Anakku Memaksaku Membayar Mobil Hampir 4 Miliar Rupiah, Lalu Pacarnya Mempermalukanku di Tengah Mal… Tapi Mereka Tidak Tahu—Aku Sudah Menyiapkan Balasan yang Tak Pernah Mereka Bayangkan

Aku tidak pernah membayangkan bahwa telepon yang kutekan sambil menahan sakit di pergelangan kaki akan menjadi akhir dari dua puluh delapan tahun pengorbananku sebagai seorang ibu.

“Bu Ratna, apa Ibu yakin?” tanya suara pengacaraku di seberang telepon.

“Aku sangat yakin. Siapkan semua dokumen yang diperlukan. Mulai hari ini, semua aset atas nama Luis yang masih kubiayai dihentikan. Apartemen, kartu kredit tambahan, rekening investasi, semuanya.”

Aku mematikan telepon tanpa menoleh lagi kepada Luis.

Wajahnya masih dipenuhi kemarahan.

Monica berdiri di sampingnya sambil memeluk lengannya, seolah mereka baru saja memenangkan sebuah pertandingan.

Tidak ada sedikit pun penyesalan.

Aku pergi meninggalkan mal dengan langkah tertatih.

Malam itu, kakiku dinyatakan mengalami retak ringan. Dokter menyarankan istirahat total selama beberapa minggu.

Namun rasa sakit di kaki tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit di hati.

Aku membuka album foto lama.

Ada foto Luis saat berusia lima tahun, memelukku sambil berkata, “Kalau aku besar nanti, aku akan belikan Mama rumah yang paling besar.”

Aku tersenyum pahit.

Anak kecil itu ternyata sudah lama menghilang.

Keesokan paginya, pengacaraku datang ke apartemen.

“Semua sudah saya siapkan. Apartemen tempat Luis tinggal masih atas nama Ibu.”

Aku mengangguk.

“Berikan waktu tujuh hari untuk mengosongkannya.”

“Mobil yang sekarang dia gunakan?”

“Tarik.”

“Rekening bulanan?”

“Tutup.”

“Biaya pernikahan?”

“Batal.”

Pengacaraku menatapku beberapa detik.

“Ibu benar-benar tidak akan berubah pikiran?”

Aku menjawab pelan.

“Yang berubah bukan aku.”

Hari itu juga, Luis mulai menelepon berkali-kali.

Aku tidak mengangkat.

Lalu pesan mulai berdatangan.

Ma…

Mama benar-benar keterlaluan.

Monica menangis semalaman.

Masa cuma karena satu tamparan Mama segitunya?

Aku membaca semuanya tanpa membalas.

Sore harinya muncul pesan lain.

Ma, apartemen tidak bisa dibuka.

Kartu akses kami diblokir.

Aku hanya mengirim satu kalimat.

“Itu bukan apartemenmu.”

Beberapa menit kemudian teleponku berdering lagi.

Suara Monica terdengar lebih dulu.

“Tante tega sekali! Kami mau menikah! Masa calon pengantin diusir?”

Aku tertawa kecil.

“Kalau memang kalian sudah dewasa, silakan hidup dengan kemampuan sendiri.”

Dia langsung membentak.

“Semua orang akan tahu kalau Tante ibu paling jahat!”

“Silakan.”

Aku memutus telepon.

Dua hari kemudian, media sosial mulai ramai.

Luis mengunggah foto masa kecil kami.

“Orang tua tidak seharusnya mengungkit semua pengorbanannya. Anak bukan investasi.”

Ribuan orang memberikan komentar simpati.

Monica bahkan membuat video menangis.

“Aku cuma ingin hidup sederhana bersama calon suamiku. Tapi ibunya memperlakukan kami seperti pengemis.”

Banyak yang menghujatku.

Aku tidak menjawab satu pun.

Karena aku tahu…

kebenaran selalu punya waktunya sendiri.

Seminggu kemudian, seseorang menghubungiku.

Namanya Arman.

Teman kuliah Luis.

“Bu, saya minta maaf mengganggu.”

“Ada apa?”

“Sebenarnya saya sudah lama ingin memberi tahu Ibu.”

Hatiku langsung tidak enak.

“Apa?”

“Luis sudah hampir dua tahun tidak bekerja.”

Aku terdiam.

“Maksudmu?”

“Dia memang setiap hari berangkat pagi. Tapi bukan ke kantor.”

Tanganku mulai dingin.

“Dia keluar karena takut Ibu curiga.”

“Lalu?”

“Dia bilang semua kebutuhan hidup akan ditanggung Ibu.”

Aku memejamkan mata.

Selama ini Luis selalu mengatakan sedang naik jabatan.

Bahkan setiap bulan dia masih memintaku membantu cicilan dengan alasan sedang berinvestasi.

Ternyata…

semuanya bohong.

Arman menarik napas panjang.

“Ada satu lagi.”

“Apa?”

“Monica juga tidak bekerja.”

“Dari dulu?”

“Iya.”

“Selama ini mereka hidup dari uang Ibu.”

Aku menutup telepon.

Rasanya seperti seluruh dunia runtuh.

Tapi belum selesai.

Dua hari kemudian, seorang wanita datang ke apartemenku.

Usianya sekitar lima puluh tahun.

“Apa benar Ibu Ratna?”

“Iya.”

“Saya ibunya Monica.”

Aku mempersilahkannya masuk.

Wanita itu langsung menangis.

“Saya minta maaf.”

Aku bingung.

“Kenapa?”

“Monica kabur dari rumah sejak tiga tahun lalu.”

Aku mulai mendengarkan dengan serius.

“Kami sudah tidak sanggup lagi membiayai gaya hidupnya.”

Dia mengeluarkan beberapa foto.

Foto Monica dengan berbagai pria.

“Semua mantan pacarnya.”

Aku membolak-balik foto itu.

Setiap pria tampak mengenakan barang-barang mewah.

“Mereka semua diputuskan setelah uangnya habis.”

Aku menghela napas.

“Ibu tahu hubungan Monica dengan Luis?”

“Tahu.”

“Lalu kenapa tidak mencegah?”

Wanita itu menangis semakin keras.

“Karena kami sudah tidak dianggap orang tua lagi.”

Sebelum pulang, dia berkata pelan.

“Saya hanya ingin menyelamatkan anak Ibu.”

Aku tersenyum getir.

“Sudah terlambat.”

Sebulan berlalu.

Aku mulai hidup lebih tenang.

Setiap pagi aku berjalan santai di taman.

Aku kembali bertemu teman-teman lama.

Aku bahkan mulai mengikuti kelas melukis yang dulu selalu kutunda.

Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun…

aku hidup untuk diriku sendiri.

Suatu sore, pengacaraku menelepon.

“Bu Ratna, ada kabar.”

“Apa?”

“Luis datang.”

“Ke kantor?”

“Iya.”

“Apa maunya?”

“Dia ingin menggugat.”

Aku tersenyum.

“Silakan.”

“Tapi ada masalah.”

“Apa lagi?”

“Semua aset memang milik Ibu.”

“Jadi?”

“Tidak ada satu pun yang bisa dia tuntut.”

Aku mengangguk pelan.

Malam itu juga Luis datang ke apartemenku.

Wajahnya jauh berbeda.

Kurus.

Kusut.

Matanya cekung.

Begitu pintu kubuka, dia langsung berlutut.

“Ma…”

Aku diam.

“Maaf.”

Aku tetap diam.

“Monica pergi.”

Aku tidak terkejut.

“Dengan siapa?”

“Dengan pria lain.”

“Lalu?”

“Dia membawa semua tabunganku.”

Aku hampir tertawa.

“Tabungan?”

“Iya.”

“Bukankah selama ini kamu tidak bekerja?”

Luis menunduk.

“Aku berutang.”

“Berapa?”

“Hampir tiga miliar.”

Aku mengangkat alis.

“Untuk apa?”

“Gaya hidup.”

Aku memandangnya lama.

Anak yang dulu selalu kubanggakan kini benar-benar hancur oleh pilihannya sendiri.

Dia menangis.

“Ma… tolong aku sekali ini.”

Aku bertanya pelan.

“Kalau waktu itu aku yang jatuh miskin, apakah kamu akan menolongku?”

Luis tidak mampu menjawab.

Aku melanjutkan.

“Kalau waktu itu Monica menyuruhmu memilih antara aku dan dia, siapa yang kamu pilih?”

Dia menangis semakin keras.

“Aku salah.”

“Bukan.”

Aku menggeleng.

“Kamu bukan salah.”

“Kamu hanya menunjukkan siapa dirimu sebenarnya.”

Dia memegang kakiku.

“Ma, aku anak Mama.”

Aku menarik kakiku perlahan.

“Anakku sudah meninggal hari ketika dia menendang ibunya sendiri di depan orang banyak.”

Air matanya jatuh tanpa henti.

Aku masuk ke dalam.

Lalu kembali membawa sebuah kotak kayu tua.

“Kamu tahu apa isinya?”

Dia menggeleng.

Aku membukanya.

Di dalamnya ada semua surat, gambar, dan hadiah kecil yang pernah dibuat Luis sejak TK.

Ada juga buku tabungan pendidikan, foto wisuda, hingga sepatu bayi pertamanya.

“Aku menyimpan semua ini selama puluhan tahun.”

Aku menyerahkan kotak itu.

“Sekarang ambillah.”

Dia menangis sambil memeluk kotak itu.

“Karena mulai hari ini, hanya kenangan itu yang masih menjadi milikmu.”

Aku menutup pintu perlahan.

Dari balik pintu, aku masih mendengar suara tangisnya.

Namun aku tidak lagi membuka pintu.

Beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar bahwa Luis mulai bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil.

Gajinya jauh dari kehidupan mewah yang dulu dia impikan.

Dia tinggal di kamar kontrakan sederhana.

Setiap bulan dia mencicil utangnya sedikit demi sedikit.

Suatu hari aku melihatnya dari kejauhan di sebuah halte bus.

Dia sedang membantu seorang ibu tua membawa belanjaan.

Wajahnya tampak jauh lebih dewasa.

Dia melihatku.

Kami saling bertatapan beberapa detik.

Luis tersenyum tipis sambil menundukkan kepala.

Aku membalas dengan anggukan kecil.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada kata maaf lagi.

Tidak ada air mata.

Karena beberapa luka memang tidak bisa dihapus.

Namun bisa dijadikan pelajaran.

Aku melanjutkan langkahku.

Saat matahari sore menyinari trotoar Jakarta, aku akhirnya mengerti satu hal.

Kasih sayang orang tua seharusnya menjadi tempat pulang, bukan dompet yang boleh dibuka kapan saja.

Dan cinta yang terus memberi tanpa batas, pada akhirnya hanya akan melahirkan seseorang yang lupa cara bersyukur.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang