MANTAN SUAMIKU MENGUNDANGKU KE PERNIKAHAN MEWAHNYA, TAPI DIA TIDAK TAHU BAHWA AKU DATANG SEBAGAI PEMILIK PERUSAHAAN YANG BARU SAJA MEMBELI RESORT TEMPAT RESEPSINYA!

Ruangan itu mendadak sunyi.

Bukan sunyi biasa, melainkan sunyi yang begitu pekat hingga suara gesekan sepatu para pelayan terdengar jelas dari ujung ballroom. Ratusan tamu menatapku, lalu beralih kepada Aditya, kemudian kepada Rizky dan Putri yang berdiri tegak di sampingku.

Wajah Aditya perlahan kehilangan warna.

“Apa maksudmu?” tanyanya dengan suara serak.

Aku mengangkat map hitam di tanganku. “Maksudku sederhana. Lima tahun lalu, kamu meninggalkan seorang istri yang sedang hamil tujuh bulan. Kamu membawa seluruh tabungan kami, memutus semua hubungan, lalu hidup seolah anak-anakmu tidak pernah ada.”

“Itu tidak benar,” katanya cepat. “Aku tidak pernah tahu mereka lahir.”

Aku tertawa kecil, tanpa sedikit pun rasa geli.

“Kamu mengganti nomor telepon. Kamu memblokir semua akun milikku. Kamu mengembalikan surat-surat yang kukirim ke kantor. Bahkan ketika pengacaraku mengirimkan pemberitahuan kelahiran, kamu menyuruh resepsionis mengatakan bahwa kamu tidak mengenal siapa pun bernama Indah.”

Beberapa tamu mulai berbisik.

Aditya melirik ke arah Laras, seakan berharap perempuan itu akan membelanya. Namun Laras justru menatapnya dengan wajah tegang.

“Kamu bilang mantan istrimu kehilangan kandungannya,” ucap Laras pelan.

Aditya tersentak.

Aku menatapnya tajam. “Jadi itu cerita yang kamu buat?”

“Aku bisa menjelaskan.”

“Lima tahun seharusnya cukup untuk menyusun penjelasan yang bagus.”

Direktur resort, Pak Surya, maju selangkah. Ia menyerahkan satu lembar dokumen kepada Aditya.

“Selain tunggakan pembayaran sewa,” katanya, “pihak penyelenggara acara juga melanggar beberapa ketentuan kontrak. Deposit belum dilunasi, penggunaan area helipad tidak dilaporkan, dan pembayaran kepada vendor utama tertunda.”

Laras langsung menoleh kepada ayahnya, Bapak Hartono, yang berdiri tak jauh dari pelaminan.

“Ayah, bukankah semua biaya sudah dibayar?”

Hartono tidak menjawab.

Pria berusia hampir enam puluh tahun itu terlihat jauh lebih gugup daripada Aditya. Tangannya meremas tongkat kayu yang dibawanya sejak tiba. Keringat muncul di pelipisnya meskipun udara di ballroom terasa dingin.

Aku menangkap kegelisahan itu.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Aditya mencoba merebut dokumen dari tangan Pak Surya. “Ini pasti kesalahan administrasi. Keluarga Hartono tidak mungkin menunggak.”

Pak Surya menatapnya tanpa ekspresi. “Pembayaran menggunakan rekening perusahaan PT Arunika Properti. Namun sejak tiga hari lalu, rekening tersebut dibekukan sementara oleh bank karena ada penyelidikan transaksi mencurigakan.”

Ballroom kembali gaduh.

Laras mundur satu langkah.

“Ayah?”

Hartono akhirnya membuka mulut. “Ini hanya persoalan sementara.”

Aku memicingkan mata. Nama PT Arunika Properti terasa familier. Perusahaan itu memang pernah masuk dalam daftar target investasi Santara Group, tetapi tim legal menolaknya karena ditemukan struktur utang yang tidak sehat.

Tiba-tiba sekretarisku, Maya, mendekat dan berbisik di telingaku.

“Madam, tim audit baru saja mengirim informasi penting. PT Arunika diduga memakai dana investor untuk menutup cicilan proyek lama. Ada nama Aditya sebagai direktur operasional.”

Aku menatap Aditya.

Jadi, pesta pernikahan ini bukan hanya pertunjukan kesombongan.

Ini mungkin merupakan usaha terakhir untuk meyakinkan para investor bahwa perusahaan mereka masih kuat.

Aditya mengangkat dagunya. “Jangan berpura-pura berkuasa hanya karena membeli resort ini. Kamu datang untuk mempermalukanku, bukan?”

“Awalnya, aku hanya ingin menunjukkan bahwa hidupku tidak hancur setelah kamu pergi,” jawabku jujur. “Tapi ternyata kamu sudah cukup sibuk menghancurkan hidupmu sendiri.”

Laras tiba-tiba berjalan mendekatiku.

Gaun putihnya menyeret kelopak bunga yang berserakan di lantai. Wajahnya tidak lagi angkuh seperti beberapa menit lalu.

“Apakah anak-anak itu benar-benar anak Aditya?”

Aku menatap kedua anakku.

Putri menggenggam tanganku lebih erat. Rizky berdiri dengan rahang mengeras, berusaha terlihat berani meskipun aku tahu ia sedang gugup.

“Mereka tidak membutuhkan pengakuannya untuk menjadi anak-anak yang berharga,” kataku. “Namun secara biologis, ya.”

“Aku ingin tes DNA,” ujar Aditya cepat, seolah itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan harga dirinya. “Siapa tahu kamu sengaja membawa anak orang lain.”

Rizky menatapnya dengan mata yang begitu mirip dengannya.

“Kami juga tidak yakin ingin punya ayah seperti Anda,” katanya.

Aku terdiam.

Selama perjalanan dari Jakarta, aku sudah mengingatkan Rizky agar tidak terpancing emosi. Namun kalimat itu keluar begitu alami, begitu jujur, hingga terasa lebih kuat daripada semua dokumen yang kubawa.

Aditya menatapnya, lalu membuang muka.

Laras menutup mata beberapa detik. Ketika membukanya kembali, tatapannya berubah.

“Aditya, apakah benar kamu mengambil tabungan Indah saat meninggalkannya?”

“Jangan dengarkan dia.”

“Jawab aku.”

“Itu uangku juga.”

“Apakah benar kamu tahu anak-anak itu lahir?”

Aditya diam.

Laras menatapnya dengan kekecewaan yang perlahan berubah menjadi kemarahan. “Selama ini kamu bilang Indah hanya ingin memanfaatkanmu. Kamu bilang kamu meninggalkannya karena dia berselingkuh. Kamu bilang kandungannya bukan anakmu.”

Para tamu semakin gaduh.

Aku sendiri merasa terkejut. Rupanya kebohongan Aditya jauh lebih banyak daripada yang kubayangkan.

“Laras,” katanya sambil mencoba memegang lengan calon istrinya, “ini bukan tempat yang tepat untuk membahas masa lalu.”

Laras menepis tangannya.

“Justru ini tempat yang tepat. Kamu mengundang seluruh rekan bisnis ayahku, para investor, dan wartawan. Kamu ingin semua orang melihat pernikahan sempurna kita. Sekarang biarkan mereka melihat siapa dirimu sebenarnya.”

Hartono segera maju. “Cukup! Acara harus dilanjutkan. Masalah keluarga diselesaikan nanti.”

“Acara tidak bisa dilanjutkan,” kata Pak Surya. “Pihak resort telah menerima instruksi untuk menghentikan seluruh layanan sampai tunggakan dilunasi.”

Hartono menatapku tajam. “Berapa jumlahnya?”

Aku menyebut angka yang membuat beberapa orang menarik napas.

“Bayar sekarang, dan acara boleh dilanjutkan,” kataku.

Hartono tertawa hambar. “Kamu pikir uang bisa membuatmu lebih terhormat?”

“Bukan aku yang mengadakan pesta dengan uang yang tidak dimiliki.”

Wajahnya memerah.

Tiba-tiba seorang pria berkacamata dari barisan tamu berdiri. Aku mengenalinya sebagai salah satu komisaris PT Arunika.

“Pak Hartono,” katanya, “apakah benar perusahaan tidak memiliki likuiditas untuk membayar acara ini?”

“Duduklah,” bentak Hartono.

Pria itu tetap berdiri. “Minggu lalu Anda mengatakan kondisi keuangan perusahaan sehat. Anda bahkan meminta kami menambah modal untuk proyek baru di Surabaya.”

Tamu lain ikut bersuara.

“Saya juga diminta mentransfer dana tambahan.”

“Proyek apartemen Bekasi belum selesai.”

“Dana kami sebenarnya digunakan untuk apa?”

Dalam hitungan menit, pesta mewah itu berubah menjadi forum kemarahan para investor.

Aditya berdiri kaku di tengah kekacauan. Tidak ada lagi senyum percaya diri. Tidak ada lagi ejekan. Yang tersisa hanya seorang pria yang akhirnya sadar bahwa semua pintu sedang tertutup di hadapannya.

Maya kembali mendekat.

“Polisi dan penyidik dari otoritas keuangan sudah tiba di gerbang,” bisiknya.

Aku mengernyit. “Siapa yang menghubungi mereka?”

“Salah satu komisaris. Rupanya penyelidikan sudah berlangsung beberapa minggu.”

Pintu ballroom terbuka.

Beberapa petugas masuk dengan langkah tegas. Mereka menunjukkan surat tugas kepada Hartono dan Aditya. Suasana langsung semakin kacau.

Aditya mundur. “Ini jebakan!”

Aku menatapnya tanpa bergerak.

“Kamu mengatur semua ini!” teriaknya kepadaku.

“Aku hanya membeli resort yang sedang dijual,” jawabku. “Aku tidak tahu perusahaanmu sedang diselidiki sampai beberapa menit lalu.”

Ia tidak percaya.

Mungkin karena orang seperti Aditya selalu mengira setiap akibat buruk adalah hasil rencana orang lain. Ia tidak pernah memahami bahwa terkadang kehancuran datang dari keputusan-keputusan kecil yang terus diulangi sendiri.

Seorang petugas meminta Aditya menyerahkan telepon genggam dan dokumen perusahaan yang dibawanya. Hartono mencoba protes, tetapi petugas menunjukkan surat penyitaan.

Laras berdiri terpaku.

Aku mendekatinya.

“Kamu tahu soal ini?” tanyaku.

Ia menggeleng pelan. “Aku tahu perusahaan ayah sedang kesulitan. Tapi mereka bilang pernikahan ini akan menarik investor baru. Mereka bilang setelah acara ini, semua masalah selesai.”

Aku menatap dekorasi bunga, lampu kristal, meja-meja berlapis kain mahal, dan ratusan piring makanan yang belum disentuh.

Pernikahan itu rupanya bukan perayaan cinta.

Itu adalah panggung terakhir untuk menyelamatkan reputasi sebuah perusahaan yang hampir runtuh.

Laras tertawa kecil, tetapi air matanya jatuh.

“Aku bodoh.”

“Tidak,” kataku. “Kamu hanya mempercayai orang yang salah.”

Ia menatapku lama. “Bukankah kamu membenciku?”

“Aku pernah membencimu, meskipun kita bahkan belum pernah bertemu. Aku membayangkan kamu merebut suamiku, menikmati uang yang seharusnya untuk kelahiran anak-anak kami.”

“Aditya bilang kalian sudah berpisah ketika kami bertemu.”

“Aku percaya.”

“Kenyataannya?”

“Ketika kalian mulai dekat, aku sedang hamil enam bulan.”

Laras menutup mulutnya.

Untuk pertama kalinya, kemarahanku terhadapnya benar-benar hilang. Ia memang pernah meremehkanku, tetapi ia juga hidup dalam kebohongan yang dibangun Aditya selama bertahun-tahun.

Petugas membawa Hartono ke ruangan terpisah untuk dimintai keterangan. Aditya masih berusaha berdebat, tetapi tidak ada satu pun orang yang membelanya.

Saat ia melewatiku, ia berhenti.

“Indah,” katanya pelan, “tolong katakan kepada mereka bahwa aku ayah dari anak-anakmu. Aku punya keluarga. Mereka mungkin akan mempertimbangkan itu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Bahkan dalam keadaan seperti ini, ia masih melihat anak-anak kami sebagai alat untuk menyelamatkan dirinya.

“Kamu tidak pernah menjadi ayah ketika mereka demam di tengah malam. Kamu tidak ada saat Rizky harus menjalani operasi. Kamu tidak ada ketika Putri bertanya mengapa semua temannya dijemput oleh ayah mereka.”

Wajahnya menegang.

“Tapi kalau kamu benar-benar ingin diakui sebagai ayah,” lanjutku, “ikuti proses hukum. Lakukan tes DNA. Bayar seluruh tanggung jawab yang selama ini kamu abaikan. Setelah itu, anak-anak yang akan menentukan apakah mereka ingin mengenalmu.”

“Aku tidak punya uang sekarang.”

Aku tersenyum pahit. “Lima tahun lalu, aku juga tidak punya uang. Bedanya, aku tidak meninggalkan anak-anakku.”

Petugas membawanya pergi.

Ballroom yang beberapa saat lalu penuh musik kini hanya dipenuhi bisikan dan suara orang-orang menelepon pengacara mereka.

Aku menoleh kepada Rizky dan Putri.

“Kita pulang,” kataku.

Namun Putri menatap meja panjang yang dipenuhi makanan. “Ma, makanannya bagaimana?”

Pertanyaan polos itu membuat beberapa pelayan tersenyum.

Aku memandang ratusan porsi hidangan yang kemungkinan besar akan terbuang. Kemudian sebuah gagasan muncul.

“Pak Surya,” kataku, “batalkan pesta, tetapi jangan buang makanannya. Hubungi rumah singgah, panti asuhan, petugas kebersihan kota, dan pengemudi transportasi daring di sekitar Bandung. Bagikan semuanya.”

Pak Surya mengangguk. “Baik, Madam.”

Rizky menatapku. “Jadi pernikahannya benar-benar selesai?”

Sebelum aku menjawab, Laras berdiri di depan pelaminan. Ia melepas cincin pertunangannya, kemudian meletakkannya di atas meja.

“Pernikahannya memang selesai,” katanya. “Tapi mungkin hidupku baru saja dimulai.”

Beberapa bulan kemudian, kasus PT Arunika menjadi berita nasional. Hartono terbukti memanipulasi laporan keuangan dan mengalihkan dana investor. Aditya, sebagai direktur operasional, tidak bisa menghindari tanggung jawab. Ia mengaku hanya mengikuti perintah, tetapi dokumen digital menunjukkan bahwa ia ikut menandatangani transaksi palsu.

Tes DNA membuktikan bahwa Rizky dan Putri adalah anak biologisnya.

Pengadilan mewajibkannya membayar tanggungan yang tertunda, meskipun jumlahnya harus dicicil dari penghasilan yang tersisa setelah proses hukum selesai.

Aku tidak pernah membawa anak-anak mengunjunginya.

Bukan karena dendam.

Aku hanya menunggu sampai mereka cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri.

Laras memilih meninggalkan perusahaan keluarganya. Ia menjual sebagian perhiasannya dan mendirikan lembaga pendampingan bagi perempuan korban penipuan finansial dalam rumah tangga.

Setahun setelah pernikahan yang gagal itu, ia datang menemuiku di kantor.

“Aku ingin mengembalikan sesuatu,” katanya sambil meletakkan sebuah amplop di meja.

Di dalamnya terdapat salinan bukti transfer lama.

Lima tahun lalu, beberapa minggu setelah Aditya meninggalkanku, seseorang pernah mengirim uang ke rekening kontrakanku. Jumlahnya tidak besar, tetapi cukup untuk membayar biaya persalinan awal. Saat itu aku tidak pernah tahu siapa pengirimnya.

“Itu kamu?” tanyaku.

Laras mengangguk.

“Aku menemukan pesanmu di telepon Aditya. Kamu memohon agar dia mengembalikan sebagian tabungan untuk biaya persalinan. Dia tertawa dan menghapusnya. Aku diam-diam mencatat nomor rekeningmu.”

Aku menatapnya lama.

“Kenapa tidak pernah mengatakan apa-apa?”

“Aku malu. Aku tahu dia masih menikah, tapi aku tetap bersamanya. Mengirim uang tidak menghapus kesalahanku.”

Air mataku jatuh sebelum sempat kutahan.

Selama bertahun-tahun, aku mengira malam persalinan itu bisa kulewati hanya karena keberuntungan. Ternyata bantuan datang dari perempuan yang paling kubenci.

Laras menggenggam tanganku.

“Aku tidak meminta maaf agar kamu memaafkanku.”

Aku menggeleng. “Aku sudah memaafkanmu sejak hari pernikahan itu.”

Pada saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Balas dendam bukanlah saat Aditya kehilangan pesta, kekayaan, atau kebebasannya.

Kemenangan terbesarku adalah ketika aku tidak lagi membutuhkan kehancurannya untuk merasa utuh.

Lima tahun sebelumnya, aku bersumpah tidak akan pernah menangis lagi.

Ternyata aku salah.

Aku masih menangis.

Namun bukan lagi karena merasa lemah.

Aku menangis karena akhirnya tahu bahwa air mata tidak selalu berarti kekalahan. Kadang-kadang, air mata adalah tanda bahwa luka lama telah selesai dibersihkan, dan hidup yang baru benar-benar siap dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang