Namaku Maya. Sampai hari ini, aku masih mengingat dengan jelas senyum putriku ketika ia melambaikan tangan dari dalam mobil yang membawa dirinya menuju pelabuhan. Saat itu aku sama sekali tidak tahu bahwa lambaian kecil itu akan menjadi awal dari mimpi buruk yang hampir menghancurkan hidupku.
“Aku akan bawa oleh-oleh banyak buat Mommy!” teriak Lianne sambil tertawa.
“Awas jangan nakal ya,” balasku sambil tersenyum.
Marissa, adik kandungku, hanya mengangguk. “Tenang saja, Kak. Tiga hari lagi kami sudah pulang.”
Mobil itu menjauh.

Aku berdiri cukup lama di depan rumah, merasa sedikit kesepian, tetapi juga bahagia karena akhirnya Lianne bisa menikmati liburan yang selama ini hanya ia lihat dari televisi.
Selama hari pertama, semuanya terlihat normal.
Marissa mengirim beberapa foto. Lianne sedang bermain di kolam renang, makan es krim, berfoto dengan maskot kapal, bahkan video pendek ketika mereka menikmati matahari terbenam di dek atas.
Aku tersenyum sepanjang hari.
Namun memasuki hari kedua, sesuatu mulai terasa aneh.
Pesan-pesanku dibalas sangat lambat.
Saat aku meminta berbicara lewat video dengan Lianne, Marissa selalu punya alasan.
“Lianne lagi tidur.”
“Lagi ikut aktivitas anak-anak.”
“Sinyal di tengah laut jelek.”
Aku mencoba percaya.
Malam itu entah mengapa aku sulit tidur.
Perasaanku sebagai seorang ibu terus mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
Hari ketiga akhirnya tiba.
Sejak pagi aku sudah menunggu di rumah sambil memasak makanan favorit Lianne.
Ayam goreng madu.
Sup jagung.
Puding cokelat.
Jam demi jam berlalu.
Sekitar pukul tujuh malam, sebuah taksi berhenti di depan rumah.
Aku berlari keluar dengan wajah penuh senyum.
Tetapi senyumku langsung hilang.
Marissa turun sendirian.
Wajahnya pucat.
Matanya sembab.
Tangannya gemetar.
“Mana Lianne?” tanyaku.
Ia tidak menjawab.
“Marissa… mana anakku?”
Air matanya tiba-tiba mengalir deras.
“Kak…”
“Jawab!”
“Lianne… hilang.”
Dunia seolah berhenti berputar.
“Apa?”
“Aku… aku tidak bisa menemukannya…”
Aku mencengkeram bahunya begitu keras hingga ia meringis.
“Kau bercanda?”
“Tidak…”
“Di mana anakku?”
“Aku… aku cuma tinggal sebentar…”
“Sebentar berapa lama?”
“Sepuluh menit…”
Aku menamparnya sekeras mungkin.
“Kau tinggalkan anak delapan tahun sendirian?”
Marissa menangis histeris.
“Aku cuma ke toko suvenir…”
“Kau bohong!”
Tetangga mulai berdatangan.
Aku tidak peduli.
Aku segera menelepon polisi.
Malam itu juga kami menuju kantor kepolisian pelabuhan.
Namun yang membuatku semakin marah adalah sikap Marissa.
Ia terus mengulang cerita yang sama.
“Aku kembali… Lianne sudah tidak ada.”
Tidak ada detail.
Tidak ada usaha menjelaskan.
Polisi kemudian meminta rekaman CCTV kapal.
Aku berharap akan menemukan seseorang yang menculik putriku.
Namun rekaman itu justru membuat seluruh ruangan terdiam.
Terlihat jelas Marissa menggandeng Lianne menuju area dek belakang.
Lalu mereka berbicara.
Setelah itu muncul seorang perempuan asing.
Perempuan itu memegang tangan Lianne.
Marissa menyerahkan tas kecil milik putriku.
Kemudian… Marissa pergi.
Meninggalkan Lianne bersama perempuan itu.
Aku memandang adikku dengan mata penuh kebencian.
“Itu siapa?”
“Aku… aku tidak kenal…”
“Jangan bohong!”
Polisi langsung mengamankan Marissa untuk diperiksa lebih lanjut.
Beberapa jam kemudian, fakta pertama terungkap.
Perempuan itu ternyata menggunakan identitas palsu ketika naik kapal.
Tidak ada catatan alamat yang valid.
Ia menghilang setelah kapal bersandar.
Hatiku semakin hancur.
Dua hari berlalu tanpa kabar.
Media mulai memberitakan hilangnya Lianne.
Foto putriku tersebar ke mana-mana.
Aku hampir tidak makan.
Tidak tidur.
Hanya menangis.
Pada hari ketiga penyelidikan, polisi memanggilku.
“Kami menemukan sesuatu.”
Harapanku kembali muncul.
Mereka memperlihatkan rekaman lain.
Kali ini dari area parkir pelabuhan.
Perempuan itu ternyata membawa Lianne ke sebuah mobil hitam.
Namun sebelum masuk mobil…
Lianne tiba-tiba berhenti.
Ia menoleh ke belakang.
Lalu sengaja menjatuhkan boneka kelinci kecil yang selalu dibawanya.
Aku langsung menangis.
“Itu boneka kesayangannya…”
Seorang penyidik berkata pelan.
“Anak Ibu sangat cerdas.”
Boneka itu ternyata ditemukan petugas kebersihan.
Di dalam bajunya terdapat secarik kertas kecil.
Tulisan tangan Lianne.
“Tolong bilang ke Mommy aku dipaksa ikut.”
Semua orang di ruangan itu terdiam.
Aku memeluk kertas itu seperti memeluk putriku sendiri.
Penyelidikan berubah total.
Kini polisi yakin ini bukan anak hilang biasa.
Ini penculikan yang direncanakan.
Yang paling mengejutkan datang seminggu kemudian.
Rekening bank Marissa menerima transfer hampir satu miliar rupiah dua hari sebelum keberangkatan.
Pengirimnya menggunakan perusahaan cangkang.
Saat diinterogasi lagi, akhirnya Marissa mulai berbicara.
Tangisnya pecah.
“Aku cuma disuruh membawa Lianne.”
“Oleh siapa?”
“Mereka bilang hanya ingin mempertemukan Lianne dengan seseorang.”
“Seseorang siapa?”
“Ayah kandungnya.”
Aku membeku.
“Ayah kandung?”
Aku menatap polisi.
“Itu tidak mungkin.”
Karena ayah Lianne sudah meninggal lima tahun lalu akibat kecelakaan.
Marissa menunduk.
“Bukan.”
Aku merasa dadaku sesak.
“Maksudmu apa?”
“Ayah yang membesarkannya memang meninggal.”
“Tapi…”
“Ayah biologisnya masih hidup.”
Aku hampir jatuh dari kursi.
Rahasia yang kusimpan selama delapan tahun tiba-tiba terbongkar.
Sebelum menikah, aku pernah menjalin hubungan dengan seorang pria kaya bernama Adrian.
Ketika mengetahui aku hamil, keluarganya memaksanya pergi ke luar negeri.
Aku kemudian menikah dengan Rudi yang menerima Lianne sepenuh hati.
Rudi tidak pernah membedakan Lianne sebagai anak sendiri.
Ia meninggal tanpa pernah mengetahui kebenaran itu.
Aku mengubur rahasia tersebut selamanya.
Setidaknya… itulah yang kupikir.
Polisi segera melacak Adrian.
Ternyata ia memang baru kembali ke Indonesia enam bulan sebelumnya.
Setelah mengetahui keberadaan Lianne, ia diam-diam menyuruh orang mencarinya.
Namun ia mengaku tidak pernah memerintahkan penculikan.
“Aku hanya ingin bertemu anakku.”
Penyelidikan akhirnya mengarah kepada ibu Adrian.
Wanita tua itu ternyata diam-diam menyusun rencana sendiri.
Menurutnya, cucunya harus tumbuh dalam keluarga mereka.
Ia menyuap Marissa agar membawa Lianne ke kapal pesiar sehingga lebih mudah dipisahkan tanpa menimbulkan kecurigaan.
Marissa yang terlilit utang hampir delapan ratus juta rupiah akhirnya menerima tawaran itu.
Ia berpikir semuanya akan berjalan damai.
Ia percaya Lianne hanya akan tinggal sementara di rumah keluarga Adrian.
Ia tidak pernah membayangkan semuanya berubah menjadi kasus penculikan nasional.
Polisi akhirnya menemukan lokasi persembunyian mereka di sebuah vila pribadi di kawasan Puncak.
Aku ikut dalam perjalanan menuju lokasi.
Sepanjang jalan aku tidak berhenti berdoa.
Saat pintu vila dibuka…
Aku melihat Lianne sedang duduk di taman kecil.
Ia sedang menggambar bunga.
Begitu melihatku…
“Mommy!”
Ia berlari sekencang mungkin.
Aku memeluknya erat.
Tangisku pecah.
“Aku pikir Mommy nggak akan datang…”
“Maafkan Mommy…”
Lianne menggeleng.
“Aku tahu Mommy pasti cari aku.”
Aku menangis semakin keras.
Di dalam vila, polisi menangkap ibu Adrian beserta beberapa orang yang membantunya.
Adrian hanya berdiri terpaku.
Ia memandang Lianne dengan mata berkaca-kaca.
“Aku benar-benar ayahmu…”
Lianne memegang tanganku erat.
Lalu ia bertanya pelan.
“Mommy… siapa Om itu?”
Aku menatap Adrian cukup lama.
“Ayah biologismu.”
Lianne terdiam.
Beberapa detik kemudian ia berkata dengan suara yang membuat seluruh ruangan sunyi.
“Kalau ayah, kenapa baru datang setelah delapan tahun?”
Adrian tidak mampu menjawab.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Lianne melanjutkan.
“Ayahku itu Papa Rudi. Yang ngajarin aku naik sepeda, yang nemenin aku waktu sakit, yang selalu gendong aku. Walaupun Papa sudah di surga, dia tetap ayahku.”
Tidak ada satu orang pun yang sanggup berkata-kata.
Adrian akhirnya menundukkan kepala.
“Aku kehilangan hak itu sejak lama.”
Beberapa bulan kemudian, persidangan selesai.
Ibu Adrian dijatuhi hukuman penjara karena merencanakan penculikan anak.
Marissa juga dihukum karena keterlibatannya.
Sebelum dibawa ke lembaga pemasyarakatan, ia meminta bertemu denganku.
“Aku tahu Kakak tidak akan pernah memaafkanku.”
Aku hanya menatapnya.
“Dulu aku pikir uang bisa menyelesaikan semua masalah.”
Aku menggeleng pelan.
“Bukan uang yang menghancurkan keluarga kita. Tapi pilihanmu.”
Ia menangis sampai pintu ruang tahanan ditutup.
Sejak hari itu aku tidak pernah lagi mengunjunginya.
Beberapa tahun kemudian, Adrian sesekali mengirim surat dan hadiah ulang tahun.
Aku tidak pernah melarang.
Keputusan itu kuberikan kepada Lianne ketika ia cukup dewasa.
Namun setiap kali seseorang bertanya siapa ayahnya, Lianne selalu tersenyum sambil melihat foto seorang pria sederhana yang tergantung di ruang tamu.
“Itu ayahku. Dia mungkin bukan yang memberiku kehidupan, tapi dialah yang mengajariku arti menjadi keluarga.”
Saat mendengar jawaban itu, aku selalu sadar bahwa hubungan darah memang bisa mempertemukan seseorang dengan seorang anak, tetapi hanya kasih sayang, pengorbanan, dan kesetiaan yang benar-benar menjadikan seseorang layak dipanggil sebagai orang tua.
