BARU tiga hari menjadi istri sah Rafael Dela Cruz, Alina Reyes sudah memahami satu kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pernikahan yang selama dua tahun dipenuhi janji manis ternyata hanyalah pintu masuk menuju sebuah keluarga yang menganggap menantu perempuan tidak lebih dari pembantu tanpa upah.
Malam itu rumah keluarga Dela Cruz di Quezon City dipenuhi suara gelak tawa. Di atas meja makan tersaji berbagai hidangan mewah. Semua orang menikmati makan malam, kecuali Alina.

“Kenapa masih berdiri?” bentak Lourdes, ibu mertua Alina. “Kalau sudah jadi istri orang, belajar melayani.”
Marites, kakak Rafael, mendorong sepiring udang ke depan Alina.
“Kupaskan semua. Cepat.”
Alina tersenyum tipis.
“Baik.”
Ia mulai mengupas udang satu per satu. Mentega panas membuat ujung jarinya memerah. Kulit udang yang tajam beberapa kali melukai kulitnya hingga sedikit berdarah.
Tak seorang pun peduli.
Rafael bahkan terus makan sambil memainkan ponselnya.
Dalam hati Alina berkata pelan, “Kalau begini sambutan kalian kepada menantu baru, berarti aku memang tidak salah menyiapkan semuanya.”
Tidak ada yang tahu bahwa tiga bulan sebelum pernikahan, Alina mulai menyelidiki keluarga calon suaminya.
Semuanya berawal ketika ia tanpa sengaja melihat Rafael memalsukan tanda tangannya untuk mengurus sebuah dokumen bank.
Saat dikonfrontasi, Rafael hanya tertawa.
“Kan nanti juga jadi istriku.”
Kalimat itu terdengar seperti candaan.
Tetapi sejak hari itu, Alina diam-diam menyewa seorang pengacara, seorang akuntan forensik, dan penyelidik swasta.
Yang mereka temukan jauh lebih mengerikan daripada yang dibayangkannya.
Keluarga Dela Cruz terlilit utang miliaran peso.
Rumah yang mereka tinggali hampir disita bank.
Perusahaan kecil milik Rafael sebenarnya sudah bangkrut sejak setahun lalu.
Seluruh rencana pernikahan hanyalah cara agar Rafael dapat mengakses aset Alina yang dikenal sebagai konsultan investasi sukses di Makati.
Alina tidak membatalkan pernikahan.
Ia justru meneruskannya.
Karena kadang-kadang, orang serakah hanya bisa dikalahkan jika mereka dibiarkan merasa menang terlebih dahulu.
Malam setelah makan malam yang memalukan itu, Rafael menelepon dengan penuh kemarahan.
“Kamu mempermalukan keluargaku.”
“Aku?”
“Kamu tidak hormat.”
Alina tersenyum.
“Rafael, siapa sebenarnya yang mempermalukan siapa?”
“Apa maksudmu?”
“Nanti juga kamu tahu.”
Telepon ditutup.
Keesokan paginya Rafael datang ke apartemen Alina dengan wajah lebih tenang.
“Aku minta maaf soal semalam.”
Alina hanya mengangguk.
“Kalau memang minta maaf, ayo kita mulai semuanya dari awal.”
Rafael mengira istrinya sudah luluh.
Padahal sejak semalam, sebuah amplop sudah dikirim ke tiga tempat berbeda.
Ke bank.
Ke kantor pajak.
Dan ke firma hukum yang selama ini menangani seluruh aset Alina.
Sore harinya Rafael mendatangi kantor notaris untuk mengurus pemindahan kepemilikan apartemen yang menurutnya sudah pasti akan berhasil.
Namun wajahnya langsung berubah pucat.
“Maaf, Pak Rafael,” kata notaris. “Apartemen itu bukan milik Ibu Alina secara pribadi.”
“Maksudnya?”
“Itu milik perusahaan keluarga.”
“Tidak mungkin.”
“Beliau hanya direktur pengelola.”
Rafael terdiam.
Ia mencoba berpikir.
Kalau apartemen bukan milik Alina…
Lalu vila di Tagaytay?
Mobil mewah?
Portofolio investasi?
Ia segera membuka dokumen yang selama ini ia simpan.
Semakin banyak halaman yang dibaca, semakin dingin wajahnya.
Semua aset yang selama ini ia incar ternyata berada dalam trust keluarga yang sama sekali tidak bisa dipindahkan melalui pernikahan.
Yang lebih mengejutkan lagi, setiap dokumen sudah dilengkapi klausul perlindungan jika terjadi indikasi penipuan dalam rumah tangga.
Rafael mulai berkeringat.
Malam itu ia pulang dengan wajah kusut.
Namun kejutan berikutnya baru saja dimulai.
Pukul delapan malam, beberapa petugas bank datang membawa surat resmi.
“Kami datang mengenai pinjaman yang sudah jatuh tempo.”
Lourdes langsung berdiri.
“Bukan urusan kami.”
“Rumah ini menjadi jaminan.”
“Tidak mungkin.”
Petugas menyerahkan dokumen.
Semua tanda tangan ada.
Termasuk tanda tangan Rafael.
Marites mulai menangis.
“Rafael, kamu bilang semuanya aman.”
Rafael tidak mampu menjawab.
Belum selesai masalah itu, dua penyidik dari kantor pajak datang membawa surat pemeriksaan.
Beberapa transaksi perusahaan Rafael diduga menggunakan faktur fiktif.
Lourdes memandang putranya dengan mata membelalak.
“Kamu bilang perusahaanmu untung.”
Rafael menelan ludah.
“Sedikit masalah administrasi.”
“Sedikit?”
Petugas menunjukkan tumpukan berkas.
Nilainya mencapai puluhan juta peso.
Suasana rumah berubah kacau.
Lourdes mulai menyalahkan Marites.
Marites menyalahkan Rafael.
Semua saling berteriak.
Untuk pertama kalinya, keluarga yang selama ini merasa paling berkuasa mulai saling menjatuhkan.
Sementara itu Alina sedang menikmati secangkir kopi di balkon apartemennya.
Pengacaranya duduk di hadapan.
“Semuanya berjalan sesuai rencana.”
Alina mengangguk.
“Apa mereka tahu siapa yang melaporkan?”
“Belum.”
“Biarkan begitu.”
Seminggu kemudian Rafael datang lagi.
Kali ini bukan dengan kemarahan.
Melainkan dengan wajah lelah.
“Alina… kita masih suami istri.”
“Benar.”
“Tolong bantu aku.”
“Kenapa?”
“Kalau perusahaan tutup, kami semua habis.”
Alina memandang pria yang pernah begitu dicintainya.
“Ketika ibumu menyuruhku menjadi pelayan, apakah kalian pernah berpikir aku juga manusia?”
Rafael menunduk.
“Aku salah.”
“Bukan cuma salah.”
“Aku berubah.”
“Terlambat.”
“Aku benar-benar mencintaimu.”
Alina tersenyum pahit.
“Cinta tidak pernah meminta seseorang mengorbankan harga dirinya.”
Rafael tidak mampu berkata apa-apa.
Beberapa hari kemudian keluarga besar Dela Cruz mengadakan pertemuan.
Lourdes akhirnya datang sendiri menemui Alina.
Ia tidak lagi memakai perhiasan mahal seperti biasanya.
Sebagian besar sudah dijual untuk membayar cicilan.
“Alina…”
Perempuan tua itu terdengar jauh lebih pelan.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan?”
Alina memandangnya tanpa kebencian.
“Saya hanya ingin diperlakukan sebagai manusia.”
Lourdes terdiam.
“Aku bisa membantu menghentikan semuanya.”
Mata Lourdes langsung berbinar.
“Tapi ada syarat.”
“Apa saja.”
“Katakan yang sebenarnya.”
“Di depan siapa?”
“Semua keluarga.”
Hari Minggu berikutnya seluruh keluarga berkumpul.
Termasuk para paman, bibi, dan sepupu.
Lourdes berdiri dengan wajah pucat.
Untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya ia mengakui semua kesalahan.
Ia mengaku sengaja merendahkan menantu.
Ia mengaku mendorong Rafael mencari istri kaya agar keluarga mereka bisa keluar dari utang.
Ia mengaku menganggap perempuan hanya pantas melayani laki-laki.
Ruangan menjadi sunyi.
Tak seorang pun menyangka perempuan sekeras Lourdes akhirnya mengaku.
Marites menangis.
“Aku juga minta maaf.”
Ia mengaku selama ini iri kepada perempuan-perempuan yang memiliki kehidupan lebih baik darinya.
Karena iri itulah ia selalu merendahkan Alina.
Rafael akhirnya ikut berbicara.
“Aku memanfaatkan pernikahan ini.”
Kalimat itu menghancurkan sisa harga dirinya sendiri.
Alina berdiri.
“Aku menerima permintaan maaf kalian.”
Wajah semua orang tampak lega.
Namun Alina melanjutkan.
“Memaafkan bukan berarti tetap tinggal.”
Ia mengeluarkan map terakhir.
Di dalamnya terdapat gugatan perceraian.
Rafael menutup mata.
Ia sudah tahu hasil akhirnya.
Sebulan kemudian pengadilan mengabulkan perceraian mereka.
Karena tidak ada harta bersama yang bisa diperebutkan, proses berlangsung cepat.
Perusahaan Rafael akhirnya dinyatakan pailit.
Rumah keluarga Dela Cruz dijual untuk melunasi sebagian utang.
Mereka harus pindah ke rumah sederhana di pinggiran kota.
Suatu sore, beberapa bulan kemudian, Alina menghadiri seminar kewirausahaan untuk perempuan muda.
Seseorang bertanya dari bangku belakang.
“Kalau bisa kembali ke masa lalu, apakah Ibu akan membatalkan pernikahan itu?”
Alina tersenyum.
“Tidak.”
Semua peserta terkejut.
“Karena tanpa pengalaman itu, saya mungkin tidak pernah belajar bahwa harga diri jauh lebih berharga daripada cincin, pesta mewah, atau status sebagai istri seseorang.”
Ruangan dipenuhi tepuk tangan.
Di luar gedung, hujan mulai turun.
Alina berdiri sejenak memandang langit Jakarta yang kelabu.
Ia tidak lagi membawa luka.
Yang tersisa hanyalah pelajaran bahwa kesabaran bukan berarti membiarkan diri diinjak, dan balas dendam yang paling memuaskan bukanlah menghancurkan seseorang dengan kemarahan, melainkan membiarkan kebenaran membuka topeng mereka sendiri.
