Aku tidak ingat berapa lama aku menatap langit-langit UGD malam itu.
Suara roda ranjang, langkah perawat, bunyi monitor, dan pengumuman dari pengeras suara terdengar seperti berasal dari tempat yang sangat jauh. Tubuhku terbaring di sana, tetapi pikiranku seperti jatuh ke jurang yang tidak memiliki dasar.
Tiga tahun aku menunggu.

Tiga tahun aku mempercayai setiap pesan, setiap panggilan video, setiap janji tentang masa depan.
Dan hanya dalam beberapa menit, semuanya berubah menjadi kebohongan.
Sari duduk di sampingku sambil menggenggam tanganku. Wajahnya tegang, tetapi ia tidak memaksaku bicara. Dia mengenalku cukup lama untuk tahu bahwa ketika aku diam, sesuatu di dalam diriku sedang pecah.
Di balik tirai, suara Aditya dan wanita itu mulai menjauh.
Aku seharusnya memanggil namanya.
Aku seharusnya membuka tirai, melemparkan cincin itu ke wajahnya, lalu menuntut penjelasan.
Namun aku tidak melakukannya.
Ada sesuatu yang lebih kuat daripada amarah saat itu.
Rasa takut.
Bukan takut kehilangan Aditya. Aku sudah kehilangan dia bahkan sebelum datang ke Jakarta.
Aku takut pada jawaban yang akan kudengar.
Tak lama kemudian, seorang dokter perempuan masuk ke bilikku. Namanya tertera di dada jas putihnya.
dr. Lestari, Sp.OG.
Ia memeriksa hasil laboratorium sambil tersenyum tipis.
“Nyeri yang kamu rasakan kemungkinan akibat kista ovarium yang pecah kecil. Tidak berbahaya, tapi kamu harus istirahat dan kontrol lagi. Untung kamu cepat dibawa ke sini.”
Aku mengangguk lemah.
Dokter Lestari lalu memandang Sari.
“Pasien jangan dibiarkan stres dulu. Kondisinya sedang lemah.”
Setelah dokter itu pergi, Sari menatapku dengan sorot mata yang sudah tidak sabar.
“Sekarang bilang padaku. Laki-laki tadi itu Aditya, kan?”
Aku tidak bisa lagi menahannya.
Air mataku jatuh.
“Iya.”
Sari menutup mulutnya sendiri, seolah ikut merasakan sesak di dadaku.
“Dan perempuan hamil itu?”
“Istrinya.”
“Kamu yakin?”
“Perawat memanggilnya suami siaga. Aditya bilang anak itu anak mereka.”
Sari berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
“Aku akan cari dia.”
Aku menarik pergelangan tangannya.
“Jangan.”
“Maya, dia sudah menipumu selama tiga tahun!”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu diam saja?”
Aku menatap tas kecilku. Kotak cincin itu masih berada di dalamnya, utuh, rapi, dan tidak berguna.
“Karena aku ingin tahu seberapa jauh dia akan terus berbohong.”
Sari menatapku lama. Perlahan, kemarahannya berubah menjadi kekhawatiran.
“Kamu mau apa?”
“Aku mau pulang dari sini tanpa dia tahu aku datang.”
Aku meminta Sari membantu mengurus administrasi. Kami keluar lewat pintu samping sekitar pukul dua dini hari. Aku memakai masker dan menundukkan kepala sepanjang jalan, takut berpapasan dengan Aditya.
Di dalam taksi menuju hotel, ponselku kembali bergetar.
Aditya menelepon.
Namanya muncul di layar bersama foto kami saat liburan di Yogyakarta tiga tahun lalu. Foto itu diambil tepat sebelum aku pindah ke Makassar untuk bekerja. Hari itu dia memelukku dari belakang dan berkata jarak tidak akan mengubah apa pun.
Aku menolak panggilannya.
Beberapa detik kemudian, pesan masuk.
“Operasinya baru selesai. Maaf baru bisa menghubungi. Kamu sudah tidur?”
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Dia berbohong begitu tenang.
Begitu mudah.
Seolah aku tidak punya hati.
Aku membalas dengan tangan gemetar.
“Belum. Aku kurang enak badan.”
Balasannya datang cepat.
“Jangan lupa minum obat. Seandainya aku ada di sana, pasti aku rawat kamu.”
Aku hampir tertawa.
Bukan karena lucu, melainkan karena baru malam itu aku menyadari betapa kejamnya kata-kata manis dari seseorang yang tidak pernah benar-benar mencintai kita.
Aku mengetik lagi.
“Aditya, kamu sedang di mana?”
Tanda mengetik muncul, hilang, lalu muncul lagi.
“Di ruang istirahat dokter.”
“Sendirian?”
“Iya. Kenapa?”
Aku mematikan layar.
Sari yang duduk di sampingku memandang tanpa berkata apa-apa.
“Dia masih berbohong,” bisikku.
“Kita bisa langsung pergi ke rumahnya,” kata Sari. “Cari bukti, temui istrinya, selesaikan semuanya.”
Aku menggeleng.
“Aku tidak mau menghancurkan perempuan itu sebelum tahu apakah dia juga korban.”
Pagi harinya, setelah beberapa jam tidur yang tidak benar-benar nyenyak, aku membuka semua percakapanku dengan Aditya selama tiga tahun terakhir.
Aku mencari nama perempuan yang sering dia keluhkan.
Nadia.
Dia selalu menyebut Nadia sebagai dokter umum baru di rumah sakit. Katanya Nadia ceroboh, manja, dan sering membuatnya kesal. Namun semakin aku membaca ulang percakapan lama kami, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Ketika Aditya mengatakan harus menghadiri seminar di Bali, nama Nadia muncul dalam foto grup yang dikirim salah satu rekannya di media sosial.
Ketika Aditya mengaku menjaga ibunya yang sakit di Bandung, aku menemukan unggahan rumah sakit tentang acara keluarga dokter, dan di latar belakang terlihat Aditya berdiri di samping seorang wanita yang mirip Nadia.
Aku memperbesar foto itu.
Mereka mengenakan pakaian dengan warna senada.
Wanita itu memegang lengan Aditya.
Di jarinya ada cincin.
Dadaku kembali sesak.
Sari membantu mencari akun media sosial Nadia. Akunnya terkunci, tetapi foto profilnya cukup jelas. Dia memang wanita yang kulihat di UGD.
Di bagian bio tertulis satu kalimat sederhana.
Istri, dokter, dan calon ibu.
Tidak ada nama suami.
Namun salah satu unggahan lama rumah sakit menampilkan foto pernikahan beberapa tenaga medis. Di antara foto-foto itu, ada Aditya dan Nadia berdiri di depan dekorasi putih, tersenyum ke arah kamera.
Tanggal unggahannya dua tahun lalu.
Dua tahun.
Artinya, selama setahun pertama hubungan jarak jauh kami, Aditya mungkin masih lajang. Kemudian dia menikah tanpa pernah memberitahuku, lalu mempertahankanku seolah tidak terjadi apa-apa.
Tanganku terasa dingin.
“Dia menikah dua tahun lalu,” kataku.
Sari memejamkan mata, menahan marah.
“Maya, kamu harus temui dia sekarang.”
Aku memandang foto itu lama.
“Tidak. Aku harus menemui Nadia.”
Sari menatapku seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang gila.
“Kamu yakin?”
“Aku perlu tahu apa yang dia tahu tentangku.”
Menjelang siang, kami kembali ke rumah sakit. Aku tahu dari percakapanku dengan Aditya bahwa dia akan memulai jadwal operasi pukul satu. Aku sengaja datang saat dia tidak mungkin berada di luar.
Kami menunggu di kafetaria. Setelah hampir satu jam, Nadia terlihat berjalan perlahan bersama seorang perempuan paruh baya. Perutnya cukup besar, mungkin tujuh bulan. Wajahnya pucat, tetapi ekspresinya tenang.
Aku berdiri.
Kakiku terasa lemas, tetapi aku memaksa berjalan mendekat.
“Dokter Nadia?”
Dia menoleh.
“Iya?”
“Nama saya Maya. Saya perlu bicara sebentar.”
Awalnya dia tampak bingung. Namun ketika aku menyebut nama Aditya, wajahnya langsung berubah.
Bukan marah.
Bukan kaget.
Melainkan takut.
Dia meminta perempuan yang bersamanya menunggu, lalu mengajakku duduk di sudut kafetaria.
“Apa hubungan kamu dengan suami saya?” tanyanya pelan.
Aku mengeluarkan ponsel dan meletakkannya di meja. Di layar terlihat foto Aditya dan aku saat video call dua hari lalu. Di bawahnya ada pesan yang berbunyi, “Setelah kontrak kerjamu selesai, kita menikah.”
Nadia memandangi layar itu tanpa berkedip.
Kemudian bibirnya bergetar.
“Sudah berapa lama?”
“Tiga tahun.”
Wajahnya kehilangan warna.
“Kami menikah dua tahun lalu.”
“Aku tahu.”
“Dia bilang sebelum menikah, dia pernah punya hubungan yang sudah selesai.”
Aku menahan napas.
“Dia tidak pernah mengakhirinya.”
Nadia menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya bergetar, tetapi tidak ada suara tangis.
Untuk beberapa detik, aku melihat diriku sendiri di dalam dirinya.
Sama-sama ditipu oleh lelaki yang pandai membangun dua kehidupan.
“Aku kira aku satu-satunya,” katanya lirih. “Aku tahu dulu dia punya seseorang di Makassar, tapi dia bilang perempuan itu meninggalkannya demi karier.”
Aku tersenyum pahit.
“Dia bilang kamu hanya rekan kerja yang menyebalkan.”
Nadia menurunkan tangannya. Air mata mengalir di pipinya.
“Setiap kali dia pergi menemuimu, dia bilang ada pelatihan medis.”
Aku terdiam.
Selama ini aku berpikir aku adalah orang yang selalu menunggu.
Ternyata di Jakarta, ada seorang istri yang juga menunggu suaminya pulang dari kebohongan.
“Aku datang untuk melamarnya,” kataku.
Aku mengeluarkan kotak cincin dari tas dan menaruhnya di meja.
Nadia menatap kotak itu, lalu menangis lebih keras.
“Aku hamil anaknya,” bisiknya.
“Aku tahu.”
“Dan aku baru tahu tiga minggu lalu bahwa dia punya utang ratusan juta.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
Nadia mengambil ponselnya dan menunjukkan beberapa pesan penagihan. Aditya ternyata meminjam uang dari aplikasi pinjaman, teman kerja, bahkan keluarga Nadia. Jumlahnya hampir empat ratus juta rupiah.
“Dia bilang uangnya dipakai untuk investasi klinik,” ujar Nadia. “Tapi klinik itu tidak pernah ada.”
Sari, yang duduk tidak jauh dari kami, langsung mendekat.
“Maya,” katanya dengan suara tegang, “selama tiga tahun, pernahkah Aditya meminjam uang darimu?”
Pertanyaan itu membuatku membeku.
Aku membuka riwayat transfer.
Selama tiga tahun, aku beberapa kali mengirim uang kepadanya. Untuk biaya pengobatan ibunya. Untuk mengganti laptop kerja yang rusak. Untuk membantu saudaranya masuk kuliah.
Totalnya tidak sedikit.
Hampir seratus dua puluh juta rupiah.
Semua tabunganku selain uang tiket dan cincin.
“Astaga,” bisik Nadia.
Aku tidak bisa bicara.
Saat itulah kami menyadari bahwa pengkhianatan Aditya bukan hanya soal cinta.
Ia menggunakan kami.
Nadia menatapku dengan mata merah.
“Kita harus lapor.”
“Dengan bukti apa?”
“Aku punya rekening bersama. Aku juga menemukan transfer rutin ke beberapa perempuan lain.”
Ruangan seolah berputar.
“Perempuan lain?”
Nadia mengangguk.
“Dua hari lalu aku menemukan percakapan lama. Ada satu perempuan di Surabaya. Satu lagi di Semarang. Aku belum tahu hubungan mereka.”
Aku memejamkan mata.
Tiga tahun aku merasa istimewa.
Ternyata aku hanya salah satu dari daftar panjang perempuan yang dia tipu dengan cerita berbeda.
Kami memutuskan tidak langsung menghadapi Aditya. Selama dua hari berikutnya, kami mengumpulkan bukti. Nadia mengakses dokumen keuangan rumah tangga, sementara aku mencetak percakapan, bukti transfer, dan rekaman suara janji pernikahannya.
Sari berhasil menghubungi perempuan dari Surabaya bernama Rina. Dia juga mengaku berpacaran dengan Aditya selama satu tahun. Aditya mengatakan dirinya duda.
Perempuan dari Semarang, Ayu, bahkan baru saja mentransfer uang lima puluh juta untuk “biaya operasi ayahnya”.
Tidak ada satu pun cerita yang benar.
Pada hari ketiga, Nadia meminta Aditya datang ke sebuah ruang pertemuan kecil di rumah sakit. Ia mengatakan ingin membicarakan persiapan kelahiran anak mereka.
Aditya datang dengan wajah santai.
Namun ketika pintu dibuka, ia melihatku duduk di samping Nadia.
Langkahnya berhenti.
Wajahnya pucat.
“Maya?”
Aku berdiri perlahan.
“Bukankah kamu seharusnya senang melihatku?”
Dia memandang Nadia, lalu aku, lalu tumpukan dokumen di atas meja.
“Aku bisa menjelaskan.”
Nadia tertawa pahit.
“Mulai dari yang mana? Istri yang kamu bohongi, kekasih tiga tahun yang kamu janjikan pernikahan, atau dua perempuan lain yang kamu pinjami cerita palsu?”
Aditya menelan ludah.
“Ini tidak seperti yang kalian pikirkan.”
“Lalu seperti apa?” tanyaku. “Apakah cincin ini juga tidak seperti yang kupikirkan?”
Aku membuka kotak cincin dan mengangkatnya.
“Aku datang ke Jakarta untuk melamarmu. Sementara kamu sedang memeluk istrimu yang hamil dan mengirim pesan kepadaku bahwa kamu sedang operasi.”
Aditya mendekat.
“Maya, dengarkan aku. Aku memang salah, tapi aku mencintaimu.”
Nadia menatapnya tajam.
“Lalu aku?”
“Aku juga mencintaimu.”
Kalimat itu membuat ruangan sunyi.
Aku akhirnya memahami sesuatu.
Aditya tidak mencintai siapa pun.
Dia hanya mencintai perasaan saat dicintai.
Dia membutuhkan kami sebagai sumber perhatian, uang, pengampunan, dan tempat pulang ketika hidupnya kacau.
“Aku sudah melaporkan semua bukti penipuan ke polisi,” kata Nadia.
Wajah Aditya berubah.
“Apa?”
“Pihak rumah sakit juga sedang menyelidiki pemalsuan dokumen pengajuan pinjaman atas nama beberapa staf,” lanjut Nadia. “Namamu ada di dalamnya.”
Aditya langsung menatapku.
“Kamu melakukan ini?”
“Tidak,” jawabku. “Kamu melakukannya sendiri.”
Dia mulai panik. Nada suaranya naik. Dia menyalahkan tekanan pekerjaan, masa kecil yang sulit, utang keluarga, bahkan Nadia yang dianggap kurang perhatian.
Namun tidak satu pun dari kami menanggapi.
Beberapa petugas keamanan rumah sakit masuk beberapa menit kemudian. Aditya dibawa untuk dimintai keterangan karena pihak kepolisian sudah menunggu di ruang administrasi.
Sebelum keluar, dia menoleh kepadaku.
“Maya, aku benar-benar pernah ingin menikahimu.”
Aku menatapnya tanpa air mata.
“Itulah masalahnya, Aditya. Kamu selalu ingin sesuatu, tetapi tidak pernah berani bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu miliki.”
Enam bulan kemudian, kasusnya masih berjalan. Aditya diberhentikan sementara dari rumah sakit setelah ditemukan pelanggaran administrasi dan penipuan finansial. Beberapa korban lain muncul setelah cerita itu diketahui penyidik.
Nadia menggugat cerai.
Anaknya lahir sehat, seorang bayi perempuan yang ia beri nama Kirana.
Aku kembali ke Makassar dan memulai hidup dari awal. Uangku tidak kembali seluruhnya, tetapi untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku berhenti menunggu ponsel berbunyi setiap malam.
Cincin yang dulu ingin kuberikan kepada Aditya kujual.
Bukan untuk mengganti kerugianku.
Aku menggunakan uangnya untuk membantu biaya persalinan Nadia dan menambah modal usaha kecil yang kubangun bersama Sari.
Banyak orang bertanya bagaimana aku bisa memaafkan Nadia.
Mereka tidak mengerti.
Nadia bukan perempuan yang merebut kekasihku.
Dia adalah perempuan yang terjebak dalam kebohongan yang sama.
Setahun setelah malam di UGD itu, aku kembali ke Jakarta untuk urusan pekerjaan. Nadia mengajakku bertemu di sebuah taman kota. Kirana sudah mulai belajar berjalan, tertawa kecil sambil memegang jari ibunya.
Ketika melihat anak itu, aku tidak lagi merasakan sakit.
Aku hanya merasa lega.
Nadia menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
“Apa ini?”
“Surat dari Aditya. Dia titip melalui pengacaranya.”
Aku tidak membukanya.
Aku merobek amplop itu menjadi dua, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Nadia menatapku, kemudian tersenyum.
“Kamu tidak ingin tahu isinya?”
Aku memandang Kirana yang sedang mengejar kupu-kupu kecil di rerumputan.
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa penutupan terbaik tidak selalu datang dari penjelasan.
Kadang-kadang, penutupan datang ketika kita berhenti membutuhkan jawaban dari orang yang menghancurkan kita.
Aku pernah datang ke Jakarta membawa cincin dan harapan untuk membangun masa depan bersama seorang pria.
Aku pulang tanpa cincin, tanpa kekasih, dan hampir tanpa tabungan.
Namun aku membawa sesuatu yang jauh lebih berharga.
Kebenaran.
Dan meskipun kebenaran itu menyakitkan, ia telah menyelamatkanku dari pernikahan yang dibangun di atas kebohongan.
Tiga tahun aku mengira jarak adalah ujian terbesar dalam cinta kami.
Ternyata bukan jarak yang menghancurkan hubungan itu.
Melainkan kenyataan bahwa selama ini, hanya aku yang benar-benar sedang mencintai.
