Aqeela berdiri mematung di balik meja kasir. Tatapannya jatuh pada bunga-bunga matahari yang kini hancur di lantai. Kelopak kuning yang tadi begitu cerah berserakan di bawah bekas telapak sepatu Rissa, bercampur dengan batang-batang yang patah.
Untuk beberapa detik, ruko itu terasa sunyi.
Dua pegawai Aqeela yang sejak tadi berada di dapur menatap dari kejauhan dengan wajah tegang. Salah satunya, Naya, bergegas keluar sambil membawa sapu.
“Mbak, biar aku yang bersihkan.”

Aqeela menggeleng pelan.
“Jangan.”
Ia berjalan keluar dari balik meja kasir, lalu berjongkok. Dengan tangannya sendiri, ia mengumpulkan bunga-bunga yang rusak itu satu per satu.
“Mbak Aqeela…” suara Naya bergetar. “Perempuan itu siapa?”
Aqeela tidak langsung menjawab. Ia menggenggam satu bunga yang batangnya hampir putus, lalu tersenyum pahit.
“Orang yang terlalu takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya belum pernah benar-benar ia miliki.”
Naya terdiam.
Aqeela membawa bunga-bunga itu ke meja samping. Ia mengambil vas kecil, memotong batang yang rusak, lalu menyusun kembali beberapa bunga yang masih bisa diselamatkan.
Melihat hasilnya, Naya menahan napas. Buket itu tidak lagi sempurna, tetapi tetap terlihat indah.
“Kadang sesuatu tidak harus kembali seperti semula untuk tetap punya nilai,” ujar Aqeela lirih.
Ia lalu menatap jam di dinding.
“Ayo lanjut bekerja. Pesanan katering untuk seminar kampus harus selesai sebelum jam empat.”
Seolah tidak terjadi apa-apa, Aqeela kembali ke dapur. Namun di balik ketenangannya, ia tahu Rissa tidak akan berhenti hanya sampai di situ.
Dan dugaannya benar.
Dua hari kemudian, unggahan anonim mulai beredar di media sosial. Sebuah akun gosip lokal mengunggah foto-foto Dapur Aqeela dengan judul provokatif.
“Bisnis Dessert Viral Diduga Pakai Bahan Kedaluwarsa, Pemilik Memanfaatkan Nama Besar Keluarga Suami.”
Unggahan itu disertai foto bahan-bahan di dapur yang terlihat kotor dan beberapa kotak krim dengan tanggal kedaluwarsa yang telah lewat.
Komentar negatif langsung membanjiri akun bisnis Aqeela.
“Pantas murah, ternyata bahannya begini.”
“Jangan beli lagi!”
“Katanya istri dosen terkenal, ternyata cuma numpang nama.”
“Bahaya kalau mahasiswa sampai keracunan.”
Naya berlari ke ruang kerja Aqeela dengan wajah pucat.
“Mbak, kita harus bagaimana? Orang-orang mulai membatalkan pesanan.”
Aqeela mengambil ponsel itu dan membaca seluruh unggahan dengan tenang. Ia memperbesar foto-foto yang beredar, lalu mengernyit.
“Itu bukan dapur kita.”
“Tapi raknya mirip, Mbak.”
“Mirip, tapi bukan.”
Aqeela menunjuk salah satu sudut foto.
“Lihat stopkontaknya. Dapur kita punya tiga lubang, yang di foto cuma dua. Warna keramiknya juga berbeda.”
Naya menatap lebih teliti.
“Benar…”
“Kita jangan panik. Simpan semua bukti pembelian bahan, rekaman CCTV, dan catatan produksi. Jangan membalas komentar dengan emosi.”
Namun keadaan semakin buruk. Sore itu, beberapa orang dari dinas kesehatan datang melakukan pemeriksaan mendadak. Di depan ruko, beberapa pelanggan merekam kejadian itu dengan ponsel.
Aqeela mempersilakan petugas masuk tanpa perlawanan.
“Silakan periksa semuanya, Pak. Gudang bahan ada di belakang. Dokumen supplier dan tanggal pembelian lengkap.”
Para petugas memeriksa lemari pendingin, rak bahan baku, ruang produksi, wastafel, hingga tempat penyimpanan sampah.
Hampir dua jam kemudian, salah satu petugas mendekati Aqeela.
“Semua bahan dalam kondisi baik. Tempat produksi juga memenuhi standar kebersihan. Kami tidak menemukan pelanggaran.”
Aqeela mengangguk lega.
“Apakah saya bisa mendapatkan surat hasil pemeriksaan?”
“Tentu.”
Malam itu, Aqeela mengunggah video klarifikasi. Ia tidak menangis, tidak marah, dan tidak menyebut nama siapa pun.
“Terima kasih kepada pelanggan yang sudah menyampaikan kekhawatiran. Hari ini Dapur Aqeela telah diperiksa langsung oleh dinas terkait dan tidak ditemukan bahan kedaluwarsa maupun pelanggaran kebersihan. Kami juga memiliki rekaman CCTV penuh dari seluruh aktivitas dapur. Saya percaya bahwa bisnis yang dibangun dengan kejujuran tidak perlu takut pada pemeriksaan apa pun.”
Ia memperlihatkan surat hasil pemeriksaan dan beberapa cuplikan dapur yang bersih.
Video itu menyebar cepat. Banyak pelanggan mulai berbalik membela Aqeela. Beberapa mahasiswa bahkan datang langsung untuk memberikan dukungan.
Namun Aqeela tahu, masalah itu belum selesai.
Ia meminta bantuan Kafka untuk memeriksa rekaman CCTV dari hari Rissa datang. Dalam rekaman itu terlihat jelas Rissa menginjak bunga, menghina Aqeela, dan diam-diam memotret beberapa sudut ruko.
Kafka menatap layar dengan rahang mengeras.
“Kita laporkan saja.”
Aqeela menggeleng.
“Belum.”
“Dia sudah mencoba menghancurkan usaha kamu.”
“Aku butuh bukti yang menghubungkan dia dengan akun yang menyebarkan fitnah itu.”
Kafka menghela napas.
“Kamu masih terlalu sabar.”
“Aku bukan sabar. Aku cuma tidak mau bergerak sebelum yakin.”
Di sisi lain, Adnan mendengar gosip itu dari para mahasiswa. Awalnya ia mencoba bersikap tidak peduli. Namun ketika melihat video klarifikasi Aqeela, sesuatu dalam dirinya terasa tertusuk.
Aqeela berdiri tegak di depan kamera. Tidak ada wajah ketakutan. Tidak ada nada meminta belas kasihan.
Ia terlihat seperti perempuan yang sama sekali berbeda dari istri muda yang selama ini dianggap rapuh.
Malam itu, Adnan pulang lebih awal. Ia duduk di ruang tamu sambil menunggu.
Aqeela baru tiba hampir pukul sebelas. Wajahnya lelah, tetapi langkahnya tetap mantap.
“Kita perlu bicara,” kata Adnan.
Aqeela berhenti.
“Kalau soal aku pulang terlambat, aku tidak punya tenaga untuk berdebat.”
“Bukan itu.”
Aqeela menatapnya.
Adnan berdiri dari sofa.
“Aku dengar soal fitnah itu.”
“Lalu?”
“Apa kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan itu terdengar canggung, seolah Adnan sendiri tidak terbiasa mengucapkannya.
Aqeela tersenyum tipis.
“Menarik. Setelah berbulan-bulan menikah, akhirnya kamu bertanya apakah aku baik-baik saja.”
“Aku serius.”
“Aku juga serius.”
Adnan mengepalkan tangannya.
“Siapa yang melakukan itu?”
“Aku belum tahu.”
“Kamu curiga pada siapa?”
Aqeela menatap wajah suaminya lama.
“Kalau aku menyebut satu nama, apakah kamu akan percaya?”
Adnan terdiam.
Aqeela tertawa kecil tanpa humor.
“Itu jawabannya.”
Ia hendak berjalan menuju kamar, tetapi Adnan menahan pergelangan tangannya.
“Aqeela.”
Aqeela menoleh tajam.
“Lepaskan.”
Adnan langsung melepaskan tangannya.
“Aku cuma ingin membantu.”
“Bantuan yang datang terlambat sering kali hanya terlihat seperti rasa bersalah.”
Kata-kata itu menghantam Adnan lebih keras daripada yang ia duga.
Aqeela masuk ke kamar dan menutup pintu.
Keesokan paginya, sebuah paket tanpa nama dikirim ke ruko. Di dalamnya terdapat sebuah flashdisk dan secarik kertas.
“Aku tidak suka caranya mempermainkan semua orang. Periksa rekaman ini.”
Kafka memasukkan flashdisk itu ke laptop.
Di dalamnya terdapat rekaman suara percakapan Rissa dengan seseorang bernama Deni, admin akun gosip lokal.
“Aku bayar dua kali lipat kalau postingannya naik malam ini,” suara Rissa terdengar jelas.
“Tapi fotonya bukan dari dapur dia.”
“Orang tidak akan sadar. Buat seolah-olah ada pelanggan yang membocorkan.”
“Kalau dia lapor polisi?”
“Dia cuma gadis kampung. Dia tidak akan berani.”
Selain rekaman suara, ada bukti transfer dan percakapan pesan singkat.
Naya menutup mulutnya.
“Ini cukup untuk melaporkan dia.”
Aqeela menatap layar tanpa berkedip.
“Siapa yang mengirim ini?”
Kafka memeriksa properti file.
“Tidak ada nama. Tapi sepertinya diambil dari ponsel Deni.”
Aqeela merasakan firasat aneh. Seseorang sedang membantu, tetapi ia belum tahu siapa dan untuk tujuan apa.
Sore itu, Aqeela mendatangi kantor polisi bersama Kafka dan menyerahkan seluruh bukti.
Berita laporan itu menyebar lebih cepat daripada yang diperkirakan. Dua hari kemudian, Rissa dipanggil untuk dimintai keterangan.
Adnan mengetahui hal itu dari Rissa sendiri.
Perempuan itu datang ke apartemennya dengan wajah panik.
“Mas, kamu harus bantu aku.”
Adnan berdiri kaku.
“Bantu apa?”
“Aqeela melaporkan aku. Dia menuduh aku menyebarkan fitnah.”
“Memangnya kamu melakukannya?”
Rissa terdiam terlalu lama.
Adnan menatapnya tajam.
“Rissa.”
“Aku cuma ingin membuat dia sadar diri. Aku nggak menyangka akan sejauh ini.”
Wajah Adnan berubah.
“Jadi benar kamu?”
Rissa langsung mendekat dan memegang lengan Adnan.
“Mas, aku lakukan semua ini karena aku mencintai kamu. Aku takut dia merebut kamu.”
Adnan melepaskan tangannya.
“Dia istriku.”
Kalimat itu membuat Rissa membeku.
Selama ini, Adnan hampir tidak pernah menyebut Aqeela sebagai istrinya dengan nada penuh penegasan seperti itu.
Rissa tertawa gugup.
“Bukankah pernikahan kalian cuma kontrak?”
“Kontrak tetap tidak memberimu hak untuk menghancurkan hidupnya.”
Mata Rissa memerah.
“Mas berubah sejak dia buka toko itu.”
“Bukan aku yang berubah. Mungkin aku baru mulai melihat.”
“Melihat apa?”
Adnan terdiam. Ia sendiri belum mampu menjawab.
Beberapa hari berikutnya, nama Rissa mulai terseret ke publik. Akun gosip yang menyebarkan fitnah mengunggah permintaan maaf dan mengakui bahwa konten tersebut dibayar oleh pihak tertentu.
Dapur Aqeela justru semakin ramai. Pesanan meningkat dua kali lipat. Banyak pelanggan datang karena kagum pada caranya menghadapi fitnah tanpa drama.
Namun ketenangan itu hanya bertahan sebentar.
Suatu malam, Pram datang ke ruko dengan wajah pucat. Ia meminta bicara empat mata dengan Aqeela.
“Ada apa, Pa?”
Pram duduk pelan.
“Papa perlu jujur tentang sesuatu.”
Aqeela ikut duduk di hadapannya.
“Pernikahan kamu dan Adnan bukan sepenuhnya karena permintaan keluarga.”
Aqeela mengernyit.
“Maksud Papa?”
Pram menarik napas panjang.
“Dulu, ayah kamu pernah menyelamatkan perusahaan keluarga kami dari kebangkrutan. Bukan dengan uang, tapi dengan menyerahkan hak paten resep produk makanan yang kemudian menjadi dasar bisnis pertama Papa.”
Aqeela terdiam.
“Ayah?”
“Papa berjanji akan menjaga kamu kalau suatu hari terjadi sesuatu pada keluargamu. Setelah orang tua kamu meninggal, Papa mencoba memenuhi janji itu.”
“Dengan menikahkan aku dengan Adnan?”
“Papa pikir itu cara terbaik untuk memastikan hidupmu aman.”
Aqeela bangkit dari kursinya.
“Jadi selama ini aku hanya utang budi?”
“Tidak, Nak.”
“Tapi Papa menjadikan hidupku sebagai pembayaran janji.”
Pram menunduk.
“Papa salah.”
Air mata mulai memenuhi mata Aqeela, tetapi ia menahannya.
“Apakah Adnan tahu?”
“Dia tahu sebagian. Dia tahu pernikahan itu berkaitan dengan janji keluarga, tapi tidak tahu tentang hak paten.”
“Lalu apa lagi yang Papa sembunyikan?”
Pram mengambil map dari tasnya.
“Hak paten itu tidak pernah benar-benar menjadi milik perusahaan kami. Ayahmu hanya memberi izin penggunaan selama dua puluh tahun. Masa izinnya berakhir tiga bulan lagi.”
Aqeela menatap map itu dengan napas tercekat.
“Setelah itu?”
“Seluruh hak kembali kepada ahli warisnya. Kepada kamu.”
Aqeela membuka dokumen tersebut dengan tangan gemetar. Nilai royalti yang tertera di sana begitu besar, jauh melampaui hasil bisnis kecilnya selama bertahun-tahun.
“Adnan menikahiku karena perusahaan kalian takut kehilangan hak ini?”
“Tidak. Adnan tidak tahu. Tapi ibunya tahu.”
Aqeela menutup map dengan keras.
Tiba-tiba semua penghinaan ibu Adnan terasa masuk akal. Perempuan itu meremehkannya, tetapi di saat yang sama tidak pernah membiarkannya benar-benar pergi.
Pagi berikutnya, Aqeela pulang ke rumah dan menemukan Adnan sedang menunggunya.
Ia meletakkan map di atas meja.
“Kamu tahu soal ini?”
Adnan membacanya. Wajahnya berubah pucat.
“Aku tidak tahu.”
“Jangan bohong.”
“Aku benar-benar tidak tahu.”
Aqeela menatapnya, mencoba mencari keraguan.
“Aku hanya tahu Papa punya janji pada keluargamu. Aku pikir pernikahan ini karena belas kasihan.”
“Dan itu membuatmu merasa lebih tinggi dariku?”
Adnan menelan ludah.
“Aku salah.”
“Ya, kamu salah.”
“Aqeela, aku…”
“Tiga bulan lagi kontrak kita selesai. Pada hari yang sama, izin penggunaan hak paten perusahaan keluargamu juga berakhir.”
Adnan membeku.
“Aku tidak akan memperpanjang keduanya.”
Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam seluruh ruangan.
“Aqeela, jangan campurkan pernikahan kita dengan urusan perusahaan.”
Aqeela tertawa getir.
“Sejak awal, kalianlah yang mencampurkan keduanya.”
“Aku tidak pernah meminta semua ini.”
“Aku juga tidak.”
Adnan mendekat satu langkah.
“Aku tidak mau bercerai.”
Aqeela terdiam.
Untuk pertama kalinya, Adnan mengucapkan kalimat itu tanpa paksaan, tanpa ego, tanpa perintah.
Namun hati Aqeela tidak lagi semudah dulu.
“Karena kamu mencintaiku, atau karena perusahaan keluargamu membutuhkanku?”
Adnan membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
Aqeela mengangguk pelan.
“Itulah sebabnya aku harus pergi.”
Tiga bulan kemudian, hari yang ditentukan tiba.
Aqeela datang ke kantor pengacara mengenakan setelan sederhana. Adnan sudah menunggu di sana. Wajah pria itu terlihat jauh lebih kurus.
Di atas meja terdapat dua dokumen. Surat perceraian dan perjanjian baru mengenai hak paten.
Pram serta ibu Adnan duduk di sisi lain ruangan. Ibu Adnan tampak gelisah.
“Aqeela,” katanya dengan nada yang mendadak lembut. “Kita bisa bicara baik-baik. Royalti bisa dinaikkan.”
Aqeela tersenyum.
“Jadi akhirnya Ibu bicara jujur.”
Perempuan itu terdiam.
Aqeela menandatangani surat perceraian terlebih dahulu.
Adnan menatapnya dengan mata merah.
“Apakah benar-benar tidak ada kesempatan untukku?”
Aqeela menatapnya lama.
“Ada.”
Adnan terkejut.
“Tapi bukan sebagai suami yang merasa berhak atas hidupku. Kalau suatu hari kamu datang tanpa ego, tanpa Rissa, tanpa tekanan keluarga, dan tanpa membawa perusahaanmu, mungkin kita bisa saling mengenal lagi dari awal.”
Adnan mengangguk pelan, meski rasa sakit jelas terlihat di wajahnya.
Lalu Aqeela mengambil dokumen hak paten.
Semua orang menahan napas.
Ia menandatangani perpanjangan izin penggunaan, tetapi hanya untuk satu tahun.
Pram menatapnya heran.
“Kenapa kamu masih memberi kesempatan?”
Aqeela menutup map.
“Karena ratusan karyawan di perusahaan itu tidak bersalah. Aku tidak akan menghukum mereka hanya karena kesalahan keluarga ini.”
Ia lalu menatap ibu Adnan.
“Tapi mulai sekarang, sebagian besar royalti akan digunakan untuk membangun pusat pelatihan usaha bagi perempuan yang diremehkan karena latar belakang mereka.”
Ruangan menjadi sunyi.
Aqeela berdiri dan berjalan menuju pintu.
“Aqeela,” panggil Adnan.
Ia berhenti tanpa menoleh.
“Aku akan menunggumu.”
Aqeela tersenyum kecil.
“Jangan menungguku. Perbaiki dirimu.”
Setahun kemudian, Dapur Aqeela telah memiliki delapan cabang di berbagai kota. Program pelatihan usahanya membantu puluhan perempuan membangun bisnis sendiri.
Pada pembukaan cabang kesembilan, seorang pria berdiri paling belakang tanpa membawa bunga mahal atau hadiah mewah.
Ia hanya membawa satu kotak tiramisu.
Aqeela mengenalinya.
Adnan berjalan mendekat, lalu menyerahkan kotak itu.
“Aku mencoba membuatnya sendiri,” katanya.
Aqeela membuka kotak itu. Bentuknya berantakan, krimnya tidak rata, dan bubuk cokelatnya terlalu tebal.
Ia tertawa untuk pertama kalinya di hadapan Adnan tanpa rasa sakit.
“Rasanya mungkin buruk.”
“Kalau begitu, ajari aku.”
Aqeela menatap pria itu lama.
Kali ini, tidak ada keluarga, tidak ada kontrak, tidak ada utang budi.
Hanya dua orang yang berdiri di hadapan satu sama lain, sama-sama membawa luka, tetapi akhirnya cukup dewasa untuk tidak menjadikan luka itu sebagai alasan menyakiti.
Aqeela mengambil sendok kecil, mencicipi tiramisu buatan Adnan, lalu mengernyit.
“Manis sekali.”
Adnan tersenyum gugup.
“Apakah itu buruk?”
Aqeela menutup kotak tersebut.
“Tidak. Hanya perlu diperbaiki.”
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak sedang membicarakan tiramisu.
