Aku segera mematikan layar ponsel dan meletakkannya kembali di meja samping tempat tidur tepat ketika pintu kamar mandi terbuka.
Chen Mo keluar dengan handuk di bahunya. Rambutnya masih basah, dan wajahnya tampak jauh lebih segar daripada beberapa menit sebelumnya.
“Aku lapar,” katanya sambil tersenyum. “Masih sempat masak?”
“Tentu.”
Aku membalas senyum itu.

Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun menikah, aku menyadari bahwa senyum ternyata bisa menjadi topeng.
Malam itu kami makan dalam keheningan. Ia beberapa kali mencoba mengajakku mengobrol tentang pekerjaan, tentang rencana liburan akhir tahun, bahkan tentang tanaman di balkon yang mulai berbunga.
Aku menanggapinya dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Di dalam kepalaku, hanya ada satu pertanyaan.
Sejak kapan semuanya dimulai?
Aku tidak menangis malam itu.
Air mata hanya datang ketika seseorang masih berharap.
Sementara harapanku telah hancur bersama tiga pesan singkat di WeChat.
Keesokan paginya Chen Mo berangkat lebih awal.
Begitu suara pintu garasi menghilang, aku membuka laptop yang sudah lama tidak kusentuh.
Sepuluh tahun menjadi ibu rumah tangga membuatku hampir lupa bahwa dulu aku adalah analis strategi di sebuah perusahaan multinasional.
Aku mulai membuka kembali akun-akun lama, menghubungi mantan rekan kerja, dan memperbarui CV.
Lalu aku menghubungi satu orang lagi.
Lina.
Teman kuliahku yang kini bekerja sebagai pengacara perceraian.
“Aku tidak akan bertanya kenapa,” katanya setelah mendengar suaraku yang bergetar. “Aku cuma mau tahu satu hal. Apa kamu sudah benar-benar yakin?”
Aku menutup mata.
“Ya.”
“Kalau begitu jangan bertindak dengan emosi. Kumpulkan semua bukti. Jangan memberi tahu dia bahwa kamu sudah tahu.”
Aku mengangguk, meski ia tidak bisa melihatku.
Beberapa hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Aku tetap memasak.
Tetap menyiapkan bajunya.
Tetap mengantarnya sampai pintu.
Namun diam-diam aku mulai menyusun kepingan-kepingan puzzle yang selama ini kuabaikan.
Tagihan hotel.
Transfer kecil yang dilakukan hampir setiap minggu.
Pesanan bunga ke alamat yang bukan kantor.
Bahkan sebuah apartemen yang ternyata disewa atas nama perusahaan.
Semakin banyak yang kutemukan, semakin tenang aku menjadi.
Rasa marah perlahan berubah menjadi dingin.
Suatu sore, Chen Mo berkata bahwa ia harus menghadiri rapat di Bandung selama tiga hari.
Aku tersenyum.
“Semoga lancar.”
Malam itu, setelah mobilnya meninggalkan kompleks, aku memesan taksi.
Tujuanku bukan Bandung.
Melainkan apartemen yang tercantum dalam salah satu bukti pembayaran.
Aku berdiri di seberang jalan hampir satu jam.
Kemudian sebuah mobil hitam berhenti.
Chen Mo turun.
Beberapa detik kemudian, seorang wanita keluar dari lobi.
Usianya sekitar tiga puluh lima tahun.
Elegan.
Cantik.
Aku langsung mengenalinya.
Jian Wei.
Wanita itu tersenyum ketika melihat Chen Mo.
Mereka tidak berpelukan.
Tidak bergandengan tangan.
Namun cara mereka saling memandang sudah menjelaskan segalanya.
Aku mengangkat ponsel dan mengambil beberapa foto.
Lalu aku pergi.
Aku tidak merasa perlu melihat lebih jauh.
Beberapa hari kemudian, sebuah kejutan datang.
Jian Wei sendiri menghubungiku.
“Bu Lin? Saya Jian Wei. Apa kita bisa bertemu?”
Aku hampir tertawa.
Wanita yang menjadi orang ketiga justru meminta bertemu dengan istri sah.
Kami bertemu di sebuah kafe.
Ia datang sendirian.
Tanpa riasan berlebihan.
Tanpa ekspresi menang.
“Saya tahu Ibu sudah mengetahui hubungan saya dengan Chen Mo.”
Aku menatapnya tanpa bicara.
“Saya datang bukan untuk meminta maaf.”
Aku mengangkat alis.
“Saya datang karena saya juga baru tahu kalau saya dibohongi.”
Kalimat itu membuatku membeku.
Jian Wei menarik napas panjang.
“Dia mengatakan sudah lama berpisah secara emosional dengan istrinya. Katanya kalian hanya mempertahankan status pernikahan karena keluarga.”
Aku tersenyum pahit.
“Klasik.”
Wanita itu mengeluarkan sebuah map.
Di dalamnya terdapat beberapa kontrak dan laporan keuangan.
“Perusahaan saya sedang mengaudit proyek kerja sama. Saya menemukan sesuatu yang aneh.”
Aku membuka halaman pertama.
Tanda tangan Chen Mo.
Transfer dana.
Komisi fiktif.
Nominalnya miliaran rupiah.
Jian Wei melanjutkan dengan suara pelan.
“Awalnya saya mengira dia hanya berselingkuh. Tapi ternyata dia juga memanfaatkan perusahaan saya.”
Aku memandangnya lama.
Untuk pertama kalinya, aku tidak melihatnya sebagai musuh.
Melainkan seseorang yang juga sedang tertipu.
“Apa yang ingin Anda lakukan?”
“Saya akan melaporkannya.”
Aku terdiam.
Chen Mo bukan hanya mengkhianati pernikahan kami.
Ia juga sedang menghancurkan hidupnya sendiri.
Sebulan kemudian, perusahaan tempat Chen Mo bekerja mengadakan rapat darurat.
Audit internal menemukan manipulasi komisi, kontrak palsu, dan aliran dana mencurigakan.
Polisi ekonomi ikut menyelidiki.
Pada hari yang sama, ia pulang dengan wajah pucat.
“Sayang…”
Ia memanggilku lirih.
Aku sedang duduk di ruang tamu.
Di atas meja sudah ada dua dokumen.
Surat gugatan cerai.
Dan salinan bukti-bukti perselingkuhan.
Wajahnya langsung berubah.
“Kamu…”
“Aku sudah tahu sejak sebulan lalu.”
Ia terduduk lemas.
“Aku bisa jelaskan.”
Aku menggeleng pelan.
“Aku sudah mendengar semua penjelasanmu. Bukan darimu, tapi dari tindakanmu.”
Air matanya akhirnya jatuh.
“Aku salah.”
“Bukan.”
Ia menatapku bingung.
“Kesalahan adalah sesuatu yang terjadi sekali. Yang kamu lakukan selama enam bulan adalah pilihan.”
Ruangan itu kembali sunyi.
Ia memandangi foto pernikahan kami yang masih tergantung di dinding.
Foto yang dulu selalu kami banggakan.
“Apa sudah tidak ada kesempatan lagi?”
Aku menghela napas panjang.
“Dulu, saat aku meninggalkan karierku demi menemanimu, aku memberikan seluruh hidupku tanpa menyisakan cadangan.”
“Dan ketika kamu memilih wanita lain, kamu mengambil satu-satunya hal yang tidak bisa dikembalikan.”
“Apa itu?”
“Kepercayaanku.”
Seminggu kemudian kami resmi berpisah.
Rumah itu dijual.
Hasilnya dibagi sesuai hukum.
Aku pindah ke apartemen kecil di pusat kota.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tempat itu terasa benar-benar milikku.
Beberapa bulan berlalu.
Berkat rekomendasi mantan rekan kerja, aku diterima sebagai konsultan strategi di sebuah perusahaan teknologi.
Awalnya sulit.
Sepuluh tahun meninggalkan dunia kerja membuatku harus belajar dari awal.
Namun setiap tantangan justru mengingatkanku bahwa aku belum terlambat untuk memulai lagi.
Suatu malam, ketika pulang lembur, aku menerima pesan dari nomor yang tidak kusimpan.
“Aku keluar dari penjara hari ini.”
Itu Chen Mo.
Kasus penggelapan dana membuatnya dijatuhi hukuman dua tahun.
Jian Wei menjadi saksi utama.
Aku membaca pesan berikutnya.
“Aku tidak berharap kamu kembali. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.”
Aku tidak mengerti.
“Karena setelah kehilanganmu, aku akhirnya sadar bahwa satu-satunya orang yang benar-benar mencintaiku adalah orang yang paling sering kuabaikan.”
Aku menatap layar beberapa saat.
Lalu menghapus seluruh percakapan.
Tidak ada balasan.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada penyesalan.
Aku meletakkan ponsel dan membuka jendela apartemen.
Lampu-lampu Jakarta berkilauan di kejauhan.
Aku tersenyum kecil.
Dulu aku mengira kehilangan suami berarti kehilangan masa depan.
Ternyata yang benar justru sebaliknya.
Kadang hidup harus menghancurkan sesuatu yang salah agar memberi ruang bagi sesuatu yang jauh lebih baik.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi merasa sebagai wanita yang ditinggalkan.
Aku merasa seperti seseorang yang akhirnya berhasil menemukan kembali dirinya sendiri.
