ANAK MILIARDERKU SUDAH DUA TAHUN TIDAK BERBICARA SEJAK IBUNYA “MENINGGALKAN” KAMI

Tiba-tiba, tubuh kecil Leo dalam gendinganku menegang. Pegangan tangannya di leherku mengencang begitu kuat hingga kukunya memutih. Napasnya memburu, memutus keheningan batin yang telah ia jaga selama dua tahun terakhir.

Ia menarik diri dari pundakku, matanya yang biasa kosong kini menyala dengan amarah dan ketakutan yang teramat sangat. Leo menatap langsung ke arah kakeknya di atas panggung.

“BOHONG!”

Suara itu kecil, serak, dan gemetar, namun gema dari mikrofon Don Roberto yang kebetulan berada dekat dengan kami membuat kata itu menggelegar ke seluruh penjuru mansion.

Seluruh ruangan seketika hening. Denting gelas kaca dan bisik-bisik manja para sosialita terhenti total. Semua mata tertuju pada bocah berusia tujuh tahun yang selama dua tahun ini dianggap bisu.

“Leo…?” bisikku, jantungku berdegup begitu kencang hingga rasanya mau copot. Air mata kebahagiaan dan keterkejutan hampir tumpah melihat putraku akhirnya bersuara. “Kamu bisa bicara, Nak?”

Namun, Leo tidak menatapku. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Ia menunjuk ke arah Don Roberto dengan tangan kecilnya yang bergetar hebat.

“Kakek bohong! Ibu tidak pergi! Ibu tidak mencuri uang!” teriak Leo lagi, suaranya pecah oleh tangisan yang selama ini terpendam.

Don Roberto tampak terkejut, wajahnya memucat sesaat sebelum ia berusaha menguasai keadaan dengan senyum palsunya. “Leo, Sayang, kamu sudah bisa bicara? Bagus sekali! Tapi kamu sedang bingung, Nak. Ibumu wanita jahat—”

“TIDAK! KAKEK YANG JAHAT!” jerit Leo, memotong ucapan sang patriark keluarga Valderama. Leo meronta dari gendonganku, minta diturunkan. Begitu kakinya menyentuh lantai, ia berlari ke tengah ruangan, menghadapi kakeknya yang berdiri di atas panggung.

“Malam itu… Leo melihatnya!” tangis Leo sejadi-jadinya. “Leo bersembunyi di bawah meja belajar! Kakek dan Tante Beatrice… kalian membawa orang-orang berbadan besar. Kalian memukul Ibu! Ibu menangis dan memohon agar tidak dipisahkan dari Leo dan Ayah!”

Mendengar kata-kata itu, seluruh tubuhku bak tersengat listrik jutaan volt. Kepalaku berputar hebat. Aku menatap Leo, lalu beralih menatap ayahku dan Beatrice bergantian.

“Leo, hentikan bualanmu! Anak ini pasti sedang berhalusinasi karena demam! Pengawal, bawa Leo ke kamarnya!” perintah Don Roberto dengan suara menggelegar, menyembunyikan kepanikan yang mulai tampak di matanya. Beatrice di samping panggung pun mulai tampak gemetar, wajahnya kehilangan warna.

“Jangan ada yang berani menyentuh putraku!” bentakku, suaraku menggelegar lebih keras dari ayahku. Amarah yang belum pernah kurasakan seumur hidupku mendidih di dalam darahku. Aku berjalan mendekati Leo dan berlutut di depannya, memegang kedua pundaknya.

“Leo… katakan pada Ayah. Katakan sejujurnya, Nak. Apa yang kamu lihat malam itu?” tanyaku dengan suara bergetar, menahan sesak yang amat sangat di dadaku.

Leo merogoh kantong celananya, mengeluarkan sapu tangan lama milik Clara yang selalu ia peluk. Namun kali ini, ia membuka lipatan sapu tangan itu. Di dalamnya, ada sebuah benda kecil—sebuah pendant kalung emas berbentuk hati yang bagian belakangnya sedikit penyok. Itu kalung pernikahan Clara yang tidak pernah ia lepaskan.

“Malam itu, saat mereka menyeret Ibu keluar lewat pintu belakang, kalung Ibu putus dan jatuh,” ucap Leo sambil sesenggukan, menyerahkan kalung itu ke tanganku. “Kakek bilang… kalau Leo bicara pada Ayah, Kakek akan membuat Ibu ‘tidur selamanya’ seperti burung kecil Leo yang mati di taman. Leo takut, Ayah… Leo takut Ibu dibunuh… jadi Leo diam…”

Kebenaran yang Menghancurkan

Kata-kata Leo meremukkan hatiku yang selama dua tahun ini mengeras karena kebencian yang salah alamat. Aku menatap kalung di tanganku. Kalung ini… Clara tidak mungkin meninggalkannya jika ia pergi secara sukarela. Dan ada noda darah kering yang sangat kecil di sudut pendant tersebut.

Aku bangkit berdiri. Semua kehangatan dalam diriku lenyap, digantikan oleh aura dingin yang mematikan. Aku menatap pria tua yang kuhormati sebagai ayahku, pria yang selama dua tahun ini menyuapiku dengan cerita bohong hingga aku membenci wanita yang paling kucintai.

“Ayah…” panggilku, suaraku begitu rendah namun sarat akan ancaman. “Apa yang telah kau lakukan pada istriku?”

“Rafael! Kamu lebih percaya pada dongeng anak kecil yang trauma daripada ayahmu sendiri?!” bentak Don Roberto, mencoba mengintimidasi. “Dia hanya anak-anak! Dia berhalusinasi!”

“Leo tidak pernah berbohong!” teriakku.

Tepat pada saat itu, beberapa asisten pribadi dan tim keamananku—yang langsung bergerak begitu mendengar keributan melalui interkom—masuk ke dalam aula pesta. Di belakang mereka, ada dua orang detektif swasta yang selama ini diam-diam kutugaskan untuk terus mencari keberadaan Clara, meski sebelumnya tanpa hasil karena selalu dihalangi oleh ‘orang dalam’ perusahaan.

Salah satu detektif maju ke depan, memegang sebuah tablet. “Tuan Rafael, maaf menyela pesta ini. Namun sepuluh menit yang lalu, tim IT kami berhasil memulihkan cadangan server CCTV mansion belakang dari dua tahun lalu yang sempat dihapus secara permanen. Dan… apa yang dikatakan muda menteri Leo, semuanya akurat.”

Detektif itu memutar video tersebut di layar besar aula, yang biasa digunakan untuk presentasi bisnis Valderama Global Empire.

Di layar besar itu, di hadapan ratusan tamu VIP dan kamera media yang masih menyala, sebuah rekaman mengerikan berputar. Terlihat jelas Don Roberto dan Beatrice berdiri menyaksikan dua orang pria berbadan besar memukuli Clara, menyumpal mulutnya, dan menyeretnya masuk ke dalam bagasi mobil hitam. Di akhir video, Don Roberto terlihat memberikan seoper koper berisi uang kepada pria-pria tersebut.

Kehancuran Valderama

“Cukup!” pekik Beatrice, mencoba melarikan diri dari kerumunan, namun langkahnya langsung dihadang oleh pihak keamananku.

Wajah Don Roberto berubah abu-abu. Gelas sampanye di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai panggung, sama seperti reputasi dan kekuasaan yang ia banggakan selama tujuh puluh tahun hidupnya.

Aku berjalan perlahan menaiki panggung, merebut mikrofon dari tangan ayahku yang mendadak lemas. Aku menatap seluruh tamu undangan dan kamera media yang kini menyiarkan secara langsung skandal terbesar abad ini.

“Pesta malam ini selesai,” ujarku dingin. “Dan pertunangan ini tidak pernah ada. Mulai detik ini, Roberto Valderama bukan lagi bagian dari Valderama Global Empire. Aku akan memastikan kalian berdua membusuk di penjara paling gelap.”

Aku berbalik, mengabaikan teriakan histeris Beatrice dan makian panik dari pria yang memanggil dirinya ayahku. Aku turun dari panggung dan langsung mendekap Leo ke dalam pelukanku. Air mataku akhirnya tumpah, membasahi pundak kecil putraku.

“Maafkan Ayah, Leo… Maafkan Ayah karena tidak mempercayaimu dan Ibu,” bisikku lirih, menahan hancurnya hati yang tersadar dari kebutaan dua tahun ini.

Leo membalas pelukanku dengan erat. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, sebuah bisikan lembut yang sangat kurindukan keluar dari bibirnya. “Kita cari Ibu ya, Ayah?”

Aku mengangguk kuat-kuat. Dengan seluruh kekuasaan, uang, dan sisa hidup yang kumiliki, aku bersumpah malam itu juga: aku tidak akan berhenti sampai aku menemukan Clara dan membawanya pulang ke rumah—ke tempat ia seharusnya berada.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang