PENATA RAMBUT ITU MENGHENTIKAN PEKERJAANNYA SETELAH MELIHAT BEKAS LUKA DI LEHER SEORANG GADIS—NAMUN TAK LAMA KEMUDIAN, TIBA-TIBA DATANG SEORANG…

Mara datang lebih pagi dari semua orang ke salon kecil milik Bu Rosa. Salon itu tidak besar, tetapi terkenal karena hasil riasannya yang selalu membuat para pengantin tampil anggun. Besok adalah hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Ia akan menikah dengan Adrian, seorang pengusaha muda yang dikenal dermawan, tampan, dan sukses. Di mata masyarakat, Adrian adalah calon suami idaman. Tak seorang pun tahu bahwa di balik senyum dan jas mahalnya, tersembunyi sosok yang sangat berbeda.

Sejak duduk di kursi salon, tangan Mara tak berhenti gemetar. Beberapa sahabatnya menganggap ia hanya gugup menjelang pernikahan. Mereka tertawa, mengambil foto, lalu membahas dekorasi dan gaun pengantin. Hanya Bu Rosa yang memperhatikan bahwa kegugupan itu bukan kegugupan seorang calon pengantin yang bahagia.

Saat menyisir rambut panjang Mara, Bu Rosa mengangkat helaian rambut di bagian belakang lehernya. Seketika tangannya berhenti. Sebuah bekas luka panjang berwarna kemerahan membentang dari bawah telinga hingga tengkuk. Bentuknya tidak seperti bekas jatuh atau kecelakaan. Lebih menyerupai bekas tekanan jari yang pernah mencekik seseorang dengan sangat kuat.

“Apa yang terjadi dengan lehermu?” tanyanya pelan.

Mara buru-buru menutupi bekas luka itu dengan rambutnya.

“Hanya kecelakaan kecil, Bu.”

Jawaban itu terdengar terlalu cepat.

Bu Rosa sudah lebih dari dua puluh tahun menjadi penata rambut. Ia pernah melihat perempuan yang menyembunyikan lebam di balik bedak, menutupi luka dengan syal, bahkan menangis diam-diam ketika disentuh sedikit saja. Tatapan Mara sama persis seperti tatapan mereka.

Belum sempat suasana mencair, ponsel Mara berdering.

Nama Adrian muncul di layar.

Mara mengangkat telepon dengan wajah pucat.

“Kamu di mana?” suara Adrian terdengar datar namun mengandung ancaman. “Ingat apa yang sudah kubilang. Jangan bicara apa pun kepada siapa pun. Besok semuanya harus berjalan sesuai rencana.”

Panggilan diputus.

Mara menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.

Bu Rosa mematikan alat catok yang sedang dipanaskan.

“Aku tidak akan melanjutkan meriasmu sebelum kamu mengatakan yang sebenarnya.”

Salon mendadak sunyi.

Air mata Mara jatuh tanpa bisa ditahan.

“Kalau dia tahu aku bicara… ayahku akan dibunuh.”

Semua orang membeku.

“Seminggu yang lalu aku bilang ingin membatalkan pernikahan. Dia langsung mencekikku sampai aku hampir tidak bisa bernapas. Dia bilang kalau aku berani pergi, ayahku yang sedang sakit akan menanggung akibatnya.”

Bu Rosa memejamkan mata.

Kenangan tentang putrinya, Liza, kembali muncul.

Liza juga pernah berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Ia selalu tersenyum, selalu berkata hanya terjatuh. Sampai suatu malam, Bu Rosa menerima telepon dari rumah sakit. Putrinya meninggal akibat kekerasan yang selama ini disembunyikannya.

Bu Rosa menggenggam tangan Mara.

“Aku tidak akan membiarkan sejarah terulang.”

Saat itu juga pintu salon terbuka.

Seorang pria masuk dengan napas terengah-engah.

“Mara!”

Semua orang menoleh.

Pria itu berusia sekitar tiga puluh tahun, mengenakan jaket sederhana dengan wajah lelah.

Mara langsung berdiri.

“Mas Arga?”

Arga adalah kakak sepupu Mara yang sudah bertahun-tahun bekerja di Surabaya sebagai jurnalis investigasi. Ia jarang pulang sehingga hampir tak ada yang mengenalnya.

“Aku mencarimu sejak tadi malam,” katanya.

“Waktunya tidak tepat,” jawab Mara pelan.

“Tidak. Justru sekarang.”

Arga mengeluarkan sebuah map cokelat yang sudah lusuh.

“Aku baru tahu siapa sebenarnya Adrian.”

Mara terdiam.

Arga membuka isi map itu.

Di dalamnya terdapat salinan laporan polisi, foto-foto, dan dokumen pengadilan.

“Adrian pernah menggunakan nama lain.”

Bu Rosa ikut melihat.

“Dulu dia tinggal di kota lain. Dua mantan tunangannya menghilang beberapa bulan sebelum pernikahan. Satu meninggal dalam kecelakaan yang sangat mencurigakan. Satu lagi sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya.”

Mara menggigil.

“Tidak mungkin…”

“Aku juga tidak percaya awalnya. Tapi semua data ini asli.”

Salah satu sahabat Mara mulai menangis.

“Kenapa polisi tidak menangkapnya?”

Arga menghela napas.

“Semua kasus dihentikan karena kurang bukti. Adrian selalu berhasil membersihkan namanya.”

Mara mulai kesulitan bernapas.

Selama ini Adrian selalu mengatakan mantan tunangannya meninggal karena kecelakaan mobil.

Ternyata itu bohong.

Belum sempat mereka berdiskusi lebih jauh, beberapa mobil hitam berhenti di depan salon.

Empat pria berbadan besar turun.

Di belakang mereka muncul Adrian.

Ia masuk sambil tersenyum.

“Sayang… ternyata kamu di sini.”

Suasana menjadi tegang.

Adrian melihat Arga.

“Lalu siapa dia?”

“Keluarga saya.”

Adrian tertawa kecil.

“Bagus. Jadi semua orang berkumpul.”

Ia berjalan mendekati Mara.

“Ayo pulang. Banyak persiapan.”

Mara mundur selangkah.

“Aku tidak mau menikah denganmu.”

Senyum Adrian perlahan menghilang.

“Kamu yakin?”

Ia melirik para pria di belakangnya.

Lalu berkata pelan sehingga hanya Mara yang mendengar.

“Ayahmu sedang sendirian di rumah sakit.”

Tubuh Mara langsung melemas.

Adrian memang tidak pernah mengancam tanpa alasan.

Arga menyadari perubahan wajah Mara.

“Ayahmu aman.”

Mara menoleh cepat.

“Apa?”

“Aku sudah memindahkannya tadi pagi.”

Mata Adrian langsung berubah tajam.

“Kamu…”

“Begitu aku membaca semua dokumen ini, aku tahu dia akan memakai ayahmu sebagai sandera. Jadi aku lebih dulu memindahkannya ke rumah sakit lain dengan bantuan polisi.”

Adrian tertawa dingin.

“Polisi?”

Suara sirene terdengar dari kejauhan.

Beberapa mobil polisi berhenti tepat di depan salon.

Namun Adrian sama sekali tidak tampak panik.

Ia malah tersenyum.

“Sayang sekali. Kalian terlambat.”

Ia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sebuah video.

Di layar terlihat seorang pria tua duduk di kursi dengan tangan terikat.

Bukan ayah Mara.

Melainkan Bu Rosa.

Semua orang membelalak.

“Itu rekaman lama,” kata Adrian tenang.

“Bu Rosa sedang berada di sini,” balas Arga.

Adrian tersenyum lebih lebar.

“Tentu.”

Ia menekan tombol berikutnya.

Video kedua muncul.

Kali ini terlihat seorang wanita tua lain yang sangat mirip Bu Rosa.

Semua bingung.

Bu Rosa mendadak memucat.

“Itu…”

Air matanya jatuh.

“Itu adikku.”

Tak seorang pun tahu bahwa Bu Rosa memiliki saudara kembar yang sudah puluhan tahun tinggal di luar kota.

Adrian sudah menculiknya.

“Kalau aku ditangkap,” katanya santai, “mayatnya akan ditemukan besok pagi.”

Polisi mulai mengepung.

Situasi berubah menjadi buntu.

Arga mencoba menenangkan semua orang.

“Apa yang kamu mau?”

Adrian menatap Mara.

“Ikut denganku sekarang.”

Mara menatap Bu Rosa.

Wanita tua itu menggeleng.

“Jangan.”

Namun Mara melangkah maju.

“Kalau aku ikut, lepaskan dia.”

Adrian tersenyum puas.

“Tepat.”

Saat Mara hendak berjalan mendekat, seseorang tiba-tiba masuk dari pintu belakang salon.

Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh lima tahun.

Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, tetapi matanya penuh keberanian.

Semua orang menoleh.

Adrian langsung membeku.

“Kamu…”

Perempuan itu tersenyum tipis.

“Kaget melihat orang mati?”

Mara memandangnya bingung.

“Siapa dia?”

Perempuan itu mengangkat lengan bajunya.

Di lehernya terdapat bekas luka yang hampir sama persis dengan milik Mara.

“Namaku Dinda.”

Napas Adrian mulai tidak teratur.

“Aku adalah tunangan pertama yang menurutmu sudah mati.”

Seluruh ruangan sunyi.

“Ternyata aku selamat,” lanjut Dinda. “Aku bersembunyi selama enam tahun karena takut. Tapi hari ini aku datang untuk mengakhirinya.”

Ia menyerahkan sebuah flash drive kepada polisi.

“Di dalamnya ada rekaman kamera gudang tempat Adrian menyekapku, rekaman percakapannya, rekening yang dipakai menyuap saksi, dan lokasi tempat adik Bu Rosa disembunyikan.”

Wajah Adrian berubah pucat.

“Itu mustahil.”

“Orang yang selama ini membantumu ternyata diam-diam menyimpan semua bukti. Dia menyerahkannya kepadaku seminggu lalu sebelum meninggal.”

Polisi segera bergerak.

Para pengawal Adrian mencoba melawan, tetapi berhasil dilumpuhkan.

Adrian berusaha melarikan diri melalui pintu belakang.

Saat berlari, ia terpeleset di lantai salon yang masih basah karena baru dipel.

Kepalanya membentur meja resepsionis.

Beberapa detik kemudian polisi memborgol kedua tangannya.

Ia menatap Mara dengan penuh kebencian.

“Kamu menghancurkan hidupku.”

Mara menatapnya balik.

“Bukan aku.”

“Semua pilihanmu sendiri.”

Beberapa jam kemudian polisi berhasil menyelamatkan saudara kembar Bu Rosa dalam keadaan selamat.

Kasus Adrian kembali dibuka.

Penyelidikan mengungkap bahwa selama bertahun-tahun ia memanfaatkan citra sebagai pengusaha sukses untuk mengincar perempuan dari keluarga sederhana. Ia mengendalikan mereka dengan ancaman, kekerasan, dan rasa takut. Dua korban yang sebelumnya dianggap hilang ternyata menjadi bagian dari jaringan kejahatan yang selama ini tertutup oleh uang dan kekuasaan.

Beberapa bulan kemudian, persidangan berlangsung.

Untuk pertama kalinya, semua korban berani memberikan kesaksian.

Mara berdiri di ruang sidang tanpa lagi menutupi bekas luka di lehernya.

Bekas itu memang tidak pernah hilang.

Namun kini ia tidak lagi melihatnya sebagai tanda kelemahan.

Bekas luka itu menjadi pengingat bahwa ia pernah bertahan hidup ketika hampir kehilangan segalanya.

Setelah sidang selesai, Bu Rosa memeluknya erat.

“Kamu tahu kenapa Tuhan mempertemukan kita hari itu?”

Mara menggeleng sambil tersenyum.

“Karena ada luka yang tidak bisa disembuhkan oleh riasan. Luka seperti itu hanya bisa sembuh ketika seseorang akhirnya berani mengatakan yang sebenarnya.”

Mara memandang pantulan dirinya di kaca salon yang sama tempat semuanya bermula.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tersenyum tanpa rasa takut.

Hari itu, ia memang tidak menjadi seorang pengantin.

Namun ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sebuah pesta pernikahan.

Ia mendapatkan kembali hidupnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang