ANAK ANGKAT DISETIR OLEH FITNAH KEJAM, TETAPI REINKARNASI MENGUBAH SEGALANYA! JANGAN BIARKAN PENCULIK BERKEDOK GURU INI LOLOS BEGITU SAJA!

Lorong itu berubah menjadi lautan kepanikan.

Tangisan anak-anak bercampur dengan teriakan para guru dan orang tua yang berlarian ke segala arah. Lampu darurat yang berkedip-kedip membuat bayangan manusia tampak seperti sosok-sosok asing yang bergerak liar.

Aku masih terduduk di lantai, tubuhku gemetar hebat.

“Dara…”

Suara itu hanya keluar sebagai bisikan serak.

Ayah berlari paling depan. Wajahnya pucat saat melihat kedua tanganku kosong.

“Di mana Dara?”

Aku menunjuk ke arah ujung lorong sambil menangis.

“Mereka… mereka mengambilnya…”

Dua pengawal segera mengejar ke arah yang kutunjuk. Beberapa panitia ikut membantu. Ibu berlutut memelukku, tetapi matanya terus mencari-cari sosok Dara.

Wulan datang dengan napas terengah-engah.

“Astaga… bagaimana bisa begini?”

Ia terlihat sangat terkejut. Bahkan matanya dipenuhi air mata.

Namun kali ini aku tidak lagi tertipu.

Aku melihat sesuatu yang tidak diperhatikan siapa pun.

Di lengan bajunya terdapat sedikit noda cat putih yang masih basah.

Persis aroma cat yang tadi kucium saat seseorang membekap mulutku.

Aku langsung menunjuk ke arahnya.

“Itu dia!”

Semua orang menoleh.

“Apa maksudmu?”

“Itu gurunya!”

Wulan tampak syok.

“Sari, kamu masih ketakutan. Jangan asal menuduh.”

Aku menggigit bibir.

Kalau aku hanya berkata bahwa aku mencium parfumnya, tidak akan ada yang percaya.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Di kehidupan sebelumnya, setelah Dara hilang, ada satu barang yang juga menghilang.

Gelang lonceng peraknya.

Aku segera melihat ke lantai.

Lorong itu masih berantakan oleh kotak rias yang jatuh.

Di dekat dinding, tersembunyi di bawah kain dekorasi panggung, ada satu lonceng kecil berwarna perak.

Aku langsung merangkak mengambilnya.

“Ini milik Dara!”

Ibu mengenalinya dalam sekejap.

“Itu benar…”

Suara Ibu bergetar.

Ayah mengambil lonceng itu lalu menatap ke arah lorong yang gelap.

Tatapannya berubah dingin.

“Tutup seluruh gedung.”

Panitia sempat kebingungan.

“Tapi kompetisinya…”

“Tidak ada kompetisi.”

Suara Ayah begitu keras hingga seluruh aula mendadak sunyi.

“Tidak seorang pun boleh keluar sebelum anak saya ditemukan.”

Sebagai salah satu sponsor utama acara nasional itu, ucapan Ayah langsung membuat pihak penyelenggara bergerak.

Semua pintu keluar dikunci.

Satpam mulai memeriksa setiap kendaraan.

Polisi yang sedang bertugas mengamankan acara segera dipanggil.

Aku akhirnya merasa sedikit lega.

Di kehidupan sebelumnya, penculik berhasil keluar dari gedung hanya dalam waktu beberapa menit.

Sekarang mereka sudah kehilangan kesempatan itu.

Namun aku tahu.

Sindikat seperti mereka selalu memiliki rencana cadangan.

Benar saja.

Kurang dari lima belas menit kemudian, seorang petugas keamanan berlari tergesa-gesa.

“Kami menemukan seorang anak perempuan di ruang penyimpanan properti!”

Ibu langsung berlari.

Aku ikut mengejar meski kakiku masih sakit.

Saat pintu gudang dibuka, Dara memang ada di sana.

Ia duduk di lantai sambil menangis.

Tangannya terikat longgar menggunakan pita dekorasi.

Begitu melihat kami, ia langsung berteriak.

“Ibu!”

Ibu memeluknya erat sambil menangis tanpa henti.

Semua orang menghela napas lega.

Namun aku justru merasa ada yang tidak beres.

Terlalu mudah.

Sindikat yang mampu memperdagangkan anak selama bertahun-tahun tidak mungkin meninggalkan korban begitu saja.

Aku memandang sekeliling gudang.

Kotak-kotak dekorasi bertumpuk tinggi.

Karpet panggung.

Kostum lama.

Lalu aku melihat sebuah koper besar.

Koper itu terbuka sedikit.

Di dalamnya terdapat selimut bayi.

Dadaku langsung berdebar.

Aku berteriak.

“Jangan sentuh koper itu!”

Semua orang terkejut.

Polisi membuka koper tersebut dengan hati-hati.

Di dalamnya terdapat pakaian anak-anak.

Botol susu.

Obat penenang.

Paspor kosong.

Beberapa foto anak yang berbeda-beda.

Ruangan mendadak sunyi.

Salah seorang polisi berkata pelan.

“Ini bukan penculikan biasa.”

Wajah Ayah mengeras.

“Selidiki seluruh gedung.”

Polisi mulai memeriksa setiap sudut.

Beberapa menit kemudian, seorang petugas menemukan pintu darurat yang mengarah ke parkiran belakang.

Kuncinya sudah dirusak dari dalam.

Di dekat pintu terdapat bekas ban mobil yang masih baru.

Sindikat itu ternyata memang sudah menyiapkan jalur pelarian.

Hanya saja mereka gagal membawa Dara keluar karena seluruh pintu lebih dulu dikunci.

Semua orang mulai memahami bahwa tuduhanku bukanlah omong kosong seorang anak kecil.

Tatapan mereka kepada Wulan perlahan berubah.

Namun wanita itu tetap terlihat tenang.

Ia bahkan ikut memeluk beberapa murid yang ketakutan.

“Aku juga tidak menyangka ada penjahat sekejam ini.”

Air matanya tampak begitu meyakinkan.

Kalau aku tidak pernah hidup dua kali, mungkin aku juga akan percaya.

Polisi memeriksa rekaman CCTV.

Sayangnya, saat listrik padam, kamera lorong juga mati.

Satu-satunya rekaman yang tersisa hanya memperlihatkan kepanikan setelah lampu menyala kembali.

Tidak ada bukti yang mengarah kepada Wulan.

Ia lolos lagi.

Saat pemeriksaan selesai, polisi mulai meminta keterangan semua orang.

Ketika giliran Dara, ia masih terus menangis.

Petugas bertanya dengan lembut.

“Siapa yang membawamu ke gudang?”

Dara menggeleng.

“Gelap.”

“Lalu apa yang kamu ingat?”

Dara berpikir cukup lama.

Kemudian ia berkata lirih.

“Ada lagu.”

“Lagu?”

“Iya.”

“Orang itu nyanyi pelan.”

Jantungku langsung berdetak kencang.

Aku tahu lagu itu.

Di kehidupan sebelumnya, saat kami masih berlatih di sanggar, Wulan selalu bersenandung lagu pengantar tidur yang sama setiap kali merapikan rambut murid-muridnya.

Aku langsung menyanyikan beberapa baitnya.

Mata Dara membesar.

“Itu!”

“Itu lagunya!”

Semua orang menoleh ke arah Wulan.

Untuk pertama kalinya senyumnya menghilang.

Namun ia segera tertawa kecil.

“Itu lagu anak-anak yang sangat terkenal. Banyak orang bisa menyanyikannya.”

Memang benar.

Bukti itu masih terlalu lemah.

Pemeriksaan berakhir tanpa hasil pasti.

Tetapi mulai hari itu, Ayah tidak lagi mempercayai siapa pun.

Beliau mempekerjakan empat pengawal khusus untuk menjaga kami sepanjang waktu.

Aku juga tidak pernah membiarkan Dara sendirian.

Hari demi hari berlalu.

Polisi terus menyelidiki koper misterius tersebut.

Beberapa sidik jari ditemukan.

Tidak satu pun cocok dengan Wulan.

Sementara itu, kehidupan tampak kembali normal.

Namun aku tahu badai belum selesai.

Suatu malam, ketika semua orang sedang makan malam di rumah, telepon rumah berbunyi.

Ayah mengangkatnya.

Wajah beliau perlahan berubah.

“Apa?”

Beliau mematikan sambungan.

Ibu panik.

“Siapa?”

Ayah menjawab pelan.

“Orang itu berkata mereka belum selesai.”

Ruang makan mendadak sunyi.

Mereka.

Berarti sindikat itu masih ada.

Aku menggenggam tangan Dara.

Ia ikut menggenggam tanganku lebih erat.

Seminggu kemudian, polisi akhirnya datang membawa kabar baru.

Mereka berhasil menangkap seorang sopir yang biasa bekerja mengantar perlengkapan acara.

Di dalam ponselnya ditemukan komunikasi dengan jaringan perdagangan anak.

Saat diinterogasi, pria itu akhirnya mengaku.

Ia hanya bertugas mematikan listrik dan membuka pintu darurat.

Lalu polisi bertanya.

“Siapa yang menyuruhmu?”

Pria itu hanya menyebut satu nama sandi.

“Bu Mawar.”

Tidak ada nama asli.

Tidak ada alamat.

Tidak ada foto.

Tetapi ketika polisi memperlihatkan daftar guru dan panitia acara, wajah pria itu langsung pucat saat melihat foto Wulan.

“Itu…”

Semua orang menunggu.

“Itu mirip.”

“Hanya rambutnya berbeda.”

Polisi segera mencari Wulan.

Namun wanita itu telah menghilang.

Rumah kontrakannya kosong.

Nomor teleponnya tidak aktif.

Seluruh identitas yang digunakan ternyata palsu.

Barulah semua orang menyadari.

Selama bertahun-tahun, mereka bahkan tidak pernah benar-benar mengenal guru yang begitu mereka percaya.

Berbulan-bulan kemudian, polisi berhasil membongkar sindikat perdagangan anak terbesar di beberapa kota di Indonesia.

Puluhan anak berhasil diselamatkan.

Namun pemimpin mereka tetap tidak ditemukan.

Nama Bu Mawar hanya menjadi bayangan.

Kasus itu perlahan ditutup.

Semua orang menganggap ancaman telah berakhir.

Hanya aku yang masih sering terbangun di malam hari.

Aku tahu.

Selama Wulan belum tertangkap, semuanya belum selesai.

Tahun-tahun berlalu.

Aku dan Dara tumbuh bersama.

Hubungan kami justru semakin erat.

Setiap ulang tahunku, Dara selalu berkata sambil memelukku.

“Untung Kakak tidak pernah melepaskan tangan Dara hari itu.”

Aku hanya tersenyum.

Karena hanya aku yang tahu.

Hari itu sebenarnya aku hampir kehilangan dirinya lagi.

Lima belas tahun kemudian, saat kami sudah menjadi mahasiswa, sebuah surat tanpa nama tiba di rumah.

Isinya hanya selembar foto.

Foto itu memperlihatkan seorang wanita berambut pendek sedang berdiri di depan sebuah sekolah internasional.

Di belakang foto tertulis satu kalimat.

“Kalian memang menang waktu itu.”

“Tapi permainan belum selesai.”

Aku memandang wajah wanita dalam foto.

Walaupun usianya telah bertambah dan penampilannya berubah total, aku tetap mengenal senyum itu.

Senyum Wulan.

Aku perlahan mengepalkan surat tersebut.

Di kehidupan pertama, aku mati tanpa sempat melawan.

Di kehidupan kedua, aku berhasil menyelamatkan adikku.

Namun kini aku sadar.

Reinkarnasi bukan diberikan untuk menghindari takdir.

Melainkan untuk mengakhirinya sekali dan untuk selamanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang