Di Tahun Pertama Menjadi Menantu Keluarga Kaya, Akhirnya Aku Hamil. Saat Pemeriksaan Kehamilan, Dokter Menunjuk Hasil USG dengan Wajah Gugup…

Namaku Alya Prameswari. Sampai hari aku menandatangani surat pernikahan itu, aku masih percaya bahwa hidupku tidak akan pernah bersinggungan dengan keluarga terkaya di Jakarta.

Aku hanyalah seorang perempuan yang tumbuh di panti asuhan, bekerja sebagai analis laboratorium dengan gaji pas-pasan. Hidupku sederhana, bahkan terlalu sederhana. Karena itulah ketika sebuah firma hukum menghubungiku dan menawarkan pernikahan kontrak dengan putra tunggal keluarga Santoso, kupikir mereka sedang salah sambung.

Namun ternyata tidak.

Syaratnya terdengar aneh tetapi jelas. Aku hanya perlu menjadi istri Adrian Santoso selama dua tahun. Jika dalam waktu itu aku berhasil melahirkan pewaris keluarga, aku akan menerima kompensasi yang nilainya cukup untuk mengubah seluruh hidupku. Jika gagal, kami akan bercerai secara damai dan aku tetap menerima sejumlah uang.

Aku tahu itu bukan cinta.

Bahkan bukan pernikahan.

Itu hanyalah kesepakatan bisnis.

Yang tidak pernah kuduga adalah bagaimana hidupku berubah setelah memasuki rumah keluarga Santoso.

Adrian hampir tidak pernah berada di rumah. Ia bekerja sejak pagi hingga larut malam, berbicara seperlunya, dan memperlakukanku dengan sopan tetapi sangat dingin.

Sebaliknya, ibu mertuaku, Clara Santoso, memperlakukanku seolah aku adalah harapan terakhir keluarga mereka.

Setiap hari aku harus meminum jamu mahal, mengikuti jadwal nutrisi, olahraga ringan, pemeriksaan kesehatan, hingga konsultasi dengan dokter kesuburan terbaik.

Semua itu terasa berlebihan.

Sampai tiga bulan kemudian, aku terlambat datang bulan.

Hasil tes menunjukkan dua garis.

Rumah besar itu berubah seperti sedang merayakan tahun baru.

Para pelayan berlarian.

Koki pribadi dipanggil.

Dokter keluarga mulai berjaga hampir setiap hari.

Clara bahkan memelukku sambil menangis.

“Akhirnya… akhirnya keluarga Santoso punya harapan.”

Aku baru menyadari betapa besar tekanan yang selama ini mereka sembunyikan.

Namun kejutan sebenarnya baru datang dua bulan kemudian.

Dokter kandungan yang memeriksaku berkali-kali terlihat semakin serius.

Beliau mengulang USG hingga tiga kali.

Ruangan mendadak sunyi.

“Ada sesuatu yang perlu saya jelaskan.”

Jantungku berdegup semakin cepat.

“Apa bayi saya baik-baik saja?”

Dokter menarik napas panjang.

“Semuanya sehat.”

Aku menghela napas lega.

“Tapi… ini bukan satu janin.”

Aku tersenyum kecil.

“Kembar?”

Dokter menggeleng.

“Bukan.”

Beliau menunjuk layar.

“Empat.”

Aku merasa dunia berhenti berputar.

Empat?

Dokter kembali memperbesar gambar.

“Empat janin berkembang dengan baik.”

Aku menoleh kepada Clara.

Wajah wanita itu benar-benar membeku.

Lima detik kemudian, ia berdiri sambil menutup mulutnya.

“Leluhur keluarga Santoso pasti sedang memberkati kita…”

Sebelum aku sempat bereaksi, beliau langsung menelepon Adrian.

“Kalau kamu masih rapat, bubarkan sekarang juga!”

Sore itu Adrian pulang lebih cepat daripada biasanya.

Ia berdiri di samping ranjang rumah sakit sambil memandang hasil USG cukup lama.

Biasanya wajahnya tidak pernah menunjukkan emosi.

Namun kali ini, aku melihat matanya sedikit membesar.

“Kamu yakin ini bukan salah baca?”

Dokter tersenyum.

“Kami sudah memeriksanya berkali-kali.”

Adrian tidak mengatakan apa-apa lagi.

Tetapi malam itu untuk pertama kalinya sejak kami menikah, ia duduk di sampingku hingga aku tertidur.

Hari-hari berikutnya kehidupanku berubah total.

Aku dilarang naik tangga.

Tidak boleh mengangkat barang.

Setiap langkah diawasi.

Rumah dipenuhi dokter, ahli gizi, fisioterapis, bahkan psikolog.

Aku mulai merasa seperti sedang membawa seluruh masa depan perusahaan di dalam perutku.

Semuanya berjalan baik sampai suatu sore aku tanpa sengaja mendengar percakapan dua direktur senior perusahaan.

“Mereka belum tahu?”

“Tidak.”

“Kalau nanti DNA bayi keluar, semuanya akan berubah.”

Aku berhenti melangkah.

DNA?

Apa maksud mereka?

Malam itu aku membuka brankas kecil di ruang kerja Adrian.

Bukan karena ingin mencuri.

Aku hanya ingin mencari jawaban.

Di dalamnya terdapat sebuah map berwarna hitam.

Isinya laporan medis.

Namanya jelas tertulis.

Adrian Santoso.

Diagnosis: infertilitas primer.

Aku membaca halaman demi halaman dengan tangan gemetar.

Tanggal pemeriksaan menunjukkan hasil itu keluar jauh sebelum kami menikah.

Artinya…

Secara medis…

Adrian hampir mustahil memiliki anak.

Aku terduduk lemas.

Kalau begitu…

Empat bayi yang sedang kukandung ini…

Anak siapa?

Pikiran itu membuatku tidak bisa tidur semalaman.

Aku mengingat setiap detail.

Aku tidak pernah berselingkuh.

Aku bahkan hampir tidak pernah keluar rumah sendirian.

Lalu bagaimana mungkin?

Keesokan harinya aku menemui dokter kandunganku diam-diam.

Beliau membaca laporan itu.

Wajahnya berubah.

“Laporan ini memang asli.”

“Kalau begitu bayi saya…”

“Tunggu dulu.”

Beliau meminta izin melakukan pemeriksaan lanjutan.

Seminggu kemudian hasilnya keluar.

Dokter tersenyum lega.

“Ada penjelasan ilmiahnya.”

Aku memandang beliau tanpa berkedip.

“Ternyata sebelum menikah, suamimu mengikuti program penyimpanan sel reproduksi beberapa tahun lalu. Saat itu kondisinya memang masih memungkinkan. Setelah penyakitnya berkembang, kemampuan alaminya menurun drastis.”

Aku menghela napas.

Namun dokter belum selesai.

“Yang membuatmu mengandung empat bayi sekaligus adalah prosedur fertilisasi berbantu yang ternyata pernah disetujui keluarga Santoso tanpa diberitahukan secara rinci kepadamu. Empat embrio berhasil berkembang bersamaan.”

Aku membeku.

Mereka…

Tidak pernah menjelaskan itu kepadaku.

Saat aku pulang, Clara sudah menunggu.

Beliau menangis sebelum sempat berbicara.

“Maafkan kami.”

Aku hanya diam.

“Kami takut kalau kami mengatakan semuanya dari awal, kamu akan menolak.”

“Jadi saya hanya dianggap alat?”

Beliau menundukkan kepala.

“Tidak.”

“Awalnya mungkin iya.”

Jawaban itu justru terasa paling jujur.

“Tapi sekarang tidak.”

Beliau menggenggam tanganku.

“Kamu sudah menjadi keluarga kami.”

Aku menarik tanganku perlahan.

“Apakah Adrian juga berpikir begitu?”

Malam itu Adrian datang ke kamarku.

Untuk pertama kalinya ia membuka semua rahasianya.

“Aku tidak pernah ingin menikah.”

“Aku tahu.”

“Aku tahu ibuku memaksamu.”

Aku tetap diam.

“Aku juga tahu mereka tidak menceritakan semuanya.”

“Lalu kenapa kamu membiarkannya?”

Karena aku pengecut.”

Jawaban itu membuatku menatapnya.

Ia tersenyum pahit.

“Aku sudah kehilangan ayahku. Dokter mengatakan kemungkinan besar aku tidak akan pernah punya anak secara alami. Ibuku hampir depresi. Aku menyerah pada semua keputusan keluarga.”

Ia menghela napas panjang.

“Tetapi setelah melihatmu setiap hari…”

“Aku mulai lupa kalau pernikahan ini hanya kontrak.”

Aku tidak menjawab.

Karena aku sendiri tidak tahu kapan perasaanku ikut berubah.

Bulan-bulan berikutnya menjadi masa paling menegangkan.

Kehamilan empat bayi membuat kondisiku beberapa kali kritis.

Aku harus menjalani perawatan intensif.

Seluruh keluarga Santoso bergantian menjagaku.

Bahkan Adrian yang biasanya tinggal di kantor kini hampir selalu tidur di sofa rumah sakit.

Hari persalinan akhirnya tiba lebih cepat dari jadwal.

Operasi berlangsung hampir empat jam.

Ketika sadar, suara tangisan bayi memenuhi ruangan.

Empat bayi.

Dua laki-laki.

Dua perempuan.

Semuanya lahir dengan selamat.

Aku menangis tanpa bisa berhenti.

Adrian menggenggam tanganku erat.

“Terima kasih.”

Aku tersenyum lemah.

“Kontrak kita selesai.”

Ia menggeleng pelan.

Lalu mengeluarkan map yang sangat kukenal.

Kontrak pernikahan kami.

Tanpa ragu, ia merobeknya menjadi potongan-potongan kecil.

“Mulai hari ini tidak ada lagi kontrak.”

Ia kemudian mengeluarkan sebuah amplop lain.

Isinya bukan cek.

Bukan sertifikat apartemen.

Melainkan akta kepemilikan saham.

Namaku tercantum sebagai pemegang lima belas persen saham Santoso Group.

Aku terkejut.

“Aku tidak membutuhkan ini.”

“Bukan hadiah.”

“Lalu apa?”

“Hakmu.”

Aku memandangnya bingung.

Adrian tersenyum untuk pertama kalinya tanpa ada jarak.

“Kamu datang ke keluarga ini sebagai orang asing yang dibayar untuk melahirkan anak.”

“Namun kamu mengajarkan kami bahwa keluarga tidak pernah dibangun oleh uang atau kontrak.”

“Melainkan oleh orang-orang yang memilih untuk saling menjaga.”

Di luar ruang perawatan, empat bayi kami mulai menangis bersamaan.

Kami saling berpandangan.

Lalu tertawa untuk pertama kalinya sebagai pasangan yang benar-benar menjadi suami dan istri, bukan lagi dua orang asing yang diikat oleh sebuah perjanjian.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang