Malam itu, aku menatap layar ponselku cukup lama hingga cahaya putihnya mulai menyilaukan mata.
“Tinggal tiga hari lagi. Jam delapan pagi kita ke kantor catatan sipil untuk mengurus surat pernikahan. Mama sudah memilih tanggalnya. Katanya bagus menurut perhitungan feng shui.”
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Bukan karena tidak mengerti.
Melainkan karena baru saat itu aku sadar, bahkan setelah mengunciku di luar apartemen hanya dengan piyama, Arga sama sekali tidak merasa bersalah.
Tidak ada pertanyaan apakah aku baik-baik saja.

Tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada kalimat, “Kamu di mana sekarang?”
Yang ada hanya jadwal.
Seolah aku bukan calon istrinya.
Melainkan sebuah dokumen yang harus hadir tepat waktu.
Aku tertawa pelan.
Tawa yang bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.
Lalu, tanpa banyak berpikir, aku membuka galeri foto.
Ada ribuan foto kami.
Liburan ke Bali.
Makan malam ulang tahunku.
Foto pertunangan.
Senyumku selalu lebar.
Sedangkan Arga selalu tersenyum tipis.
Dulu aku menganggap itu sifatnya.
Sekarang aku sadar, mungkin sejak awal hanya aku yang sedang jatuh cinta.
Aku mulai menghapus semuanya.
Satu per satu.
Tidak ada air mata.
Yang ada justru perasaan ringan.
Seperti seseorang yang akhirnya meletakkan beban yang terlalu lama dipikul.
Saat foto terakhir menghilang, ponselku kembali bergetar.
Bukan Arga.
Melainkan sebuah nomor yang sudah bertahun-tahun tidak pernah menghubungiku.
“Nak Maya.”
Aku mengenali suara itu.
“Pak Surya?”
Beliau adalah pengacara almarhum kakekku.
Orang yang terakhir kali kutemui hampir lima tahun lalu, saat pemakaman.
“Akhirnya nomor kamu aktif juga.”
“Ada apa, Pak?”
Beliau terdiam beberapa detik.
“Lusa adalah batas terakhir. Kalau kamu tetap menolak, semua surat akan kami tutup.”
Aku mengernyit.
“Surat apa?”
“Lamaran pernikahan yang dulu pernah disepakati kedua keluarga.”
Aku hampir mengira beliau sedang bercanda.
“Pernikahan?”
“Iya.”
Aku memejamkan mata.
Tiba-tiba ingatan lama muncul.
Saat usiaku dua puluh tahun, kakek pernah bercanda bahwa kalau aku masih sendiri di usia dua puluh delapan, aku harus menemui cucu sahabatnya.
Aku benar-benar menganggap itu hanya lelucon.
Pak Surya menarik napas.
“Almarhum membuat perjanjian tertulis. Tidak memaksa, tentu saja. Tetapi jika kedua pihak sama-sama belum menikah dan masih bersedia, kalian dipersilakan bertemu.”
Aku hampir tertawa.
“Pak, saya sudah punya calon suami.”
“Benarkah?”
Aku melihat bayanganku di cermin hotel.
Wanita yang bahkan tidak bisa masuk ke rumahnya sendiri.
Aku menjawab lirih.
“Mungkin… tidak lagi.”
Pak Surya kemudian berkata pelan.
“Kalau begitu, setidaknya temuilah dia sekali. Setelah itu keputusan ada di tanganmu.”
Aku tidak langsung menjawab.
Namun entah mengapa aku mengiyakan.
Dua hari kemudian, bukannya menuju kantor catatan sipil bersama Arga, aku justru duduk di sebuah restoran tua di kawasan Menteng.
Aku datang lebih dulu.
Tepat pukul sepuluh, seorang pria masuk.
Kemeja putih sederhana.
Jam tangan kulit.
Tatapan tenang.
Dia mendekat lalu tersenyum sopan.
“Maya?”
Aku mengangguk.
“Raka.”
Kami berjabat tangan.
Tidak ada musik romantis.
Tidak ada rasa berdebar.
Hanya dua orang asing yang dipertemukan oleh janji dua orang tua.
Percakapan kami justru terasa sangat mudah.
Raka tidak banyak bicara.
Tetapi berbeda dengan Arga.
Diamnya Raka tidak pernah membuatku merasa kecil.
Saat aku berbicara, dia benar-benar mendengarkan.
Saat aku berhenti, dia tidak buru-buru memberi solusi.
Dia hanya berkata, “Pasti berat.”
Tiga kata sederhana.
Namun aku hampir menangis.
Sudah bertahun-tahun tidak ada yang mengakui bahwa hidupku memang berat.
Sebelum pulang, Raka berkata pelan.
“Aku tidak berharap apa pun dari pertemuan ini.”
Aku mengangguk.
“Aku juga.”
“Tapi kalau suatu hari kamu butuh teman bicara, aku ada.”
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Malam itu, saat kembali ke hotel, ponselku dipenuhi puluhan panggilan tak terjawab.
Arga.
Ibunya.
Adiknya.
Aku mengabaikan semuanya.
Sampai akhirnya sebuah pesan masuk.
“Kamu mempermalukan keluargaku.”
Bukan.
Bukan, “Kamu di mana?”
Bukan, “Aku khawatir.”
Yang dia pikirkan tetap saja harga dirinya.
Aku akhirnya membalas untuk pertama kalinya.
“Apartemen itu juga rumahku. Tapi malam itu kamu memilih mengunciku di luar. Sejak saat itu, aku tidak lagi menganggapmu sebagai rumah.”
Aku memblokir nomornya.
Selesai.
Seminggu kemudian aku menyewa apartemen kecil sendiri.
Aku mulai bekerja lagi sebagai desainer interior freelance.
Perlahan hidupku kembali berjalan.
Hingga suatu sore, Raka datang membawa sekotak makanan.
“Aku kebanyakan pesan.”
Aku tertawa.
“Kamu sengaja.”
Dia ikut tertawa.
“Iya.”
Hubungan kami tumbuh perlahan.
Tidak ada kata-kata besar.
Tidak ada janji manis.
Yang ada hanyalah perhatian kecil yang konsisten.
Kalau hujan, dia memastikan aku sudah sampai rumah.
Kalau aku sibuk, dia tidak marah karena balas pesan terlambat.
Kalau kami berbeda pendapat, dia tidak pernah menghilang.
Dia memilih duduk dan membicarakannya.
Suatu malam aku bertanya.
“Kenapa kamu tidak pernah marah?”
Dia tersenyum.
“Marah boleh. Tapi menghukum orang yang kita sayangi bukan cara menyelesaikan masalah.”
Kalimat itu menancap dalam kepalaku.
Karena selama ini aku selalu mengira perlakuan Arga adalah bentuk cinta.
Padahal itu hanyalah cara mengendalikan.
Enam bulan kemudian, Raka melamarku.
Bukan di restoran mewah.
Bukan di depan banyak orang.
Melainkan di balkon apartemen sambil minum kopi.
“Maya.”
“Iya?”
“Aku tidak bisa menjanjikan hidup tanpa masalah.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku berjanji, seberat apa pun masalahnya, kamu tidak akan pernah menghadapi pintu yang sengaja kututup untukmu.”
Air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, seseorang memahami luka yang bahkan tidak pernah kuceritakan.
Aku menerima lamarannya.
Pernikahan kami sederhana.
Hanya keluarga dan beberapa sahabat.
Aku benar-benar merasa hidupku dimulai kembali.
Kupikir kisah dengan Arga sudah selesai.
Aku salah.
Dua bulan setelah menikah, aku sedang menemani Raka menghadiri peluncuran proyek properti baru milik perusahaannya.
Saat memasuki ballroom hotel, aku melihat sosok yang sangat kukenal.
Arga.
Wajahnya berubah pucat.
Dia memandang Raka.
Lalu memandangku.
“Kalian…”
Raka menoleh.
“Kalian saling kenal?”
Aku menarik napas panjang.
“Dulu.”
Arga mendekat.
“Kamu menikah dengannya?”
“Iya.”
Dia tertawa sinis.
“Aku tidak percaya. Baru putus langsung cari pria kaya.”
Aku belum sempat menjawab.
Tiba-tiba seorang pria tua berjalan mendekat.
Ketua komisaris perusahaan.
Beliau menepuk bahu Raka.
“Presentasi sudah siap, Nak?”
Raka mengangguk.
“Sudah, Yah.”
Arga membeku.
Beliau kemudian melihatku.
“Kamu pasti Maya.”
Aku tersenyum.
“Iya, Pak.”
“Terima kasih sudah membuat anak saya akhirnya mau menikah.”
Barulah Arga menyadari sesuatu.
Raka bukan hanya direktur proyek.
Dia adalah pewaris utama grup perusahaan tempat Arga bekerja selama delapan tahun.
Sepanjang acara, wajah Arga semakin pucat.
Seminggu kemudian, dia datang ke apartemen kami.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, dia terlihat panik.
“Aku mau bicara.”
Aku berdiri di balik pintu.
“Ada apa?”
“Aku salah.”
Aku diam.
“Aku menyesal.”
Tetap diam.
“Aku masih mencintaimu.”
Aku tersenyum tipis.
“Dulu aku pernah berdiri di luar pintu rumah kita selama hampir satu jam.”
Dia menunduk.
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu tidak tahu.”
Aku membuka pintu sedikit.
“Bukan karena aku tidak punya tempat lain.”
“Aku menunggu karena aku masih berharap orang yang kucintai akan membukakan pintu.”
Air mata Arga mulai jatuh.
“Aku berubah.”
Aku menggeleng.
“Mungkin.”
“Lalu kenapa tidak memberiku kesempatan?”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Karena kesempatan itu sudah kuberikan berkali-kali saat aku masih berada di balik pintu yang sama.”
Kemudian aku menutup pintu.
Bukan untuk membalas dendam.
Bukan untuk menghukumnya.
Melainkan karena akhirnya aku mengerti bahwa ada pintu yang memang harus ditutup agar seseorang bisa menemukan rumah yang sebenarnya.
Beberapa hari kemudian aku menerima kabar dari mantan rekan kerja Arga.
Dia mengundurkan diri dari perusahaan.
Bukan karena dipecat.
Melainkan karena tidak sanggup menghadapi rasa bersalah yang terus menghantuinya.
Aku tidak pernah mencari tahu kehidupannya lagi.
Aku juga tidak pernah berharap dia menderita.
Karena kebahagiaanku tidak lagi bergantung pada penyesalan orang yang pernah melukaiku.
Setahun kemudian, saat aku berdiri di balkon rumah bersama Raka, hujan turun perlahan.
Aku teringat malam ketika aku berjalan sendirian memakai piyama menuju hotel kecil di Blok M.
Malam yang dulu terasa seperti akhir dari segalanya.
Padahal, tanpa kusadari, itulah malam ketika hidupku benar-benar dimulai.
Kadang kehilangan sebuah pintu bukan berarti kehilangan tempat pulang.
Kadang justru saat seseorang menguncimu di luar, Tuhan sedang membebaskanmu dari rumah yang sejak awal tidak pernah dibangun dengan cinta.
