas tahun ketika ia memilih tinggal bersama ayahnya di Jakarta demi meneruskan bisnis keluarga, sementara Maya mengikuti ibunya kembali ke Yogyakarta. Mereka sempat saling berkirim surat selama beberapa tahun sebelum semuanya terputus begitu saja.

Dan kini, ternyata adiknya telah pergi selamanya.

“Kenapa dia tidak pernah mencariku?” bisik Aditya.

Siti menunduk.

“Ibu pernah mencoba.”

Aditya mengangkat kepalanya.

“Apa maksudmu?”

Siti mengeluarkan sebuah amplop tua dari tas kain lusuhnya. Kertasnya sudah menguning, sudut-sudutnya robek dimakan waktu.

“Ini surat yang Ibu tulis lima belas tahun lalu.”

Dengan tangan gemetar, Aditya membuka amplop itu.

Tulisan tangan Maya memenuhi halaman pertama.

Kak Aditya, aku mendengar perusahaanmu sudah sangat besar sekarang. Aku bahagia mendengarnya. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku baik-baik saja di Yogyakarta. Aku sudah menikah dan punya seorang putri. Namanya Siti.

Kalau suatu hari nanti kau ingin bertemu, kami selalu menunggumu.

Mata Aditya membelalak.

Di bagian bawah surat itu terdapat cap pos Jakarta, tetapi amplopnya kembali ke pengirim dengan tulisan besar berwarna merah.

Alamat tidak ditemukan.

Aditya terdiam.

Tiba-tiba ingatannya melompat ke lima belas tahun lalu, ketika ayahnya yang keras kepala memindahkan seluruh kantor pusat Buenaventura Group ke gedung baru. Semua surat yang dikirim ke alamat lama memang tidak pernah sampai.

Ia menatap Siti dengan napas tercekat.

“Dia benar-benar mencoba mencariku?”

Siti mengangguk.

“Ibu tidak pernah membencimu, Pak.”

Kalimat itu justru membuat hati Aditya semakin hancur.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Aditya meminta seluruh rapat bisnis dibatalkan. Ia mengantar Siti pulang ke kamar pembantu di lantai bawah dengan langkah lambat, seperti orang yang baru saja kehilangan arah hidup.

Namun, sejak pertemuan itu, sesuatu mulai berubah di dalam dirinya.

Keesokan paginya, para pegawai dibuat terkejut ketika Aditya turun ke ruang makan tanpa jas mahalnya. Ia duduk bersama para staf rumah, meminum kopi yang sama, dan bahkan bertanya tentang keluarga mereka.

Semua orang saling bertukar pandang.

Mereka mengira bos mereka sedang sakit.

Tetapi perubahan terbesar terjadi beberapa minggu kemudian.

Aditya diam-diam pergi ke Yogyakarta bersama Siti. Mereka mengunjungi rumah kecil tempat Maya menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya.

Rumah itu sederhana. Dindingnya kusam. Atapnya bocor di beberapa bagian.

Aditya berdiri mematung di depan kamar sempit milik adiknya.

Di atas meja kayu tua, masih tersimpan foto-foto masa kecil mereka.

Ada foto ketika mereka bermain layang-layang.

Ada foto ulang tahun Maya.

Dan ada satu foto yang membuat napas Aditya berhenti.

Foto dirinya.

Foto yang diambil hampir tiga puluh tahun lalu.

Maya ternyata menyimpan semuanya.

Siti berdiri di belakangnya.

“Ibu sering bercerita tentang Bapak.”

Aditya menoleh.

“Apa yang dia katakan?”

Siti tersenyum tipis.

“Katanya, Kak Aditya adalah orang paling baik yang pernah ia kenal. Hanya saja, hidup membuatnya terlalu sibuk untuk kembali pulang.”

Aditya menutup wajahnya.

Untuk kedua kalinya, ia menangis.

Sejak saat itu, hubungan mereka perlahan berubah. Siti tidak lagi hanya menjadi pembantu di rumah mewah Buenaventura. Ia menjadi satu-satunya keluarga yang tersisa bagi Aditya.

Namun, tidak semua orang menyukai perubahan itu.

Berita bahwa seorang pembantu desa tiba-tiba tinggal dekat dengan Aditya Buenaventura mulai menyebar ke mana-mana.

Media gosip berspekulasi.

Para direktur perusahaan mulai berbisik.

Dan orang yang paling marah adalah Leonard Wijaya, tangan kanan Aditya yang telah bekerja bersamanya selama dua puluh tahun.

Leonard merasa posisinya terancam.

Selama bertahun-tahun, ia adalah orang kepercayaan Aditya. Dialah yang mengatur proyek, investasi, bahkan keuangan pribadi bosnya.

Suatu malam, Leonard mendatangi ruang kerja Aditya.

“Pak, saya harap Bapak berhati-hati.”

Aditya mengangkat pandangan dari dokumen.

“Hati-hati terhadap siapa?”

“Perempuan itu.”

“Siti?”

Leonard mengangguk.

“Orang bisa berubah ketika melihat uang sebanyak itu.”

Dulu, Aditya pasti akan langsung mempercayainya.

Tetapi sekarang, sesuatu terasa aneh.

“Kenapa kau begitu yakin?”

Leonard terdiam beberapa detik.

“Saya hanya khawatir.”

Untuk pertama kalinya, Aditya tidak menjawab.

Sejak malam itu, kecurigaan lama yang selama ini memenuhi hidupnya muncul kembali, tetapi kali ini arahnya berbeda.

Ia mulai memeriksa laporan keuangan perusahaan yang selama bertahun-tahun hanya ditandatangani tanpa dibaca.

Dan apa yang ia temukan membuat darahnya membeku.

Ada dana proyek senilai ratusan miliar rupiah yang menghilang.

Ada transaksi mencurigakan ke perusahaan-perusahaan asing.

Ada dokumen palsu.

Semua jejak mengarah kepada satu orang.

Leonard.

Aditya tidak bisa tidur sepanjang malam.

Ironisnya, selama bertahun-tahun ia telah mencurigai sebelas pembantu yang tidak bersalah, sementara orang yang benar-benar menggerogoti kerajaannya justru duduk di sebelahnya setiap hari.

Beberapa hari kemudian, ia memanggil tim audit independen secara diam-diam.

Hasil penyelidikan mengungkap fakta yang lebih mengejutkan.

Leonard telah mencuri uang perusahaan selama hampir sepuluh tahun.

Jumlahnya mencapai lebih dari dua triliun rupiah.

Tetapi yang paling menghancurkan bukanlah uang itu.

Melainkan alasan di balik semuanya.

Leonard ternyata adalah putra dari mantan mitra bisnis ayah Aditya yang bangkrut puluhan tahun lalu. Ia menyimpan dendam kepada keluarga Buenaventura dan sengaja mendekati Aditya sejak muda untuk menghancurkan perusahaan dari dalam.

Malam ketika semua bukti terkumpul, Aditya memanggil Leonard ke ruang kerja yang sama, ruangan tempat ia pernah berpura-pura tidur untuk menjebak Siti.

Hujan kembali turun seperti malam itu.

Leonard masuk sambil tersenyum.

“Ada yang ingin dibicarakan, Pak?”

Aditya duduk tenang.

“Selama ini, aku selalu mengira orang miskin yang akan mencuriku.”

Leonard mengernyit.

“Apa maksud Bapak?”

Aditya melemparkan setumpuk dokumen ke atas meja.

Wajah Leonard langsung pucat.

“Aku menguji banyak orang,” lanjut Aditya pelan. “Aku mengusir sebelas pembantu karena curiga mereka ingin merampokku.”

Leonard mundur selangkah.

“Tapi ternyata, orang yang paling dekat denganku justru pencurinya.”

Keheningan memenuhi ruangan.

Beberapa detik kemudian, Leonard tertawa pahit.

“Kalau begitu, Bapak akhirnya tahu.”

“Ayahmu membenciku?”

“Bukan. Dia membenci ayahmu.”

Leonard mengepalkan tangan.

“Ketika perusahaan keluargaku bangkrut, ayahku bunuh diri. Kalian hidup mewah sementara kami hancur.”

Aditya memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, ia melihat dirinya sendiri dalam diri Leonard.

Dua orang yang sama-sama hidup dipenuhi kebencian.

Tetapi hanya satu yang memilih membalas dendam.

“Aku bisa menyerahkanmu ke polisi malam ini,” kata Aditya.

Leonard tertawa getir.

“Lakukan saja.”

Namun, Aditya hanya menggeleng.

“Aku sudah terlalu lama hidup dengan rasa curiga dan dendam. Aku tidak ingin mengakhirinya dengan cara yang sama.”

Leonard menatapnya tak percaya.

“Apa?”

“Aku akan melaporkan kejahatanmu sesuai hukum. Tapi aku tidak akan membencimu.”

Malam itu, Leonard menyerahkan diri.

Berita penangkapan itu mengguncang dunia bisnis Indonesia selama berminggu-minggu.

Semua orang memuji keberanian Aditya membongkar pengkhianatan terbesar dalam perusahaannya.

Namun, hanya Aditya sendiri yang tahu bahwa orang yang benar-benar menyelamatkannya bukan auditor, bukan pengacara, melainkan seorang perempuan sederhana dari Yogyakarta yang masuk ke rumahnya sambil membawa ember dan kain pel.

Beberapa bulan kemudian, Aditya berdiri di halaman sebuah yayasan baru di Yogyakarta.

Di depan gerbang tertulis nama yang membuat matanya berkaca-kaca.

Yayasan Maya Buenaventura.

Yayasan itu dibangun untuk membantu anak-anak dan perempuan yang kehilangan keluarga.

Siti berdiri di sampingnya.

“Apa Ibu akan senang melihat ini?” tanyanya.

Aditya menatap langit sore yang cerah.

“Aku rasa, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia akhirnya bisa memaafkanku.”

Siti tersenyum.

Lalu, tanpa diduga, Aditya mengeluarkan sebuah map dari tasnya.

“Ada satu hal lagi.”

Siti membuka map itu perlahan.

Di dalamnya terdapat dokumen adopsi resmi.

Ia membeku.

“Pak… ini?”

Aditya tersenyum tipis, senyum yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya.

“Aku kehilangan seorang adik. Aku tidak ingin kehilangan keluarga lagi.”

Air mata Siti jatuh tanpa suara.

Di tengah halaman yayasan yang dipenuhi anak-anak yang sedang bermain, seorang miliarder yang pernah menganggap semua orang memiliki harga akhirnya memahami satu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.

Kepercayaan.

Karena terkadang, harta terbesar dalam hidup bukanlah brankas yang penuh, melainkan seseorang yang tetap memilih menjaga isinya ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang