Pesawat tujuan Tokyo itu dijadwalkan lepas landas pukul sembilan pagi dari Bandara Soekarno-Hatta. Di ruang tunggu kelas bisnis, Arga Pratama berdiri sambil sesekali melihat jam tangan. Di sampingnya, seorang perempuan bernama Keisha tersenyum puas. Selama enam bulan terakhir, hubungan mereka berjalan diam-diam. Bagi Keisha, Arga adalah pria mapan yang hanya tinggal menyelesaikan perceraian dengan istrinya. Itulah cerita yang selalu ia dengar.
“Setelah pulang dari Jepang, semuanya selesai, kan?” tanya Keisha.
Arga mengangguk tanpa ragu.
“Tentu. Pengacara sudah mengurus semuanya.”

Ia berbohong dengan begitu tenang hingga bahkan dirinya sendiri hampir mempercayainya.
Yang tidak diketahui Arga, penerbangan pagi itu akan mengubah seluruh hidupnya.
Saat pintu pesawat dibuka, para penumpang disambut deretan pramugari dengan senyum profesional. Di tengah barisan itu berdiri seorang perempuan berwajah teduh mengenakan seragam biru tua dengan lencana emas bertuliskan Kepala Pramugari.
Namanya Maya.
Istri Arga.
Tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik.
Keisha merasakan tangan Arga mendadak dingin.
“Kamu kenal dia?” bisiknya.
Belum sempat Arga menjawab, Maya melangkah mendekat sambil membawa senyum yang nyaris mustahil dibaca.
“Selamat datang di penerbangan kami. Semoga perjalanan Anda menyenangkan.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Namun sesaat kemudian Maya menatap Arga sedikit lebih lama.
“Semoga perjalanan bisnisnya berjalan lancar.”
Keisha mengernyit.
“Bisnis?”
Maya hanya mengangguk sopan.
“Bukankah begitu yang Bapak sampaikan kepada keluarga di rumah pagi tadi?”
Arga tidak mampu berkata apa-apa.
Beberapa penumpang mulai memperhatikan.
Maya tetap tersenyum, lalu mempersilakan mereka menuju kursi masing-masing.
Sepanjang proses boarding, Arga hampir tidak bisa bernapas lega. Ia berharap Maya akan bersikap emosional. Berteriak. Menangis. Membuat keributan.
Namun tidak.
Ketika seseorang yang paling mengenalmu memilih diam, justru di situlah rasa takut tumbuh paling besar.
Pesawat mengudara tepat waktu.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Maya mendorong troli minuman ke kabin bisnis.
“Selamat siang. Apakah Anda ingin menikmati sampanye untuk merayakan perjalanan ini?”
Keisha tersenyum.
“Boleh.”
Maya menuangkan minuman dengan gerakan sempurna.
Lalu ia menoleh kepada Arga.
“Bagaimana dengan Bapak? Atau mungkin hari ini lebih cocok merayakan keberhasilan menyusun jadwal rapat fiktif?”
Suasana mendadak sunyi.
Arga menelan ludah.
Keisha memandangnya dengan bingung.
“Apa maksudnya?”
“Tidak ada,” jawab Arga cepat.
Maya hanya mengangguk pelan.
“Kalau begitu, selamat menikmati.”
Ia pergi seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun benih kecurigaan telah tumbuh di hati Keisha.
“Apa sebenarnya yang dia maksud?”
Arga memaksakan senyum.
“Dia memang suka menyindir.”
“Tapi bukannya kamu bilang kalian sudah pisah rumah?”
“Iya.”
“Kenapa dia terlihat sama sekali tidak tahu?”
Arga mulai kehilangan kendali atas cerita yang selama ini ia bangun.
Beberapa jam kemudian, ketika lampu kabin diredupkan, Keisha pergi ke toilet.
Saat kembali, ia tidak sengaja melihat Maya sedang membantu seorang penumpang lansia merapikan selimut, kemudian berbicara lembut kepada seorang anak kecil yang takut turbulensi.
Tidak ada kepura-puraan.
Tidak ada kemarahan.
Perempuan itu tampak begitu tenang.
Keisha tiba-tiba merasa ada sesuatu yang tidak sesuai.
Sesaat kemudian, Maya menghampirinya.
“Apakah Anda baik-baik saja?”
Keisha mengangguk.
“Saya hanya ingin bertanya… apakah Anda benar istri Pak Arga?”
Maya menjawab tanpa sedikit pun mengubah ekspresi.
“Masih.”
“Dia bilang proses cerainya tinggal menunggu tanda tangan.”
Maya tersenyum tipis.
“Lucu sekali.”
“Hah?”
“Saya belum pernah menerima surat cerai apa pun.”
Keisha terdiam.
“Bahkan saya baru tahu hari ini kalau ternyata saya sudah hampir bercerai.”
Nada suara Maya tetap halus.
Tidak ada kebencian.
Justru itulah yang membuat setiap katanya terasa semakin tajam.
Keisha kembali ke kursinya dengan kepala penuh pertanyaan.
Ia membuka ponselnya yang masih dalam mode pesawat.
Galeri fotonya dipenuhi gambar apartemen mewah yang akan dibeli Arga untuk mereka setelah pulang dari Jepang.
Selama ini ia menganggap semua itu berasal dari hasil bisnis Arga.
Namun kini ia mulai bertanya-tanya.
Benarkah?
Di tengah penerbangan, Arga tertidur karena kelelahan.
Tas kerjanya sedikit terbuka.
Saat hendak mengambil jaket, sebuah map terjatuh ke lantai.
Keisha refleks memungutnya.
Matanya membelalak.
Di dalam map itu terdapat salinan rekening bersama.
Nama pemiliknya tertulis jelas.
Arga Pratama.
Maya Pratama.
Jumlah saldo yang dipindahkan ke rekening pengembang apartemen mencapai miliaran rupiah.
Di halaman berikutnya terdapat surat kuasa yang dipalsukan.
Tanda tangan Maya terlihat janggal.
Sangat janggal.
Jantung Keisha berdegup semakin cepat.
Selama ini Arga mengatakan semua aset sudah dibagi.
Nyatanya, uang itu bahkan bukan miliknya sendiri.
Saat Arga terbangun, Keisha langsung memperlihatkan dokumen tersebut.
“Apa ini?”
Arga merebut map itu.
“Kamu tidak perlu tahu.”
“Ini uang istrimu?”
“Bukan urusanmu.”
“Kamu bilang semuanya sudah selesai!”
Arga mulai panik.
“Keisha, dengarkan dulu.”
“Tidak. Selama ini kamu membohongiku juga.”
Suara mereka mulai meninggi.
Beberapa penumpang menoleh.
Maya datang menghampiri dengan tenang.
“Apakah ada yang bisa saya bantu?”
Keisha menatap Maya beberapa detik.
Lalu menyerahkan map itu.
“Saya rasa ini milik Anda.”
Maya membukanya perlahan.
Tatapannya berhenti pada sebuah halaman.
Bukan hanya surat pembelian apartemen.
Di belakangnya terdapat dokumen lain.
Perjanjian pinjaman perusahaan.
Jaminannya adalah rumah orang tua Maya di Bandung.
Maya sama sekali tidak pernah menandatangani dokumen itu.
Untuk pertama kalinya sejak bertemu Arga hari itu, wajahnya berubah.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena akhirnya ia memahami bahwa pengkhianatan suaminya jauh lebih besar daripada sekadar perselingkuhan.
Ia menutup map itu perlahan.
“Terima kasih.”
Hanya dua kata.
Namun di dalam pikirannya, ribuan kepingan masa lalu mulai tersusun menjadi jawaban.
Sesampainya di Tokyo, seluruh penumpang turun.
Arga mengejar Maya.
“Maya, dengarkan aku.”
Maya berhenti.
“Untuk apa?”
“Aku bisa jelaskan.”
“Yang mana dulu?”
Tentang perempuan yang kamu bilang hanya rekan kerja?
Tentang uang warisan yang kamu pindahkan?
Atau tentang tanda tanganku yang kamu palsukan?”
Arga tidak sanggup menjawab.
“Aku… khilaf.”
Maya tersenyum tipis.
“Orang bisa khilaf sekali.”
“Tapi memalsukan dokumen, memindahkan uang, dan berbohong selama bertahun-tahun bukan lagi khilaf. Itu pilihan.”
Ia berbalik dan berjalan meninggalkan Arga.
Yang tidak diketahui Arga, sebelum pesawat mendarat, Maya telah mengirim salinan seluruh dokumen kepada sahabat lamanya yang bekerja sebagai pengacara sekaligus kepada auditor internal perusahaan tempat Arga menjadi direktur keuangan.
Dua hari kemudian, rapat direksi berlangsung.
Audit menemukan transaksi mencurigakan selama hampir tiga tahun.
Bukan hanya rekening keluarga.
Dana perusahaan pun ternyata ikut dipakai menutupi utang investasi pribadi Arga.
Kasus itu segera dilaporkan kepada pihak berwenang.
Nama Arga yang selama ini dipuja sebagai pengusaha sukses mendadak memenuhi pemberitaan.
Para investor menarik kerja sama.
Rekan bisnis menjauh.
Keisha dipanggil sebagai saksi.
Ia memilih berkata jujur tentang semua yang diketahuinya.
Bukan untuk membalas dendam.
Melainkan karena ia sadar dirinya juga telah menjadi korban kebohongan.
Beberapa bulan kemudian, Maya resmi mengakhiri pernikahannya.
Ia tidak meminta balas.
Tidak meminta harta tambahan.
Ia hanya meminta kembali apa yang memang menjadi haknya.
Rekening warisan dipulihkan.
Rumah orang tuanya kembali aman.
Sementara Arga harus mempertanggungjawabkan seluruh tindakannya di hadapan hukum.
Suatu sore, setelah menyelesaikan penerbangan terakhirnya, Maya duduk sendirian di ruang kru sambil memandang langit yang mulai jingga.
Seorang pramugari junior menghampirinya.
“Kak Maya… bagaimana Kakak bisa setenang itu waktu bertemu suami Kakak di pesawat?”
Maya tersenyum pelan.
“Karena saat seseorang memilih mengkhianati kita, amarah tidak selalu menjadi balasan terbaik.”
“Lalu apa?”
“Kebenaran.”
Ia berdiri, merapikan seragamnya, lalu melangkah menuju gerbang keberangkatan berikutnya.
Langkahnya ringan.
Bukan karena ia tidak pernah terluka.
Melainkan karena ia akhirnya memahami bahwa kehilangan seseorang yang terus-menerus berbohong bukanlah sebuah kerugian.
Kerugian yang sesungguhnya adalah kehilangan harga diri demi mempertahankan orang yang memang sejak awal tidak pernah menghargai ketulusan.
