DI TENGAH PESTA ULANG TAHUN MEWAH SUAMIKU, TIBA-TIBA ANAK KAMI YANG BERUSIA TUJUH TAHUN MENDEKAT DAN BERBISIK

Aku mengikat kotak kado kecil itu dengan pita emas yang rapi. Di atasnya, aku menempelkan kartu ucapan bertuliskan: “Untuk suamiku tercinta, Marco. Dari istrimu yang selalu mendukungmu.”

Senyum dingin terukir di wajahku. Marco, kau mengira aku adalah keset kaki yang bisa kau injak setelah kau mencapai puncak. Kau lupa siapa yang membangun tangga agar kau bisa berdiri di sana.

Aku turun kembali ke ruang pesta dengan langkah anggun. Tidak ada lagi Clara yang tampak lelah dari dapur. Aku telah melepaskan celemekku, membenahi rambutku, dan memasang topeng ketenangan yang mutlak. Di tengah aula, Marco sedang tertawa keras bersama para kolega bisnisnya, sementara Stella berdiri begitu dekat di sampingnya, jemari lentiknya sesekali menyentuh lengan suamiku. Gaun merahnya tampak begitu menyala, seolah menantangku.

“Ah, ini dia istriku!” seru Marco saat melihatku mendekat, nadanya terdengar merendahkan di hadapan teman-temannya. “Dari mana saja kamu, Clara? Tamu-tamu kehabisan sampanye. Lagipula, pakaianmu itu… sudahlah, lupakan.”

Beberapa orang di lingkaran itu terkekeh remeh. Stella tersenyum sinis, menatapku dari atas ke bawah seolah aku hanyalah pelayan di rumahku sendiri.

“Maaf membuatmu menunggu, Marco,” kataku dengan suara yang cukup lantang hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar. “Aku baru saja mempersiapkan hadiah paling spesial untuk ulang tahunmu yang ke-35. Sebuah hadiah yang tidak akan pernah bisa kau lupakan seumur hidupmu.”

Mendengar kata ‘hadiah spesial’, perhatian seluruh ruangan mulai teralihkan pada kami. Marco membusungkan dadanya, merasa bangga dielu-elukan. “Oh ya? Apa itu? Jangan bilang kau membelikanku jam tangan KW lagi seperti lima tahun lalu?”

Tawa ejekan kembali terdengar. Stella berbisik manja di telinga Marco, yang disambut anggukan intim dari suamiku. Mereka benar-benar tidak tahu malu.

“Bukan, Marco. Ini jauh lebih berharga dari itu,” ujarku sambil tersenyum manis. Aku berjalan menuju panggung kecil di mana proyektor besar terpasang—proyektor yang awalnya disiapkan tim EO untuk menampilkan foto-foto perjalanan hidup Marco.

Aku berjalan ke arah operator laptop, seorang pemuda yang bekerja untuk salah satu perusahaan IT rahasia milikku. Dia mengangguk hormat padaku, sebuah gestur yang membuat Marco sempat mengernyit bingung. Aku menyerahkan flashdisk di tanganku.

“Hubungkan ini ke layar utama, dan pastikan suaranya terdengar ke seluruh penjuru ruangan,” perintahku dingin.

Aku melangkah ke tengah panggung dan memegang mikrofon.

“Hadirin sekalian, mohon perhatiannya sebentar,” suaraku menggema di seluruh aula mewah itu. Keheningan langsung tercipta. “Malam ini kita merayakan kesuksesan Marco. Pria yang kalian kenal sebagai CEO hebat, pria yang selalu membanggakan integritas dan kesetiaannya.”

Marco tersenyum lebar, mengangkat gelas anggurnya ke arahku, mengira aku sedang memujinya.

“Namun,” lanjutku, nadanya berubah tajam seperti silet. “Aku ingin kalian semua melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik layar kesuksesan pria ini. Di balik kerja keras yang dia klaim, dan di balik ‘kemitraan erat’ dengan Wakil Presiden barunya, Nona Stella.”

Seketika, lampu aula meredup. Layar proyektor raksasa di belakangku menyala.

Bukan foto masa kecil Marco yang muncul, melainkan rekaman video CCTV berkualitas tinggi dengan audio yang sangat jernih. Di layar itu, terlihat jelas ranjang di kamar tamu lantai dua. Detik berikutnya, audio mendesah dan visual yang menjijikkan dari Marco dan Stella memenuhi ruangan.

“Ah, Marco… pelan-pelan. Bagaimana jika istrimu yang bodoh itu naik?” suara Stella terdengar sangat jelas di pelantang suara.

“Biarkan saja wanita sialan itu. Dia sibuk di dapur seperti pelayan,” suara Marco menjawab, terdengar sangat bernafsu dalam video. “Besok, setelah kita berhasil mentransfer sisa dana proyek siber ke rekening luar negeri kita, aku akan melemparkan surat cerai ke wajahnya. Perusahaan itu akan jadi milik kita, Stella. Aku sudah muak berpura-pura mencintai wanita miskin seperti dia.”

Gubrak!

Beberapa tamu wanita memekik kaget dan menutup mulut mereka. Para investor dan rekan bisnis Marco terbelalak tak percaya. Wajah Marco yang tadinya merah karena alkohol langsung berubah pucat pasi seputih kapas. Gelas anggur di tangannya jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai.

“M-Matikan! MATIKAN VIDEONYA!” teriak Marco histeris, suaranya melengking panik. Dia berlari ke arah panggung, namun dua pria berbadan tegap yang mengenakan setelan jas hitam tiba-tiba menghadangnya. Mereka adalah tim keamanan pribadiku yang selama ini sengaja kusembunyikan.

Stella berteriak histeris, mencoba menutupi wajahnya yang kini menjadi pusat pandangan penuh jijik dari seluruh sosialita yang hadir. “Ini fitnah! Ini editan AI!” teriak Stella histeris.

“Editan AI?” Aku berjalan turun dari panggung, mendekati mereka berdua yang kini gemetar di tengah aula. Aku merogoh saku gaun sederhanaku dan mengeluarkan kotak kado kecil tadi. Aku membukanya, lalu melempar isinya tepat ke wajah Stella.

Sebuah anting berlian jatuh di lantai, berkilau di bawah lampu aula.

“Kau meninggalkan pasangan antingmu di atas kasurku, Stella. Apakah AI juga yang menjatuhkannya di sana?” tanyaku dengan nada meremehkan. Stella membeku, menatap antingnya dengan mata terbelalak.

“Clara! Apa-apaan kamu?! Kamu menghancurkan reputasiku! Kamu tidak tahu siapa aku? Aku bisa membuatmu membusuk di penjara!” ancam Marco, mencoba menggunakan sisa-sisa kekuasaannya, matanya merah penuh amarah dan ketakutan.

Aku tertawa kecil, suara tawa yang terdengar mengerikan di keheningan malam itu.

“Membuatku membusuk di penjara, Marco? Menggunakan uang yang mana? Uang perusahaan yang baru saja kalian berdua coba gelapkan?”

Tepat setelah kalimat itu terucap, pintu gerbang utama rumah mewah kami terbuka lebar. Langkah kaki yang tegas menggema. Enam orang pria berseragam dinas kepolisian dan dua orang dari badan otoritas keuangan masuk ke dalam aula.

Di depan mereka, berdiri pengacara pribadiku, membawa seikat dokumen tebal.

“Tuan Marco dan Nona Stella,” ujar perwira polisi di depan. “Kami menerima laporan atas dugaan penggelapan dana siber dalam skala besar, pencucian uang, dan percobaan penipuan aset. Kami memiliki bukti manifes transfer ilegal yang dilakukan satu jam yang lalu ke rekening penampung Anda.”

“T-Tidak mungkin! Siapa yang melaporkanku?! Siapa yang tahu tentang rekening itu?!” terak Marco frustrasi, menoleh ke arah Stella yang kini menangis ketakutan.

“Aku yang melaporkanmu, Marco,” sahutku tenang. “Ah, sepertinya kau belum tahu. Izinkan aku memperkenalkan diriku yang sebenarnya di hadapan para tamumu.”

Aku berbalik menghadap para investor top yang hadir di ruangan itu. Beberapa dari mereka adalah orang-orang yang selama ini mencoba mendekati ‘sumber dana misterius’ yang membiayai perusahaan Marco.

“Perusahaan yang kau pimpin, Marco… 70% sahamnya dipegang oleh Apex Holdings. Dan aku adalah pemilik tunggal sekaligus pendiri Apex Holdings. Aku yang mendanai perusahaanmu dari balik layar sejak hari pertama. Kau hanyalah bidak catur yang aku pasang untuk menjalankan bisnis ini.”

Seluruh ruangan berdengung hebat. Marco mundur selangkah, menatapku seolah melihat monster. “K-Kau… pemilik Apex? Tidak mungkin… kau hanya anak yatim piatu miskin…”

“Aku merahasiakannya untuk menjaga egomu yang rapuh, Marco. Tapi kau justru memanfaatkan kebaikanku untuk mengkhianatiku dan menyakiti putra kita,” kataku, melangkah maju hingga wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter. “Kau ingin menceraikanku besok? Sayang sekali, aku sudah menandatangani surat cerai kita sepuluh menit yang lalu. Dan mulai detik ini, kau dipecat secara tidak hormat dari posisimu sebagai CEO.”

Pengacaraku maju dan menyerahkan dokumen. “Tuan Marco, seluruh aset atas nama Anda—termasuk rumah ini, mobil-mobil, dan rekening bank Anda—telah dibekukan karena statusnya dibeli menggunakan dana talangan dari Apex Holdings. Anda tidak memiliki apa-apa lagi.”

“Clara… tolong… Clara, aku khilaf! Ini semua karena Stella yang menggodaku!” Marco tiba-tiba berlutut di hadapanku, mencoba meraih ujung bajuku, menangis tersedu-sedu seperti anjing yang kelaparan. Air matanya menghapus seluruh kesombongan yang dia pamerkan sejak awal pesta.

Aku menarik kakiku menjauh, menatapnya dengan pandangan paling dingin yang pernah ada.

“Bawa mereka pergi,” perintahku pada polisi.

Kedua tangan Marco dan Stella diborgol di hadapan seluruh kolega bisnis, teman-teman sosialita, dan para petinggi kota. Malam yang seharusnya menjadi puncak kejayaan Marco, berubah menjadi malam di mana hidupnya hancur lebur tanpa sisa. Dia diseret keluar dari rumah mewahnya sendiri, berteriak memanggil namaku memohon ampunan yang tidak akan pernah datang.

Setelah para tamu membubarkan diri dengan kegemparan yang akan menjadi berita utama besok pagi, rumah kembali hening.

Aku berjalan naik ke lantai atas, menuju kamar Toby. Aku mengetuk pintu dengan ritme khusus yang hanya diketahui oleh kami berdua. Pintu terbuka, dan pelayan setiaku tersenyum tipis sebelum pamit keluar.

Toby sedang duduk di tempat tidur, memeluk robot mainannya. Aku berjalan mendekat, lalu memeluk tubuh kecilnya dengan hangat.

“Mama… Papa sudah pergi?” tanya Toby lirih.

Aku mencium keningnya dalam-dalam. “Iya, sayang. Papa sudah pergi jauh. Tapi jangan khawatir, Papa tidak akan pernah bisa menyakiti kita lagi. Mulai sekarang, hanya ada Mama dan Toby. Dan Mama berjanji, dunia ini akan menjadi milikmu.”

Aku melihat ke luar jendela, menatap lampu-lampu kota yang menyala. Malam ini, seorang Clara yang naif telah mati bersama pengkhianatan suaminya. Dan dari abunya, lahir seorang wanita yang memegang kendali penuh atas takdirnya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang