Mobil van hitam itu melaju menembus jalanan yang mulai dipenuhi lampu-lampu kota. Gendis tidak lagi menangis. Air matanya telah habis bersama rasa percaya yang selama ini ia simpan untuk Arman. Kini yang tersisa hanya satu tekad, apa pun yang terjadi, ia harus keluar hidup-hidup demi bayi yang sedang bertumbuh di dalam kandungannya.
Ia menarik napas perlahan, berusaha menenangkan detak jantungnya yang terasa menghantam dada. Kepalanya bekerja cepat. Melawan secara langsung hanya akan membuat keadaan semakin buruk. Ia harus menunggu kesempatan yang tepat.
Meisya yang duduk di sampingnya beberapa kali melirik. Senyum sinisnya perlahan menghilang saat melihat Gendis terus memegang perutnya.
“Kamu sakit?”

Gendis tidak menjawab.
“Kamu hamil?” bisik Meisya setelah memperhatikan gerakan tangan Gendis.
Tatapan Gendis akhirnya beralih. Ada keraguan di matanya, tetapi ia mengangguk pelan.
“Waktu kandunganku baru empat minggu.”
Wajah Meisya berubah seketika. Ia menoleh ke arah Mami Sela yang duduk di depan.
“Mi…”
“Apa?” sahut wanita itu tanpa menoleh.
“Dia hamil.”
Mobil yang semula dipenuhi tawa mendadak sunyi.
Mami Sela memerintahkan sopir menghentikan kendaraan di pinggir jalan. Ia turun, lalu membuka pintu belakang dengan wajah dingin.
“Kamu bohong?”
Gendis menggeleng.
“Aku nggak punya alasan buat bohong.”
Mami Sela memperhatikan wajahnya cukup lama. Pengalamannya bertahun-tahun membuatnya mampu membedakan orang yang sedang berpura-pura dan yang berkata jujur.
“Kamu tahu kalau kamu hamil sebelum dijual?”
“Iya.”
“Suamimu tahu?”
“Dia tahu.”
Sesaat tidak ada yang berbicara.
Bahkan Meisya yang sejak tadi banyak bicara hanya bisa menunduk.
“Dasar laki-laki bangsat…” gumam Mami Sela lirih.
Namun mobil tetap kembali berjalan.
Ucapan itu tidak memberi harapan apa pun bagi Gendis.
Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah bangunan bertingkat yang tampak seperti rumah kos tua dari luar, tetapi dijaga beberapa pria bertubuh besar. Gendis dibawa masuk ke sebuah kamar sederhana di lantai dua.
Pintu dikunci dari luar.
Ia segera mencari jalan keluar.
Jendelanya dipasangi teralis.
Ventilasinya terlalu sempit.
Ponsel pun tidak ada.
Gendis terduduk di lantai. Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa sendirian.
Malam semakin larut.
Sekitar pukul sebelas, pintu kamarnya terbuka.
Meisya masuk membawa sepiring nasi dan segelas air putih.
“Makan.”
“Aku nggak lapar.”
“Kalau kamu pingsan, bayimu juga ikut kena.”
Kalimat itu membuat Gendis perlahan mengambil piring tersebut.
Meisya duduk di lantai.
“Aku dulu juga punya anak.”
Sendok di tangan Gendis berhenti bergerak.
“Dia meninggal waktu masih bayi.”
Suasana kembali hening.
“Aku masuk ke tempat ini karena ditipu pacarku. Sama seperti kamu. Bedanya, nggak ada yang percaya waktu aku minta tolong.”
Gendis menatap perempuan itu.
“Kalau begitu kenapa kamu tetap di sini?”
Meisya tersenyum pahit.
“Karena aku pikir aku sudah nggak punya jalan pulang.”
Ucapan itu terdengar seperti penyesalan yang telah dipendam bertahun-tahun.
Beberapa menit kemudian terdengar suara gaduh dari lantai bawah.
Seorang pria berlari menaiki tangga.
“Mi! Polisi!”
Semua orang langsung panik.
Orang-orang berlarian ke berbagai arah.
Suara pintu dibanting bersahut-sahutan.
Mami Sela keluar dari ruangannya sambil memaki anak buahnya.
“Siapa yang bocorin tempat ini?”
Belum sempat ada yang menjawab, suara pengeras terdengar dari luar.
“Semua tetap di tempat! Polisi!”
Detik berikutnya terdengar suara pintu utama didobrak.
Gendis berdiri dengan napas memburu.
Apakah ini kesempatan?
Namun beberapa pria justru berusaha membawa para perempuan ke pintu belakang.
“Ikut cepat!”
Seorang anak buah Mami Sela menarik tangan Gendis.
Saat melewati lorong sempit, tiba-tiba Meisya mendorong pria itu sekuat tenaga.
“Lari, Dis!”
Gendis membeku.
“Lari! Jangan pikirin aku!”
Tanpa membuang waktu, Gendis berlari menyusuri lorong belakang yang gelap. Kakinya nyaris terpeleset beberapa kali. Napasnya tersengal, tetapi ia terus berlari sambil melindungi perutnya.
Di ujung gang, dua polisi melihatnya.
“Bu! Ke sini!”
Tubuh Gendis langsung lemas.
Ia hampir roboh sebelum seorang polisi wanita menangkapnya.
“Tenang. Ibu sudah aman.”
Kalimat sederhana itu membuat seluruh pertahanan Gendis runtuh.
Ia menangis sejadi-jadinya.
Beberapa jam kemudian, di kantor polisi, keterangannya dicatat secara rinci.
Mulai dari kebiasaan berjudi Arman, utang-utangnya, hingga proses dirinya dijual.
Semua direkam sebagai barang bukti.
“Kami juga menemukan beberapa perempuan lain di lokasi,” kata penyidik.
“Meisya?”
Polisi mengangguk.
“Dia selamat.”
Mata Gendis berkaca-kaca.
Ternyata perempuan yang semula ia anggap dingin itu justru mempertaruhkan dirinya agar Gendis bisa kabur.
Keesokan paginya berita penggerebekan memenuhi media lokal.
Jaringan perdagangan orang berhasil dibongkar.
Belasan korban berhasil diselamatkan.
Beberapa pelaku ditangkap.
Namun satu nama belum ditemukan.
Arman.
Ia menghilang begitu menerima uang sebelas juta rupiah.
Polisi segera menerbitkan daftar pencarian.
Tiga hari berlalu tanpa hasil.
Hingga suatu sore, seorang warga melapor melihat seorang pria bersembunyi di rumah kosong di pinggir desa.
Saat polisi datang, Arman mencoba kabur melewati sawah.
Namun langkahnya terhenti ketika dikepung dari segala arah.
Tangannya diborgol.
Saat digiring menuju mobil polisi, pandangannya bertemu Gendis yang sengaja diminta hadir untuk proses identifikasi.
“Dis… maafin aku.”
Tidak ada jawaban.
“Dis… aku khilaf.”
Gendis hanya memandangnya beberapa detik.
Tatapan yang dulu dipenuhi cinta kini kosong tanpa kebencian maupun kasih sayang.
“Aku sudah memaafkanmu.”
Wajah Arman sedikit berbinar.
“Tapi memaafkan bukan berarti aku harus kembali.”
Kalimat itu membuat Arman menundukkan kepala.
Beberapa bulan kemudian, persidangan berlangsung.
Arman dijatuhi hukuman berat karena terbukti menjual istrinya sendiri sebagai bagian dari tindak pidana perdagangan orang.
Mami Sela beserta jaringan utamanya juga menerima hukuman sesuai peran masing-masing.
Yang mengejutkan, Meisya memilih menjadi saksi utama. Semua informasi yang ia berikan membantu membongkar jaringan yang selama bertahun-tahun sulit disentuh aparat.
Setelah persidangan selesai, Gendis memulai hidup baru.
Ia tinggal di rumah singgah sementara hingga melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat.
Tangis pertama putrinya membuat seluruh luka yang pernah ia rasakan seolah berubah menjadi alasan untuk tetap bertahan hidup.
Ia kembali bekerja, bukan lagi di kebun karet, melainkan sebagai pengelola koperasi kecil yang membantu perempuan-perempuan korban kekerasan membangun usaha mandiri.
Suatu hari, ketika sedang menata berkas di kantor koperasi, seorang perempuan datang membawa sekotak makanan.
Meisya.
Penampilannya jauh berbeda.
Riasan tebal itu sudah tidak ada.
Ia mengenakan pakaian sederhana dengan senyum yang terlihat jauh lebih tulus.
“Aku diterima kerja di sebuah toko.”
Gendis tersenyum.
“Selamat.”
Meisya menatap bayi yang sedang tertidur.
“Kalau malam itu aku nggak dorong kamu…”
“Kita mungkin sama-sama masih terjebak.”
Mereka saling tersenyum.
Untuk pertama kalinya, masa lalu tidak lagi terasa seperti penjara.
Gendis kemudian memandangi putrinya yang tertidur pulas.
Ia sadar, hidup memang pernah menghancurkannya sampai ke dasar. Orang yang paling ia percaya pernah menjual harga dirinya demi uang. Namun pada saat yang sama, justru orang-orang asing yang dianggap tidak punya hati menjadi jalan yang menyelamatkan hidupnya.
Sejak hari itu ia berjanji, putrinya akan tumbuh dengan satu pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan.
Bahwa cinta tidak pernah meminta seseorang mengorbankan harga dirinya, dan keberanian untuk pergi dari orang yang menyakiti bukanlah kegagalan, melainkan langkah pertama menuju kehidupan yang benar-benar layak dijalani.
