Aku menekan tombol merah bertuliskan “Batalkan Semua Reservasi” tanpa sedikit pun ragu. Jantungku berdetak tenang, jauh lebih tenang dibanding lima tahun terakhir saat aku terus-menerus berusaha mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah lama mati.
Butuh beberapa detik sebelum notifikasi mulai bermunculan di layar ponselku.
Reservasi vila berhasil dibatalkan.

Layanan koki pribadi dibatalkan.
Pesawat amfibi dibatalkan.
Tur laut dibatalkan.
Transfer menuju pulau dibatalkan.
Seluruh dana akan dikembalikan sesuai kebijakan penyedia layanan.
Aku menghela napas panjang.
Diego masih tersenyum sambil mengobrol dengan Fernanda, sama sekali tidak menyadari bahwa seluruh rencana liburan mewah itu baru saja lenyap.
Pilot pesawat amfibi melihat tablet di tangannya, lalu mengerutkan dahi.
“Maaf, Pak.”
Diego menoleh.
“Ada apa?”
“Reservasi menuju Pulau Nusa Biru baru saja dibatalkan.”
Senyum Diego perlahan menghilang.
“Apa maksud Anda dibatalkan?”
“Pesanan sudah tidak aktif.”
Diego langsung menoleh kepadaku.
“Mariana… apa yang kamu lakukan?”
Aku mengangkat layar ponselku.
“Aku membatalkannya.”
Wajah Doña Teresa langsung memerah.
“Kamu gila?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa?”
Aku tersenyum kecil.
“Karena aku tidak membayar hampir tiga juta peso supaya diperlakukan seperti pembantu.”
Fernanda terkekeh pelan.
“Ya ampun, cuma karena disuruh masak sedikit saja langsung drama.”
Aku menatapnya.
“Masalahnya bukan memasak.”
“Lalu?”
“Masalahnya, kamu datang ke perjalanan ulang tahun pernikahanku bersama suamiku.”
Senyumnya langsung membeku.
Diego mendekat beberapa langkah.
“Mariana, cukup.”
“Apa?”
“Kamu mempermalukan keluargaku.”
Aku tertawa pelan.
“Aku?”
“Iya.”
“Kamu yakin?”
Dia mulai kehilangan kesabaran.
“Kalau memang kesal, nanti kita bicara di pulau.”
“Tidak akan ada pulau.”
“Pesan lagi.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Kamu mampu.”
“Memang.”
“Lalu?”
“Aku tidak mau.”
Suasana di dermaga berubah sunyi.
Operator pelabuhan mulai saling berpandangan.
Beberapa wisatawan memperhatikan kami dari kejauhan.
Diego mencoba menahan emosinya.
“Jangan kekanak-kanakan.”
Aku menatap lurus ke matanya.
“Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku justru sedang bersikap dewasa.”
Doña Teresa mendengus.
“Dasar perempuan sombong. Sejak menikah dengan anakku, kamu berubah.”
Aku tersenyum tipis.
“Benarkah?”
“Tentu.”
“Kapan terakhir kali Ibu bertanya siapa yang membayar cicilan rumah Diego?”
Beliau terdiam.
Aku melanjutkan.
“Siapa yang membayar uang muka mobil?”
Tidak ada jawaban.
“Siapa yang membayar liburan keluarga ke Jepang dua tahun lalu?”
Sunyi.
“Siapa yang membayar operasi lutut Ayah?”
Don Arturo perlahan mengangkat wajah.
Tatapannya berubah.
Diego langsung menyela.
“Cukup.”
Aku mengabaikannya.
“Semuanya aku.”
Fernanda mulai terlihat gelisah.
Doña Teresa tertawa sinis.
“Jangan mengarang.”
Aku membuka aplikasi mobile banking.
Lalu kubuka folder khusus yang selama ini kusimpan.
Transfer.
Tagihan.
Invoice.
Pembayaran rumah sakit.
Cicilan.
Pajak kendaraan.
Semua memakai rekening atas namaku.
Aku menyerahkan ponsel kepada Don Arturo.
Beliau membaca satu demi satu.
Tangannya mulai bergetar.
“Diego…”
Diego langsung merebut ponselku.
“Sudah cukup!”
Aku mengambil kembali ponsel itu.
“Belum.”
Aku membuka dokumen lain.
Akta perusahaan.
Nama pendiri.
Nama pemegang saham mayoritas.
Namaku.
Mariana Wijaya.
Bukan Diego.
Fernanda memandang Diego dengan bingung.
“Kamu bilang perusahaan itu milikmu.”
Diego tidak menjawab.
“Kamu bilang kamu CEO.”
Dia tetap diam.
“Kamu bohong?”
Suasana mendadak berubah.
Orang-orang mulai memperhatikan lebih serius.
Aku menatap Diego.
“Kenapa tidak jujur?”
Dia menggertakkan gigi.
“Aku hanya…”
“Hanya apa?”
“…ingin dihormati.”
Aku tersenyum pahit.
“Aku sudah memberimu rasa hormat selama lima tahun.”
Dia tidak mampu membalas.
“Lalu kenapa kamu terus mengambil semuanya dariku?”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku capek selalu dibandingkan denganmu.”
“Itu bukan salahku.”
“Kamu terlalu sukses.”
Aku tertawa lirih.
“Jadi solusinya adalah membuatku terlihat kecil?”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan.
“Setiap kali orang memuji perusahaan kita…”
“Perusahaanmu,” bisik Fernanda.
Aku mengangguk.
“Perusahaanku.”
Diego menunduk.
“…kamu selalu membiarkan mereka mengira kamulah yang membangunnya.”
Dia masih diam.
“Setiap kali ibumu menghinaku.”
Diam.
“Setiap kali keluargamu mengatakan aku hidup dari uangmu.”
Diam.
“Kamu tidak pernah membela.”
Suara Diego melemah.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Kalau mereka tahu aku bukan siapa-siapa.”
Aku menggeleng perlahan.
“Kamu bukan bukan siapa-siapa.”
Dia menatapku penuh harapan.
“Tapi kamu memilih menjadi seseorang yang palsu.”
Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan.
Beberapa menit berlalu tanpa ada yang berbicara.
Kemudian terdengar suara notifikasi dari ponsel Diego.
Dia melihat layar.
Wajahnya langsung pucat.
“Apa…”
Dia membuka email itu.
Matanya membelalak.
“Apa ini?”
Aku sudah tahu isinya.
Divisi hukum perusahaanku baru saja mengirimkan surat.
Selama ini Diego memang bekerja sebagai Direktur Hubungan Bisnis di perusahaanku.
Jabatan itu kuberikan setelah kami menikah.
Namun beberapa minggu sebelumnya, auditor internal menemukan sesuatu.
Pengeluaran yang tidak wajar.
Penggunaan kartu perusahaan.
Jam tangan.
Tas.
Makan malam.
Hadiah.
Transfer.
Nilainya mencapai puluhan juta peso.
Aku sebenarnya datang ke Palawan dengan satu harapan.
Kalau hubungan kami membaik, aku akan memberinya kesempatan menjelaskan.
Sekarang?
Tidak lagi.
Diego membaca surat itu dengan tangan gemetar.
“Mulai hari ini…”
Suaranya tercekat.
“…saya diberhentikan?”
Aku mengangguk pelan.
“Audit selesai tadi pagi.”
“Kamu sudah tahu?”
“Iya.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Aku ingin melihat apakah kamu masih bisa memilih menjadi suamiku daripada menjadi orang yang terus memanfaatkan aku.”
Dia mulai panik.
“Mariana… dengarkan dulu…”
“Tidak.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Tidak perlu.”
Fernanda mundur beberapa langkah.
Wajahnya kehilangan warna.
“Kamu… bukan CEO?”
Diego tidak menjawab.
“Kamu bahkan baru saja dipecat?”
Fernanda langsung melepaskan lengannya.
“Aku pulang.”
Diego berusaha mengejarnya.
“Fernanda.”
Perempuan itu menoleh dengan tatapan jijik.
“Aku tidak pernah keberatan kalau seseorang tidak kaya.”
Diego membeku.
“Tapi aku benci pembohong.”
Fernanda pergi tanpa menoleh lagi.
Doña Teresa mulai panik.
“Diego, kejar dia.”
Namun Diego tetap berdiri mematung.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, semua topengnya runtuh dalam satu hari.
Orang-orang yang selama ini memujanya mulai memandang dengan cara berbeda.
Don Arturo menarik napas panjang.
Lalu beliau berjalan mendekatiku.
“Ayah…”
Beliau menggeleng kepada Diego.
Kemudian beliau menatapku.
“Selama ini… kamukah yang membiayai pengobatanku?”
Aku mengangguk.
“Mengapa tidak pernah bilang?”
“Karena saya tidak ingin membuat Ayah merasa berutang.”
Mata pria tua itu memerah.
“Aku yang seharusnya meminta maaf.”
Aku tersenyum.
“Tidak perlu.”
Beliau menundukkan kepala.
“Aku gagal mendidik anakku.”
Diego menangis.
Benar-benar menangis.
“Ayah…”
Namun Don Arturo tidak lagi membelanya.
“Aku kecewa.”
Doña Teresa masih mencoba menyangkal.
“Semua ini salah Mariana.”
Suaminya menatapnya tajam.
“Cukup, Teresa.”
Beliau belum pernah berbicara setegas itu.
“Kita terlalu sibuk memuji Diego sampai lupa melihat siapa yang sebenarnya menopang keluarga ini.”
Doña Teresa terdiam.
Aku memanggil mobil yang sudah menungguku.
Sebelum masuk, Diego memanggilku.
“Mariana.”
Aku berhenti.
“Aku benar-benar mencintaimu.”
Aku tersenyum.
“Mungkin.”
Dia mengangkat wajah penuh harap.
“Tapi cinta tanpa rasa hormat hanya akan menjadi cara lain untuk mengendalikan seseorang.”
Air matanya jatuh.
“Aku akan berubah.”
Aku mengangguk pelan.
“Aku percaya.”
Wajahnya sedikit bersinar.
“Lalu kita bisa mulai lagi?”
Aku menggeleng.
“Berubah bukan berarti semua orang wajib menunggumu.”
Aku masuk ke dalam mobil.
Pintu tertutup perlahan.
Saat kendaraan mulai meninggalkan dermaga, aku melihat Diego berdiri sendirian.
Tidak ada lagi Fernanda.
Tidak ada lagi senyum penuh percaya diri.
Tidak ada lagi topeng seorang pria sukses.
Hanya seorang laki-laki yang akhirnya dipaksa menghadapi dirinya sendiri.
Enam bulan kemudian, proses perceraian kami selesai tanpa drama.
Aku tidak mengambil balas dendam.
Aku juga tidak berusaha menghancurkannya.
Aku hanya mengambil kembali hidup yang selama ini kuberikan kepada orang yang salah.
Perusahaanku berkembang semakin pesat hingga membuka kantor baru di Jakarta dan Singapura.
Suatu sore, saat menghadiri seminar kepemimpinan untuk para pengusaha muda, seorang peserta bertanya kepadaku.
“Menurut Ibu, apa keputusan bisnis terbaik yang pernah Ibu buat?”
Aku tersenyum sambil memandang ke arah jendela.
“Bukan keputusan bisnis.”
“Lalu?”
“Keputusan untuk berhenti mempertahankan hubungan yang membuatku terus mengecilkan diriku sendiri.”
Ruangan itu hening.
Aku melanjutkan dengan suara tenang.
“Kesetiaan bukan berarti bertahan dalam penghinaan. Cinta bukan alasan untuk mengorbankan harga diri. Dan orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah takut mengakui siapa dirimu, apalagi mengambil hasil kerja kerasmu demi menjaga harga dirinya sendiri.”
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Di luar gedung, matahari mulai terbenam.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menyadari bahwa pulau pribadi yang kubatalkan hari itu ternyata bukan liburan yang hilang.
Melainkan harga terakhir yang harus kubayar untuk mendapatkan kembali kebebasanku.
