Clarissa baru saja meraih daguku ketika suara keras menggema dari ujung lorong.
“Berhenti!”
Seorang dokter jaga berlari mendekat bersama dua perawat. Mereka langsung memisahkan kami.
“Apa yang kalian lakukan? Ini rumah sakit, bukan tempat menyiksa orang!”
Clarissa masih menggenggam pil itu erat-erat.
“Perempuan ini ingin memeras keluarga Hartono!”
Dokter itu menatapku. Pakaianku masih berantakan karena kerah bajuku tadi ditarik dengan kasar. Pintu ruang gawat darurat terbuka tepat saat itu.

“Siapa keluarga pasien Adrian Hartono?”
Nyonya Hartono segera maju.
“Saya ibunya.”
“Pasien sudah melewati masa kritis. Tetapi ada satu hal yang perlu kami jelaskan. Kondisinya memburuk bukan karena racun, melainkan karena reaksi alergi berat yang terlambat ditangani. Kalau ambulans datang lima belas menit lebih lambat, peluang hidupnya sangat kecil.”
Dokter itu berhenti sejenak.
“Orang yang pertama kali menelepon ambulans telah menyelamatkan nyawanya.”
Semua mata tertuju kepadaku.
Clarissa masih ingin membantah.
“Dia pasti sengaja membuat semua ini terlihat seperti jasa!”
Aku hanya mengeluarkan ponselku.
“Aku merekam semuanya.”
Video sejak pukul 02.15 diputar.
Terlihat jelas Adrian mendobrak pintu klinikku sendiri.
Terlihat aku langsung menelepon 119.
Terlihat aku tidak menyentuh tubuhnya sedikit pun.
Dokter, polisi rumah sakit, bahkan petugas keamanan melihat rekaman itu sampai selesai.
Wajah Clarissa memucat.
Namun Nyonya Hartono tetap mengangkat dagunya.
“Bagaimanapun juga, anakku tidak mungkin datang ke klinik perempuan seperti dia tanpa alasan.”
Aku menatap lurus ke arahnya.
“Kalau begitu, silakan tanyakan sendiri ketika dia sadar.”
Aku berbalik meninggalkan rumah sakit.
Dalam kehidupan sebelumnya, di titik inilah aku mulai terjerat.
Aku terlalu sibuk membela diri.
Aku terlalu berharap mereka mau mendengar.
Kali ini tidak.
Aku langsung menuju kantor polisi.
Aku melaporkan Adrian atas perusakan properti dan masuk ke rumah orang tanpa izin.
Aku juga menyerahkan seluruh rekaman CCTV klinik serta video dari ponselku.
Polisi bahkan ikut datang ke klinik pagi itu.
Pintu yang rusak.
Jejak sepatu.
Pecahan gembok.
Semua difoto sebagai barang bukti.
Sebelum pulang, aku menghubungi pengacara yang dulu pernah menjadi pasien ayahku.
Namanya Dimas Prasetyo.
Lima tahun lalu aku menolong ibunya yang mengalami stroke ringan menggunakan terapi akupunktur dan pengobatan herbal pendamping.
Ia tidak pernah melupakan kebaikan itu.
Begitu mendengar ceritaku, ia hanya berkata singkat.
“Kali ini jangan menghadapi mereka sendirian.”
Sore harinya, sebuah berita mulai beredar di media sosial.
Pewaris Grup Hartono diduga mengamuk dan merusak sebuah klinik kecil sebelum dilarikan ke rumah sakit.
Video dari kamera jalan memperlihatkan Adrian menendang pintu klinikku.
Wajahnya memang tidak terlalu jelas.
Tetapi mobil mewah dengan nomor polisi khusus keluarga Hartono terlihat sangat jelas.
Berita itu langsung menyebar.
Harga saham Grup Hartono turun tipis pada pembukaan perdagangan keesokan harinya.
Tidak besar.
Namun cukup membuat keluarga itu panik.
Malamnya Adrian datang.
Kali ini memakai jas rapi.
Tidak ada senyum.
Tidak ada nada merendahkan.
“Aku ingin bicara.”
Aku berdiri di depan klinik.
“Kalau mau bicara, di sini saja.”
“Aku bisa mengganti pintumu sepuluh kali lipat.”
“Aku tidak butuh pintu baru.”
“Lalu apa maumu?”
“Aku ingin permintaan maaf.”
Adrian terdiam.
Seumur hidupnya, mungkin belum pernah ada orang yang meminta hal sesederhana itu kepadanya.
“Aku bisa memberimu uang.”
“Aku tidak menjual harga diriku.”
Tatapan Adrian berubah dingin.
“Kalau begitu kita selesaikan lewat hukum.”
“Itu juga yang kuinginkan.”
Ia masuk ke mobil tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
Aku tahu.
Permainan sebenarnya baru dimulai.
Dua hari kemudian, BPOM kembali datang.
Namun kali ini bukan untuk menyegel klinikku.
Mereka melakukan pemeriksaan rutin berdasarkan laporan anonim.
Aku sudah mengantisipasi semuanya.
Semua izin lengkap.
Semua bahan herbal tercatat.
Setiap ramuan memiliki asal-usul yang jelas.
Bahkan catatan pasien kusimpan sangat rapi.
Petugas itu tersenyum setelah selesai memeriksa.
“Jarang ada klinik tradisional yang administrasinya sebaik ini.”
Mereka pulang tanpa menemukan satu pelanggaran pun.
Sore harinya, seorang pria tua datang diam-diam.
Ia memakai topi lusuh dan masker.
Tetapi saat melihat matanya, aku langsung mengenalinya.
Pak Surya.
Mantan sopir pribadi keluarga Hartono.
Dalam kehidupan sebelumnya, tiga hari sebelum aku dibakar hidup-hidup, pria ini diam-diam memberiku sebotol air dan berkata pelan.
“Maaf.”
Aku tidak pernah sempat bertanya mengapa.
Kini ia duduk di depanku.
“Nona Rani… saya ingin mengatakan sesuatu.”
Aku tidak menyela.
“Tuan Adrian memang datang ke klinik Anda malam itu karena seseorang mengirim pesan anonim.”
“Pesan apa?”
“Katanya hanya Anda yang bisa menyelamatkan penyakitnya.”
Aku mengernyit.
“Itu bukan kebetulan?”
Pak Surya menggeleng.
“Seseorang sengaja mengarahkannya ke sini.”
“Siapa?”
“Aku belum tahu.”
“Tapi yang mengirim menggunakan nomor sekali pakai.”
Dadaku berdegup lebih cepat.
Selama ini aku mengira semuanya terjadi karena nasib.
Ternyata seseorang telah menyusun papan catur sejak awal.
Pak Surya menyerahkan sebuah flashdisk.
“Di dalam ada rekaman CCTV garasi rumah Hartono.”
“Kenapa memberikannya padaku?”
Karena saya tidak sanggup melihat orang baik mati lagi.”
Kalimat itu membuatku membeku.
“Lagi?”
Pak Surya langsung sadar dirinya keceplosan.
Ia buru-buru berdiri.
“Saya salah bicara.”
Ia pergi sebelum sempat kutahan.
Malam itu aku membuka isi flashdisk.
Rekaman memperlihatkan Clarissa memasuki garasi satu jam sebelum Adrian pergi.
Ia berbicara dengan seseorang di telepon.
Suara memang tidak terdengar.
Namun gerak bibirnya cukup jelas.
Aku memperbesar gambar.
Beberapa kata bisa kubaca.
“Biarkan… dia… pergi… sendiri…”
Lalu satu kalimat terakhir membuat darahku membeku.
“Kalau dia mati, semuanya selesai.”
Aku langsung menyerahkan rekaman itu kepada Dimas.
Ia hanya tersenyum tipis.
“Kita belum bisa memakainya sebagai bukti utama.”
“Tapi cukup untuk membuka penyelidikan.”
Beberapa hari kemudian polisi mulai menyelidiki nomor anonim yang menghubungi Adrian.
Hasilnya mengejutkan.
Nomor itu dibeli menggunakan identitas palsu.
Tetapi pembayaran dilakukan memakai kartu kredit milik perusahaan yang terafiliasi dengan keluarga Wijaya.
Clarissa mulai panik.
Ia mengadakan konferensi pers.
Dengan air mata bercucuran, ia mengaku menjadi korban fitnah.
“Aku sangat mencintai Adrian.”
“Aku tidak mungkin mencelakakannya.”
Banyak orang percaya.
Namun tidak semua.
Netizen mulai menggali masa lalu.
Satu demi satu mantan karyawan perusahaan ayah Clarissa muncul.
Mereka menceritakan bagaimana wanita itu terbiasa menghancurkan siapa pun yang menghalangi keinginannya.
Tekanan publik semakin besar.
Adrian akhirnya datang mencariku lagi.
Kali ini sendirian.
Tanpa jas.
Tanpa pengawal.
Ia terlihat jauh lebih lelah dibanding sebelumnya.
“Aku ingin tahu satu hal.”
“Apa?”
“Kalau malam itu aku tidak mendobrak pintumu… apakah kamu tetap akan menolongku?”
Aku menatapnya lama.
“Tidak.”
Ia tersenyum pahit.
“Kenapa?”
“Karena aku sudah pernah mati sekali akibat menolongmu.”
Adrian tertawa kecil.
“Terdengar seperti cerita yang mustahil.”
Aku tidak menjelaskan.
Tidak perlu.
Ia memandang langit cukup lama.
“Aku mulai menyelidiki Clarissa.”
“Aku menemukan banyak hal yang bahkan tidak kuketahui.”
Aku hanya diam.
“Rani.”
“Itu namaku.”
“Maaf.”
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai…
Ia benar-benar meminta maaf.
Tidak ada kesombongan.
Tidak ada belas kasihan palsu.
Hanya penyesalan.
Aku menghela napas pelan.
“Maafmu terlambat.”
“Aku tahu.”
“Dan bukan untukku.”
“Lalu untuk siapa?”
“Untuk dirimu sendiri.”
Karena orang yang paling menghancurkan hidup Adrian ternyata bukan aku.
Bukan Clarissa.
Melainkan kesombongannya sendiri yang membuatnya tidak pernah mau mempercayai orang biasa.
Seminggu kemudian polisi menetapkan Clarissa sebagai tersangka atas dugaan percobaan pembunuhan berencana terhadap Adrian melalui manipulasi informasi medis dan serangkaian tindakan yang menghalangi penanganan darurat.
Nyonya Hartono datang ke klinikku untuk terakhir kalinya.
Ia menundukkan kepala.
Gerakan kecil yang mungkin belum pernah ia lakukan kepada siapa pun.
“Aku salah menilaimu.”
Aku menuangkan secangkir teh hangat ke hadapannya.
“Tidak semua kesalahan bisa diperbaiki dengan kata maaf.”
Ia mengangguk pelan.
“Aku mengerti.”
Setelah ia pergi, aku menggantung pintu kayu baru di klinikku.
Pintu yang lebih kokoh.
Namun aku tetap menyimpan pecahan pintu lama di gudang.
Bukan sebagai kenangan.
Melainkan sebagai pengingat bahwa kadang-kadang, kesempatan kedua bukan diberikan untuk menyelamatkan orang lain.
Melainkan agar kita akhirnya berani menyelamatkan diri sendiri.
Seorang pria berpakaian jas mahal tiba-tiba pingsan di depan klinik pengobatan herbal milikku.
