Pukul 03.02 dini hari, ponselku berdering.
Nama Nathaniel muncul di layar.
Aku membiarkannya berdering tiga kali sebelum mengangkat.
“Halo?”
Yang terdengar pertama kali bukan suaranya, melainkan suara benda jatuh, disusul napas terengah-engah dan seorang perempuan yang menangis histeris dari kejauhan.
“Apa yang kamu lakukan?” suara Nathaniel pecah. “Clara, apa yang kamu lakukan pada makanan itu?”
Aku menatap pintu kamar tamu yang masih tertutup.

“Aku tidak melakukan apa-apa,” jawabku tenang. “Itu supku. Ibumu yang menyuruhku mengirimkannya kepadamu.”
Di ujung sana, hening menyambar seperti petir.
“Apa maksudmu?”
“Kau memakannya?”
Nathaniel tidak langsung menjawab.
Tangisan perempuan itu semakin keras.
“Nathaniel, siapa yang memakannya?”
“Selena,” bisiknya.
Nama itu terasa asing dan akrab sekaligus. Aku pernah melihatnya berkali-kali di layar ponsel Nathaniel. Kadang hanya sebagai inisial S, kadang sebagai nomor tanpa nama, kadang sebagai rekan kerja yang katanya terlalu sering menghubunginya karena proyek penting.
Kini perempuan itu sedang menangis di apartemen mewah yang selama ini menjadi tempat suamiku menyimpan kehidupan keduanya.
“Apa yang terjadi padanya?” tanyaku.
“Dia pingsan. Tubuhnya lemas. Aku sudah menelepon ambulans. Clara, katakan apa yang ada di dalam sup itu!”
“Aku tidak tahu.”
“Kau bohong!”
Aku hampir tertawa, tetapi tenggorokanku terasa kering.
“Aku baru pulang kerja dan melihat ibumu menuangkan bubuk putih ke dalam supku. Jadi kalau kau ingin bertanya, tanyalah kepadanya.”
Sesuatu dalam suaranya berubah. Bukan sekadar takut. Ada rasa bersalah yang terlalu cepat muncul, seolah-olah ia sudah tahu lebih banyak daripada yang seharusnya.
“Jangan panggil polisi,” katanya.
Kalimat itu menghentikan napasku.
Bukan tolong selamatkan Selena.
Bukan apakah kamu baik-baik saja.
Bukan ibuku mencoba membunuhmu?
Melainkan jangan panggil polisi.
“Kenapa?” tanyaku perlahan.
“Karena ini akan menghancurkan semuanya.”
“Apa yang akan hancur, Nathaniel? Kariermu? Reputasi ibumu? Atau rencanamu menunggu aku mati supaya kau bisa mengambil apartemen ini?”
Ia terdiam.
Di kejauhan terdengar sirene mendekat.
“Aku akan meneleponmu lagi,” katanya cepat.
Sambungan terputus.
Aku masih memegang ponsel ketika pintu kamar tamu terbuka.
Vivian berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Rambut peraknya terurai di bahu. Ia pasti mendengar sebagian percakapan itu.
“Kepada siapa kau bicara?” tanyanya.
Aku meletakkan ponsel di meja.
“Nathaniel.”
Wajahnya kehilangan warna.
“Kenapa dia menelepon jam segini?”
Aku tersenyum tipis.
“Karena dia baru saja menerima sup yang kau siapkan untukku.”
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Vivian terlihat benar-benar takut.
Ia memandang meja makan, lalu kantong sampah, lalu tanganku yang kosong.
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku hanya mengikuti keinginanmu. Kau ingin seseorang memakan sup itu, bukan?”
Ia melangkah mundur.
“Kau gila.”
“Bukan aku yang menuangkan bubuk ke makanan orang lain.”
“Itu bukan racun.”
“Bagus. Berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Vivian mengatupkan bibir. Matanya bergerak cepat, mencari jalan keluar, alasan, atau kebohongan yang cukup kuat untuk menyelamatkannya.
“Itu hanya obat tidur,” katanya akhirnya. “Aku ingin kau beristirahat. Kau selalu tegang. Selalu mencurigai semua orang.”
“Obat tidur tidak dimasukkan diam-diam ke dalam sup sambil berkata, ‘makan dan matilah’.”
Tubuhnya menegang.
“Kau salah dengar.”
“Aku merekamnya.”
Itu bohong.
Aku tidak sempat merekam apa pun. Tetapi reaksi Vivian sudah cukup. Ia memegang kusen pintu seolah lututnya mendadak tidak mampu menopang tubuh.
“Kau tidak akan berani,” katanya.
“Aku bekerja di rumah sakit. Aku tahu pentingnya bukti.”
Ia menatapku dengan kebencian murni.
“Kau telah menghancurkan keluarga ini sejak hari pertama.”
“Aku?”
“Kau datang membawa apartemen, gaji besar, pendidikan tinggi, lalu membuat Nathaniel merasa kecil. Kau tidak pernah memberinya anak. Kau mengikatnya dengan rumah ini seolah dia tamu dalam hidupmu sendiri.”
Aku menatap perempuan yang selama bertahun-tahun memaksaku percaya bahwa semua kegagalan dalam pernikahan kami berasal dari tubuhku.
“Jadi karena itu aku pantas mati?”
Vivian mengangkat dagu.
“Kau tidak akan mengerti pengorbanan seorang ibu.”
“Tidak. Aku memang tidak mengerti ibu yang mencoba membunuh menantunya.”
Wajahnya mengeras.
“Aku melakukan apa yang harus dilakukan.”
Kalimat itu meluncur terlalu mudah dari mulutnya.
Aku merasakan sesuatu yang lebih dingin daripada ketakutan.
Ini bukan tindakan impulsif.
Bukan ledakan marah sesaat.
Vivian telah memikirkan semuanya.
“Sudah berapa lama?” tanyaku.
Ia tidak menjawab.
“Sudah berapa lama kau dan Nathaniel merencanakan ini?”
Matanya berkedip.
Itu cukup.
Dunia di sekelilingku seakan miring.
Nathaniel tahu.
Mungkin bukan tentang malam ini secara tepat, tetapi ia tahu ibunya ingin menyingkirkanku. Itulah alasan pertamanya adalah jangan panggil polisi. Itulah alasan ia tidak terdengar terkejut ketika kusebut bubuk putih.
Ponselku kembali berdering.
Kali ini nomor rumah sakit tempat ambulans membawa Selena.
Aku mengangkatnya. Seorang petugas medis bertanya apakah aku mengenal pasien bernama Selena Wardani dan Nathaniel Rowe. Nomorku ditemukan sebagai kontak darurat di ponsel Nathaniel.
Aku menutup mata sejenak.
Bahkan untuk perempuan simpanannya, namaku masih berguna.
“Saya istrinya,” kataku. “Apakah pasiennya selamat?”
“Untuk sementara kondisinya stabil. Dokter sedang melakukan pemeriksaan. Tuan Nathaniel meminta Anda datang.”
“Tolong sampaikan saya akan datang bersama polisi.”
Vivian menerjang ke arahku.
Tangannya berusaha merebut ponsel, tetapi aku mundur dan mengangkat telapak tangan.
“Jangan sentuh aku.”
“Kau tidak tahu apa yang kau lakukan!” teriaknya. “Jika polisi datang, Nathaniel akan kehilangan semuanya!”
“Dia sudah kehilangan aku.”
Aku menghubungi polisi saat itu juga.
Dua puluh menit kemudian, apartemen dipenuhi petugas. Mereka memisahkan aku dan Vivian. Mereka mengambil wadah bekas sup, kantong plastik kecil yang ditemukan di tong sampah kamar mandi, sendok dari wastafel, serta tisu yang Vivian sembunyikan di saku jubahnya.
Vivian mencoba mengubah cerita tiga kali.
Pertama, ia berkata bubuk itu suplemen kesehatan.
Lalu ia mengatakan obat tidur ringan.
Terakhir, ia mengaku tidak pernah menyentuh sup tersebut dan menuduhku menjebaknya karena membenci keluarga Rowe.
Sayangnya untuknya, apartemen kami memiliki kamera kecil di dekat dapur.
Bukan kamera keamanan yang dipasang khusus.
Itu kamera pemantau hewan peliharaan lama, peninggalan saat aku masih merawat kucingku yang sakit dua tahun sebelumnya. Kamera itu jarang kugunakan, tetapi masih terhubung ke penyimpanan awan dan aktif setiap kali menangkap gerakan.
Rekamannya memperlihatkan Vivian membuka bungkus, menuangkan bubuk, mengaduk, menghapus bekas di pinggir wadah, lalu membisikkan sesuatu sambil membungkuk di atas sup.
Suaranya tidak terlalu jelas.
Namun gambarnya cukup.
Vivian dibawa pergi menjelang subuh.
Aku pergi ke rumah sakit dengan mobil polisi.
Di ruang gawat darurat, Nathaniel duduk dengan kemeja kusut dan wajah pucat. Di sampingnya tergeletak tas tangan berwarna merah milik Selena. Begitu melihatku, ia berdiri.
“Kau benar-benar membawa polisi?”
“Aku hampir dibunuh di rumahku sendiri.”
“Ibuku tidak bermaksud membunuhmu.”
“Lalu apa maksudnya?”
“Dia hanya ingin membuatmu sakit.”
Aku menatapnya lama.
Ada kalanya kebohongan begitu buruk hingga terdengar lebih mengerikan daripada pengakuan.
“Hanya ingin membuatku sakit?”
Nathaniel mengusap wajah.
“Dia ingin kau masuk rumah sakit beberapa hari. Kami pikir kalau kau terlihat tidak stabil dan kondisi kesehatanmu memburuk, akan lebih mudah mengurus beberapa dokumen.”
“Dokumen apa?”
Ia tidak menjawab.
Seorang polisi berdiri di dekat kami. Nathaniel meliriknya, lalu menunduk.
Aku merasakan detak jantungku sampai ke tenggorokan.
“Dokumen apa, Nathaniel?”
“Surat kuasa.”
“Untuk apa?”
“Menjual apartemen.”
Aku hampir tidak percaya.
Apartemen itu kubeli lima tahun sebelum menikah. Nathaniel memang tinggal di sana dan membantu beberapa biaya, tetapi kepemilikan resminya tetap atas namaku.
“Kau ingin menjual rumahku?”
“Kami butuh uang.”
“Untuk apa?”
Dari lorong, seorang perawat keluar dari ruang pemeriksaan dan memanggil nama Nathaniel. Ia tidak bergerak.
Aku mengulang pertanyaanku.
“Untuk apa?”
Nathaniel menatap pintu tempat Selena dirawat.
“Dia hamil.”
Aku merasa seolah-olah seseorang baru saja membuka lantai di bawah kakiku.
Bukan hanya karena perempuan itu hamil.
Melainkan karena wajah Nathaniel saat mengatakannya tidak menunjukkan malu.
Ia tampak lega.
Seolah akhirnya ada alasan yang bisa membenarkan semuanya.
“Berapa bulan?”
“Tiga.”
Tiga bulan.
Tiga bulan yang lalu aku masih menyuntikkan hormon ke tubuhku sendiri di kamar mandi, sementara Nathaniel berdiri di luar pintu dan berkata kami harus terus berusaha.
Tiga bulan yang lalu Vivian masih menemani aku ke klinik kesuburan, menggenggam tanganku, lalu menangis ketika dokter mengatakan hasilnya belum berhasil.
Mereka sudah tahu Selena hamil saat itu.
“Jadi itu sebabnya ibumu ingin menyingkirkanku.”
“Dia hanya ingin cucunya memiliki keluarga yang utuh.”
Aku menatap lelaki yang pernah kupercaya akan menemaniku sampai tua.
“Kau tidak ingin keluarga utuh. Kau ingin hidup baru yang dibiayai dari rumahku.”
Ia mendekat dan merendahkan suara.
“Clara, dengarkan aku. Kita masih bisa menyelesaikan ini. Kau tarik laporanmu. Aku akan bicara dengan Ibu. Kita bercerai baik-baik. Kau bisa mempertahankan sebagian uang dari penjualan apartemen.”
“Sebagian?”
“Itu adil.”
Aku tertawa.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku benar-benar tertawa. Bukan karena lucu, tetapi karena aku akhirnya melihat betapa kecilnya lelaki di hadapanku.
“Kau selingkuh, menghamili perempuan lain, membantu ibumu membuatku sakit, lalu menawarkan sebagian dari milikku sendiri?”
Nathaniel menarik lenganku.
Polisi langsung memisahkannya.
Pada saat yang sama, dokter keluar dari ruang Selena.
“Keluarganya?” tanyanya.
Nathaniel mengangkat tangan.
Dokter memandang kami dengan wajah serius.
“Pasien sudah stabil. Zat yang tertelan tampaknya berasal dari obat resep yang dihancurkan dalam jumlah tinggi. Untung makanan hanya sempat dikonsumsi sedikit.”
Nathaniel mengembuskan napas lega.
Namun dokter belum selesai.
“Ada hal lain. Pemeriksaan darah menunjukkan pasien tidak sedang hamil.”
Nathaniel membeku.
“Apa?”
“Kadar hormonnya tidak menunjukkan kehamilan. Kami juga melakukan pemeriksaan tambahan karena pasien mengaku hamil tiga bulan. Hasilnya negatif.”
Wajah Nathaniel berubah perlahan.
Ia menoleh ke arah pintu.
“Tidak mungkin.”
Beberapa menit kemudian Selena keluar dengan kursi roda. Wajahnya pucat, matanya sembap. Begitu melihat Nathaniel, ia memalingkan muka.
“Kau bohong?” bentaknya.
Selena menatapku lebih dulu, lalu Nathaniel.
“Aku terpaksa.”
“Terpaksa?”
“Kau tidak akan meninggalkan istrimu kalau aku tidak mengatakan aku hamil.”
Nathaniel melangkah maju, tetapi polisi menahannya.
“Jadi semua ini karena kebohonganmu?”
Selena tertawa getir.
“Jangan menyalahkanku. Kau yang bilang ibumu akan mengurus Clara. Kau yang bilang dalam beberapa bulan apartemen itu akan dijual dan kita bisa pindah ke Bali.”
Koridor mendadak sunyi.
Polisi di sampingku mengangkat kepala.
Aku menatap Nathaniel.
“Apa maksudnya ibumu akan mengurusku?”
Selena menutup mulut, menyadari ia baru saja mengatakan terlalu banyak.
Nathaniel kehilangan seluruh warna di wajahnya.
Pemeriksaan berlanjut sampai pagi.
Pesan-pesan di ponsel Nathaniel mengungkap semuanya. Vivian telah beberapa kali membahas cara membuatku tampak sakit, bingung, atau tidak mampu mengambil keputusan. Nathaniel mengirimkan jadwal kerjaku, daftar obat yang tersimpan di rumah, bahkan foto tanda tanganku. Mereka berencana memalsukan surat kuasa setelah aku dirawat dan menjual apartemen melalui seorang kenalan.
Selena bukan bagian utama rencana itu, tetapi ia tahu cukup banyak dan memilih diam karena mengira akan menikmati hasilnya.
Vivian ditahan.
Nathaniel juga.
Selena kemudian bekerja sama dengan penyidik demi meringankan tuntutannya.
Tiga minggu setelah malam itu, aku duduk sendirian di ruang tamu apartemenku. Cermin antik masih tergantung di atas meja konsol.
Untuk pertama kalinya, pantulannya tidak membuatku takut.
Aku melihat seorang perempuan dengan wajah lelah, tetapi tegak. Perempuan yang kehilangan suami, keluarga, dan keyakinan tentang hidupnya hanya dalam satu malam.
Namun aku juga melihat seseorang yang masih hidup.
Bel pintu berbunyi.
Seorang kurir menyerahkan amplop besar dari klinik kesuburan. Aku hampir membuangnya, tetapi nama dokterku tertulis di sudut.
Di dalamnya ada hasil pemeriksaan yang seharusnya kami terima beberapa bulan lalu. Klinik meminta maaf karena terjadi kesalahan administrasi setelah pergantian sistem.
Aku membaca kalimat pertama dua kali.
Lalu tiga kali.
Hasil pemeriksaanku normal.
Tidak ada bukti bahwa aku mandul.
Penyebab kegagalan program kehamilan kami kemungkinan besar berasal dari faktor pasangan pria dan membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Aku duduk perlahan.
Tiba-tiba seluruh hinaan Vivian terdengar seperti gema dari kebohongan yang sengaja mereka bangun.
Aku menghubungi dokter.
Ia menjelaskan bahwa Nathaniel tidak pernah datang untuk menjalani tes lanjutan, meski berkali-kali dijadwalkan. Ia selalu membatalkan dengan alasan pekerjaan.
Bukan tubuhku yang tidak bekerja sama.
Nathaniel yang terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan.
Ia membiarkan aku disuntik, diperiksa, dipermalukan, dan disalahkan selama bertahun-tahun karena mengakui kelemahannya sendiri terasa lebih menakutkan daripada menghancurkan istrinya.
Aku berdiri di depan cermin.
Kemudian, dengan kedua tangan, aku mengangkatnya dari dinding.
Cermin itu berat. Bingkainya dingin. Selama bertahun-tahun, benda itu menunjukkan kepadaku berbagai keburukan sebelum aku siap melihatnya.
Malam itu, aku membawanya ke ruang penyimpanan.
Bukan karena aku masih membencinya.
Melainkan karena aku tidak lagi membutuhkan benda apa pun untuk menunjukkan kebenaran kepadaku.
Sebelum menutup pintu, aku menatap pantulanku untuk terakhir kalinya.
Aku tidak melihat perempuan mandul.
Aku tidak melihat istri gagal.
Aku tidak melihat korban.
Aku melihat seseorang yang hampir kehilangan hidup karena terlalu lama membiarkan orang lain menentukan nilainya.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku berbisik kepada diriku sendiri,
“Aku masih hidup.”
Kali ini, tidak ada seorang pun yang bisa mengubah kalimat itu menjadi kebohongan.
