SOPIR TRUK DARI JAWA TIMUR MENERIMA 15 JUTA RUPIAH DARI JANDA MISTERIUS DI BAR BLOK M JAKARTA, TAPI BEKAS LUKA DI TUBUHNYA MEMBUKA RAHASIA KELAM YANG BISA MENJERUMUSKAN KAMI BERDUA

Namaku Andi. Aku sopir truk yang biasa mengangkut barang dari Surabaya ke Jakarta dan sebaliknya. Hidupku tidak pernah jauh dari bau solar, jalan tol yang panjang, dan malam-malam dingin di dalam kabin truk. Tiga minggu terakhir aku hampir tidak mendapat muatan yang layak. Tabungan habis sedikit demi sedikit untuk membayar cicilan truk, biaya sekolah anakku, dan obat istriku yang mengidap penyakit ginjal.

Malam itu aku duduk sendirian di sebuah bar kecil di Jalan Melawai, Blok M. Aku hanya ingin meminum sebotol bir dingin sebelum tidur.

Seorang wanita berpakaian hitam pekat datang menghampiriku. Mantel panjangnya menutupi tubuh sampai mata kaki. Wajahnya cantik, tetapi matanya menyimpan kelelahan yang sulit dijelaskan.

Ia meletakkan seikat uang di atas meja.

“Lima belas juta rupiah. Temani aku semalam di hotel. Tidak lebih.”

Aku menatap uang itu cukup lama.

“Kenapa saya?”

“Karena kamu terlihat jujur.”

Ia memperkenalkan diri sebagai Ratna. Seorang janda yang baru kehilangan suami enam bulan lalu akibat kecelakaan di Tol Jagorawi.

Aku menerima uang itu.

Beberapa jam kemudian kami sudah berada di kamar 312 sebuah hotel tua dekat Kota Tua.

Saat Ratna melepas mantelnya, aku melihat bekas luka panjang di bahu, lengan, hingga tulang selangkanya.

“Itu semua dari suamiku,” katanya pelan.

Ia lalu menceritakan bahwa mendiang suaminya terlibat dalam jaringan mafia proyek, pencucian uang, dan suap pejabat. Sebelum meninggal, ia diam-diam mengumpulkan seluruh bukti kejahatan rekan-rekannya.

Semua salinan data itu kini berada di dalam sebuah flash disk yang disimpan Ratna.

“Aku akan menyerahkannya besok pagi kepada polisi yang benar-benar bisa dipercaya.”

Belum sempat aku menjawab, terdengar ketukan keras di pintu.

“Bu Ratna, buka pintunya. Kami dari keamanan hotel.”

Ratna memucat.

“Mereka bukan petugas.”

Ketukan berubah menjadi benturan.

BRAK!

Pintu bergetar.

Aku menggenggam kursi kayu di dekat meja.

Ratna memegang pistol kecil dengan tangan gemetar.

“Kalau mereka masuk, jangan lawan,” bisiknya.

Aku menggeleng.

“Terlambat.”

Benturan berikutnya membuat kusen pintu retak.

Aku cepat mematikan lampu kamar.

Ruangan langsung gelap.

Orang-orang di luar berhenti sejenak.

Mungkin mereka mengira kamar kosong.

Aku berbisik kepada Ratna.

“Jendelanya.”

Ia mengangguk.

Untung kamar itu memiliki balkon kecil yang menghadap gang belakang.

Kami membuka pintu balkon perlahan.

Di bawah hanya ada atap seng toko tua yang tingginya sekitar tiga meter dari balkon.

“Berani?”

Ratna menghela napas.

“Tidak ada pilihan.”

Aku turun lebih dulu.

Atap seng berbunyi keras saat kutapaki.

Aku menangkap Ratna ketika ia melompat.

Beberapa detik kemudian terdengar suara pintu kamar akhirnya berhasil didobrak.

“Kamar kosong!”

“Mereka kabur!”

Kami langsung berlari melewati gang sempit menuju tempat trukku diparkir.

Belum sempat mesin dinyalakan, dua mobil hitam masuk dari ujung jalan.

Lampu mereka menyilaukan.

“Mereka datang!”

Aku menekan pedal gas sekuat tenaga.

Truk tua bermuatan kosong itu melesat keluar dari kawasan Kota Tua.

Mobil-mobil hitam mengejar dari belakang.

Aku sudah terbiasa membawa truk di jalan sempit.

Mereka membawa SUV yang lebih cepat, tetapi ukuran mereka justru menyulitkan saat melewati gang-gang tua Jakarta.

Ratna terus melihat kaca spion.

“Mereka tidak akan berhenti.”

Aku masuk ke jalan layang, lalu menuju arah Pelabuhan Tanjung Priok.

Salah satu mobil berhasil menyusul di sisi kanan.

Seorang pria membuka jendela.

Tangannya memegang pistol.

DUAR!

Peluru menghantam kaca spion.

DUAR!

Ban belakang hampir terkena.

Aku membanting setir.

SUV itu kehilangan keseimbangan dan menabrak pembatas jalan.

Namun satu mobil lain masih mengejar.

Ratna memegang dashboard erat-erat.

“Aku tidak ingin kamu mati gara-gara aku.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku juga tidak ingin anakku kehilangan ayah.”

Kami berhasil memasuki kawasan pelabuhan.

Truk-truk kontainer memenuhi jalan.

Aku memanfaatkan ukurannya sebagai penghalang.

Mobil hitam kehilangan jarak.

Beberapa menit kemudian kami berhasil lolos.

Kami berhenti di rest area kecil dekat Cikampek menjelang subuh.

Aku mematikan mesin.

Tanganku masih gemetar.

Ratna memandangku lama.

“Aku minta maaf.”

“Belum selesai.”

Ia mengangguk.

“Ada satu orang polisi yang bisa dipercaya.”

“Siapa?”

“Komisaris Bima.”

“Pernah bertemu?”

“Dulu dia sahabat kakakku.”

Kami segera menuju Jakarta lagi setelah matahari mulai terbit.

Sebelum berangkat, Ratna menyerahkan flash disk itu kepadaku.

“Kalau sesuatu terjadi padaku, simpan ini.”

Aku menerimanya tanpa banyak bicara.

Siang itu kami tiba di sebuah kantor polisi yang cukup besar.

Ratna tampak sedikit lega.

Namun saat memasuki halaman, wajahnya berubah.

“Itu dia.”

“Siapa?”

“Pria yang berdiri dekat mobil hitam.”

Aku memperhatikan.

Seorang pria berjas sedang berbicara akrab dengan beberapa polisi.

Ratna berbisik pelan.

“Dia tangan kanan orang yang mengejar kita.”

Dadaku terasa dingin.

Berarti informasi di kantor polisi sudah bocor.

Aku segera menarik tangan Ratna.

“Kita pergi.”

Belum sempat kami berbalik, seseorang memanggil.

“Bu Ratna.”

Kami berhenti.

Seorang polisi berpangkat komisaris mendekat.

“Nama saya Bima.”

Ratna masih ragu.

Komisaris itu hanya berkata pelan.

“Ibumu pernah memberi saya makan ketika saya masih taruna. Saya berutang budi. Ikut saya.”

Nada suaranya tenang.

Aku memutuskan percaya.

Kami dibawa masuk lewat pintu samping.

Tidak sampai lima menit kemudian terdengar keributan di halaman.

Pria berjas tadi marah-marah karena kehilangan jejak kami.

Komisaris Bima ternyata sudah menduga ada kebocoran di institusinya.

Ia membawa kami ke ruang arsip bawah tanah yang hanya bisa diakses beberapa orang.

Ratna menyerahkan flash disk.

Bima memasangnya ke komputer yang tidak terhubung internet.

Satu per satu file muncul.

Rekening miliaran rupiah.

Foto pertemuan rahasia.

Video transaksi.

Kontrak proyek fiktif.

Nama pengusaha.

Nama pejabat.

Bahkan ada beberapa aparat.

Ruangan menjadi sunyi.

Bima menarik napas panjang.

“Kalau data ini benar, Indonesia akan gempar.”

Tiba-tiba teleponnya berbunyi.

Ia melihat layar lalu mematikannya.

“Mereka sudah tahu.”

“Lalu?”

“Kalian harus pergi sekarang.”

“Bagaimana dengan bukti?”

“Sudah saya salin.”

Kami keluar melalui pintu belakang.

Belum jauh berjalan, suara ledakan terdengar dari arah kantor polisi.

BUM!

Asap hitam membumbung tinggi.

Ratna menutup mulutnya.

Aku langsung menariknya masuk ke dalam truk.

Di radio terdengar berita singkat.

“Kebakaran terjadi di salah satu gedung administrasi kepolisian…”

Kami saling berpandangan.

Untung data sudah dipindahkan.

Selama dua hari berikutnya kami terus berpindah kota.

Bandung.

Cirebon.

Semarang.

Surabaya.

Selalu ada orang yang mengikuti.

Namun setiap kali mereka mendekat, seolah selalu ada yang lebih dulu melindungi kami.

Hari ketiga, seluruh televisi nasional menyiarkan berita besar.

Komisi Pemberantasan Korupsi bersama kepolisian melakukan penangkapan terhadap sejumlah pengusaha dan pejabat terkait mafia proyek infrastruktur.

Nama-nama yang ada di flash disk mulai bermunculan.

Beberapa orang melarikan diri.

Beberapa lainnya ditangkap.

Ratna menangis saat melihat berita itu.

“Akhirnya selesai.”

Aku mengangguk pelan.

“Tidak semuanya.”

Seminggu kemudian aku kembali bekerja mengantar barang seperti biasa.

Ratna memilih tinggal sementara bersama ibunya di luar Jakarta dengan perlindungan saksi.

Aku mengira hidupku akan kembali normal.

Sampai suatu sore sebuah amplop cokelat dikirim ke rumahku.

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan.

“Pak Andi.

Terima kasih karena malam itu Bapak tidak memilih pergi.

Banyak orang mengira keberanian selalu dimiliki orang hebat.

Padahal keberanian sering lahir dari orang biasa yang memutuskan melakukan hal benar meski sedang ketakutan.

Saya tidak akan pernah melupakan itu.

Ratna.”

Di bawah surat itu terdapat bukti transfer.

Bukan lima belas juta.

Melainkan pelunasan seluruh sisa cicilan trukku.

Aku tersenyum sambil menatap truk tua yang selama ini menjadi saksi hidupku.

Aku sadar, malam itu aku memang menerima uang lima belas juta dari seorang janda misterius.

Tetapi yang benar-benar mengubah hidupku bukanlah uang itu.

Melainkan keputusan sederhana untuk tetap tinggal ketika semua orang lain mungkin sudah memilih melarikan diri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang