Kule mparkan lima bendel u ang baru ke wa jah istri pertamaku karena dia i ri.

Kelanjutan cerita yang seru, penuh kepuasan balas dendam (revenge plot), dan memiliki pacing yang dramatis untuk audiens media sosial:

Lanjutan Cerita: Topeng yang Hancur

“Kalau Mas Idham-mu yang terhormat ini muntah, ya tinggal dilap pakai uang 200 juta THR selingkuhannya!” jawabku santai, lalu menutup pintu kamar tepat di depan wajah mereka berdua yang memerah menahan geram.

Dari balik pintu, aku bisa mendengar Idham mengumpat kasar, sementara Lia terus merengek mengasihani kakaknya. Mereka tidak tahu saja, besok pagi dunia yang mereka banggakan akan runtuh seketika.

Pukul 08.30 WIB: Panggung Sandiwara

Keesokan paginya, suasana rumah sudah bising. Ibu mertuaku, Lia, dan Idham sudah rapi. Idham memakai setelan jas terbaiknya, bersiap untuk rapat penting zoom bersama General Manager (GM) baru yang kabarnya super tegas dan memegang kendali penuh atas seluruh aset perusahaan holding mereka.

Siska, sang istri siri, juga sudah datang ke rumah dengan gaun ketat dan riasan tebal. Dia menggelayut manja di lengan Idham.

“Mas Idham, berkas yang dikirim Ines benar-benar terkunci password! Mana hari ini GM baru mau memantau langsung presentasiku,” keluh Siska dengan nada manja yang dibuat-buat.

Idham langsung menoleh tajam saat melihatku keluar dari kamar. Aku hanya memakai daster robek andalanku, duduk tenang di meja makan sambil menyeduh teh.

“Ines! Buka password file-nya sekarang! Jangan jadi wanita pendendam dan picik yang merusak karier suaminya sendiri!” bentak Idham di depan ibu dan adiknya.

Ibu mertuaku ikut menimpali, “Kamu itu istri sah harusnya tahu diri, Ines! Idham sukses juga buat nama baik kamu. Jangan sirik karena Siska lebih pintar cari uang dan merawat diri!”

Siska tersenyum sinis, menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Mbak Ines, kalau butuh uang jajan tambahan bilang saja, jangan menyabotase kerjaan orang profesional.”

Aku menyesap tehku perlahan. “Profesional? Menguras rekening operasional kantor untuk operasi plastik di luar negeri itu disebut profesional, Siska?”

Wajah Siska seketika pias. Idham tertegun, namun langsung menguasai diri. “Kamu bicara apa? Jangan asal tuduh ya!”

Tepat saat itu, sebuah mobil Alphard hitam mewah berhenti di depan rumah. Idham langsung berbinar. “Hahaha! Lihat? Mobil dinas baruku sudah datang! Orang sukses seperti aku memang pantas mendapatkan ini. Minggir kamu, Ines!”

Pukul 09.00 WIB: Jatuhnya Sang Manajer

Idham, Siska, Ibu, dan Lia berhamburan ke depan rumah untuk menyambut mobil baru itu. Namun, yang turun dari mobil bukan sopir kantor, melainkan Bagas—asisten pribadiku—bersama dua orang petugas audit internal perusahaan dan seorang pengacara.

“Selamat pagi, Saudara Idham,” sapa Bagas dengan dingin.

“Pak Bagas? Loh, kok Anda yang mengantar mobil dinas baru saya? Dan… siapa orang-orang ini?” Idham mulai panik.

“Kami ke sini bukan untuk mengantar mobil baru Anda, tapi untuk mengamankan seluruh aset perusahaan. Mulai jam delapan pagi tadi, jabatan Anda sebagai Manajer resmi dicopot secara tidak hormat atas dugaan korupsi, penggelapan dana operasional sebesar 500 juta, dan penyalahgunaan fasilitas negara,” ucap Bagas lantang.

“A-apa?! Nggak mungkin! Siapa yang berani memecatku? Aku ini aset berharga perusahaan! Pasti ada salah paham!” Idham berteriak histeris. Ibu mertuaku langsung lemas, berpegangan pada pagar.

Siska ketakutan dan mencoba mundur, namun salah satu petugas audit langsung menghadangnya. “Sdri. Siska, aliran dana 200 juta untuk THR dan rencana operasi plastik Anda terdeteksi diambil dari kas operasional. Anda juga resmi dipecat dan kasus ini akan dibawa ke jalur hukum.”

“Mas Idham! Tolong aku! Kamu bilang uang itu bonus dari kerja kerasmu!” Siska menjerit, mulai menyalahkan Idham.

“Diam kamu, Siska! Ini pasti konspirasi!” Idham menatap Bagas dengan mata merah. “Siapa yang memesan investigasi ini? GM baru itu? Di mana dia?! Biar saya jelaskan langsung!”

Pemilik Kuasa yang Sebenarnya

Aku berjalan perlahan keluar dari pintu rumah, masih dengan daster robekku, mengancingkan sebuah blazer formal mewah di luarnya. Bagas langsung membungkuk hormat padaku.

“Semua instruksi sudah dilaksanakan dengan bersih, Bu Laksmi Ines. Ini iPad untuk memantau rapat zoom pembekuan cabang,” kata Bagas menyerahkan tablet lipat ke tanganku.

Idham, Siska, Ibu, dan Lia membeku. Rahang Idham seolah mau copot melihat bagaimana asisten yang paling ditakuti di perusahaan induknya begitu tunduk padaku.

“Ines… Ka-kamu… Bu Laksmi?” suara Idham bergetar hebat. Seluruh badannya gemetar.

“Tiga tahun lalu, saat ayahku memberikan perusahaan ini padaku, aku ingin menguji apakah laki-laki yang kunikahi mencintaiku karena tulus atau karena hartaku. Jadi, aku menyamar menjadi wanita rumahan biasa yang mengalah pada egomu,” kataku sambil berjalan mendekatinya.

Aku mengambil lima bendel uang baru yang kemarin dia lemparkan ke wajahku dari atas meja teras, lalu melemparkannya tepat ke dada Idham hingga berserakan di tanah.

“Ini uang yang kamu pamerkan kemarin. Ambil. Karena setelah hari ini, jangankan 200 juta, uang untuk membeli popok Nenek pun kamu tidak akan punya.”

Ibu mertuaku langsung berlutut di lantai teras, menangis histeris. “Ines… Menantuku… Tolong maafkan Idham. Dia khilaf! Lia, ayo minta maaf sama Mbak Ines!”

Lia yang tadinya sombong kini pucat pasi, ikut menangis ketakutan melihat kakaknya terancam masuk penjara.

Idham mencoba meraih kakiku. “Ines, tolong… Aku suamimu, Ines. Aku melakukan ini semua demi keluarga kita…”

Aku melangkah mundur, menghindari tangannya yang kotor.

“Keluarga? Keluarga yang membiarkan istrinya memakai daster robek dan diberi 2 juta sebulan untuk mengurus satu rumah, sementara selingkuhannya diberi 200 juta? Maaf, Idham. Gugatan cerai dan surat panggilan polisi akan sampai siang ini.”

Aku masuk ke dalam mobil Alphard yang pintunya sudah dibukakan oleh Bagas. Dari balik kaca mobil yang gelap, aku melihat Idham terduduk lemas di tanah, dikelilingi uang kertas yang berserakan, sementara Siska sibuk memaki-makinya karena takut diseret ke penjara.

Daster ini memang robek, tapi mereka tidak pernah tahu, bahwa daster inilah yang baru saja merobek harga diri dan masa depan mereka hingga tak bersisa.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang