Tanpa berpikir panjang…
Plaak!
Suara tamparanku memecah keheningan restoran. Gelas-gelas kristal bergetar pelan. Beberapa tamu langsung menoleh. Musik piano yang sebelumnya terdengar lembut seolah menghilang dari telingaku.
Perempuan bergaun merah itu memegang pipinya yang memerah. Matanya membesar karena terkejut.
Dion berdiri begitu cepat hingga kursinya terjatuh.

“Anisa! Apa yang kamu lakukan?”
Aku menatapnya dengan napas memburu. Dadaku terasa sesak, tetapi amarah menutup semua rasa sakitku.
“Masih berani bertanya?” suaraku bergetar. “Sembilan tahun aku jadi istrimu, ternyata beginikah balasannya?”
Semua orang memperhatikan kami.
Aku menunjuk perempuan itu.
“Berapa lama hubungan kalian?”
Perempuan itu membuka mulut, tetapi belum sempat berbicara, aku kembali memotong.
“Jangan pura-pura tidak kenal. Aku lihat sendiri kalian bergandengan tangan.”
Dion mencoba mendekat.
“Nisa, dengarkan aku dulu.”
“Jangan sentuh aku!”
Air mataku mulai jatuh.
Aku benar-benar hancur.
Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto anonim yang kuterima.
“Masih mau menyangkal?”
Dion melihat foto itu sekilas. Wajahnya berubah pucat.
Perempuan di depannya ikut melihat foto tersebut, lalu ekspresinya berubah bingung.
“Apa… ini?”
Aku tertawa pahit.
“Bagus sekali akting kalian.”
Tiba-tiba perempuan itu berdiri.
“Maaf…” katanya pelan. “Saya rasa telah terjadi kesalahpahaman.”
“Aku tidak butuh penjelasan dari perebut suami orang.”
Kalimatku membuat perempuan itu terdiam.
Dion mengembuskan napas panjang.
“Cukup, Nisa.”
Nada suaranya kali ini jauh lebih tegas.
“Orang yang baru saja kamu tampar adalah dokter yang selama tiga bulan terakhir menangani ibumu.”
Aku membeku.
Seolah seluruh tubuhku kehilangan tenaga.
“…Apa?”
Perempuan itu mengusap pipinya perlahan.
“Saya dokter Maya Pradipta.”
Namanya terasa asing.
Namun Dion langsung membuka tas kerja yang berada di samping kursinya. Ia mengeluarkan sebuah map.
Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan rumah sakit.
Nama ibuku tercetak jelas.
Aku menatapnya tanpa mampu berkata apa pun.
“Ibumu mengidap gagal ginjal stadium akhir,” ujar Dion lirih.
Dunia terasa berhenti.
Aku menggeleng.
“Itu… tidak mungkin.”
“Ibumu memintaku merahasiakannya.”
Aku mundur selangkah.
“Ibu sehat…”
“Tidak.”
Suara Dion pecah.
“Beliau menyuruhku merahasiakan semuanya karena tidak ingin kamu berhenti mengejar promosi di kantor.”
Air mataku berhenti mengalir.
Bukan karena aku tenang.
Melainkan karena otakku menolak mempercayai semua ini.
Dokter Maya menghela napas.
“Saya minta maaf karena tidak bisa memberi tahu Anda lebih awal. Itu adalah permintaan pasien.”
Aku masih menatap mereka.
“Lalu… kenapa bergandengan tangan?”
Dion menutup matanya beberapa detik.
“Sebelum kamu datang, dokter Maya baru saja mengatakan bahwa kemungkinan mendapatkan donor sangat kecil.”
Ia menelan ludah.
“Aku kehilangan kendali. Aku menangis.”
Aku melihat tangan Dion.
Tangannya memang masih gemetar.
“Aku memegang tangan beliau… karena beliau sedang mencoba menenangkanku.”
Semua suara di restoran mendadak kembali terdengar.
Dentingan sendok.
Percakapan tamu.
Langkah para pelayan.
Aku merasa seperti orang paling bodoh di ruangan itu.
Aku baru saja menampar dokter yang sedang berusaha menyelamatkan ibuku.
Tanpa meminta penjelasan.
Tanpa memberi kesempatan siapa pun berbicara.
Aku menoleh pada dokter Maya.
Pipi kirinya masih merah.
Aku membuka mulut.
Tetapi tidak ada kata yang keluar.
Perlahan aku membungkuk.
“Saya… minta maaf.”
Dokter Maya tidak berkata apa-apa.
Ia hanya mengangguk kecil.
Kupikir semuanya sudah cukup memalukan.
Ternyata belum.
Manajer restoran menghampiri bersama petugas keamanan.
Beberapa tamu ternyata telah merekam kejadian tadi.
Malam itu, video tamparanku sudah beredar di media sosial.
Judulnya bermacam-macam.
“Istri Pergoki Suami Selingkuh.”
“Drama Perselingkuhan di Restoran Mewah.”
“Wanita Histeris Tampar Pelakor.”
Tidak ada satu pun yang mengetahui kenyataan sebenarnya.
Esok paginya, videoku sudah ditonton jutaan kali.
Orang-orang menghujatku.
Ada yang mendukung.
Ada pula yang menghina perempuan yang kutampar.
Padahal perempuan itu sama sekali tidak bersalah.
Siang harinya, aku mendatangi rumah sakit.
Begitu melihatku, dokter Maya tersenyum tipis.
“Apa kabar?”
Aku menunduk.
“Saya datang untuk meminta maaf sekali lagi.”
Beliau menggeleng pelan.
“Yang lebih penting sekarang adalah ibumu.”
Aku masuk ke ruang rawat.
Ibuku tersenyum seperti biasa.
“Wajahmu kenapa kusut begitu?”
Aku langsung memeluknya.
Tangisku pecah.
“Ibu kenapa tidak cerita?”
Beliau mengusap rambutku.
“Kalau Ibu cerita, kamu pasti berhenti bekerja.”
“Aku memang akan berhenti.”
“Makanya Ibu tidak mau.”
Aku menangis semakin keras.
Selama ini aku sibuk mengejar target, mengejar promosi, mengejar bonus.
Sementara ibuku diam-diam menjalani cuci darah.
Sendirian.
Keluar dari kamar, Dion masih menungguku.
Untuk pertama kalinya setelah kejadian di restoran, kami duduk berdua tanpa bicara.
Aku memecah keheningan.
“Kenapa kamu tidak memaksa Ibu memberi tahu aku?”
“Ibu memohon.”
“Aku ini istrimu.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa memilih menuruti beliau daripada aku?”
Dion tersenyum lelah.
“Karena beliau berkata satu kalimat.”
Aku menoleh.
“‘Kalau Anisa tahu sekarang, dia akan mengorbankan masa depannya. Aku tidak mau anakku hidup dengan penyesalan nanti.'”
Air mataku kembali jatuh.
Aku baru sadar.
Orang yang paling mengenalku ternyata bukan diriku sendiri.
Melainkan ibuku.
Beberapa minggu berlalu.
Aku mulai menemani ibuku menjalani terapi.
Setiap kali bertemu dokter Maya, rasa bersalah selalu menghantuiku.
Namun beliau tidak pernah membahas tamparan itu lagi.
Sebaliknya, beliau tetap memperlakukan kami dengan profesional.
Suatu sore, aku melihat Dion berbicara dengan bagian administrasi rumah sakit.
Aku menghampirinya diam-diam.
“Tolong jangan beri tahu istri saya.”
Petugas itu mengangguk.
Aku langsung menghentikan langkah.
Setelah petugas pergi, aku bertanya.
“Apa yang jangan diberi tahu?”
Dion tampak terkejut.
“Ah… tidak ada.”
Aku memaksa.
Akhirnya ia menyerahkan sebuah map.
Tagihan rumah sakit.
Nominalnya membuatku lemas.
Hampir satu miliar rupiah.
Di halaman terakhir tertulis sebagian besar sudah lunas.
“Dari mana uang sebanyak ini?”
Dion diam.
“Aku jual apartemen warisan Ayah.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Itu satu-satunya aset yang kamu punya.”
“Iya.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Kamu sedang fokus mengejar promosi.”
Dadaku terasa sesak.
Aku merasa selama ini hanya melihat Dion sebagai suami yang sibuk.
Padahal diam-diam ia memikul beban yang bahkan tidak pernah kubayangkan.
Malam itu aku membuka laptop.
Aku mencari kembali nomor anonim yang mengirim foto.
Nomor itu sudah tidak aktif.
Namun ada satu hal yang mengganjal.
Foto itu diambil dari sudut yang sangat spesifik.
Berarti seseorang sengaja mengawasi mereka.
Aku meminta bantuan teman lamaku yang bekerja di bidang keamanan digital.
Dua hari kemudian ia menelepon.
“Nisa, kamu harus duduk.”
“Kenapa?”
“Nomor itu memakai kartu prabayar palsu.”
“Lalu?”
“Tapi sebelum dibuang, nomor itu sempat terhubung ke Wi-Fi kantormu.”
Jantungku berdetak kencang.
Kantorku.
Aku mulai mengingat-ingat.
Siapa yang mengetahui jadwal Dion.
Siapa yang tahu aku mudah cemburu.
Siapa yang tahu restoran itu.
Hanya satu orang.
Rina.
Rekan kerjaku.
Selama ini ia selalu terlihat baik.
Bahkan sering mendengarkan curahan hatiku.
Aku mengajaknya bertemu di sebuah kafe.
Begitu duduk, aku langsung meletakkan hasil pelacakan di atas meja.
Wajahnya langsung berubah.
“Kenapa kamu lakukan ini?”
Ia tertawa pelan.
“Karena aku iri.”
“Iri?”
“Kamu punya suami yang baik.”
Aku terdiam.
“Aku ingin kamu kehilangan semuanya.”
“Kenapa?”
“Karena saat aku bercerai, kamu bilang semua akan baik-baik saja.”
Aku mengernyit.
“Itu kalimat penyemangat.”
“Buatmu mungkin.”
“Tapi aku benci melihat hidupmu terlihat sempurna.”
Aku menggeleng pelan.
“Sempurna?”
Aku tertawa getir.
“Kamu tahu berapa kali aku dan Dion hampir menyerah dalam pernikahan ini?”
Ia tidak menjawab.
“Kamu tahu ibuku hampir meninggal?”
Wajah Rina berubah.
“Kamu tahu aku menampar dokter yang berusaha menyelamatkan ibuku?”
Ia menunduk.
Untuk pertama kalinya, matanya terlihat menyesal.
“Aku… tidak tahu.”
“Tentu saja tidak.”
Karena ia hanya melihat potongan-potongan kehidupan orang lain.
Seperti foto yang ia kirimkan kepadaku.
Potongan kecil yang tampak meyakinkan.
Tetapi sama sekali bukan keseluruhan cerita.
Beberapa bulan kemudian, donor ginjal yang sesuai akhirnya ditemukan.
Operasi ibuku berjalan lancar.
Saat beliau sadar, orang pertama yang beliau cari bukan aku.
Melainkan Dion.
“Terima kasih sudah menjaga anak saya,” bisiknya.
Dion menggenggam tangan beliau sambil tersenyum.
Aku memandang mereka dari balik kaca ruang perawatan.
Lalu tanpa sadar aku tersenyum sendiri.
Hari itu aku menghapus video viral yang masih kusimpan di ponsel.
Bukan karena aku ingin melupakan rasa malu.
Melainkan karena aku tidak ingin terus mengingat versi diriku yang menghakimi sebelum mendengar.
Kini setiap kali melihat seseorang hanya dari satu foto, satu video, atau satu cerita, aku selalu teringat sore di restoran itu.
Satu tamparan memang hanya berlangsung satu detik.
Namun akibat dari keputusan yang diambil tanpa mencari kebenaran bisa meninggalkan penyesalan yang terasa seumur hidup.
