Namaku Alya Pramesti. Banyak orang mengira aku adalah perempuan paling beruntung di Jakarta. Aku menikah dengan seorang pengusaha muda bernama Arga Mahendra yang selalu tampil rapi di majalah bisnis, menghadiri acara amal, dan dipuji sebagai sosok suami penyayang. Tak seorang pun tahu bahwa setiap kali pintu rumah kami tertutup, senyum di wajahnya ikut menghilang.
Pagi itu aku berdiri di depan cermin kamar mandi sambil menempelkan kantong es ke pipi kiri yang masih berdenyut. Bekas tamparan semalam membentuk warna ungu kebiruan yang sulit disembunyikan. Bibirku pecah. Bahuku terasa nyeri karena sempat membentur lemari saat aku terjatuh.
Aku masih menatap bayanganku ketika Arga masuk ke kamar dengan santai. Di tangannya ada sebuah kotak kecil berlogo merek kosmetik mewah.

“Aku belikan foundation yang bagus,” katanya sambil meletakkan kotak itu di meja rias. “Ibuku datang siang ini. Jangan sampai dia melihat wajahmu seperti itu.”
Aku menoleh perlahan.
“Kamu memukulku semalam.”
“Aku kehilangan kesabaran.”
“Lalu sekarang kamu ingin aku menyembunyikannya?”
Arga menghela napas, seolah aku yang membuat masalah.
“Jangan dibesar-besarkan. Kamu hanya perlu pakai makeup.”
Aku tidak menjawab.
Dalam hati, aku justru merasa sangat tenang.
Karena tamparan semalam telah mengubah semuanya.
Selama dua bulan terakhir, aku diam-diam mengumpulkan bukti.
Bukan karena aku lemah.
Tetapi karena aku menunggu saat yang tepat.
Arga tidak pernah tahu bahwa seluruh rumah kami telah dipasang sistem keamanan baru atas namaku sendiri. Kamera-kamera itu memang tampak seperti perangkat standar, tetapi semua rekamannya tersimpan otomatis di server pribadi yang hanya bisa kuakses.
Tamparan semalam terekam dari tiga sudut berbeda.
Suaranya terdengar jelas.
Ancamannya juga.
Aku membuka ponsel keduaku yang selama ini kusimpan di balik rak buku. Sudah ada pesan dari pengacaraku.
“Semua bukti sudah cukup. Kapan pun Ibu siap, kita bisa bergerak.”
Aku membalas singkat.
“Hari ini.”
Tepat pukul dua belas, mobil hitam berhenti di depan rumah.
Ibu mertuaku, Ratna Mahendra, turun dengan pakaian mahal dan senyum tipis yang selalu membuatku merasa sedang dihakimi.
Dia bahkan belum duduk ketika mulai mengatur isi rumah.
“Vas bunga itu pindahkan.”
“Gorden ruang makan terlalu gelap.”
“Mulai minggu depan kamar tamu akan kugunakan.”
Aku menuangkan teh tanpa berkata apa-apa.
Ratna memperhatikanku.
“Alya, kenapa wajahmu pucat?”
Sebelum sempat menjawab, Arga langsung menyela.
“Dia kurang tidur.”
Ratna mengangguk.
“Lain kali jangan terlalu sibuk bekerja. Tugas utama perempuan menjaga rumah.”
Aku tersenyum tipis.
“Benarkah, Bu?”
“Tentu.”
“Kalau begitu, saya juga harus menjaga rumah ini dari orang yang tidak menghormati pemiliknya.”
Suasana langsung hening.
Ratna mengernyit.
“Maksudmu?”
Aku berdiri.
“Lima belas menit lagi kalian akan tahu.”
Arga tertawa kecil.
“Kamu sedang bermain drama?”
Aku mengambil remote televisi di ruang keluarga.
Satu tombol kutekan.
Layar besar langsung menampilkan rekaman kamera keamanan.
Video semalam mulai diputar.
Suara Arga memenuhi ruangan.
“Kamu akan menurut!”
Lalu terlihat jelas ketika telapak tangannya menghantam wajahku hingga aku terjatuh.
Tak ada yang bisa menyangkal.
Tak ada sudut yang tertutup.
Ratna langsung berdiri.
“Matikan!”
Aku tidak bergerak.
Video terus berjalan.
Ancaman.
Bentakan.
Tamparan kedua.
Lalu suara Arga berkata dingin,
“Kalau perlu, aku buat kamu belajar hormat.”
Wajah Arga berubah pucat.
“Dari mana rekaman itu?”
Aku menatapnya.
“Dari rumahku.”
“Kamu memasang kamera?”
“Aku pemilik rumah ini.”
Ratna menunjukku dengan marah.
“Kamu menjebak anakku!”
Aku tersenyum tenang.
“Tidak. Saya hanya membiarkan dia menunjukkan siapa dirinya.”
Bel rumah berbunyi.
Arga berjalan cepat hendak membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, dua polisi masuk bersama seorang perempuan berjas hitam.
Pengacaraku.
Komisaris polisi memperlihatkan surat resmi.
“Kami menerima laporan dugaan kekerasan dalam rumah tangga.”
Arga menoleh kepadaku dengan mata membelalak.
“Kamu laporkan aku?”
“Aku melindungi diriku sendiri.”
Ratna langsung berteriak.
“Ini urusan keluarga!”
Pengacaraku menjawab dengan tenang.
“Pemukulan bukan urusan keluarga. Itu tindak pidana.”
Selama hampir satu jam polisi memeriksa seluruh rekaman, memotret luka di wajahku, dan meminta keterangan.
Arga terus mencoba mendekatiku.
“Alya, kita bisa selesaikan baik-baik.”
Aku hanya memandangnya.
“Semalam kamu bilang pembicaraan sudah selesai.”
Kini giliranku mengucapkan kalimat yang sama.
“Dan memang sudah selesai.”
Saat polisi menggiring Arga keluar rumah, Ratna menangis sambil memegang lengannya.
“Kami akan menuntutmu!”
Aku tidak menjawab.
Karena kejutan sebenarnya belum dimulai.
Sore harinya, Ratna datang kembali bersama dua pengacara.
Mereka membawa setumpuk dokumen.
“Alya,” katanya dengan suara angkuh, “rumah ini milik keluarga Mahendra. Kamu harus pergi.”
Aku mengeluarkan satu map biru dari laci.
“Silakan dibaca dulu.”
Pengacara mereka membuka dokumen itu.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
“Bu Ratna…”
“Ada apa?”
“Rumah ini…”
Dia menelan ludah.
“…atas nama Ibu Alya.”
Ratna menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Aku meletakkan sertifikat lain.
Lalu rekening perusahaan.
Kemudian dokumen investasi.
Satu per satu.
“Villa di Puncak.”
“Apartemen di Sudirman.”
“Empat ruko.”
“Saham.”
“Seluruhnya atas nama saya.”
Ratna mulai kehilangan warna wajah.
“Tapi… Arga bilang semua itu miliknya.”
Aku tersenyum.
“Itulah masalahnya.”
Arga memang selalu berpura-pura menjadi pria sukses.
Mobil mewah.
Jam tangan mahal.
Liburan ke luar negeri.
Padahal sebagian besar gaya hidupnya dibiayai olehku.
Sebelum menikah, aku telah membangun perusahaan teknologi bersama dua sahabatku.
Aku tidak pernah memamerkannya.
Media lebih mengenal direktur operasional kami daripada pemilik saham terbesar.
Arga hanya tahu aku bekerja sebagai konsultan.
Dia tidak pernah bertanya lebih jauh.
Yang dia lihat hanyalah istrinya yang sederhana.
Dia tidak pernah sadar bahwa hampir seluruh modal awal bisnisnya berasal dari pinjaman tanpa bunga yang kuberikan melalui perusahaan investasi.
Dia bahkan tidak tahu investor terbesar di perusahaannya adalah sebuah holding yang diam-diam kumiliki.
Malam itu teleponku berdering.
Direktur keuangan perusahaan Arga.
“Bu Alya, sesuai instruksi pemegang saham utama, seluruh fasilitas kredit perusahaan Pak Arga dihentikan.”
Aku menjawab singkat.
“Laksanakan sesuai prosedur.”
Keesokan paginya berita mulai bermunculan.
Perusahaan Arga mengalami krisis likuiditas.
Investor menarik dana.
Bank menunda pinjaman.
Beberapa mitra bisnis membatalkan kontrak.
Semuanya terjadi secara legal.
Tidak ada sabotase.
Hanya konsekuensi dari fakta bahwa investor utama kehilangan kepercayaan kepada direktur yang terlibat kasus kekerasan terhadap istrinya.
Seminggu kemudian aku menghadiri sidang pertama.
Arga terlihat jauh berbeda.
Wajahnya kusut.
Matanya sembab.
Dia mencoba menghampiriku.
“Alya… aku minta maaf.”
Aku memandangnya tanpa kebencian.
“Apakah kamu menyesal karena memukulku?”
Dia terdiam.
“Atau karena akhirnya tahu siapa aku sebenarnya?”
Dia tidak mampu menjawab.
Hakim kemudian membacakan putusan sementara mengenai perlindungan terhadap korban.
Aku keluar dari ruang sidang dengan langkah ringan.
Di luar gedung, hujan baru saja berhenti.
Udara terasa lebih segar daripada yang pernah kurasakan selama bertahun-tahun.
Beberapa bulan kemudian, rumah itu menjadi pusat pendampingan bagi perempuan korban kekerasan rumah tangga. Ruang tamu yang dulu dipenuhi rasa takut kini dipenuhi suara tawa, kelas pelatihan, dan konsultasi hukum gratis.
Suatu sore, seorang relawan bertanya kepadaku,
“Bu Alya, apa yang paling mahal yang pernah Ibu beli?”
Aku memandang langit Jakarta yang mulai berwarna jingga.
“Bukan rumah.”
“Bukan perusahaan.”
“Bukan juga jutaan yang dulu kusimpan.”
Aku tersenyum pelan.
“Yang paling mahal adalah keberanian untuk berhenti menyembunyikan luka.”
Karena pada akhirnya, bukan memar di wajah yang menghancurkan kehidupan Arga.
Melainkan keyakinannya bahwa aku akan terus menutupinya selamanya.
