Ririn tidak menangis di dalam bank.
Air matanya memang sempat jatuh, tetapi begitu lembar rekening koran itu selesai kubaca, ada sesuatu yang berubah di dalam diriku. Rasanya seperti seluruh rasa cinta yang selama delapan tahun kupelihara mendadak membeku menjadi ketenangan yang mengerikan.
Aku melipat perlahan rekening koran itu, memasukkannya ke dalam tas, lalu berdiri.
Aditya mencoba meraih tanganku.
“Ririn… dengarkan aku dulu.”
Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Sudah selesai?”
“Aku bisa jelaskan semuanya.”
“Kalau begitu jelaskan di rumah. Di depan Keysha.”
Wajahnya langsung berubah.
“Jangan libatkan anak.”
Aku hanya tersenyum tipis.
“Aneh sekali. Delapan tahun kamu melibatkan uang ibunya untuk membiayai anak-anak lain, tapi sekarang kamu bilang jangan libatkan anak kita?”
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, Aditya tidak mampu menjawab.
Sepanjang perjalanan pulang menuju apartemen kami di Jakarta Selatan, tak satu pun dari kami berbicara.
Begitu pintu rumah terbuka, Keysha yang baru pulang les langsung berlari memelukku.
“Mama, hari ini aku dapat nilai seratus.”
Aku memeluknya erat.
Sangat erat.
Karena untuk pertama kalinya aku sadar, aku hampir kehilangan masa depan putriku tanpa pernah menyadarinya.
Malam itu, setelah Keysha tertidur, aku meletakkan seluruh rekening koran di atas meja makan.
“Mulai bicara.”
Aditya menarik napas panjang.
“Indah itu…”
Aku memotongnya.
“Jangan bohong lagi.”
Dia menunduk.
“Dia mantan pacarku.”
Aku tertawa kecil.
Tawa yang bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.
“Mantan?”
“Iya.”
“Lalu kenapa selama delapan tahun uangku dikirim kepadanya?”
Aditya menutup mata.
“Karena dia melahirkan anakku.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku tidak marah.
Aku bahkan tidak berteriak.
Aku hanya memandang pria yang duduk di depanku seolah baru pertama kali melihat wajahnya.
“Kapan?”
“Setahun sebelum kita menikah.”
“Jadi… selama ini kamu sudah tahu?”
Dia mengangguk pelan.
“Dia bilang anak itu tanggung jawabku.”
“Satu anak?”
Aditya kembali diam.
Aku sudah hafal kebiasaannya.
Kalau dia diam terlalu lama, berarti kebohongan berikutnya akan lebih besar.
“Berapa?”
“Tiga.”
Aku merasa seluruh udara menghilang dari ruangan.
“Tiga?”
“Iya.”
“Anak pertama lahir sebelum kita menikah.”
“Anak kedua dua tahun setelah kita menikah.”
“Anak ketiga lima tahun lalu.”
Aku menatapnya tajam.
“Artinya selama menjadi suamiku…”
“…kamu tetap hidup bersama wanita itu?”
Air mata akhirnya mengalir di wajahnya.
“Aku tidak pernah tinggal serumah.”
“Aku cuma…”
“Kamu cuma apa?”
“Aku tidak tega meninggalkan mereka.”
Aku mengangguk perlahan.
“Jadi yang kamu tinggalkan justru aku.”
…
Malam itu juga aku menghubungi sahabat lamaku, Nabila.
Ia seorang pengacara keluarga.
Begitu mendengar ceritaku, ia hanya berkata satu kalimat.
“Jangan tandatangani apa pun. Jangan percaya apa pun. Besok pagi kita mulai.”
Esok harinya, kami kembali ke bank.
Seluruh mutasi rekening selama delapan tahun difotokopi dan dilegalisasi.
Nabila juga meminta izin melihat bukti transfer.
Semakin banyak dokumen yang keluar, semakin pucat wajah Aditya.
Ternyata bukan hanya transfer.
Ada cicilan rumah.
Pembayaran sekolah internasional.
Pembelian mobil.
Premi asuransi.
Semuanya berasal dari rekening gajiku.
Yang membuatku semakin terpukul adalah nama rumah yang dicicil itu.
Pemiliknya bukan Aditya.
Melainkan…
Indah Permatasari.
“Bukan cuma biaya hidup,” kata Nabila pelan.
“Dia membangun kehidupan baru memakai uangmu.”
Aku memejamkan mata.
Selama ini aku selalu berpikir kami belum mampu membeli rumah.
Setiap kali aku mengusulkan KPR, Aditya selalu berkata,
“Sabar.”
“Tabungan kita belum cukup.”
Ternyata…
Rumah impian itu memang sudah dibeli.
Hanya saja bukan untukku.
…
Tiga hari kemudian, Nabila mengajakku mendatangi alamat rumah yang tercantum pada dokumen.
Perumahan elite di kawasan BSD.
Rumah dua lantai.
Mobil SUV putih terparkir di garasi.
Halaman dipenuhi mainan anak.
Aku berdiri mematung.
Seluruh isi rumah itu…
Dibangun dari hasil lemburku selama bertahun-tahun.
Bel pintu berbunyi.
Seorang perempuan membuka pintu.
Cantik.
Sederhana.
Usianya mungkin sebaya denganku.
Ia tersenyum ramah.
“Maaf cari siapa?”
Aku menatap wajahnya beberapa detik.
“Apakah Anda Indah Permatasari?”
Ia mengangguk.
“Iya.”
“Ada apa?”
Aku mengeluarkan rekening koran.
“Nama saya Ririn.”
Senyumnya langsung menghilang.
Ia mundur satu langkah.
“Kamu…”
Belum sempat ia berbicara, tiga anak kecil berlari keluar.
“Papa belum datang, Ma?”
Dadaku seperti diremas.
Anak paling besar mungkin berusia sembilan tahun.
Usianya hampir sama dengan Keysha.
Mereka semua memiliki mata yang sangat mirip dengan Aditya.
Aku tidak sanggup menahan napas.
Indah tiba-tiba berkata lirih,
“Tolong masuk.”
Kami duduk di ruang tamu.
Rumah itu bersih.
Hangat.
Di dinding tergantung foto keluarga.
Foto Aditya sedang menggendong anak-anak.
Foto ulang tahun.
Foto liburan di Bali.
Bahkan ada foto pernikahan.
Aku menatapnya lama.
“Itu editan?”
Indah menggeleng.
“Itu pernikahan kami.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Kami menikah secara agama sembilan tahun lalu.”
Aku merasa kepalaku berputar.
“Mustahil.”
“Dia menikah denganku delapan tahun lalu.”
Indah perlahan mengambil sebuah map.
Di dalamnya terdapat buku nikah lama.
Tanggalnya benar.
Satu tahun sebelum aku menikah.
Aku menoleh kepada Nabila.
Ia langsung memotret seluruh dokumen.
“Tunggu.”
Aku menatap Indah.
“Kalau begitu… siapa aku?”
Perempuan itu menangis.
“Aku juga baru tahu dua tahun lalu kalau dia menikah lagi.”
“Dia bilang kamu hanya rekan bisnis.”
Aku menutup mulutku.
Untuk pertama kalinya aku menyadari…
Kami berdua sama-sama korban.
Tidak ada pelakor.
Tidak ada istri simpanan.
Yang ada hanyalah satu pria yang membangun dua kehidupan dengan kebohongan.
…
Malam itu Aditya pulang ke apartemen.
Ia terkejut melihat Indah duduk di ruang tamu bersama Nabila.
Wajahnya langsung kehilangan warna.
“Kalian…”
Aku melemparkan buku nikah ke meja.
“Silakan jelaskan.”
Ia langsung terduduk.
Tidak ada lagi alasan.
Tidak ada lagi kebohongan.
Selama hampir satu jam ia mengakui semuanya.
Ia memalsukan berbagai dokumen.
Berbohong kepada kedua keluarga.
Menggunakan seluruh penghasilanku untuk mempertahankan dua rumah tangga.
Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata ia juga memiliki utang ratusan juta rupiah akibat investasi bodong.
Itulah sebabnya tabunganku benar-benar habis.
Ia berharap suatu hari investasi itu berhasil sehingga semua uang bisa dikembalikan tanpa seorang pun mengetahui.
Namun semuanya justru bangkrut.
…
Proses hukum berjalan cepat.
Karena seluruh bukti transaksi tersimpan lengkap.
Bank.
Dokumen.
Percakapan.
Rekaman suara.
Semuanya menjadi bukti.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Indah juga mengajukan gugatan.
Pengadilan memutuskan sebagian aset yang dibeli menggunakan uangku harus dikembalikan melalui proses penyitaan dan penjualan.
Rumah mewah itu akhirnya dilelang.
Mobil dijual.
Beberapa aset lain disita.
Aku memang tidak mendapatkan kembali seluruh delapan ratus juta rupiah itu.
Namun setidaknya sebagian besar berhasil dipulihkan.
Aditya sendiri harus mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan hukum.
…
Enam bulan kemudian.
Aku dan Keysha pindah ke Bandung.
Aku menerima tawaran menjadi kepala divisi kreatif di sebuah perusahaan teknologi.
Hidup kami jauh lebih tenang.
Suatu sore, ketika sedang menemani Keysha bermain di taman, seseorang memanggil namaku.
“Bu Ririn.”
Aku menoleh.
Indah berdiri sambil menggandeng ketiga anaknya.
Kami saling tersenyum.
Tidak ada lagi kebencian.
Hanya dua perempuan yang pernah dipermainkan oleh laki-laki yang sama.
“Aku sudah bekerja,” katanya.
“Anak-anak juga mulai sekolah.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Ia menatapku beberapa saat.
“Lima tahun lalu aku pernah membenci perempuan yang belum pernah kutemui.”
“Aku pikir kamulah penyebab semua masalah.”
“Aku tidak pernah menyangka ternyata kita sama-sama dibohongi.”
Aku tersenyum.
“Kita memang tidak memilih apa yang dilakukan orang lain.”
“Tapi kita bisa memilih bagaimana bangkit setelah semuanya.”
Ia mengulurkan tangan.
Aku menyambutnya.
Di kejauhan, Keysha sedang bermain bersama ketiga anak Indah tanpa mengetahui betapa rumitnya masa lalu orang dewasa.
Melihat mereka tertawa bersama, aku akhirnya mengerti satu hal.
Uang memang bisa dicuri.
Kepercayaan bisa dihancurkan.
Delapan tahun hidupku mungkin telah dirampas oleh kebohongan.
Namun harga diriku, masa depan putriku, dan keberanian untuk memulai hidup baru adalah sesuatu yang tidak pernah berhasil diambil oleh siapa pun.
Dan sejak hari itu, aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan pernah lagi menyerahkan seluruh hidupku kepada seseorang hanya karena namanya adalah cinta.
