Hari-hari berikutnya terasa seperti neraka yang dingin. Di depan Dimas, aku harus tetap tersenyum, menerima pelukannya, dan berpura-pura meminum air hangat yang dia siapkan setiap malam—yang kini selalu kubuang diam-diam ke dalam pot tanaman di balkon kamar saat dia berbalik.
Tiga hari kemudian, telepon dari klinik itu berdering. Suara dokter di seberang sana terdengar sangat serius, memintaku segera datang ke ruangannya.
Saat aku duduk di hadapannya, dokter itu menyodorkan selembar kertas hasil uji laboratorium.
“Ibu Ratna, cairan dalam sampel yang Anda bawa mengandung senyawa arsenik dosis mikro yang dicampur dengan obat penenang dosis tinggi,” ujar dokter itu dengan tatapan prihatin. “Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, kombinasi ini tidak akan langsung membunuh Anda, melainkan perlahan-lahan merusak organ dalam, memicu demensia dini, dan membuat Anda tampak seperti meninggal secara alami karena usia lanjut.”

Duniaku serasa runtuh. Enam tahun penuh kasih sayang, pijatan lembut di punggungku, panggilan “istri kecilku”—semuanya hanyalah sebuah sandiwara pembunuhan berencana yang dieksekusi dengan sangat rapi dan sabar. Dia tidak terburu-buru. Dia ingin aku mati secara perlahan agar tidak ada yang menaruh curiga.
Aku pulang ke rumah dengan tubuh gemetar, namun di dalam dada, rasa sedihku menguap, berganti menjadi kemarahan yang membakar. Aku tahu aku tidak bisa langsung mengonfrontasinya tanpa rencana yang matang. Aku butuh bukti konkrit yang tidak bisa dia bantah di pengadilan.
Malam itu, aku menyewa seorang detektif swasta untuk menyelidiki latar belakang Dimas yang sebenarnya. Hanya dalam waktu dua hari, kebenaran yang jauh lebih mengerikan terungkap.
Dimas Pratama bukanlah nama aslinya. Dia adalah seorang pria bermasalah yang terlilit utang judi online dalam jumlah fantastis. Dan yang paling mengejutkan: dia tidak tinggal sendiri di Jakarta. Detektif itu mengirimkan foto-foto Dimas sedang bertemu dengan seorang wanita muda di sebuah apartemen pinggiran kota. Wanita itu adalah istri sirinya, dan mereka memiliki seorang anak berusia empat tahun.
“Dia hanya perlu bertahan sedikit lagi, Sayang,” demikian bunyi pesan teks dari Dimas kepada istri sirinya yang berhasil disadap oleh detektifku. “Nenek tua itu sudah mulai pikun dan sering lelah. Begitu dia pergi, semua aset, rumah lima lantai, dan villa di Bali akan jatuh ke tangan kita. Kita akan kaya raya.”
Membaca pesan itu, air mataku tidak lagi menetes. Hatiku telah membatu.
Aku menyusun rencana pembalasan yang sempurna. Pertama-tama, aku diam-diam menemui pengacara lamaku. Aku mengubah seluruh isi wasiatku. Villa di Bali, rumah lima lantai di Jakarta, dan seluruh tabunganku tidak akan jatuh ke tangan Dimas sepeser pun. Semuanya kuhibahkan ke yayasan kanker dan panti jompo.
Lalu, tibalah malam eksekusi.
Aku pulang ke rumah dengan wajah lelah yang biasa kutunjukkan. Seperti biasa, malam itu Dimas masuk ke kamar dengan senyum malaikatnya yang palsu, membawa segelas air hangat di tangannya.
“Ini dia, istri kecilku yang cantik. Minum ya, biar tidurmu nyenyak,” bisiknya lembut, mengelus rambutku.
Aku menatap matanya dalam-dalam. “Dimas, tenggorokanku sangat kering malam ini. Tapi aku ingin minum air dingin saja. Bolehkah kamu mengambilkan es batu ke bawah?”
“Tentu saja, Sayang. Tunggu sebentar ya,” katanya dengan patuh.
Begitu langkah kakinya menjauh ke arah tangga, aku segera bertindak. Aku mengeluarkan botol kecil berisi air hangat miliknya yang sudah kusiapkan sejak sore—air yang telah dicampur dengan sisa obat penenang dosis sangat tinggi yang kudapatkan dari hasil penyadapan obatnya. Aku menukar isinya dengan cepat.
Ketika Dimas kembali membawa es batu, dia melihatku memegang gelas itu.
“Oh, kamu sudah meminumnya?” tanyanya, melihat gelas di tanganku yang sudah kosong setengah.
“Sudah, rasanya sangat menenangkan,” jawabku sambil tersenyum manis. “Tapi Dimas, tiba-tiba aku merasa sangat bersyukur memilikimu. Kamu selalu merawatku. Malam ini, aku ingin kamu juga merasakan kehangatan yang sama.”
Aku menyodorkan sebuah gelas lain yang sudah kuisi dengan air hangat dari termos pribadinya—air hangat yang malam ini secara khusus kutambahkan tetesan dari botol cokelat miliknya yang kutemukan di laci dapur.
“Minumlah. Aku ingin kita menua bersama dengan sehat,” kataku dengan nada penuh cinta yang paling meyakinkan.
Wajah Dimas seketika memucat. Matanya menatap gelas itu dengan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan. “Ah… tidak usah, Sayang. Aku… aku baru saja minum teh di bawah tadi. Aku tidak haus.”
“Kenapa, Dimas? Kamu selalu menyuruhku minum setiap malam tanpa absen. Kenapa sekarang kamu menolak minuman yang kubuatkan dengan penuh cinta?” tanyaku, melangkah mendekatinya.
“Aku benar-benar tidak haus, Ratna,” suaranya mulai bergetar. Dia mencoba mundur.
“Minum, Dimas,” kataku, kini dengan nada dingin yang belum pernah dia dengar selama enam tahun ini. Aku meletakkan segelas air itu di dadanya. “Atau kamu takut dengan apa yang ada di dalamnya? Tiga tetes cairan bening dari botol cokelat di laci dapurmu?”
Mendengar kata-kataku, lutut Dimas langsung lemas. Dia mundur hingga menabrak dinding. “Ka… kamu…”
“Ya, aku tahu semuanya,” kataku tenang, sambil mengeluarkan ponselku dan memutar rekaman suara percakapannya dengan istri sirinya, serta foto-foto hasil laboratorium forensik. “Enam tahun aku memperlakukanmu seperti suami yang kucintai, sementara kamu memperlakukanku seperti domba sembelihan.”
Dimas jatuh berlutut di lantai, mencoba meraih kakiku. “Ratna, maafkan aku! Aku khilaf, aku terpaksa karena utang… Aku mencintaimu, Ratna! Tolong jangan laporkan aku!”
Aku menarik kakiku dari genggamannya dengan jijik.
“Pintu di depan sudah kukunci, Dimas. Dan di luar, polisi sudah menunggu,” bisikku pelan.
Tepat saat itu, terdengar suara sirine polisi mendekat ke halaman rumah kami yang luas. Dimas menangis histeris, menyadari bahwa seluruh rencana indahnya untuk menguasai hartaku telah hancur berkeping-keping.
Saat polisi memborgolnya dan menyeretnya keluar dari rumah, aku berdiri di balkon lantai atas, menatap kepergiannya di bawah rintik hujan Jakarta. Aku menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya setelah enam tahun, udara yang kuhirup terasa sangat bersih dan lega.
Aku memang hampir berusia 60 tahun, dan aku mungkin kehilangan pernikahan kedua yang kukira indah. Namun malam ini, aku menyadari satu hal: aku masih cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri, dan “istri kecil” yang pernah dia remehkan ini baru saja mengirimnya ke tempat yang layak untuknya—penjara.
