Istriku Meneleponku Tengah Malam dan Berkata Jangan Pernah Membuka Pintu… Beberapa Menit Kemudian, Dia Bersumpah Tidak Pernah Meneleponku.

Namaku Rani. Sampai hari itu, aku selalu percaya bahwa hal paling menakutkan yang bisa terjadi pada seseorang adalah kehilangan orang yang dicintainya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa rasa takut yang sesungguhnya justru muncul ketika suara orang yang paling kaupercaya berbicara kepadamu… padahal orang itu sama sekali tidak pernah menelepon.

Nama suamiku, Arga, masih terpampang di layar ponsel. Sementara di tanganku ada dua panggilan yang datang hampir bersamaan. Satu sedang tersambung. Satu lagi terus bergetar tanpa henti.

Tubuhku membeku.

“Kalau begitu… siapa yang sedang bicara denganku?” bisikku.

Suara di telepon pertama langsung berubah pelan.

“Jangan jawab telepon yang satunya.”

Aku menatap layar dengan napas tercekat.

Di telepon kedua, Arga terus menelepon.

Aku tidak tahu harus percaya kepada siapa.

Lalu dari luar terdengar benturan keras.

Brak!

Pintu apartemen bergetar lagi.

Putriku, Alya, menangis semakin keras sambil memeluk kakiku.

Suara di telepon pertama kembali terdengar.

“Kalau kamu ingin selamat, matikan telepon sekarang.”

Aku menatap layar beberapa detik, lalu tiba-tiba muncul sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.

Foto profil Arga di panggilan pertama mendadak hilang.

Namanya berubah menjadi “Nomor Tidak Dikenal.”

Aku langsung menekan tombol putus.

Detik berikutnya aku mengangkat panggilan kedua.

“Rani!” teriak Arga.

“Ya Tuhan… Arga… aku…”

“Dengarkan aku! Jangan bicara keras. Aku ada di parkiran. Polisi sedang menuju ke sana.”

Air mataku hampir jatuh.

“Tadi… aku bicara sama siapa?”

“Aku tidak tahu.”

Suara Arga terdengar gemetar.

“Tapi dua hari lalu ada kejadian yang sama.”

Aku tercekat.

“Apa maksudmu?”

“Pak Dimas di Tower B.”

Nama itu langsung kuingat.

Seorang penghuni apartemen yang dikabarkan meninggal karena serangan jantung.

Semua orang percaya beliau panik saat rumahnya hendak dirampok.

“Ternyata bukan begitu,” kata Arga lirih.

“Dia menerima telepon dari nomor istrinya. Pelaku membuat dia membuka pintu sendiri.”

Aku memejamkan mata.

Berarti…

Semuanya memang direncanakan.

Suara logam kembali terdengar dari luar.

Klik…

Klik…

Mereka sedang mencoba membuka kunci.

“Berapa orang di luar?” tanya Arga.

“Aku dengar tiga… mungkin empat.”

“Masuk kamar mandi sekarang.”

Aku menggendong Alya dan berlari pelan melewati lorong apartemen.

Lampu masih mati.

Seluruh ruangan gelap gulita.

Aku masuk ke kamar mandi lalu mengunci pintu.

Jendela kecil di atas kloset menghadap ke lorong servis gedung.

“Apa kamu bisa keluar?” tanya Arga.

“Terlalu kecil.”

“Tunggu polisi.”

Belum sempat aku menjawab, terdengar suara kayu retak.

Brak!

Pintu utama apartemen berhasil mereka dobrak.

Langkah kaki memenuhi ruang tamu.

Seseorang tertawa pelan.

“Dia masih di dalam.”

Yang lain menjawab.

“Cari anaknya dulu.”

Alya mulai menangis lagi.

Aku langsung menutup mulutnya sambil memeluknya erat.

Jantungku berdetak begitu keras sampai rasanya seluruh ruangan bisa mendengarnya.

Suara langkah kaki semakin dekat.

Tok…

Tok…

Tok…

Mereka sudah berada di depan kamar mandi.

Seseorang memutar gagang pintu.

Terkunci.

“Di sini.”

Aku hampir berhenti bernapas.

Lalu terdengar suara laki-laki lain.

“Tunggu.”

Hening beberapa detik.

Kemudian suara itu berkata pelan.

“Mereka masih pegang ponsel.”

Aku langsung menatap layar.

Bagaimana mereka bisa tahu?

Belum sempat kupikirkan jawabannya, Arga berteriak.

“Rani! Matikan GPS! Matikan Bluetooth! Sekarang!”

Tanganku gemetar hebat saat mengikuti perintahnya.

Beberapa detik kemudian terdengar umpatan dari luar.

“Sinyalnya hilang.”

“Mereka sadar.”

Aku memandang layar ponsel.

Arga bernapas lega.

“Mereka memakai alat pendeteksi sinyal.”

Seluruh tubuhku terasa dingin.

Mereka bukan pencuri biasa.

Mereka sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang.

Tiba-tiba terdengar suara sirene polisi dari kejauhan.

Langkah kaki di luar langsung berlarian.

“Polisi!”

“Cepat!”

Beberapa detik kemudian semuanya hening.

Aku terduduk lemas.

Polisi datang lima menit kemudian bersama Arga.

Begitu melihat kami, Arga langsung memelukku dan Alya tanpa berkata apa pun.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasakan tubuh suamiku gemetar.

Polisi memeriksa apartemen.

Pintu rusak.

Laci-laci dibuka.

Tetapi anehnya…

Tidak ada satu pun barang yang hilang.

Komandan polisi hanya menghela napas.

“Mereka bukan datang untuk mencuri.”

“Lalu?” tanyaku.

“Ibu.”

Tatapan beliau berubah serius.

“Mereka datang untuk membawa seseorang.”

Aku memeluk Alya lebih erat.

Seminggu kemudian, polisi berhasil menangkap dua pelaku.

Mereka ternyata bagian dari kelompok penculik anak yang telah beroperasi di beberapa kota besar di Indonesia.

Modus mereka sederhana.

Mengumpulkan informasi dari lingkungan sekitar.

Berpura-pura ramah.

Meminjam Wi-Fi.

Mengantar paket.

Memperbaiki AC.

Bahkan menjadi relawan keamanan kompleks.

Setelah mengetahui seluruh rutinitas keluarga, mereka menggunakan teknologi spoofing untuk memalsukan nomor telepon anggota keluarga.

Korban dibuat panik.

Kemudian membuka pintu sendiri.

Aku mengira semuanya telah selesai.

Sampai tiga minggu kemudian.

Polisi menelepon Arga.

“Ada sesuatu yang harus Anda lihat.”

Kami datang ke kantor polisi.

Di sana diputar rekaman CCTV dari lorong apartemen malam itu.

Aku memegang tangan Arga erat.

Video dimulai pukul 00.41.

Terlihat tiga pria berdiri di depan pintu apartemen kami.

Salah satunya sedang berbicara melalui headset.

Wajahnya jelas.

Lalu rekaman berlanjut.

Pukul 00.46.

Mereka mulai membobol pintu.

Pukul 00.48.

Aku melihat sesuatu yang membuat napasku berhenti.

Di ujung lorong…

Ada seseorang berdiri.

Seorang perempuan.

Rambut panjang.

Mengenakan gaun putih sederhana.

Diam.

Tidak bergerak sedikit pun.

Salah satu pelaku menoleh ke arahnya.

Lalu tiba-tiba wajahnya berubah pucat.

Dia berteriak kepada teman-temannya.

“Ayo pergi!”

Namun dua pelaku lain tidak sempat menoleh.

Dalam hitungan detik mereka semua panik lalu berlari meninggalkan lorong.

Video berhenti.

Aku menatap layar tanpa berkedip.

“Itu siapa?”

Komandan polisi menggeleng.

“Kami juga tidak tahu.”

“Penghuni apartemen?”

“Tidak.”

Beliau membuka rekaman kamera lain.

Lorong yang sama.

Sudut berbeda.

Perempuan itu…

Tidak ada.

Di kamera kedua lorong terlihat kosong.

Tidak seorang pun berdiri di sana.

Hanya tiga pelaku yang tiba-tiba panik sendiri lalu melarikan diri.

Aku merasakan tengkukku dingin.

“Berarti kamera pertama rusak?”

“Tidak.”

Komandan memutar ulang.

Perempuan itu masih ada.

Jelas.

Bahkan bayangannya terlihat di lantai.

Hanya saja…

Tidak ada kamera lain yang menangkap keberadaannya.

Kasus itu akhirnya ditutup.

Para pelaku dihukum berat.

Beberapa korban anak berhasil diselamatkan.

Kehidupan kami perlahan kembali normal.

Setahun kemudian kami pindah ke rumah baru di Bandung.

Aku berusaha melupakan semua yang terjadi.

Suatu malam, ketika sedang membereskan barang-barang lama, aku menemukan album foto keluarga Arga.

Di halaman terakhir ada foto hitam putih yang sudah menguning.

Seorang perempuan muda sedang menggendong bayi.

Wajahku langsung membeku.

Perempuan itu.

Gaun putih.

Tatapan yang sama.

Aku menoleh ke Arga.

“Siapa ini?”

Arga memandang foto itu lama sekali.

“Itu ibuku.”

“Tapi… bukankah beliau meninggal sebelum kita menikah?”

Arga mengangguk perlahan.

“Iya.”

Aku menunjukkan foto itu dengan tangan gemetar.

“Malam itu… aku melihat perempuan ini di CCTV.”

Arga terdiam.

Tanpa berkata apa-apa, dia mengambil sebuah kotak kayu kecil dari lemari.

Di dalamnya ada surat tulisan tangan milik ibunya.

Surat itu ditulis beberapa bulan sebelum beliau meninggal.

Di bagian akhir terdapat kalimat yang membuatku menitikkan air mata.

“Kalau suatu hari nanti anakku memiliki keluarga sendiri, aku mungkin sudah tidak ada. Tapi selama Tuhan masih mengizinkan, aku akan tetap menjaga mereka dari tempat yang tidak bisa mereka lihat.”

Arga memelukku erat.

Kami tidak pernah tahu apa yang sebenarnya muncul di lorong apartemen malam itu.

Mungkin hanya ilusi.

Mungkin kebetulan.

Mungkin sesuatu yang tidak akan pernah bisa dijelaskan.

Yang kami tahu, para pelaku yang semula yakin bisa membawa putri kami pulang malam itu, justru melarikan diri dalam ketakutan yang tidak pernah bisa mereka ceritakan kepada siapa pun.

Dan sejak malam itu, setiap kali telepon berdering di tengah malam, aku tidak pernah langsung percaya pada nama yang muncul di layar.

Karena teknologi memang bisa meniru suara, memalsukan nomor, bahkan mempermainkan kepercayaan manusia.

Namun kasih sayang yang tulus, keberanian untuk tetap tenang, dan perlindungan dari mereka yang mencintai kita, terkadang datang dalam cara yang tak pernah mampu dijelaskan oleh logika.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang