Udara pagi di kawasan Puncak, Bogor, masih dipenuhi kabut tipis ketika Martin membuka matanya. Jam baru menunjukkan pukul empat dini hari. Di sampingnya, Clara masih terlelap dengan tenang. Perempuan itu bukan hanya istrinya, tetapi juga pewaris tunggal Wijaya Group, salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia.
Martin menatap wajah Clara beberapa saat. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di matanya. Yang ada hanyalah keserakahan.
Ia turun dari tempat tidur tanpa suara, berjalan menuju garasi vila mereka. Di sana terparkir SUV hitam mewah yang biasa digunakan Clara untuk pergi ke Jakarta setiap Senin pagi menghadiri rapat direksi.
Martin mengeluarkan tang kecil dari sakunya.

Ia sudah mempelajari sistem pengereman mobil itu selama berminggu-minggu. Dengan hati-hati ia menggores selang rem hingga nyaris putus. Tidak cukup untuk langsung bocor, tetapi cukup rapuh sehingga akan pecah ketika mobil menuruni jalan berkelok menuju Gadog.
“Maaf, Clara,” bisiknya dingin. “Kalau kamu mati, semua ini akan menjadi milikku.”
Beberapa menit kemudian ia kembali ke kamar seolah tidak terjadi apa-apa.
Pukul enam pagi Clara bangun.
“Aku berangkat dulu ya. Meeting hari ini penting sekali,” katanya sambil mengenakan blazer putih.
Martin tersenyum hangat.
“Hati-hati di jalan. Semalam hujan deras.”
Clara mengecup pipinya lalu mengambil tas dan kunci mobil.
Martin berdiri di balik jendela, melihat SUV itu perlahan meninggalkan halaman vila.
Begitu mobil menghilang, ia tertawa kecil.
Hari ini semuanya akan berakhir.
Ia membuka sebotol wine mahal, lalu menghubungi Cindy, perempuan yang diam-diam menjadi kekasihnya selama hampir dua tahun.
“Sebentar lagi kita bebas,” gumamnya.
Namun Cindy tidak mengangkat telepon.
Martin tidak terlalu memikirkannya.
Sekitar pukul sembilan pagi, telepon dari nomor tak dikenal masuk.
“Selamat pagi. Apakah benar ini Bapak Martin Wijaya?”
“Ya, saya sendiri.”
“Kami dari Patroli Jalan Raya. Kami menyesal harus mengabarkan bahwa SUV milik istri Anda mengalami kecelakaan di jalur Puncak. Rem diduga blong. Kendaraan terjun ke jurang dan terbakar.”
Martin menahan senyum.
Ia langsung memainkan perannya.
“Apa? Ya Tuhan… bagaimana istri saya?”
Suara petugas berubah ragu.
“Itulah yang membuat kami bingung, Pak.”
“Maksudnya?”
“Kami menemukan tas dan barang-barang milik Ibu Clara di dalam mobil. Namun korban yang mengemudikan kendaraan bukan Ibu Clara.”
Martin membeku.
“Siapa?”
“Korban bernama Cindy Prasetyo.”
Gelas wine yang dipegang Martin jatuh ke lantai.
Pecah berkeping-keping.
Wajahnya pucat seketika.
“Itu… tidak mungkin…”
“Apakah Anda mengenal korban, Pak?”
Martin buru-buru menjawab, “Tidak. Saya tidak kenal.”
Telepon ditutup.
Seluruh tubuh Martin gemetar.
Bagaimana mungkin Cindy yang berada di dalam mobil?
Clara seharusnya yang mengendarainya.
Tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi Clara.
Nomornya aktif.
Beberapa detik kemudian terdengar suara yang sangat dikenalnya.
“Halo, Martin.”
Suara Clara terdengar tenang.
“Kamu… kamu di mana?”
“Di kantor.”
Martin hampir kehilangan napas.
“Kamu… naik mobil apa?”
“Oh, tadi pagi aku berubah pikiran. Aku naik helikopter perusahaan bersama Pak Hendra karena harus langsung menghadiri rapat dengan investor dari Singapura.”
Jantung Martin serasa berhenti.
“Lalu… SUV?”
“Aku pinjamkan ke seseorang.”
Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Martin.
“Kepada siapa?”
“Kepada Cindy.”
Martin hampir menjatuhkan ponselnya.
“Aku bertemu dia pagi-pagi sekali di dekat vila.”
“Dekat vila?”
“Iya.”
Clara tertawa kecil.
“Lucu ya.”
Martin tidak sanggup menjawab.
“Ternyata perempuan yang sering kamu simpan dengan nama ‘Cici Bengkel’ di ponselmu itu cantik juga.”
Darah Martin seperti membeku.
“Kamu…”
“Aku sudah tahu semuanya sejak tiga bulan lalu.”
Martin terduduk lemas.
“Semua transfer uang. Semua apartemen. Semua hadiah. Semua perjalanan ke Bali. Aku tahu.”
Suara Clara tetap datar.
“Hanya saja aku ingin melihat sejauh apa kamu sanggup berbohong.”
Martin berusaha menyangkal.
“Kamu salah paham.”
“Oh ya?”
Beberapa detik hening.
“Lalu bagaimana kamu menjelaskan rekaman kamera apartemen Cindy?”
Martin tidak bisa berkata apa-apa.
“Kamu pikir aku tidak pernah menyewa penyelidik?”
Tangannya mulai gemetar hebat.
“Clara… dengarkan dulu.”
“Tidak.”
Klik.
Telepon terputus.
Martin langsung berlari menuju garasi.
Mobil sport miliknya melesat menuju kantor pusat Wijaya Group.
Sesampainya di sana, ia dilarang masuk oleh petugas keamanan.
“Maaf Pak Martin. Mulai hari ini Bapak sudah tidak memiliki akses.”
“Apa maksudmu?”
“Kami hanya menjalankan perintah Direktur Utama.”
Martin memaksa masuk.
Beberapa petugas keamanan segera menahannya.
Di lobi perusahaan, puluhan karyawan memperhatikannya.
Malu bercampur panik memenuhi wajahnya.
Tak lama kemudian Clara turun dari lift bersama tim legal perusahaan.
Perempuan itu tetap tampil anggun.
Tatapannya dingin.
“Kenapa kamu datang?”
“Kita harus bicara.”
“Kita memang akan bicara.”
Ia menyerahkan sebuah map.
“Silakan baca.”
Isinya adalah gugatan cerai.
Di dalamnya juga terdapat laporan hasil audit keuangan.
Selama dua tahun, Martin diam-diam menggelapkan hampir lima puluh miliar rupiah melalui perusahaan-perusahaan fiktif.
Semua bukti lengkap.
Transfer.
Rekening.
Tanda tangan.
Email.
Tidak ada yang bisa dibantah.
Martin memucat.
“Kamu… sudah merencanakan ini?”
Clara mengangguk.
“Sejak aku tahu kamu berselingkuh.”
“Kamu sengaja meminjamkan mobil itu kepada Cindy?”
Clara menghela napas panjang.
“Aku memang meminta asistenku mengantarkan mobil itu kepadanya.”
Martin menatap Clara dengan mata membelalak.
“Tapi aku sama sekali tidak tahu kalau rem mobil itu sudah dirusak.”
Martin tercekat.
Clara melanjutkan.
“Polisi sudah memeriksa bangkai mobil.”
“Dan?”
“Mereka menemukan bekas sayatan yang tidak mungkin terjadi karena kecelakaan.”
Wajah Martin kehilangan seluruh warna.
“Tadi pagi sebelum berangkat, aku juga melihat CCTV vila.”
Martin langsung mendongak.
“CCTV?”
“Aku memasangnya dua minggu lalu.”
Rekaman memperlihatkan Martin masuk ke garasi pukul empat pagi.
Masuk selama hampir dua puluh menit.
Keluar sambil menyembunyikan tang.
Semua jelas.
“Martin.”
Suara Clara tetap tenang.
“Kamu bukan hanya berusaha membunuhku.”
“Tapi justru membunuh perempuan yang kamu cintai sendiri.”
Kalimat itu menghantam Martin jauh lebih keras daripada tamparan.
Air matanya mulai jatuh.
“Aku tidak bermaksud…”
“Diam.”
Suara Clara kali ini jauh lebih tajam.
“Tidak ada satu pun alasan yang bisa membenarkan pembunuhan.”
Saat itu juga dua penyidik kepolisian datang.
“Saudara Martin Wijaya?”
Martin menoleh perlahan.
“Kami menangkap Anda atas dugaan pembunuhan berencana, percobaan pembunuhan, penggelapan dana perusahaan, serta perusakan kendaraan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.”
Borgol segera dipasang di kedua tangannya.
Seluruh lobi menjadi sunyi.
Martin menoleh kepada Clara.
“Tolong… jangan lakukan ini.”
Clara hanya memandangnya tanpa emosi.
“Aku pernah mencintaimu.”
“Itulah sebabnya aku memberimu begitu banyak kesempatan.”
“Sayangnya, setiap kesempatan justru kamu gunakan untuk mengkhianatiku.”
Martin dibawa pergi.
Beberapa bulan kemudian persidangan dimulai.
Semua bukti tidak terbantahkan.
Rekaman CCTV.
Hasil forensik.
Jejak transaksi.
Percakapan dengan Cindy.
Kesaksian para mekanik.
Hakim menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup.
Saat vonis dibacakan, Martin hanya menunduk.
Bukan karena takut.
Melainkan karena akhirnya menyadari satu kenyataan yang paling menyakitkan.
Keserakahannya telah merenggut nyawa satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya setelah Clara, yaitu Cindy.
Ia kehilangan segalanya dalam satu hari.
Istri.
Kekayaan.
Kebebasan.
Dan masa depan.
Sementara itu Clara memutuskan menjual vila di Puncak yang penuh kenangan pahit. Sebagian besar hasil penjualannya ia sumbangkan untuk mendirikan pusat rehabilitasi bagi korban kekerasan dalam rumah tangga dan keluarga yang kehilangan anggota akibat tindak kriminal.
Saat seorang wartawan bertanya apakah ia masih menyimpan dendam kepada mantan suaminya, Clara hanya tersenyum tipis.
“Dendam tidak pernah mengembalikan orang yang telah meninggal.”
“Yang bisa kita lakukan hanyalah memastikan bahwa kejahatan tidak pernah menang.”
Di balik jeruji besi, Martin membaca berita itu dari sebuah koran lusuh.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menangis tanpa mampu berpura-pura.
Ia akhirnya memahami bahwa kekayaan yang paling berharga bukanlah uang yang selama ini ia kejar mati-matian, melainkan kepercayaan seseorang yang tulus mencintainya.
Dan ketika kepercayaan itu ia hancurkan dengan tangannya sendiri, tidak ada lagi harta di dunia yang mampu membelinya kembali.
