ASTAGA! MENANTU LICIK DAN ANAK KANDUNG YANG TAK TAHU BALAS BUDI MENGUSIR IBU TUA INI DI TENGAH HUJAN DERAS TANPA MENYADARI BAHWA WANITA YANG MEREKA HINA ADALAH RATU PROPERTI TERKAYA DI JAKARTA YANG MENENTUKAN NASIB SELURUH HIDUP MEREKA!

Aku menahan napas di balik pintu kamar kerja itu.

“Tenang saja,” suara Aditya terdengar datar, bahkan nyaris bosan. “Ibu sudah tua. Dia tidak akan lama lagi. Begitu surat itu ditandatangani, semua aset akan resmi menjadi milikku. Setelah itu, kita tidak perlu lagi berpura-pura.”

Dunia seakan berhenti berputar.

Aku menggenggam kotak makanan yang kubawa sampai jari-jariku gemetar. Di dalamnya ada semur jengkol kesukaan Aditya, makanan yang selalu ia minta setiap kali pulang dari sekolah dulu. Aku memasaknya sejak sore, memilih daging terbaik, mengaduk bumbu dengan tangan sendiri, lalu datang diam-diam karena ingin membuatnya bahagia.

Namun malam itu, aku justru mendengar bahwa anakku sedang menunggu kematianku.

Aku tidak masuk ke ruangan itu. Aku juga tidak menangis di depan mereka.

Aku pulang ke rumah lamaku, duduk sendirian di ruang makan, lalu menatap foto Aditya ketika masih kecil. Di foto itu, ia sedang memeluk pinggangku sambil tersenyum lebar. Gigi depannya tanggal satu. Matanya penuh kepercayaan.

Aku bertanya pada diriku sendiri, di bagian mana aku gagal membesarkannya?

Keesokan paginya, aku menelepon Bagas, pengacara kepercayaanku yang sudah mendampingiku selama dua puluh tahun.

“Pak Bagas,” kataku pelan, “aku ingin menjalankan rencana yang pernah kita bicarakan.”

Di seberang telepon, ia terdiam cukup lama.

“Ibu yakin?”

“Aku harus tahu seberapa jauh mereka akan melangkah.”

Sejak hari itu, aku sengaja menarik diri dari perusahaan. Aku menunjuk Aditya sebagai pelaksana tugas direktur utama, tetapi tidak menyerahkan saham pengendali. Kepada publik, kami mengumumkan bahwa kesehatanku menurun dan aku memilih beristirahat.

Lalu aku pindah dari rumah besar di Menteng ke rumah tua peninggalan orang tuaku di pinggiran Jakarta. Aku berhenti memakai mobil dengan sopir. Aku mengenakan daster sederhana, sandal murah, dan membawa tas kain yang sudah kusimpan bertahun-tahun.

Aku juga menyebarkan kabar bahwa sebagian besar investasiku gagal akibat proyek bermasalah.

Aku ingin melihat siapa yang datang ketika mereka mengira aku tidak lagi berguna.

Tidak banyak.

Beberapa pegawai lama datang membawa buah. Seorang satpam bernama Pak Ujang bahkan menawarkan sebagian tabungannya untuk membantuku. Maya, sekretaris pribadiku, terus menghubungiku setiap hari.

Namun Aditya hanya menelepon sekali.

Itu pun bukan untuk menanyakan kesehatanku.

“Ibu masih menyimpan sertifikat tanah di Sudirman, kan?”

Aku menutup telepon setelah menjawab bahwa aku tidak ingat.

Tiga minggu kemudian, Aditya dan Indah datang ke rumah tuaku. Indah mengenakan kacamata hitam besar dan menutup hidungnya dengan saputangan karena merasa terganggu oleh bau selokan di depan rumah.

“Astaga, Mas,” katanya tanpa berusaha mengecilkan suara, “bagaimana Ibu bisa tinggal di tempat seperti ini?”

Aditya tampak gelisah. Ia langsung membuka tas kerjanya dan mengeluarkan beberapa dokumen.

“Ibu hanya perlu menandatangani ini,” katanya. “Supaya aku bisa menyelamatkan perusahaan.”

Aku membaca halaman pertama sekilas. Surat itu bukan dokumen penyelamatan perusahaan. Itu adalah pengalihan kepemilikan saham, aset pribadi, dan hak kuasa penuh atas seluruh rekening investasi.

“Aku harus membacanya dulu,” ujarku.

Wajah Indah langsung berubah.

“Membaca apa lagi, Bu? Mas Aditya anak Ibu sendiri.”

“Justru karena dia anakku, aku ingin mengerti apa yang kutandatangani.”

Aditya mengembuskan napas kasar.

“Ibu selalu begini. Curiga pada semua orang. Tidak heran perusahaan mulai kacau.”

Aku menatap matanya.

“Apakah perusahaan benar-benar kacau?”

Ia mengalihkan pandangan.

Saat itulah aku tahu ada sesuatu yang lebih besar sedang mereka sembunyikan.

Malam itu, Maya datang membawa sebuah flashdisk dan setumpuk dokumen fotokopi. Wajahnya pucat.

“Bu Siti, saya menemukan transaksi aneh.”

Ia menjelaskan bahwa selama tiga bulan menjabat sebagai pelaksana tugas, Aditya telah memindahkan dana perusahaan ke lima perusahaan konsultan. Semua perusahaan itu baru berdiri dan memiliki alamat kantor yang sama.

Pemilik manfaat akhirnya adalah Indah.

Jumlahnya bukan sedikit.

Seratus delapan puluh miliar rupiah.

Aku tidak langsung marah. Kemarahan adalah kemewahan bagi orang yang masih punya waktu. Aku tahu, jika aku bertindak terlalu cepat, mereka akan menghapus bukti.

“Jangan beri tahu siapa pun,” kataku. “Kumpulkan semuanya.”

Beberapa hari kemudian, Aditya mengundangku tinggal di rumahnya. Katanya ia merasa bersalah membiarkanku sendirian.

Aku tahu itu jebakan.

Namun aku tetap datang.

Rumah mereka berada di sebuah kawasan elite di Jakarta Selatan. Rumah itu dibeli menggunakan uang perusahaan dengan alasan sebagai rumah dinas direktur. Marmer Italia memenuhi lantai, lukisan mahal tergantung di dinding, dan tiga mobil mewah berjajar di garasi.

Indah menyambutku dengan senyum tipis.

“Ibu boleh tinggal di kamar belakang,” katanya. “Kamar tamu sedang dipakai untuk menyimpan barang.”

Kamar belakang itu sebenarnya kamar pembantu. Sempit, lembap, dan tanpa pendingin udara.

Aku tidak protes.

Selama tinggal di sana, aku diperlakukan seperti beban. Makananku sering sengaja tidak disisakan. Aku dilarang duduk di ruang keluarga ketika tamu mereka datang. Indah bahkan menyuruhku menggunakan pintu samping agar teman-temannya tidak melihatku.

Suatu sore, aku mendengar salah satu temannya bertanya, “Itu siapa?”

Indah menjawab sambil tertawa, “Pembantu lama keluarga Mas Aditya. Kasihan, sudah tua dan tidak punya tempat tinggal.”

Aku berdiri di balik dinding, menahan air mata yang hampir jatuh.

Bukan karena ia menyebutku pembantu.

Aku pernah menjadi pembantu untuk hidupku sendiri. Aku tidak malu bekerja.

Yang menyakitkan adalah melihat Aditya duduk di sana dan tidak membantah.

Malam berikutnya, ia datang ke kamarku membawa dokumen yang sama.

“Ibu tanda tangan sekarang.”

“Aku belum selesai membaca.”

Ia membanting meja kecil di samping tempat tidurku.

“Sampai kapan Ibu mau mempersulit hidupku?”

Aku menatapnya tenang.

“Hidupmu sulit karena aku tidak mau menyerahkan semuanya?”

“Semua itu memang akan menjadi milikku!”

“Siapa yang bilang?”

Wajahnya menegang.

“Ibu sendiri. Waktu aku lulus, Ibu bilang semuanya akan menjadi milikku.”

“Aku bilang akan menyerahkan kendali secara bertahap, bukan memberikan seluruh hidupku untuk kau habiskan.”

Ia mendekat dan merendahkan suara.

“Jangan membuatku melakukan sesuatu yang akan Ibu sesali.”

Kalimat itu lebih dingin daripada hujan.

Aku sadar bahwa anak yang berdiri di depanku bukan lagi anak kecil yang pernah kupeluk ketika demam. Ia adalah seorang lelaki dewasa yang telah memilih keserakahan.

Dua hari setelahnya, Pak Bagas menelepon dan memberitahuku bahwa bukti penggelapan sudah cukup. Namun aku belum ingin berhenti. Aku ingin melihat apakah masih tersisa sedikit hati nurani dalam diri Aditya.

Kesempatan terakhir itu datang saat aku pura-pura jatuh di kamar mandi.

Aku berteriak memanggil bantuan. Indah yang pertama datang. Ia berdiri di ambang pintu, melihatku terduduk di lantai, lalu tidak segera menolong.

“Mas!” teriaknya. “Ibumu jatuh lagi!”

Aditya datang beberapa menit kemudian. Ia memandangku dengan wajah kesal.

“Kenapa Ibu tidak hati-hati?”

Aku mengulurkan tangan.

“Tolong Ibu berdiri.”

Ia tidak langsung bergerak.

Indah berbisik, cukup pelan tetapi masih bisa kudengar, “Kalau dia masuk rumah sakit, kita bisa minta dokter menyatakan dia tidak cakap hukum.”

Aditya diam.

Lalu ia membantuku berdiri.

Untuk sesaat, aku hampir percaya bahwa masih ada kebaikan dalam dirinya.

Namun malam itu, aku menemukan obat tidur yang dihancurkan di dalam susu yang disiapkan untukku.

Aku tidak meminumnya.

Aku menyimpan gelas itu sebagai bukti.

Keesokan harinya, aku berpura-pura lemas. Mereka membawaku ke sebuah klinik swasta yang dokternya ternyata teman Indah. Di sana, mereka mencoba memintaku menandatangani surat kuasa sambil mengatakan itu hanya formulir perawatan.

Aku menolak.

Aditya kehilangan kendali.

Ia menarik tanganku begitu keras hingga gelang kayuku putus.

“Ibu akan menghancurkan masa depanku!”

Aku menatapnya lama.

“Tidak, Nak. Kamu yang sedang menghancurkan masa depanmu sendiri.”

Sejak saat itu, mereka tidak lagi berpura-pura.

Aku dikurung di kamar belakang. Ponselku disita. Mereka hanya memberiku makan sekali sehari. Indah terus mengancam akan mengirimku ke panti jompo jika aku tidak menandatangani dokumen.

Namun mereka tidak tahu bahwa gelang kayu yang kupakai bukan gelang biasa.

Di dalam salah satu maniknya, terdapat alat perekam kecil yang diberikan Bagas.

Semua ancaman mereka terekam.

Pada malam hujan itu, pertengkaran terakhir terjadi.

Indah baru pulang dari pesta. Ia kesal karena aku menolak menandatangani dokumen untuk kesekian kalinya.

“Sudah cukup!” bentaknya. “Aku muak melihat wajah tua ini!”

Ia melempar koper tuaku ke halaman.

Aditya berdiri di belakangnya.

Aku menatap anakku.

“Apakah kau benar-benar ingin mengusir ibumu di tengah hujan?”

Ia mengepalkan tangan.

“Pergi kamu dari rumah ini, tua bangka! Jangan pernah berani kembali lagi ke sini!”

Maka aku pun pergi.

Aku berjalan melewati kampung kumuh di belakang kompleks mereka, menarik koper tua di tengah hujan. Mereka mengira aku sendirian dan tak berdaya.

Namun di ujung jalan, sebuah mobil hitam telah menunggu.

Bagas turun sambil membawa payung.

Maya berdiri di sampingnya bersama dua penyidik kepolisian.

“Semua sudah siap, Bu,” kata Bagas.

Aku menatap rumah Aditya dari kejauhan.

“Besok pagi, mulai.”

Keesokan harinya, Aditya tiba di kantor pusat Siti Group dengan setelan mahal dan langkah penuh percaya diri. Ia dijadwalkan memimpin rapat pengambilalihan resmi perusahaan.

Namun saat pintu ruang rapat dibuka, ia terdiam.

Aku duduk di kursi utama.

Di sebelahku ada Pak Bagas, auditor independen, komisaris perusahaan, dan beberapa penyidik.

Indah yang masuk di belakangnya langsung pucat.

“Ibu?” suara Aditya nyaris tidak terdengar.

Aku mengenakan setelan hitam sederhana. Tidak ada berlian. Tidak ada perhiasan mahal. Hanya pin kecil berbentuk rumah, simbol pertama Siti Group.

“Aku kira Ibu sudah pergi.”

“Aku memang pergi dari rumahmu,” jawabku. “Bukan dari hidupku.”

Pak Bagas membagikan berkas kepada seluruh peserta rapat. Bukti penggelapan dana, pemalsuan dokumen, suap kepada dokter, serta rekaman ancaman tersusun lengkap.

Aditya gemetar.

“Ini semua salah paham.”

Indah tiba-tiba menunjuk suaminya.

“Dia yang merencanakan semuanya! Saya hanya mengikuti!”

Aditya menoleh dengan wajah tidak percaya.

“Kamu bilang ini rencana kita!”

Dalam hitungan detik, mereka mulai saling menyalahkan.

Aku melihat mereka tanpa kepuasan.

Tidak ada kemenangan dalam melihat anak sendiri jatuh.

Hanya ada kesedihan yang sangat dalam.

Penyidik membawa mereka untuk diperiksa. Sebelum keluar, Aditya menoleh kepadaku.

“Ibu, tolong. Aku anak Ibu.”

Aku berdiri dan mendekatinya.

“Justru karena kau anakku, aku pernah memberimu kesempatan berkali-kali.”

Air matanya jatuh.

“Aku khilaf.”

“Khilaf terjadi sekali. Yang kau lakukan adalah pilihan, diulang setiap hari.”

Ia menundukkan kepala.

Aku tidak menarik laporan.

Aditya dan Indah akhirnya dijatuhi hukuman atas penggelapan, pemalsuan dokumen, dan upaya eksploitasi terhadap lansia. Seluruh aset yang mereka beli dari uang perusahaan disita. Rumah mewah itu dijual untuk mengembalikan kerugian karyawan dan investor.

Namun kejutan terbesar bukanlah hukuman mereka.

Beberapa bulan kemudian, aku mengumumkan bahwa seluruh saham mayoritas Siti Group tidak akan diwariskan kepada Aditya.

Aku mengalihkannya ke sebuah yayasan yang membangun rumah aman bagi lansia terlantar dan menyediakan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga miskin.

Direktur utama baru perusahaan adalah Maya, perempuan muda yang tetap setia ketika semua orang mengira aku telah kehilangan segalanya.

Pak Ujang diangkat menjadi kepala keamanan nasional perusahaan.

Sedangkan aku kembali tinggal di rumah tua di pinggiran Jakarta.

Banyak orang bertanya mengapa aku tidak kembali ke mansion mewah.

Aku hanya tersenyum.

Rumah besar tidak selalu dipenuhi keluarga.

Dan rumah kecil tidak selalu berarti kesepian.

Setahun kemudian, aku menerima surat dari penjara.

Tulisan tangan Aditya tampak tidak rapi.

Ia tidak meminta dibebaskan. Ia tidak meminta uang. Untuk pertama kalinya, ia menulis tentang masa kecilnya, tentang semur jengkol, tentang mesin jahit tua, dan tentang malam-malam saat aku menunggunya pulang sekolah.

Di bagian akhir, ia menulis, “Bu, aku baru mengerti bahwa warisan terbesar yang Ibu berikan bukanlah perusahaan. Warisan itu adalah pengorbanan. Dan aku menghancurkannya sebelum sempat menjaganya.”

Aku menangis setelah membaca surat itu.

Lalu aku membalas dengan satu kalimat.

“Pintu maaf selalu terbuka, tetapi kepercayaan harus dibangun kembali dari nol.”

Aku tidak tahu apakah Aditya benar-benar akan berubah.

Namun aku tahu satu hal.

Kekayaan dapat membeli rumah, perusahaan, bahkan kekuasaan. Tetapi kekayaan tidak dapat membeli hati yang tulus.

Dan terkadang, untuk mengetahui siapa yang benar-benar mencintai kita, kita tidak perlu kehilangan segalanya.

Kita hanya perlu berhenti memperlihatkan apa yang bisa mereka ambil.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang