Aku mengeringkan tangan di daster, lalu berlutut di depan Rutra. Menatap mata bulatnya yang mulai berkaca-kaca, hatiku yang tadinya sekeras batu langsung melunak. Anak ini tidak salah apa-apa, tapi harus jadi korban keegoisan bapaknya.

“Rutra sayang, berapa uang sekolah yang harus dibayar?” tanyaku selembut mungkin, berusaha menyembunyikan getaran amarah di suaraku.
“Dua ratus ribu, Ma. Kata Bu Guru, paling lambat besok Senin,” cicitnya pelan, takut-takut.
Dua ratus ribu. Bagi Mas Guntur, uang segitu mungkin dianggap sudah termasuk dalam jatah sepuluh ribu harian yang dia lempar ke meja tadi. Logika dari mana yang dia pakai?
“Yaudah, Rutra jangan nangis ya. Sekarang berangkat sekolah dulu, nanti Mama yang urus uang sekolahnya. Pasti beres, Rutra pasti bisa ikut ujian,” ujarku sambil mengusap air mata di pipinya, lalu menyelipkan uang jajan dua ribu rupiah—sisa kembalian beli garam kemarin—ke sakunya.
Setelah Rutra berangkat, aku kembali ke dapur. Pandanganku tertuju pada selembar uang sepuluh ribu rupiah di atas meja. Uang berwarna ungu itu rasanya seperti sedang mengejekku.
“Pokoknya harus cukup, minta makanan yang ada dagingnya kayak ayam.” kata-kata Mas Guntur terngiang lagi di telingaku.
Sebuah ide gila, tapi sangat masuk akal, tiba-tiba melintas di kepalaku. Dia mau ayam dengan uang sepuluh ribu? Oke, akan kukasih. Jangan panggil aku Dina kalau aku tidak bisa mewujudkan “impian” suamiku tercinta.
Sore harinya, Mas Guntur pulang dengan wajah ditekuk, seperti biasa. Dia langsung membanting tas kerja di sofa dan berjalan ke meja makan.
“Din! Mana makanan? Capek aku kerja seharian!” teriaknya.
Aku berjalan dari dapur membawa sebuah piring bertutup. Wajahku datar, namun di dalam hati, aku sudah tidak sabar melihat reaksinya.
“Ini Mas, menunya sesuai request kamu tadi pagi. Ada ayamnya, bukan tahu tempe lagi,” kataku sambil meletakkan piring itu di hadapannya dan membuka tutupnya.
Mas Guntur berbinar sesaat melihat penampakan di piring tersebut. Memang ada potongan daging ayam di sana. Tapi sedetik kemudian, matanya melotot, wajahnya memerah padam menahan amuk.
Di atas piring itu, hanya ada tiga potong ceker ayam berukuran kecil yang direbus dengan kuah bening tanpa bumbu yang berarti, ditemani sebongkah nasi dingin.
“Apa-apaan ini, Dina?! Kamu mau ngerjain aku? Aku minta ayam, kenapa cuma dikasih ceker kurus begini?! Mana rasanya hambar lagi!” bentaknya sambil menggebrak meja.
Aku melipat tangan di dada, menatapnya lurus tanpa ada rasa takut sedikit pun.
“Mas Guntur yang terhormat, uang sepuluh ribu dari kamu tadi pagi, aku belikan ceker ayam ini tiga biji harganya tiga ribu. Sisa tujuh ribu, aku belikan beras satu liter buat kita makan bertiga hari ini. Bumbu dapur habis, gas juga mepet. Jadi, bersyukur Mas masih bisa makan ayam, walaupun cuma kakinya.”
“Kamu ini bener-bener istri gak becus! Gak bisa putar otak apa?!”
“Yang gak becus itu kamu, Mas!” kali ini suaraku meninggi, memotong kalimatnya. Aku sudah tidak tahan lagi menahan semuanya.
“Kamu pikir sepuluh ribu itu bernilai sepuluh juta? Kamu minta makan mewah, tapi uang sekolah Rutra dua ratus ribu aja kamu lepas tangan dan malah mengancam mau cari pelampiasan di luar? Silakan, Mas! Silakan cari perempuan lain yang bisa masakin kamu ayam kalkun pakai uang sepuluh ribu!”
Mas Guntur tertegun. Ini pertama kalinya aku membentaknya balik dengan begitu kasar dan penuh penekanan.
Aku masuk ke dalam kamar, mengunci pintu, dan mengabaikan teriakan kemarahannya di luar. Aku mengeluarkan sebuah celengan ayam dari tanah liat yang selama ini kusembunyikan di bawah tumpukan baju lemari. Celengan hasil dari upahku menerima jahitan sembunyi-sembunyi dari tetangga.
Prangg!
Aku memecahkannya. Lembaran uang lima puluh ribuan dan dua puluh ribuan berhamburan. Totalnya ada sekitar delapan ratus ribu rupiah. Cukup untuk bayar sekolah Rutra, dan sisanya… cukup untuk modal awal hidupku tanpanya.
Aku mengambil secarik kertas dan pulpen, lalu menuliskan beberapa baris kalimat singkat:
Mas Guntur, uang sepuluh ribu darimu hari ini sudah habis untuk ceker ayam.
Uang sekolah Rutra sudah aku bayar pakai uangku sendiri.
Mulai besok, kamu tidak perlu pusing lagi memberiku uang belanja, karena aku dan Rutra pergi. Selamat menikmati seluruh uang sepuluh ribumu sendirian.
Malam itu, saat Mas Guntur sudah tertidur pulas karena kelelahan marah-marah, aku mengemas baju-bajuku dan baju Rutra ke dalam satu tas besar.
Aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh di lingkungan beracun ini, dipimpin oleh seorang kepala keluarga yang egois dan tidak tahu diri. Langkahku terasa ringan saat mengunci pintu rumah dari luar, siap menyambut lembaran baru bersama Rutra, meninggalkan Mas Guntur dan piring berisi ceker ayamnya.
