Pukul dua belas siang tepat, halaman rumah besar keluarga Baskoro di kawasan Menteng kembali dipenuhi mobil mewah. Namun suasananya sangat berbeda dibanding sehari sebelumnya. Tidak ada musik lembut, tidak ada gelas sampanye, dan tidak ada tawa para tamu.
Ratna Baskoro duduk di ruang tamu dengan wajah tegang. Di sampingnya ada suaminya, Hendra Baskoro, yang sejak pagi hanya diam sambil memijat pelipis. Dimas berdiri di dekat jendela, sesekali melirik pintu masuk.
Ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah, semua kepala menoleh.

Kolonel Purnawirawan Herman Wijaya turun lebih dulu. Meski rambutnya telah memutih, langkahnya tetap tegap. Di belakangnya berjalan seorang pengacara, dua petugas Dinas Sosial, seorang perwakilan Komnas Anak, serta Hanum Baskoro, kakak perempuan Dimas yang baru tiba dari Surabaya pagi itu.
Santi turun paling akhir sambil menggendong Kirana.
Ratna langsung berdiri.
“Hebat sekali. Gara-gara masalah kecil, kamu membawa satu rombongan.”
Herman menatap Ratna tanpa sedikit pun mengubah ekspresi.
“Masalah kecil?”
Ia mengambil ponsel lalu memutar video yang direkam Santi.
Ruangan itu kembali dipenuhi suara tawa para tamu sehari sebelumnya.
Kalung anjing.
Ucapan Ratna.
Tangisan Kirana.
Dan Dimas yang hanya berkata pelan, “Bu, kurasa ini sudah cukup.”
Video berhenti.
Sunyi.
Perwakilan Komnas Anak menghela napas panjang.
“Ini bukan candaan. Ini penghinaan terhadap martabat seorang anak.”
Ratna tertawa sinis.
“Zaman sekarang semuanya dibesar-besarkan.”
Hanum mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
“Bu… sebelum bicara lebih jauh, jelaskan ini.”
Ratna langsung pucat ketika melihat foto yang dikeluarkan Hanum.
Foto itu sudah menguning.
Diambil dua puluh dua tahun lalu.
Dalam foto tersebut tampak Ratna berdiri di halaman rumah lama keluarga Baskoro.
Di sampingnya ada seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun.
Leher anak itu mengenakan kalung anjing yang hampir sama persis dengan kalung yang ingin dipasang kepada Kirana.
Anak kecil itu sedang menangis.
Di belakang foto tertulis dengan tinta biru.
“Latihan supaya tahu tempatnya.”
Tanggalnya masih jelas.
16 Agustus 2004.
Ruangan mendadak membeku.
Santi memandang foto itu dengan dada berdebar.
“Siapa anak itu?”
Ratna tidak menjawab.
Hanum perlahan berkata,
“Itu Maya.”
Nama itu membuat Hendra menutup mata.
Dimas mengernyit.
“Maya siapa?”
Hanum menarik napas dalam.
“Anak perempuan dari Mbok Sri.”
Mbok Sri pernah menjadi pembantu keluarga Baskoro selama hampir lima belas tahun.
Dimas hanya samar mengingat seorang perempuan tua yang dulu sering memasak untuknya saat kecil.
Hanum melanjutkan.
“Waktu Maya berumur lima tahun, dia tanpa sengaja memecahkan vas antik di rumah ini.”
Ratna memotong dengan suara tinggi.
“Itu masa lalu.”
“Tidak. Biarkan aku selesai.”
Hanum menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
“Sebagai hukuman, Ibu memasangkan kalung anjing ke leher Maya.”
Ruangan kembali sunyi.
“Semuanya tertawa.”
“Ibu menyuruh Maya merangkak mengelilingi halaman sambil menggonggong.”
Dimas perlahan mundur satu langkah.
“Itu… tidak mungkin.”
Hanum mengangguk pelan.
“Aku melihatnya sendiri.”
Ratna berteriak.
“Itu cuma permainan.”
Hanum membalas dengan suara bergetar.
“Permainan?”
“Maya demam selama tiga hari.”
“Dia tidak pernah mau bicara dengan orang asing lagi.”
“Setahun kemudian ibunya berhenti bekerja.”
“Tiga tahun setelah itu Maya meninggal karena depresi berat dan komplikasi penyakit yang tidak pernah ditangani.”
Ratna memukul meja.
“Jangan mengarang!”
Hanum mengeluarkan map kedua.
“Bukan aku yang bilang.”
Ia menyerahkan salinan laporan psikolog anak yang dibuat dua puluh satu tahun lalu.
Laporan itu menyebutkan bahwa Maya mengalami trauma berat akibat penghinaan berkepanjangan selama bekerja bersama ibunya.
Hendra gemetar membaca setiap halaman.
Tangannya sampai tidak mampu memegang kertas dengan stabil.
“Aku… aku tidak pernah tahu.”
Hanum memandang ayahnya.
“Ayah tidak pernah tahu karena setiap kali Ayah dinas ke luar kota, Ibu selalu mengatur semuanya.”
Ratna mundur perlahan.
“Kalian semua sedang menjebakku.”
Saat itulah bel rumah berbunyi.
Seorang perempuan paruh baya masuk ditemani petugas Dinas Sosial.
Rambutnya telah dipenuhi uban.
Matanya sembab.
Begitu melihat Ratna, tubuhnya langsung gemetar.
“Aku Mbok Sri.”
Ratna langsung kehilangan warna wajah.
“Tidak mungkin…”
Mbok Sri mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas kain lusuhnya.
Di dalamnya terdapat kalung anjing lama.
Kulitnya sudah retak.
Kerincing emasnya telah kusam.
Plat logamnya masih utuh.
Hanum menutup mulutnya.
Kalung itu benar-benar sama.
Ratna terduduk lemas.
Mbok Sri berkata lirih.
“Sejak Maya meninggal, saya simpan ini.”
“Setiap malam saya bertanya… kenapa anak saya diperlakukan seperti binatang hanya karena lahir dari keluarga miskin.”
Air mata mulai jatuh di pipinya.
“Saya tidak pernah berani melapor.”
“Keluarga Baskoro terlalu berkuasa.”
“Tidak ada yang akan percaya kepada pembantu.”
Perwakilan Komnas Anak menatap Ratna dengan dingin.
“Apakah Ibu masih menganggap ini candaan?”
Ratna tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak Santi mengenalnya, perempuan itu benar-benar kehilangan kata-kata.
Namun kejutan belum selesai.
Herman membuka map terakhir.
“Dua bulan lalu saya sebenarnya menyuruh seseorang menyelidiki keluarga Baskoro.”
Semua orang menoleh.
“Saya bukan ingin mencari kesalahan.”
“Saya hanya ingin memastikan putri saya menikah dengan keluarga yang benar.”
“Sayangnya hasil penyelidikan belum selesai saat itu.”
Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Ternyata selama lebih dari dua puluh tahun ada empat mantan pekerja rumah tangga yang memberikan kesaksian hampir sama.”
Mereka dipermalukan.
Dipaksa makan di lantai.
Dilarang menggunakan kamar mandi utama.
Dihukum memakai kalung anjing jika dianggap melanggar aturan.
Santi merasa dadanya sesak.
Ia memeluk Kirana lebih erat.
Kini semuanya masuk akal.
Celemek bertuliskan “Tahu Diri, Tahu Posisi.”
Pembersih lantai sebagai hadiah.
Ucapan-ucapan yang selalu merendahkan.
Semuanya bukan kebiasaan baru.
Itu pola yang telah berlangsung puluhan tahun.
Ratna memandang Hendra.
“Kamu percaya orang-orang ini?”
Hendra perlahan berdiri.
Tatapannya kosong.
“Aku percaya bukti.”
Ia membuka dompetnya.
Dari dalamnya keluar sebuah foto kecil.
Foto keluarga.
Di sudut foto tampak Maya kecil sedang menggendong Dimas yang masih bayi.
“Maya bahkan pernah menjaga anak kita.”
Suara Hendra pecah.
“Dan aku tidak tahu apa yang kamu lakukan kepadanya.”
Ratna mencoba memegang tangan suaminya.
Namun Hendra menarik tangannya.
“Sudah cukup.”
Dimas menundukkan kepala.
Ia berjalan mendekati Santi.
Matanya merah.
“Aku minta maaf.”
Santi tidak langsung menjawab.
“Kamu tahu kenapa aku pergi kemarin?”
Dimas mengangguk pelan.
“Karena aku diam.”
“Bukan hanya kemarin.”
Santi menatap mata suaminya.
“Selama bertahun-tahun kamu selalu diam.”
Kalimat itu menusuk jauh lebih dalam daripada teriakan.
Dimas menangis.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah.
“Aku dibesarkan untuk selalu menuruti Ibu.”
“Tiap kali melawan, aku dianggap anak durhaka.”
“Aku pikir diam adalah cara menjaga keluarga.”
Santi menggeleng pelan.
“Diam di depan ketidakadilan bukan menjaga keluarga.”
“Itu membiarkan kejahatan tumbuh.”
Ruangan kembali sunyi.
Ratna menatap semua orang.
Tidak ada lagi yang membelanya.
Tidak suaminya.
Tidak anaknya.
Tidak tamu-tamu yang kemarin tertawa.
Karena video Santi sudah lebih dulu menyebar.
Mereka semua memilih diam.
Takut ikut terseret.
Beberapa minggu kemudian, penyelidikan resmi dimulai terhadap berbagai dugaan kekerasan psikologis terhadap pekerja rumah tangga yang pernah bekerja di keluarga Baskoro.
Meski sebagian kasus telah melewati batas hukum pidana, kesaksian demi kesaksian terus bermunculan.
Nama besar keluarga Baskoro yang selama puluhan tahun dihormati mulai runtuh bukan karena pesaing bisnis, melainkan karena satu video berdurasi satu menit.
Hendra memilih menjual rumah besar di Menteng.
Ia mendirikan yayasan pendidikan untuk anak-anak pekerja rumah tangga sebagai bentuk penyesalan atas apa yang tidak pernah ia ketahui.
Ratna menolak ikut.
Ia hidup sendiri di sebuah rumah yang jauh lebih kecil.
Tidak ada lagi pesta.
Tidak ada lagi tamu.
Tidak ada lagi orang yang tertawa setiap kali ia melontarkan hinaan.
Dimas menjalani terapi psikologis selama hampir satu tahun.
Ia belajar bahwa menjadi anak yang baik bukan berarti membenarkan semua tindakan orang tua.
Santi tidak langsung memaafkannya.
Kepercayaan tidak pulih hanya dengan air mata.
Namun Dimas memilih membuktikan perubahan melalui tindakan.
Ia mendampingi setiap proses hukum, meminta maaf kepada Mbok Sri, dan menjadi relawan dalam program perlindungan anak.
Suatu sore, hampir dua tahun kemudian, Kirana yang sudah pandai berlari bermain di taman bersama anak-anak lain.
Ia menemukan sebuah lonceng kecil berkarat di dalam kotak barang lama yang sedang dibersihkan.
“Ayah, ini apa?”
Dimas mengambil benda itu.
Kerincing dari kalung anjing lama.
Ia menatapnya lama.
Lalu tanpa ragu melemparkannya ke tempat daur ulang logam.
“Kita tidak menyimpan benda yang mengingatkan orang untuk merendahkan sesamanya.”
Kirana tersenyum polos.
“Lalu kita simpan apa?”
Dimas memandang Santi.
Santi menggenggam tangan putrinya.
“Kita simpan keberanian.”
“Karena satu orang yang berani berkata ‘tidak’ bisa menghentikan luka yang diwariskan selama puluhan tahun.”
Di langit sore Jakarta, matahari perlahan tenggelam.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun, bayangan seorang anak kecil yang dulu dipaksa memakai kalung anjing akhirnya seolah mendapatkan keadilan yang selama ini terlambat datang.
