Aku menyembunyikan pil itu di dalam pipiku dan berpura-pura tertidur.

Aku baru sadar ada yang salah ketika secangkir teh hangat yang selalu disiapkan suamiku setiap malam mulai terasa terlalu pahit. Bukan karena rasanya, melainkan karena setiap kali meminumnya, aku selalu terbangun keesokan pagi dengan kepala berat, tubuh lemas, dan ingatan yang terasa berlubang. Pada awalnya aku menyalahkan tekanan pekerjaan dan kelelahan mengurus butik peninggalan ibuku di Jakarta Selatan. Namun, ketika kejadian itu terus berulang selama hampir sebulan, naluriku mengatakan bahwa seseorang sedang memainkan sesuatu di belakangku.

Malam itu aku berpura-pura meminum teh seperti biasa. Begitu Adrian keluar dari kamar untuk menjawab telepon, aku menuangkan seluruh isinya ke pot tanaman di balkon. Aku kembali ke tempat tidur, memejamkan mata, dan mengatur napas seolah sudah tertidur pulas.

Sekitar lima belas menit kemudian, suara pintu terbuka perlahan membuat seluruh tubuhku menegang.

“Aku yakin dia sudah tidak sadar,” bisik Adrian.

Langkah kaki lain mengikuti.

“Itu lebih baik. Kita hanya punya sedikit waktu,” jawab seorang perempuan.

Aku mengenali suara itu.

Livia.

Adik sepupu Adrian yang selama ini tinggal di rumah kami dengan alasan sedang mencari pekerjaan.

Aku membuka sedikit celah di antara bulu mata.

Mereka berdiri di depan lemari besi kecil yang selama ini kusimpan di balik lukisan ruang tidur. Adrian mengambil kunci dari laci meja rias, sesuatu yang bahkan tidak pernah kuketahui ia tahu letaknya.

“Besok notaris akan menelepon. Setelah semua dokumen ditandatangani, saham perusahaan akan berpindah tanpa dia menyadarinya,” kata Livia.

Adrian mengangguk.

“Dia sudah mulai lupa banyak hal. Semua orang percaya dia mengalami gangguan memori.”

Dadaku terasa sesak.

Jadi selama ini bukan aku yang sedang sakit.

Seseorang sengaja membuatku terlihat kehilangan akal.

Setelah mereka pergi, aku segera memuntahkan air liur yang terasa pahit ke wastafel. Tangan gemetar, tetapi pikiranku justru menjadi sangat jernih.

Aku tidak menangis.

Aku tidak berteriak.

Aku hanya mengambil ponsel cadangan yang kusimpan di dalam koper lama dan menghubungi satu-satunya orang yang masih kupercaya.

Namanya Raka.

Teman kuliahku yang kini bekerja sebagai analis keamanan digital.

Keesokan paginya aku berpura-pura seperti biasa.

Aku tersenyum kepada Adrian.

Aku bahkan meminta maaf karena belakangan sering pelupa.

Ia tampak lega.

Mungkin karena mengira rencananya berjalan sempurna.

Sementara itu, Raka mulai membantuku secara diam-diam. Kamera kecil dipasang di kamar tidur saat Adrian pergi bekerja. Laboratorium independen memeriksa sisa teh yang berhasil kusimpan.

Hasilnya membuat darahku membeku.

Teh itu mengandung kombinasi obat penenang dosis rendah dan zat yang jika dikonsumsi terus-menerus dapat mengganggu daya ingat serta konsentrasi.

Belum cukup sampai di situ.

Raka juga menemukan bahwa beberapa dokumen digital perusahaan telah diakses menggunakan akun pribadiku pada jam-jam ketika aku selalu tertidur.

Artinya, seseorang menggunakan sidik jariku saat aku tidak sadar.

Aku mulai mengingat banyak hal yang sebelumnya terasa aneh.

Bekas tinta di ibu jariku.

Foto-foto yang tak pernah kuingat diambil.

Transfer uang yang tidak pernah kulakukan.

Semua potongan itu akhirnya membentuk gambaran yang utuh.

Adrian tidak hanya ingin mengambil perusahaan warisan keluargaku.

Ia ingin membuat semua orang percaya bahwa aku mengalami gangguan mental sehingga setiap keputusan yang diambil atas namaku tampak sah.

Aku memutuskan untuk tidak langsung melapor ke polisi.

Aku ingin mengetahui siapa lagi yang terlibat.

Selama dua minggu berikutnya, aku tetap memainkan peran sebagai istri yang lemah dan mudah lupa.

Semakin mereka merasa aman, semakin banyak kesalahan yang mereka lakukan.

Suatu malam, kamera merekam Adrian membawa seorang pria berpakaian jas ke rumah.

“Aset terakhir tinggal vila di Bandung,” kata pria itu.

“Kalau istrimu resmi dinyatakan tidak mampu mengambil keputusan, semuanya selesai.”

Adrian tersenyum tipis.

“Aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk ini.”

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada pengkhianatan apa pun.

Kami menikah enam tahun.

Aku percaya seluruh hidupku ada di tangannya.

Ternyata selama itu pula ia hanya menunggu waktu yang tepat.

Raka menyerahkan seluruh rekaman kepada penyidik kepolisian.

Namun penyidik meminta kami bersabar.

Mereka ingin menangkap seluruh jaringan sekaligus.

Kesempatan itu datang lebih cepat dari dugaan.

Adrian mengadakan pesta ulang tahun pernikahan kami di sebuah hotel mewah.

Semua keluarga dan rekan bisnis hadir.

Di atas panggung ia memelukku dengan penuh kasih.

“Istriku mungkin sedang menghadapi masa sulit,” katanya sambil tersenyum kepada para tamu. “Tetapi aku akan selalu berada di sisinya.”

Ruangan dipenuhi tepuk tangan.

Aku ikut tersenyum.

“Terima kasih, Sayang,” jawabku.

“Lima menit lagi, semua akan selesai.”

Ia mengira aku sedang berbicara tentang pidato romantis.

Padahal yang kumaksud adalah sesuatu yang lain.

Layar besar di belakang kami tiba-tiba menyala.

Bukan menampilkan foto-foto pernikahan seperti yang direncanakan Adrian.

Melainkan rekaman kamera tersembunyi.

Video pertama memperlihatkan Adrian menuangkan obat ke dalam tehku.

Video kedua menunjukkan ia membuka lemari besi saat mengira aku tertidur.

Video ketiga merekam seluruh percakapannya dengan pria berjas mengenai pengambilalihan aset.

Suasana ballroom langsung berubah sunyi.

Wajah Adrian memucat.

“Itu palsu!” teriaknya.

Belum sempat ia melangkah turun dari panggung, beberapa petugas kepolisian memasuki ruangan.

Mereka memperlihatkan surat penangkapan.

Livia yang duduk di barisan depan mencoba melarikan diri, tetapi petugas lain telah menunggunya di pintu keluar.

Seluruh tamu hanya bisa menyaksikan dalam diam ketika dua orang yang selama ini terlihat begitu sempurna digiring keluar dengan tangan diborgol.

Aku berdiri sendirian di atas panggung.

Tidak ada rasa puas.

Yang tersisa hanyalah kelelahan yang sangat panjang.

Beberapa bulan kemudian, persidangan mengungkap fakta yang lebih mengejutkan.

Adrian ternyata memiliki utang investasi ilegal dalam jumlah besar. Ia dijanjikan pembebasan seluruh utang jika berhasil menguasai perusahaanku. Livia ikut membantu karena dijanjikan sebagian saham sebagai imbalan.

Kasus itu menjadi pemberitaan nasional.

Banyak orang mengirimkan pesan simpati.

Namun satu pesan paling mengubah hidupku datang dari seorang perempuan yang tidak kukenal.

Ia mengaku pernah menjadi tunangan Adrian bertahun-tahun lalu.

Hubungan mereka berakhir setelah ia tiba-tiba didiagnosis mengalami depresi berat dan kehilangan ingatan ringan.

Setelah melihat berita penangkapan Adrian, ia baru menyadari bahwa dirinya mungkin pernah menjadi korban dengan pola yang sama.

Aku merinding membaca pesannya.

Aku bukan target pertama.

Dan mungkin bukan yang terakhir seandainya malam itu aku benar-benar meminum teh tersebut.

Setahun kemudian, butik kecil peninggalan ibuku berkembang menjadi perusahaan mode yang jauh lebih besar. Aku juga mendirikan sebuah yayasan yang membantu korban manipulasi psikologis dan kekerasan finansial dalam rumah tangga agar mendapatkan bantuan hukum dan pendampingan.

Banyak orang menganggap keberanianku dimulai pada malam ketika aku memutuskan untuk tidak meminum teh itu.

Padahal mereka keliru.

Keberanian itu lahir saat aku berhenti meragukan instingku sendiri.

Karena terkadang bahaya tidak datang dengan wajah asing.

Ia datang membawa senyum paling hangat, pelukan paling meyakinkan, dan janji untuk selalu melindungi kita.

Dan justru karena itulah, ia menjadi yang paling sulit dikenali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang