Ia membuat lubang kecil di dinding hanya untuk memastikan apakah suaminya berselingkuh. Namun, apa yang dilihatnya malam itu justru membuat seluruh dunianya runtuh.
Selama tiga tahun menikah, Elena selalu percaya bahwa rumah kecil mereka di kawasan Jakarta Timur adalah tempat paling hangat yang pernah ia miliki. Rumah itu tidak besar, hanya rumah sederhana dengan teras sempit yang dipenuhi pot bunga kesayangannya. Setiap pagi aroma kopi buatan Mauricio memenuhi dapur, sementara suara radio tua menemani mereka menikmati sarapan sederhana. Mauricio bekerja sebagai manajer operasional di sebuah perusahaan logistik dengan penghasilan yang cukup untuk hidup nyaman. Elena menjalankan usaha kue rumahan yang pelanggan setianya terus bertambah melalui media sosial.
Mereka tidak pernah hidup bermewah-mewahan, tetapi mereka bahagia.

Setidaknya sampai malam ketika Mauricio berkata bahwa ia ingin tidur di kamar tamu.
Kalimat sederhana itu perlahan mengubah segalanya.
Mauricio tetap menjadi pria yang sama di siang hari. Ia masih mengantar Elena ke pasar setiap akhir pekan, masih mengirim pesan menanyakan apakah istrinya sudah makan, bahkan masih memeluk Elena sebelum berangkat kerja.
Namun setiap malam, ia selalu mengunci diri di kamar tamu.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada wanita lain.
Tidak ada pesan mencurigakan.
Justru karena semuanya tampak normal, Elena semakin dihantui rasa takut.
Hingga akhirnya ia membuat lubang kecil di dinding.
Saat mengintip malam itu, ia melihat Mauricio menangis sambil menyuntikkan obat ke perutnya sendiri.
Di atas meja berserakan hasil pemeriksaan dari rumah sakit swasta ternama di Jakarta, berbagai obat, dan sebuah map berisi rincian biaya pengobatan yang jumlahnya mencapai miliaran rupiah.
Lalu Mauricio memeluk foto pernikahan mereka.
“Maafkan aku, Elena. Aku tidak sanggup melihatmu kehilangan semuanya karena aku.”
Elena terduduk di lantai.
Tangannya gemetar.
Air matanya mengalir tanpa suara.
Selama ini ia menuduh suaminya berselingkuh, padahal pria itu sedang berjuang sendirian melawan penyakit yang bahkan belum pernah ia dengar.
Malam itu Elena tidak tidur.
Keesokan paginya ia berpura-pura tidak mengetahui apa pun.
Ia ingin Mauricio sendiri yang menceritakan semuanya.
Namun hari demi hari berlalu.
Mauricio tetap menyembunyikan rahasianya.
Seminggu kemudian Elena diam-diam kembali ke rumah sakit yang namanya tertera pada map itu.
Ia meminta bertemu dokter yang menangani Mauricio.
Awalnya dokter menolak karena aturan kerahasiaan pasien.
Tetapi setelah Elena memperlihatkan buku nikah mereka dan menangis tanpa mampu berkata-kata, dokter akhirnya menghela napas panjang.
“Suami Ibu menderita kanker pankreas stadium lanjut.”
Dunia Elena kembali berhenti.
“Berapa lama lagi?”
Dokter tidak langsung menjawab.
“Kami sedang mencoba terapi terbaru. Peluangnya kecil, tetapi masih ada.”
“Lalu kenapa dia tidak memberi tahu saya?”
Dokter menatap Elena dengan iba.
“Karena yang pertama kali ia tanyakan kepada saya bukan soal peluang hidupnya.”
“Kalau begitu apa?”
“Ia bertanya apakah istrinya akan bangkrut jika ia menjalani semua pengobatan.”
Air mata Elena semakin deras.
Dokter kemudian menyerahkan salinan formulir yang pernah ditandatangani Mauricio.
Di sana tertulis jelas.
Apabila kondisi memburuk, Mauricio menolak tindakan medis yang terlalu mahal.
Alasannya hanya satu.
“Agar tabungan istri saya tetap cukup untuk melanjutkan hidup.”
Elena pulang dalam keadaan hancur.
Malam itu Mauricio kembali masuk ke kamar tamu.
Namun kali ini pintunya tidak sempat terkunci.
Elena langsung memeluknya dari belakang.
Mauricio terkejut.
“Kenapa kamu di sini?”
“Aku sudah tahu semuanya.”
Wajah Mauricio seketika pucat.
“Siapa yang memberitahumu?”
“Aku melihatmu malam itu.”
Mauricio menutup mata.
Ia tidak marah.
Ia hanya menangis.
Tangis yang selama berbulan-bulan ia tahan akhirnya pecah.
“Aku tidak ingin kamu melihatku berubah menjadi orang yang lemah.”
Elena menggenggam kedua pipinya.
“Aku menikah denganmu, bukan dengan tubuhmu yang sehat.”
“Tapi aku akan mati.”
“Kita semua akan mati suatu hari nanti. Yang penting adalah bagaimana kita hidup sebelum hari itu datang.”
Sejak malam itu mereka menjalani semuanya bersama.
Elena mulai ikut menemani setiap sesi terapi.
Ia menjual sebagian perhiasannya.
Mobil mereka dijual.
Tabungan habis sedikit demi sedikit.
Mauricio berkali-kali meminta Elena berhenti.
Namun Elena selalu tersenyum.
“Rumah bisa dibeli lagi.”
“Mobil bisa dicicil lagi.”
“Tapi aku tidak akan pernah bisa membeli waktu bersamamu.”
Beberapa bulan kemudian kondisi Mauricio justru membaik.
Dokter sendiri heran melihat respons tubuhnya terhadap terapi.
Tumor mulai mengecil.
Harapan yang sebelumnya hampir tidak ada perlahan muncul.
Elena mulai kembali tersenyum.
Mereka bahkan sempat merencanakan liburan kecil setelah terapi selesai.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Suatu sore seorang pria berjas datang ke rumah mereka.
Namanya Adrian.
Ia memperkenalkan diri sebagai pengacara.
“Saya datang membawa surat wasiat.”
Mauricio terlihat bingung.
“Saya tidak mengenal Anda.”
“Klien saya mengenal Anda.”
Adrian menyerahkan sebuah foto tua.
Di foto itu terlihat Mauricio kecil berdiri bersama seorang pria asing.
Mauricio langsung terdiam.
“Itu… ayah kandung saya.”
Mauricio selama ini percaya bahwa ayahnya meninggal ketika ia masih berusia enam tahun.
Ternyata tidak.
Ayahnya hidup selama puluhan tahun di Singapura dan membangun perusahaan logistik besar.
Ia sengaja menjauh karena merasa tidak layak menjadi ayah setelah meninggalkan keluarganya.
Sebelum meninggal tiga bulan sebelumnya, pria itu mencari Mauricio.
Tetapi saat berhasil menemukannya, Mauricio sudah sibuk menjalani pengobatan.
Ayahnya tidak pernah sempat bertemu.
Yang tersisa hanyalah surat.
Dalam surat itu tertulis.
“Aku memang gagal menjadi ayahmu. Tapi izinkan aku setidaknya mencoba menjadi penolong terakhir dalam hidupmu.”
Mauricio menjadi pewaris tunggal sebagian besar saham perusahaan.
Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.
Elena menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
Mauricio justru menangis.
“Bukan uang yang membuatku menangis.”
“Lalu apa?”
“Aku akhirnya tahu… selama ini ayah tidak benar-benar melupakanku.”
Dengan dana itu Mauricio memperoleh akses ke terapi yang jauh lebih canggih di luar negeri.
Pengobatan berlangsung hampir satu tahun.
Hari-hari yang penuh rasa sakit perlahan berubah menjadi hari-hari penuh harapan.
Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan sesuatu yang bahkan dokter tidak berani janjikan.
Kankernya dinyatakan remisi.
Semua orang merayakan kabar itu.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Termasuk Elena.
Beberapa minggu setelah dinyatakan sembuh, Mauricio diam-diam kembali ke rumah sakit.
Dokter bertanya mengapa.
Mauricio tersenyum.
“Saya ingin menyumbangkan seluruh biaya terapi yang dulu menyelamatkan hidup saya.”
“Bukankah jumlahnya sangat besar?”
“Saya hampir kehilangan hidup karena terlalu takut membebani orang yang saya cintai. Saya tidak ingin ada suami atau istri lain yang harus memilih antara cinta dan biaya pengobatan.”
Dana itu kemudian mendirikan sebuah yayasan kecil yang membantu pasien kanker dari keluarga sederhana.
Nama yayasan itu bukan memakai nama Mauricio.
Bukan pula nama ayahnya.
Melainkan nama Elena.
Beberapa bulan kemudian Elena baru mengetahui semuanya saat menghadiri acara peresmian tanpa tahu siapa donaturnya.
Ketika melihat papan bertuliskan “Yayasan Elena”, ia menoleh dengan bingung.
Mauricio hanya tersenyum sambil menggenggam tangannya.
“Dulu kamu membuat lubang kecil di dinding karena takut kehilangan cintaku.”
Ia berhenti sejenak.
“Tanpa kamu sadari, lubang kecil itu justru menyelamatkan hidupku.”
Elena menangis sambil memeluk suaminya erat.
Kadang, kebenaran memang menyakitkan ketika pertama kali ditemukan.
Namun ada kalanya, keberanian untuk melihat kenyataan justru menjadi awal dari kesempatan kedua yang tidak pernah disangka-sangka.
