MILYARDER INI HAMPIR MENGHAJAR BOCAH JALANAN DENGAN IKAT PINGGANG, TAPI LUKISAN DI TEMBOK MENGUNGKAP KEJAHATAN KELUARGANYA YANG TERBUNYI SELAMA 10 TAHUN!

Hendra Santoso selalu percaya bahwa setiap kekacauan adalah ancaman.

Bagi pria berusia enam puluh tahun itu, dunia hanya bisa berjalan dengan baik jika semua berada di tempatnya. Karyawan harus patuh. Jadwal tidak boleh meleset sedetik pun. Rumput di halaman vila mewahnya di kawasan Pakuwon Indah, Surabaya, harus dipotong dengan tinggi yang sama setiap pagi.

Tidak ada yang berani membantahnya.

Namun, ada satu ruangan di rumah itu yang tidak pernah disentuh siapa pun selama sebelas tahun terakhir.

Sebuah studio kecil di lantai tiga.

Di dalamnya masih tersimpan kanvas, kuas, cat minyak yang telah mengering, dan foto-foto seorang gadis muda yang tersenyum cerah.

Namanya Alina.

Putri semata wayang Hendra.

Semua orang percaya Alina meninggal karena kecelakaan saat perjalanan menuju Banyuwangi bersama kekasihnya, seorang pelukis jalanan bernama Arga. Mobil mereka ditemukan hancur di dasar jurang. Polisi menyatakan keduanya tewas di tempat.

Hendra menerima kenyataan itu dengan satu syarat.

Tidak ada lagi yang membicarakan nama Alina.

Sejak hari itu, ia berubah menjadi lelaki yang lebih dingin daripada marmer yang memenuhi rumahnya.

Sampai pada suatu sore, ketika hujan baru saja reda.

Seorang anak laki-laki kurus berdiri di depan pagar rumahnya.

Usianya mungkin sebelas tahun.

Celananya kebesaran. Sandalnya berbeda warna. Di punggungnya tergantung tas lusuh yang penuh noda cat.

Satpam sudah hendak mengusirnya.

“Aku cuma mau menggambar,” kata anak itu pelan.

“Pergi! Ini bukan tempat mengemis.”

“Aku tidak mengemis.”

Anak itu mengambil sepotong kapur putih dari sakunya.

Dengan gerakan cepat, ia menggambar di trotoar tepat di depan gerbang.

Dalam waktu beberapa menit, terbentuk gambar seekor burung bangau yang sedang membawa setangkai bunga liar.

Saat Hendra keluar karena mendengar keributan, langkahnya langsung terhenti.

Burung bangau itu.

Alina selalu menggambar simbol yang sama sejak kecil.

Bahkan di ulang tahunnya yang ketujuh belas, ia pernah berkata sambil tertawa, “Kalau suatu hari aku hilang, Papa cari saja burung bangau. Itu pasti jejakku.”

Hendra menatap anak itu tajam.

“Siapa yang mengajarimu menggambar itu?”

Anak tersebut mengangkat bahu.

“Aku tidak tahu. Rasanya tanganku bergerak sendiri.”

“Apa maksudmu?”

“Aku sering memimpikan perempuan yang wajahnya tidak pernah jelas. Dia selalu bilang, ‘Kalau bertemu laki-laki bermata sedih di rumah besar, gambarkan bangau.'”

Jantung Hendra berdetak lebih cepat.

“Itu cuma kebetulan.”

Mungkin memang begitu.

Namun ketika anak itu mengeluarkan buku sketsa usangnya, dunia Hendra seperti berhenti.

Di salah satu halaman terdapat potret Alina.

Sangat hidup.

Lengkap dengan bekas luka kecil di dagunya yang bahkan tidak terlihat jelas dalam foto keluarga.

“Siapa yang menggambar ini?”

“Aku.”

“Mustahil.”

“Aku tidak pernah bertemu perempuan itu.”

Hendra membawa anak tersebut masuk ke rumah.

Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, ia membiarkan orang asing melewati ruang tamunya.

Anak itu memperkenalkan diri.

Namanya Raka.

Ia tinggal di rumah singgah setelah ibunya meninggal tiga tahun lalu. Ayahnya tidak pernah ia kenal.

Malam itu Hendra tidak bisa tidur.

Ia terus membuka album lama.

Setiap detail gambar Raka benar.

Terlalu benar.

Keesokan paginya, ia memutuskan mencari satu-satunya orang yang masih hidup dari masa lalu.

Dokter Bimo.

Dokter yang menangani Alina sebelum kecelakaan.

Pria tua itu semula menolak berbicara.

Namun setelah melihat sketsa Raka, wajahnya berubah pucat.

“Ada sesuatu yang selama ini saya sembunyikan.”

Hendra menggenggam meja.

“Apa?”

“Alina pernah datang ke rumah sakit beberapa bulan sebelum kecelakaan.”

“Untuk apa?”

“Dia sedang hamil.”

Dunia Hendra runtuh.

“Apa?”

“Dia memohon agar saya merahasiakannya. Dia takut Bapak tidak akan menerima Arga.”

Napas Hendra memburu.

“Anaknya?”

“Saya tidak pernah melihat bayinya.”

“Tapi polisi bilang mereka meninggal.”

Dokter itu menggeleng.

“Saya hanya tahu mereka sempat selamat beberapa jam setelah kecelakaan.”

“Apa maksudmu?”

“Mereka dibawa ke klinik kecil di daerah pegunungan sebelum ambulans datang.”

Hendra langsung mencari catatan lama.

Klinik itu sudah tutup bertahun-tahun.

Namun seorang mantan perawat masih hidup.

Namanya Bu Ratih.

Wanita tua itu terdiam cukup lama setelah melihat foto Alina.

“Lelaki yang bersama Alina meninggal lebih dulu.”

“Putri saya?”

“Masih hidup beberapa jam.”

“Kenapa tidak ada yang memberi tahu saya?”

“Karena ada seseorang yang datang sebelum Anda.”

“Siapa?”

Ratih menarik napas panjang.

“Adik laki-laki Anda.”

Hendra membeku.

Haris.

Satu-satunya saudara kandungnya.

Pria yang kini mengelola sebagian besar perusahaan keluarga.

“Haris meminta semua orang diam.”

“Mustahil.”

“Ia mengatakan keluarga harus menjaga nama baik.”

“Lalu bayinya?”

“Seorang bayi laki-laki memang lahir prematur beberapa minggu sebelumnya.”

“Di mana bayi itu?”

Ratih menggeleng pelan.

“Saya hanya melihat Haris membawa bayi itu pergi.”

Malam itu Hendra pulang dengan pikiran kacau.

Haris datang ke rumah seperti biasa.

“Kakak kelihatan lelah.”

Hendra menatap adiknya lama.

“Lima belas tahun lalu… kau ke klinik di daerah Wonosalam?”

Wajah Haris berubah sepersekian detik.

“Cuma urusan bisnis.”

“Jangan bohong.”

Haris tertawa kecil.

“Siapa yang menghasut Kakak?”

Hendra melemparkan foto lama ke meja.

Haris tidak lagi tersenyum.

“Kau tahu bayi ini.”

Ruangan menjadi sunyi.

Akhirnya Haris berkata lirih.

“Kakak memang pantas tahu.”

“Jawab.”

“Waktu itu Alina masih hidup.”

Air mata Hendra mengalir.

“Kenapa kau tidak bilang?”

“Karena dia meminta tetap bersama Arga.”

“Itu bukan alasan.”

“Kalau Kakak melihatnya, Kakak pasti akan memaafkan mereka.”

“Lalu?”

“Kalau itu terjadi, semua saham perusahaan akan jatuh ke tangan Alina sesuai wasiat Ayah.”

Hendra menatap adiknya tak percaya.

“Kau…”

“Aku sudah membangun perusahaan ini bertahun-tahun.”

“Kau menukar anakku dengan uang?”

“Aku hanya membiarkan keadaan berjalan.”

“Di mana cucuku?”

“Aku menitipkannya ke panti asuhan lewat orang lain.”

Hendra hampir tidak sanggup berdiri.

Selama ini ia menyalahkan takdir.

Padahal keluarganya sendiri yang mencuri sisa hidup putrinya.

Penyelidikan polisi dibuka kembali.

Berkat dokumen lama, kesaksian Ratih, dan rekaman transfer uang yang baru ditemukan penyidik, Haris akhirnya ditetapkan sebagai tersangka atas tindakan menghalangi penyelidikan dan pemalsuan sejumlah dokumen.

Namun teka-teki terbesar belum terjawab.

Di mana bayi itu?

Beberapa minggu kemudian, Hendra kembali menemui Raka di rumah singgah.

Anak itu sedang melukis di halaman.

Tanpa sadar Hendra memperhatikan sebuah kalung kecil berbentuk bangau yang tergantung di lehernya.

“Kalung itu dari mana?”

“Ibu panti bilang sudah ada sejak aku ditemukan.”

Hendra memegang liontin itu.

Di bagian belakangnya terukir dua huruf kecil.

A.S.

Alina Santoso.

Tangannya gemetar.

Ia meminta tes DNA.

Dua minggu terasa seperti dua tahun.

Ketika hasil akhirnya keluar, dokter hanya mengucapkan satu kalimat.

“Kecocokan biologis menunjukkan kemungkinan lebih dari sembilan puluh sembilan koma sembilan persen.”

Raka adalah cucunya.

Anak yang selama bertahun-tahun hidup tanpa mengetahui asal-usulnya, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bertahan hidup dengan menggambar di jalanan.

Hendra memeluk bocah itu sambil menangis untuk pertama kalinya sejak kematian Alina.

“Aku minta maaf.”

Raka bingung.

“Kenapa Kakek minta maaf?”

“Karena orang dewasa terlalu lama membiarkan keserakahan mengalahkan kasih sayang.”

Raka tersenyum kecil.

“Ibu dalam mimpiku pernah bilang, kalau suatu hari ada laki-laki tua yang menangis sambil memelukku, aku harus memaafkannya.”

Hendra memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, rumah yang selama bertahun-tahun terasa megah tetapi kosong itu kembali dipenuhi suara tawa.

Studio Alina dibuka lagi.

Lukisan-lukisan yang selama ini disembunyikan dipajang di dinding.

Dan setiap kali Hendra melihat Raka menggambar seekor burung bangau di sudut kanvas, ia selalu teringat satu hal.

Rahasia bisa dikubur selama bertahun-tahun.

Tetapi kebenaran selalu menemukan caranya sendiri untuk pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang