Seorang pria berusia 41 tahun menghilang di rumah sakit… yang tersisa hanyalah suara air yang mengalir dari dalam tubuhnya.

“Seorang pria berusia 41 tahun menghilang di rumah sakit… yang tersisa hanyalah suara air yang mengalir dari dalam tubuhnya.”

Semuanya bermula dari seekor belut.

Belut itu panjangnya sekitar lima puluh sentimeter, tubuhnya licin berwarna perak keabu-abuan seperti logam yang telah lama digerus air laut. Ia hidup di selokan tua di belakang pasar ikan, tempat sampah rumah tangga, sisa ikan busuk, dan bangkai hewan kecil hanyut bersama air hitam yang nyaris tidak pernah berhenti mengalir.

Tak seorang pun tahu kapan belut itu mulai berubah.

Sampai suatu sore, seorang pria berusia empat puluh satu tahun menangkapnya.

Namanya Arman Dela Cruz.

Ia bekerja sebagai buruh gudang di pinggiran Manila. Hidupnya sederhana, nyaris membosankan. Ia tinggal sendirian di apartemen sempit yang dindingnya mulai mengelupas. Setiap pagi ia berangkat sebelum matahari terbit, pulang ketika langit sudah gelap. Tidak ada keluarga yang menunggu, tidak ada teman yang mengajak berbincang. Satu-satunya kebiasaan aneh Arman adalah membawa pulang benda-benda yang menurut orang lain tidak berguna.

Hari itu, yang ia bawa pulang adalah seekor belut.

Entah mengapa ia merasa makhluk itu sedang memandangnya. Tatapannya tidak seperti hewan liar yang ketakutan. Ada sesuatu yang tenang, seolah belut itu sudah lama menunggu seseorang menemukannya.

Di dapurnya, Arman memasukkan belut itu ke dalam ember berisi air bersih.

Belut itu hampir tidak bergerak.

Ia hanya diam.

Malam itu, suara air mulai terdengar.

Padahal semua keran sudah tertutup.

Arman memeriksa kamar mandi, dapur, bahkan pipa di belakang apartemen. Tidak ada kebocoran.

Namun suara itu tetap ada.

Air yang mengalir pelan.

Dekat sekali.

Seolah berasal dari balik dinding.

Ketika kembali ke dapur, ember itu kosong.

Belut itu lenyap.

Tidak ada cipratan air. Tidak ada bekas tubuh yang merayap di lantai.

Seakan ia tidak pernah berada di sana.

Beberapa jam kemudian, Arman merasakan nyeri di perutnya.

Awalnya ringan.

Lalu berubah menjadi sensasi dingin yang perlahan bergerak dari bawah pusar menuju dada.

Saat berbaring, ia kembali mendengar suara air.

Kali ini bukan dari luar.

Melainkan dari dalam tubuhnya sendiri.

Ia panik.

Keesokan paginya, rasa sakit semakin kuat hingga membuatnya pingsan di tempat kerja.

Ia segera dilarikan ke Rumah Sakit San Lazaro.

Dokter mengira itu keracunan makanan atau infeksi parasit langka.

CT scan dilakukan.

Endoskopi dilakukan.

Hasilnya membuat ruang pemeriksaan mendadak sunyi.

Tidak ada luka.

Tidak ada penyumbatan.

Namun di dalam tubuh Arman terlihat sesuatu yang bergerak perlahan.

Bentuknya memanjang.

Tidak jelas.

Seolah selalu menghindari sorotan kamera.

Seorang dokter muda tanpa sadar berbisik, “Rasanya… benda itu tahu kita sedang melihatnya.”

Semua orang menganggap ucapan itu hanya karena ia terlalu lelah.

Tetapi sejak hari itu, tidak ada seorang pun yang mau memeriksa Arman sendirian.

Yang lebih mengerikan justru bukan kondisi fisiknya.

Melainkan ingatannya.

Arman mulai lupa kejadian yang baru saja dialaminya.

Namun pada saat bersamaan, ia memiliki kenangan yang tidak pernah terjadi.

Ia bersikeras pernah tinggal di sebuah desa nelayan di Sulawesi.

Padahal sepanjang hidupnya ia belum pernah meninggalkan Luzon.

Ia mengaku mengenal seorang perempuan bernama Sari.

Tak ada satu pun orang bernama itu di masa lalunya.

Ia bahkan bisa menggambarkan rumah kayu, aroma laut, suara ombak, dan wajah perempuan itu dengan sangat rinci hingga membuat para perawat merinding.

Beberapa hari kemudian, hal yang lebih aneh terjadi.

Arman mulai mengenali orang-orang yang belum pernah ditemuinya.

Saat seorang petugas kebersihan baru masuk ke kamar, Arman berkata pelan, “Ayahmu meninggal karena banjir waktu kamu berumur sepuluh tahun.”

Petugas itu membeku.

Tak seorang pun di rumah sakit mengetahui kisah tersebut.

Petugas itu menangis.

Ia mengaku cerita itu benar.

Berita tentang pasien aneh itu menyebar diam-diam.

Seorang neurolog datang untuk meneliti.

Seorang psikiater ikut memeriksa.

Tidak ada yang menemukan jawaban.

Pada malam ketujuh, kamera CCTV di kamar Arman mengalami gangguan selama empat puluh dua detik.

Ketika rekaman kembali normal, posisi Arman masih sama di atas ranjang.

Namun air infus di sampingnya telah kosong.

Lantai kamar basah.

Dan jejak air mengarah ke bawah tempat tidur.

Petugas keamanan segera mengangkat ranjang.

Tidak ada apa-apa.

Tetapi suara air terdengar semakin jelas.

Dokter memutuskan melakukan operasi eksplorasi.

Mereka yakin ada sesuatu yang harus dikeluarkan.

Arman hanya tersenyum ketika diberi penjelasan.

“Kalau kalian membukanya,” katanya pelan, “jangan kaget kalau yang keluar bukan aku.”

Semua mengira ia sedang mengigau.

Operasi dimulai keesokan paginya.

Begitu sayatan pertama dibuat, monitor detak jantung mendadak berubah tidak stabil.

Bukan karena Arman sekarat.

Justru denyut nadinya menjadi sangat tenang.

Terlalu tenang.

Seolah tubuhnya sedang tidur sangat dalam.

Dokter bedah perlahan membuka rongga perut.

Mereka terdiam.

Tidak ada darah sebanyak yang seharusnya.

Yang terlihat justru cairan bening seperti air sungai.

Di dasar rongga itu, sesuatu bergerak perlahan.

Bukan organ.

Bukan usus.

Melainkan seekor belut berwarna perak yang jauh lebih besar daripada ukuran saat pertama kali ditemukan.

Namun yang membuat semua orang membeku adalah matanya.

Mata itu sangat mirip mata manusia.

Belut tersebut tidak menyerang.

Ia hanya memandang seluruh ruangan.

Lalu menyelam kembali ke dalam cairan bening yang entah berasal dari mana.

Monitor jantung tiba-tiba kembali normal.

Saat dokter hendak mengambil alat penjepit, seluruh lampu ruang operasi padam.

Generator darurat membutuhkan waktu tiga belas detik untuk menyala.

Ketika cahaya kembali…

Perut Arman telah tertutup rapat.

Tidak ada bekas sayatan.

Tidak ada bekas jahitan.

Seolah operasi belum pernah dilakukan.

Yang tersisa hanyalah alat bedah yang masih berlumuran air.

Beberapa dokter memilih mengundurkan diri beberapa minggu setelah kejadian itu.

Tak satu pun bersedia membicarakannya.

Arman dipindahkan ke ruang isolasi.

Ia semakin pendiam.

Namun setiap malam, ia berbicara kepada seseorang yang tidak terlihat.

Suatu malam, seorang perawat mendengar percakapannya.

“Apa lagi yang kau cari?”

Beberapa detik hening.

Kemudian Arman menjawab sendiri.

“Kenangan.”

Perawat itu membuka pintu.

Arman sedang sendirian.

Tetapi suara kedua tetap terdengar.

Suara itu seperti bisikan yang datang dari dalam tenggorokannya sendiri.

Seminggu kemudian, Arman dinyatakan hilang.

Pintu ruang isolasi masih terkunci dari dalam.

Jendela tidak pernah dibuka.

Tidak ada lorong rahasia.

Yang ditemukan hanya pakaian pasien yang terlipat rapi di atas ranjang.

Seprai basah.

Lantai dipenuhi genangan air jernih.

Dan suara air mengalir yang perlahan menghilang ke saluran pembuangan.

Kasus itu akhirnya ditutup.

Penyebab hilangnya pasien dinyatakan tidak diketahui.

Semua dokumen medis disimpan dalam arsip terbatas.

Tahun-tahun berlalu.

Orang mulai melupakan nama Arman.

Sampai seorang dokter Indonesia bernama Dr. Bima menerima kiriman berkas lama dari Manila untuk keperluan penelitian penyakit langka.

Di antara tumpukan dokumen, terselip satu rekaman CT scan milik Arman.

Saat diperbesar, Dr. Bima memperhatikan sesuatu yang sebelumnya tidak disadari siapa pun.

Bayangan menyerupai belut itu tidak berada di dalam tubuh Arman.

Melainkan membentuk pola seperti aliran sungai.

Dan di sepanjang “sungai” itu, terlihat puluhan siluet wajah manusia.

Wajah-wajah yang berbeda.

Tua.

Muda.

Laki-laki.

Perempuan.

Seakan mereka semua sedang hanyut bersama arus.

Di bagian belakang film CT terdapat tulisan tangan yang sangat pudar.

Bukan tulisan dokter.

Bukan pula tulisan Arman.

Hanya satu kalimat.

“Air tidak pernah mencuri siapa pun. Air hanya membawa pulang ingatan yang memang bukan milikmu.”

Dr. Bima menatap kalimat itu cukup lama.

Lalu tanpa sadar ia mendengar suara yang sangat pelan.

Suara air mengalir.

Ia segera menoleh ke wastafel laboratorium.

Kerannya tertutup rapat.

Namun suara itu tidak berhenti.

Perlahan.

Semakin dekat.

Seolah berasal dari dalam tubuhnya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang