Perutku terasa sangat sakit, seperti ususku dipelintir. Aku sampai tidak punya pilihan selain bergegas ke Unit Gawat Darurat.

Perutku terasa seperti diremas dari dalam ketika mobil berhenti di depan instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Aku bahkan hampir tidak sanggup berdiri saat perawat mendorong kursi roda ke arahku.

“Nyeri sejak kapan?” tanya dokter jaga.

“Sejak subuh… sekarang rasanya semakin parah.”

Serangkaian pemeriksaan dilakukan dengan cepat. Hasil CT scan menunjukkan usus buntuku meradang dan harus segera dioperasi.

Aku hanya mengangguk. Dalam keadaan seperti itu, yang kupikirkan hanyalah rasa sakit yang harus segera berakhir.

Namun, beberapa menit sebelum aku dibawa ke ruang operasi, dokter kandungan yang diminta ikut memeriksa hasil pemindaian tiba-tiba mengernyit.

“Bu Raina, saya ingin memastikan sesuatu. Apakah Ibu pernah memasang alat kontrasepsi?”

Aku menggeleng tanpa ragu.

“Tidak pernah.”

Dokter saling berpandangan dengan rekannya.

“Lalu benda ini apa?”

Ia memperbesar gambar pada layar. Di dalam rahimku terlihat benda kecil berbentuk huruf T.

Dunia seolah berhenti berputar.

“Itu… bukan milik saya.”

Dokter tidak langsung menjawab. Wajahnya berubah serius.

“Kalau memang tidak pernah dipasang atas persetujuan Ibu, berarti kita harus menyelidiki bagaimana benda itu bisa berada di sana.”

Aku tidak lagi mendengar kalimat berikutnya.

Yang terlintas hanyalah tujuh tahun pernikahanku dengan Arga.

Tujuh tahun penuh harapan.

Tujuh tahun penuh kegagalan.

Setiap bulan aku menangis ketika melihat hasil tes kehamilan yang hanya menunjukkan satu garis.

Setiap tahun kami menghabiskan tabungan untuk pemeriksaan kesuburan.

Setiap kali keluarga besar berkumpul, ibu mertua selalu berkata dengan suara yang cukup keras agar semua orang mendengar.

“Perempuan itu gunanya melahirkan. Kalau tidak bisa punya anak, apa bedanya dengan tinggal sendiri?”

Arga selalu membelaku.

“Ibu jangan bicara begitu.”

Aku percaya suamiku mencintaiku.

Setidaknya sampai hari itu.

Operasi usus buntu berjalan lancar. Atas persetujuanku, dokter sekaligus mengangkat benda asing dari rahimku untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Ketika aku sadar di ruang perawatan, ponselku dipenuhi puluhan panggilan tak terjawab dari Arga.

Aku akhirnya mengangkat telepon.

“Sayang, kamu di mana?” suaranya terdengar tergesa-gesa.

“Rumah sakit.”

“Hah? Rumah sakit mana?”

Aku menyebutkan nama rumah sakit.

Beberapa detik kemudian sambungan terputus.

Kurang dari tiga puluh menit, Arga muncul dengan napas memburu.

Ia langsung memelukku.

“Kamu bikin aku takut.”

Aku tidak membalas pelukannya.

Sebaliknya, aku bertanya pelan.

“Kenapa kamu kelihatan lebih panik daripada aku?”

Ia tertawa canggung.

“Ya karena kamu istriku.”

Tatapanku tidak lepas dari wajahnya.

“Dokter menemukan IUD di rahimku.”

Pelukannya mengendur.

Hanya sesaat.

Namun sesaat itu cukup untuk membuatku sadar bahwa tubuh seseorang bisa mengatakan kebenaran yang tidak mampu diucapkan bibirnya.

“Apa?”

“IUD.”

“Oh… mungkin dokter salah.”

“Tapi sudah diangkat.”

Wajahnya mendadak pucat.

Aku pura-pura tidak memperhatikan.

Sejak hari itu, aku mulai mengingat banyak kejadian yang selama ini kuanggap biasa.

Tujuh tahun lalu, sebelum operasi pengangkatan kista kecil, aku dibius total.

Saat sadar, Arga berkata semuanya berjalan lancar.

Dokter yang menanganiku sudah pindah ke luar negeri beberapa bulan setelah operasi.

Seluruh dokumen medis dipegang Arga.

Bahkan setiap kontrol, ia selalu menjadi orang yang berbicara paling banyak dengan dokter.

Aku tidak pernah curiga.

Aku terlalu percaya.

Seminggu kemudian, hasil laboratorium memastikan bahwa benda yang diangkat memang IUD yang sudah terpasang bertahun-tahun.

Dokter berkata dengan hati-hati.

“Dari kondisinya, kemungkinan alat ini sudah berada di dalam rahim cukup lama.”

“Dipasang kapan?”

“Bisa enam atau tujuh tahun.”

Tanganku mulai dingin.

Tepat setelah operasi kista.

Malam itu aku membuka lemari tempat Arga menyimpan dokumen lama.

Sudah beberapa kali aku mencarinya, tetapi selalu tidak menemukan apa pun.

Kali ini aku mencoba membuka laci yang biasanya dikunci.

Kuncinya ternyata disimpan di balik bingkai foto pernikahan kami.

Di dalam laci terdapat map berisi kuitansi rumah sakit.

Salah satunya membuat napasku berhenti.

Tertulis jelas sebuah tindakan pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim.

Nama pasien memang namaku.

Tetapi tanda tangan persetujuan bukan milikku.

Aku mengenali tulisan itu.

Tulisan tangan Arga.

Tangisku pecah tanpa suara.

Keesokan harinya aku tidak langsung menuduhnya.

Aku justru menyewa seorang pengacara dan seorang penyelidik.

Sebulan kemudian, fakta demi fakta mulai terungkap.

Saat operasi dulu, Arga diam-diam menandatangani formulir tambahan dengan alasan “demi kesehatan pasien”.

Dokter yang memasang alat tersebut ternyata sudah meninggal karena sakit dua tahun lalu.

Namun ada seorang perawat senior yang masih bekerja.

Ketika penyelidik menemuinya, perempuan itu awalnya menolak bicara.

Sampai akhirnya ia melihat fotoku.

Ia menangis.

“Saya menyesal. Saya tahu ini salah.”

Menurut pengakuannya, Arga meminta dokter memasang IUD tanpa memberitahuku.

Alasannya sederhana.

Ia tidak ingin memiliki anak.

Mengapa?

Jawaban berikutnya jauh lebih menyakitkan.

Karena selama ini ia sudah mempunyai seorang putra dari perempuan lain.

Anak itu lahir beberapa bulan sebelum kami menikah.

Arga menikah denganku bukan karena cinta.

Melainkan karena keluargaku memiliki perusahaan logistik yang saat itu sedang berkembang pesat.

Ia membutuhkan modal.

Aku terduduk lemas setelah mendengar semuanya.

Ternyata selama tujuh tahun aku terus menyalahkan tubuhku.

Padahal yang rusak bukan tubuhku.

Melainkan kepercayaan yang kuberikan kepada orang yang salah.

Aku masih belum menunjukkan bukti apa pun kepada Arga.

Sebaliknya, aku mengajaknya makan malam.

Ia datang seperti biasa.

Masih tersenyum.

Masih memanggilku dengan nada lembut.

“Ada apa, Sayang?”

Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil.

“Hadiah.”

Ia membukanya.

Di dalamnya terdapat IUD yang sudah disterilkan rumah sakit dan dimasukkan ke dalam wadah transparan.

Senyumnya hilang.

“Apa ini?”

“Kamu pasti lebih mengenalnya daripada aku.”

Tangannya bergetar.

“Aku tidak mengerti.”

Aku mengeluarkan fotokopi formulir persetujuan operasi.

“Lalu tanda tangan ini?”

Ia tidak menjawab.

“Kamu ingin aku memanggil polisi sekarang atau menunggu kamu jujur?”

Untuk pertama kalinya selama kami menikah, Arga benar-benar kehilangan kendali.

“Aku terpaksa!”

“Terpaksa?”

“Ibuku tidak mau aku punya anak denganmu.”

Aku tertawa.

Tawa yang bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.

“Jadi ibumu yang menyuruhmu memasang alat kontrasepsi diam-diam?”

Ia menunduk.

“Iya.”

“Dan kamu menurut?”

“Aku mencintaimu…”

“Cinta?”

Aku berdiri.

“Orang yang mencintai tidak akan mengambil hak paling mendasar dari pasangannya.”

Ia mencoba menggenggam tanganku.

Aku menariknya.

“Kamu membiarkan aku disalahkan. Kamu membiarkan aku dihina mandul selama tujuh tahun.”

Air mata Arga akhirnya jatuh.

“Aku takut kehilanganmu.”

“Tapi kamu sudah kehilangan aku sejak hari kamu memutuskan berbohong.”

Aku meninggalkan restoran malam itu.

Dua minggu kemudian gugatan cerai diajukan.

Kasus pidana juga dilaporkan karena pemalsuan persetujuan tindakan medis.

Media mulai memberitakan perkara itu.

Banyak perempuan menghubungiku setelah membaca kisahku.

Ternyata aku bukan satu-satunya yang pernah kehilangan hak atas tubuh sendiri karena keputusan orang lain.

Aku mulai berbicara di berbagai seminar mengenai persetujuan medis dan hak pasien.

Aku tidak pernah menyangka luka terbesarku justru menjadi alasan orang lain berani mencari keadilan.

Setahun setelah perceraian, aku menjalani pemeriksaan kembali.

Dokter tersenyum sambil menunjukkan hasil USG.

“Rahim Ibu sehat. Tidak ada masalah berarti.”

Aku hanya tersenyum.

Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi mengejar kehamilan dengan putus asa.

Aku ingin belajar mencintai diriku sendiri lebih dulu.

Enam bulan kemudian, saat sedang mengelola yayasan bantuan hukum bagi perempuan korban kekerasan, aku sering bekerja sama dengan seorang dokter spesialis kandungan bernama Dimas.

Ia tidak pernah menanyakan masa laluku.

Ia tidak pernah mengasihaniku.

Ia hanya memperlakukanku sebagai manusia yang utuh.

Hubungan kami tumbuh perlahan.

Tanpa paksaan.

Tanpa rahasia.

Suatu pagi, ketika aku merasa mual dan mudah lelah, Dimas menyuruhku melakukan tes kehamilan.

Aku tertawa.

“Jangan bercanda.”

“Tidak ada salahnya mencoba.”

Dengan perasaan setengah tidak percaya, aku melihat alat tes itu.

Dua garis merah muncul perlahan.

Aku menangis.

Bukan karena akhirnya hamil.

Melainkan karena aku sadar, selama bertahun-tahun yang sebenarnya mandul bukanlah tubuhku.

Yang telah kehilangan kemampuan memberi kehidupan adalah sebuah pernikahan yang dibangun di atas kebohongan.

Dan ketika kebohongan itu berakhir, hidupku akhirnya benar-benar dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang