“Kemasi semua barangmu, Maya. Ibuku akan tinggal di sini, dan kamulah yang harus pergi.”
Kalimat itu menggema di ruang apartemen yang selama bertahun-tahun menjadi tempat Maya membangun hidupnya.
Tak ada sedikit pun keraguan di wajah Rendra.

Pria yang pernah bersumpah akan melindunginya kini justru melempar gaun, sepatu, dan dokumen-dokumen pribadinya ke dalam tiga kantong plastik hitam seolah-olah semua itu hanyalah sampah.
Warni, ibu Rendra, berdiri di ambang pintu kamar sambil tersenyum puas.
Tatapannya penuh kemenangan.
Ia merasa malam itu akhirnya berhasil merebut apa yang selama ini diincarnya.
Namun Maya tidak menangis.
Ia hanya memandangi kantong-kantong plastik itu beberapa detik.
Lalu perlahan, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Rendra langsung berhenti bergerak.
“Kenapa kamu malah senyum?” tanyanya gugup.
Maya berjalan menuju meja rias.
Ia mengambil sebuah map biru tua.
Map itu tampak biasa.
Tetapi isi di dalamnya mampu mengubah hidup semua orang yang berada di ruangan itu.
Dengan tenang, Maya meletakkan map tersebut di atas tempat tidur.
Ia mengeluarkan sertifikat apartemen.
Nama pemilik yang tercetak di sana hanya satu.
Maya Pratiwi.
Tak ada nama Rendra.
Tak ada nama Warni.
Tak lama kemudian Maya mengaktifkan kamera ponselnya.
“Ulangi lagi ucapanmu tadi,” katanya dingin.
“Katakan siapa yang harus keluar dari rumah ini.”
Warni mendengus kesal.
“Kamu pikir secarik kertas bisa membuat kami takut?”
Ia berlari ke dapur lalu kembali sambil membawa sebuah wajan besi.
Tangannya sudah terangkat tinggi.
Namun sebelum wajan itu sempat diayunkan, Maya mengeluarkan dokumen kedua.
Rendra membeku.
Seluruh warna di wajahnya hilang.
“Itu… dari mana kamu dapat itu?” bisiknya.
Maya tidak menjawab.
Dokumen itu adalah salinan percakapan email antara Rendra dan seorang agen properti.
Tanggalnya enam bulan sebelum mereka menikah.
Di dalam email tersebut, Rendra menanyakan prosedur untuk memindahkan kepemilikan aset pasangan setelah menikah.
Bahkan ada kalimat yang membuat Maya hampir muntah saat pertama kali membacanya.
“Calon istri saya sudah punya apartemen sendiri. Saya hanya perlu mencari cara agar aset itu nantinya menjadi milik keluarga saya.”
Email itu dikirim sebelum Rendra melamarnya.
Artinya, sejak awal pernikahan itu bukan tentang cinta.
Melainkan rencana.
Maya menemukan email tersebut secara tidak sengaja dua minggu sebelumnya.
Saat itu laptop Rendra rusak dan memintanya membantu memindahkan data.
Tanpa sengaja folder lama terbuka.
Di sanalah semua rahasia itu tersimpan.
Bukan hanya email.
Ada percakapan dengan Warni.
Ada daftar rencana.
Bahkan ada target waktu.
“Tahun pertama buat dia percaya.”
“Tahun kedua suruh Ibu tinggal.”
“Tahun ketiga paksa jual apartemen.”
Maya sempat tidak percaya.
Ia berharap semua itu hanya lelucon buruk.
Namun semakin banyak yang dibaca, semakin jelas bahwa dirinya hanyalah target.
Bukan pasangan.
Maya menatap Rendra.
“Jadi… semua perhatianmu selama ini hanya sandiwara?”
Rendra tidak mampu menjawab.
Warni justru melangkah maju.
“Kalau memang begitu kenapa? Perempuan itu harus ikut suami. Semua yang dimiliki istri akhirnya juga milik keluarga suami.”
Maya tersenyum tipis.
“Ibu salah orang.”
Warni langsung menyambar map dari atas kasur dan berusaha merobeknya.
Tetapi Maya sudah mengantisipasi.
“Itu hanya salinan.”
Warni berhenti.
“Aslinya sudah disimpan notaris.”
Suasana berubah sunyi.
Rendra mulai panik.
“Maya… kita bisa bicarakan baik-baik.”
“Kenapa? Bukannya tadi kamu bilang aku harus keluar malam ini?”
“Aku emosi.”
“Email itu dikirim sebelum kita menikah. Waktu itu juga emosi?”
Rendra tidak sanggup menatap mata istrinya.
Maya melanjutkan.
“Selama dua minggu terakhir aku diam bukan karena takut.”
“Aku sedang memastikan semuanya.”
Ternyata Maya sudah menemui pengacara.
Ia juga sudah berkonsultasi dengan notaris yang menangani perjanjian pisah harta mereka.
Semua bukti telah diamankan.
Termasuk rekaman suara Warni saat mengaku telah menjual rumah lamanya dan berniat tinggal selamanya di apartemen itu.
Malam itu Maya sengaja pulang lebih cepat.
Ia tahu Rendra akan mulai menjalankan rencana terakhirnya.
Karena pagi tadi ia menerima pesan yang salah kirim.
Pesan itu sebenarnya ditujukan kepada Warni.
“Kalau malam ini berhasil mengusir Maya, besok kita langsung ganti semua kunci.”
Pesan itu justru masuk ke ponsel Maya karena Rendra sedang terburu-buru.
Kesalahan kecil yang menghancurkan seluruh rencana mereka.
Warni mulai kehilangan kesabaran.
“Kamu tidak bisa mengusir kami!”
Maya menatapnya tenang.
“Saya tidak perlu.”
Ia mengambil ponsel lain.
Kemudian melakukan panggilan video.
Beberapa detik kemudian wajah seorang pria paruh baya muncul di layar.
“Selamat malam, Bu Maya.”
Warni langsung mengenalinya.
Pria itu adalah ketua pengelola apartemen.
“Sesuai permintaan Ibu, petugas keamanan sudah berada di bawah.”
Warni dan Rendra saling berpandangan.
Maya mengangguk.
“Silakan naik.”
Lima menit kemudian.
Bel pintu berbunyi.
Empat petugas keamanan masuk bersama manajer gedung.
Mereka membawa dokumen yang telah disiapkan.
Manajer itu menatap Rendra.
“Maaf Pak. Berdasarkan data penghuni, hanya Ibu Maya yang terdaftar sebagai pemilik unit ini.”
“Sedangkan masa izin tinggal tamu atas nama Ibu Warni sudah berakhir empat bulan yang lalu.”
Warni berteriak.
“Aku ibu mertuanya!”
Manajer tetap tenang.
“Itu urusan keluarga.”
“Tapi aturan gedung tetap berlaku.”
Warni berusaha berdebat.
Namun dua petugas mulai mengangkat koper-kopernya.
Semua barang yang selama lima bulan memenuhi apartemen itu dipindahkan ke lorong.
Warni menangis histeris.
Rendra mencoba menghentikan petugas.
Namun mereka hanya menjalankan prosedur.
Saat itulah Maya mengatakan sesuatu yang membuat Rendra semakin hancur.
“Aku juga sudah mengajukan gugatan cerai.”
Rendra terdiam.
“Apa?”
“Berkasnya didaftarkan pagi tadi.”
“Kamu… sudah merencanakan ini?”
“Bukan.”
“Aku hanya berhenti menjadi perempuan yang terus memaafkan.”
Rendra mendekatinya.
“Maya, aku masih cinta sama kamu.”
“Cinta?”
Maya tertawa pelan.
“Orang yang mencintai tidak membuat daftar cara mengambil rumah istrinya bahkan sebelum menikah.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Warni yang mulai putus asa tiba-tiba menunjuk Maya.
“Kamu perempuan egois! Gara-gara kamu keluarga kami hancur!”
Maya menatapnya lama.
“Keluarga tidak pernah hancur karena kejujuran.”
“Keluarga hancur karena keserakahan.”
Tak ada lagi yang bisa dibantah.
Malam itu Rendra dan Warni meninggalkan apartemen dengan koper-koper mereka.
Tetangga yang melihat hanya menggelengkan kepala.
Selama ini mereka mengira Warni adalah pemilik apartemen karena sikapnya yang begitu berkuasa.
Tak seorang pun menyangka kenyataan justru sebaliknya.
Dua bulan kemudian sidang perceraian berlangsung.
Rendra mencoba meminta mediasi.
Ia berkali-kali mengirim bunga.
Mengirim surat.
Bahkan datang ke kantor Maya.
Namun semuanya terlambat.
Hakim memutuskan perceraian tanpa sengketa harta karena perjanjian pisah harta tetap sah.
Apartemen sepenuhnya menjadi milik Maya.
Beberapa minggu setelah putusan itu, Maya mendapat kabar mengejutkan.
Warni ternyata telah menghabiskan hampir seluruh uang hasil penjualan rumahnya untuk investasi bodong yang dijanjikan seorang kenalan.
Dana deposito yang selama ini dibanggakannya nyaris habis.
Rendra juga harus menjual mobilnya untuk melunasi utang.
Ironisnya, rumah yang dulu mereka anggap pasti akan menjadi milik mereka justru menjadi satu-satunya tempat yang tak pernah bisa mereka miliki.
Enam bulan berlalu.
Apartemen itu berubah total.
Maya mengecat ulang dinding.
Mengganti semua furnitur.
Menyumbangkan barang-barang yang mengingatkannya pada masa lalu.
Suatu sore ia duduk di balkon menikmati hujan.
Ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ia mengangkatnya.
Suara Rendra terdengar pelan.
“Maya… aku cuma ingin minta maaf.”
Maya tidak langsung menjawab.
“Aku baru sadar… aku kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar tulus.”
Maya memandang langit Jakarta yang mulai gelap.
Lalu berkata dengan tenang,
“Penyesalan memang selalu datang belakangan.”
“Tapi tidak semua pintu yang sudah ditutup akan dibuka kembali.”
Ia mengakhiri panggilan.
Kemudian meletakkan ponselnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, apartemen itu terasa benar-benar sunyi.
Namun kesunyian kali ini bukanlah tanda kesepian.
Melainkan tanda bahwa rumah itu akhirnya kembali menjadi tempat yang aman bagi pemiliknya.
Maya tersenyum tipis.
Ia menyadari satu hal yang sangat berharga.
Rumah bukanlah tempat yang dipenuhi orang.
Rumah adalah tempat di mana harga diri, ketenangan, dan rasa aman tidak pernah lagi dirampas oleh siapa pun.
