Liza sudah berdiri di tepi kolam resor sejak matahari bahkan belum sepenuhnya muncul di balik pepohonan kelapa. Tangannya menggenggam jaring pembersih kolam yang panjang, sementara ember putih di sampingnya berisi alat penguji kadar klorin, sikat kecil, dan beberapa kain lap. Bau khas air kolam dan kaporit sudah menjadi bagian dari hidupnya selama bertahun-tahun. Begitu pula tatapan para tamu yang sering kali menembus dirinya seolah ia hanyalah perabot resor yang tidak memiliki nama, perasaan, ataupun harga diri.
Namun Liza tidak pernah mengeluh.

Setiap kali rasa lelah mulai menguasai tubuhnya, ia selalu teringat wajah putrinya yang berusia sembilan tahun, Nadya, yang bercita-cita menjadi dokter. Ia juga teringat ibunya yang harus minum obat setiap hari sejak terserang stroke ringan dua tahun lalu. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah. Ini adalah alasan mengapa keluarganya masih bisa bertahan.
Pagi itu seharusnya berjalan seperti hari-hari biasa.
Sampai sebuah teriakan melengking memecah suasana tenang di sekitar kolam.
“Jam tangan saya hilang!”
Semua kepala langsung menoleh.
Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun dengan gaun bunga bermerek berdiri di dekat kursi santai. Wajahnya memerah karena panik.
“Jam tangan saya! Saya baru saja melepasnya di sini!”
Suaminya yang berkebangsaan asing ikut mencari-cari di sekitar meja kecil.
Beberapa tamu mulai membantu melihat ke bawah kursi.
Namun hanya beberapa detik kemudian, wanita itu menunjuk lurus ke arah Liza.
“Dia!”
Semua mata langsung tertuju kepada Liza.
“Dia satu-satunya orang yang ada di sini.”
Liza terdiam.
“Maaf, Bu… saya tidak menyentuh barang milik siapa pun.”
Wanita itu mendengus sinis.
“Jangan bohong. Tadi saya ke toilet hanya lima menit. Waktu kembali, jam saya hilang. Siapa lagi kalau bukan kamu?”
Beberapa tamu mulai berbisik.
“Kasihan juga…”
“Tapi memang dia yang ada di dekat situ.”
Manajer operasional resor, Pak Damar, berlari menghampiri setelah mendapat laporan.
“Ada apa ini?”
Wanita itu langsung berbicara tanpa memberi kesempatan siapa pun menjelaskan.
“Karyawan Anda mencuri jam tangan saya. Nilainya hampir tiga ratus juta rupiah.”
Pak Damar menoleh kepada Liza.
“Liza?”
Liza menggeleng pelan.
“Saya tidak mengambil apa pun, Pak.”
“Kalau begitu buktikan!” bentak wanita itu.
Situasi semakin panas ketika petugas keamanan datang.
Tas kerja Liza diperiksa.
Isinya hanya dompet lusuh, bekal nasi bungkus yang belum sempat dimakan, botol minum, obat ibunya, dan buku gambar milik putrinya yang lupa dikeluarkan semalam.
Tidak ada jam tangan.
“Dia pasti sudah menyembunyikannya,” kata wanita itu tanpa ragu.
Suasana berubah canggung.
Walaupun tidak ada bukti, tatapan orang-orang mulai berubah.
Tatapan curiga jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata kasar.
Pak Damar terlihat gelisah.
“Bu, kami akan menyelidiki. Mohon jangan terburu-buru menyimpulkan.”
“Saya tidak mau dengar alasan! Kalau jam itu tidak ditemukan, saya akan laporkan resor ini.”
Manajer akhirnya memanggil seluruh staf yang bekerja pagi itu.
Semua diperiksa.
Tetap tidak ada hasil.
Liza hanya berdiri diam.
Air matanya hampir jatuh, tetapi ia menahannya.
Ia tahu sekali saja ia menangis, orang akan menganggapnya merasa bersalah.
Di tengah kebuntuan itu, seorang teknisi kolam bernama Rian datang setelah dipanggil untuk mengecek sistem sirkulasi.
Ia memperhatikan posisi kursi santai, meja kecil, dan bibir kolam.
“Liza,” katanya pelan.
“Tadi waktu Ibu itu melepas jam, dia duduk di kursi yang mana?”
Liza menunjuk.
“Yang dekat saluran overflow.”
Rian mengangguk.
Ia lalu menoleh ke arah wanita itu.
“Bu, boleh saya bertanya?”
“Apa?”
“Jam tangannya model gelang terbuka atau ada pengait?”
Wanita itu menjawab cepat.
“Model gelang terbuka.”
Rian langsung melihat ke arah saluran air di tepi kolam.
Semua orang mengikuti pandangannya.
“Kalau jam itu diletakkan di meja, lalu terdorong sedikit saat handuk diambil, kemungkinan besar jam itu masuk ke saluran overflow.”
Wanita itu tertawa sinis.
“Jam semahal itu tidak mungkin hanyut.”
Rian tersenyum tipis.
“Belum tentu hanyut jauh. Tapi bisa tersangkut.”
Ia meminta izin membuka penutup saluran.
Butuh waktu hampir sepuluh menit.
Setelah tutup besi diangkat, terlihat lorong sempit berisi aliran air.
“Tidak mungkin ada di situ,” gumam beberapa tamu.
Rian mengambil kamera kecil berkabel untuk memeriksa bagian dalam.
Layar monitor memperlihatkan pipa yang cukup panjang.
Beberapa meter masuk, sesuatu berkilau.
Semua orang menahan napas.
“Itu…”
Rian memperbesar gambar.
Jam tangan emas dengan berlian kecil masih tersangkut di sela-sela daun kering.
Wanita itu langsung berseru.
“Itu jam saya!”
Rian mengangguk.
“Saya harus menyelam dari ruang filter.”
Seluruh tamu berkumpul menyaksikan.
Lima belas menit kemudian Rian keluar dari ruang pompa sambil mengangkat jam tangan itu tinggi-tinggi.
Sorak kecil terdengar.
Liza mengembuskan napas panjang.
Ia pikir semuanya sudah selesai.
Namun justru saat itulah keadaan berubah menjadi jauh lebih mengejutkan.
Rian memandang jam itu beberapa detik.
“Kok aneh?”
Semua menoleh.
“Aneh kenapa?”
“Jam ini tidak rusak sama sekali.”
Wanita itu langsung merampas jam tersebut.
“Tentu saja.”
“Tapi…”
Rian mengambil sebuah benda kecil dari sakunya.
Sebuah klip logam tipis.
“Saya menemukan ini tersangkut di dekat jam.”
“Apa maksudmu?”
“Ini pengunci gelang.”
Ia menunjukkan kepada semua orang.
“Pengunci ini sengaja dilepas.”
Semua mulai bingung.
Rian menjelaskan dengan tenang.
“Kalau jam jatuh sendiri, penguncinya tetap menempel. Tapi ini dilepas dulu baru jam dimasukkan.”
Suasana mendadak sunyi.
Pak Damar mengerutkan dahi.
“Maksudmu…”
“Seseorang sengaja meletakkan jam itu di dalam saluran.”
Wajah wanita itu berubah pucat.
“Tidak masuk akal.”
Saat itu juga, kepala keamanan resor datang membawa sebuah tablet.
“Pak.”
“Ada apa?”
“Saya baru selesai memeriksa rekaman CCTV.”
Wanita itu langsung menyela.
“Tidak perlu! Jam saya sudah ditemukan.”
Tetapi kepala keamanan tetap memutar video.
Semua orang memperhatikan layar.
Terlihat jelas wanita itu duduk di kursi santai.
Ia melepas jam tangannya.
Melihat sekeliling.
Lalu, ketika tidak ada yang memperhatikan selain kamera, ia membungkuk ke arah saluran overflow.
Tangannya bergerak cepat.
Beberapa detik kemudian ia berjalan ke toilet.
Setelah kembali, ia mulai berteriak histeris.
Semua orang terdiam.
Tidak ada suara.
Tidak ada yang berani berkata apa-apa.
Wanita itu gemetar.
“Itu… itu bukan seperti yang kalian pikirkan.”
Pak Damar bertanya pelan.
“Kalau begitu jelaskan.”
Wanita itu menunduk.
Air matanya mulai keluar.
“Saya…”
Suaminya memandangnya dengan wajah bingung.
“Kamu melakukan apa?”
Wanita itu akhirnya berkata lirih.
“Saya ingin mendapatkan kompensasi.”
“Apa?”
“Saya tahu resor ini sering memberi ganti rugi kalau tamu kehilangan barang.”
“Tapi kenapa harus menuduh orang?”
Wanita itu menangis semakin keras.
“Bisnis suami saya bangkrut. Kami punya banyak utang. Saya panik.”
Suaminya menatapnya tidak percaya.
“Kamu bahkan tidak pernah bilang kalau keadaan kita separah ini.”
Wanita itu terduduk lemas.
“Aku malu.”
Semua orang yang sebelumnya memandang sinis kepada Liza kini justru menundukkan kepala.
Seorang tamu perempuan menghampiri Liza.
“Saya minta maaf.”
Disusul tamu lain.
“Kami juga.”
Liza hanya tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa.”
Tetapi Pak Damar tidak tinggal diam.
Ia berdiri di depan seluruh tamu.
“Hari ini kita semua belajar sesuatu.”
Ia memandang satu per satu.
“Meminta maaf memang penting.”
“Tetapi luka karena dituduh tanpa bukti tidak mudah hilang.”
Semua orang terdiam.
Beberapa staf bahkan terlihat menahan air mata.
Pak Damar lalu menghampiri Liza.
“Dengan ini saya umumkan bahwa mulai bulan depan Liza resmi dipromosikan menjadi supervisor housekeeping area kolam.”
Liza membelalak.
“Pak… saya?”
“Ya.”
“Selama delapan tahun bekerja, tidak pernah sekalipun ada catatan pelanggaran atas namamu. Hari ini kamu bahkan tetap tenang ketika difitnah.”
Liza tidak mampu berkata-kata.
Matanya berkaca-kaca.
Beberapa tamu langsung bertepuk tangan.
Suara tepuk tangan itu semakin lama semakin meriah.
Wanita yang memfitnahnya mendekat dengan langkah pelan.
Ia membungkukkan badan.
“Maafkan saya.”
Liza memandang wajah perempuan itu cukup lama.
Lalu ia mengangguk.
“Saya memaafkan Ibu.”
Wanita itu menangis.
“Tapi saya tidak akan pernah melupakan bagaimana rasanya dituduh melakukan sesuatu yang tidak saya lakukan. Semoga Ibu juga tidak melupakannya.”
Kalimat itu terdengar lembut, tetapi menghantam jauh lebih keras daripada kemarahan.
Beberapa bulan kemudian, Liza tetap bekerja di resor yang sama.
Kini para tamu mengenalnya bukan sebagai petugas kebersihan yang tak terlihat, melainkan sebagai supervisor yang selalu menyapa setiap orang dengan senyum hangat.
Di ruang kerjanya, tidak ada piagam penghargaan yang dipajang.
Yang tergantung hanya sebuah foto sederhana.
Foto dirinya bersama putri dan ibunya.
Di bawah foto itu terdapat secarik kertas kecil bertuliskan kalimat yang selalu menguatkannya setiap hari.
“Harga diri seseorang tidak pernah ditentukan oleh seragam yang ia kenakan, melainkan oleh kejujuran yang tetap ia pertahankan ketika semua orang memilih untuk meragukannya.”
