JAM DUA PAGI SAAT AKU MEMERIKSA BABY MONITOR. APA YANG KULIHAT MENJADI ALASAN AKU MENGUSIR IBUKU SENDIRI KEESOKAN HARINYA.

Namaku Mark. Aku seorang arsitek di sebuah firma besar di Jakarta. Setelah istriku, Clara, melahirkan anak pertama kami, Baby Leo, aku harus bekerja lembur hampir setiap hari demi memenuhi kebutuhan keluarga kami.

Agar Clara tidak terlalu kelelahan, ibuku, Elena, menawarkan diri untuk tinggal sementara di rumah kami dan membantu mengurus bayi serta pekerjaan rumah.

Awalnya aku mengira ibuku sangat baik.

Setiap kali pulang kerja, aku selalu melihatnya sedang memasak. Ia berkata bahwa ia membiarkan Clara beristirahat sepanjang hari.

Sementara itu, Clara selalu diam, wajahnya pucat, dan sering menundukkan kepala. Aku pikir itu hanya karena kelelahan setelah melahirkan atau depresi pascamelahirkan.

Suatu malam, tepat pukul dua dini hari, aku masih terjebak di kantor untuk menyelesaikan sebuah proyek.

Karena sangat merindukan istri dan anakku, aku membuka aplikasi di ponsel yang terhubung ke sebuah baby monitor tersembunyi yang kupasang di kamar bayi seminggu sebelumnya. Aku memasangnya agar bisa melihat Baby Leo saat sedang bekerja, dan baik Clara maupun ibuku tidak mengetahui keberadaan kamera itu.

Saat membuka siaran langsung, aku melihat Baby Leo sedang menangis.

Clara duduk di samping tempat tidur bayi sambil menggendongnya. Wajahnya tampak sangat lelah, matanya cekung dan jelas kurang tidur.

Beberapa detik kemudian, pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan keras.

Ibuku masuk.

Dadaku langsung berdebar.

Aku mengira ia akan membantu menenangkan bayi itu.

Tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat darahku seolah membeku.

“Apa-apaan ini? Sudah jam dua pagi, tapi anakmu masih saja berisik!” bentak Ibu Elena sambil menunjuk Clara. “Kamu benar-benar tidak berguna! Sudah hidup dari uang anakku, masih juga tidak bisa menenangkan bayi itu?”

Clara menundukkan kepala sambil gemetar.

“Maaf, Bu… sepertinya Leo sedang tidak enak badan… saya juga belum makan sejak pagi, jadi ASI saya berkurang…”

“Oh, sekarang kamu berani membantah?”

Di depan layar, aku melihat ibuku mendekat dan menarik rambut Clara dengan kasar.

Aku hampir berteriak di kantor yang sunyi itu.

Aku ingin masuk ke dalam layar dan menyelamatkan istriku.

Tetapi yang lebih menghancurkan hatiku adalah reaksi Clara.

Ia tidak berteriak.

Tidak melawan.

Ia hanya menangis tanpa suara, dengan mata kosong penuh keputusasaan.

Seolah-olah ia sudah terlalu sering disakiti hingga menjadi mati rasa demi melindungi anak kami.

“Ingat baik-baik, Clara,” ancam ibuku dengan dingin sambil masih mencengkeram rambutnya. “Kamu tidak ada harganya. Kalau bukan karena anakku, kamu sudah mati kelaparan. Jadi terimalah penderitaanmu dan jangan pernah mencoba mengadu, karena Mark tidak akan pernah percaya padamu.”

Setelah itu, ia melepaskan Clara dan keluar dari kamar dengan membanting pintu.

Istriku tertinggal sendirian di dalam kegelapan, memeluk anak kami sambil menangis.

Tanganku gemetar memegang ponsel.

Wanita yang telah kujanjikan untuk kucintai dan kulindungi seumur hidup ternyata diperlakukan seperti pembantu dan disiksa di dalam rumah kami sendiri.

Aku segera membuka rekaman lama dari kamera itu.

Selama satu jam penuh, aku menonton semuanya.

Aku melihat bagaimana ibuku membuang makanan yang seharusnya untuk Clara.

Aku melihat bagaimana ia memaki, menghina, dan memaksa istriku membersihkan seluruh rumah padahal jahitan setelah melahirkannya belum sembuh.

Saat aku tidak ada, ia adalah iblis.

Saat aku ada di rumah, ia berpura-pura menjadi malaikat.

Ibuku mengira aku tidak akan pernah tahu.

Ia mengira aku buta.

Aku mematikan komputer, mengambil kunci mobil, dan meninggalkan kantor.

Tidak ada lagi pekerjaan.

Tidak ada lagi tenggat waktu.

Satu-satunya yang ada di pikiranku adalah menyelamatkan keluargaku.

Saat menyetir di jalan yang gelap menuju rumah, aku tidak merasakan kemarahan yang meledak-ledak.

Yang kurasakan hanyalah sebuah keputusan yang dingin, tenang, dan menakutkan.

Aku tidak akan menyakiti siapa pun.

Tetapi malam ini semuanya akan berakhir.

Pukul tiga lewat tiga puluh dini hari.

Pintu rumah terbuka perlahan.

Aku masuk tanpa suara dan langsung menuju kamar kami.

Saat membuka pintu, aku melihat Clara duduk di lantai, bersandar pada tempat tidur bayi, dengan tatapan kosong.

Ketika melihatku, matanya membesar dan ia buru-buru menyembunyikan rambutnya yang berantakan serta air matanya.

“M-Mark…?”

Aku berlutut di depannya.

“Tidak usah sembunyikan apa pun lagi.”

Tangannya gemetar.

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

Aku mengeluarkan ponsel, memutar rekaman beberapa menit yang lalu, lalu meletakkannya di hadapannya.

Suara ibuku memenuhi ruangan.

Wajah Clara langsung pucat.

Air matanya kembali jatuh.

“Kamu… melihat semuanya?”

Aku mengangguk pelan.

“Maafkan aku.”

Ia justru menggeleng sambil menangis.

“Jangan minta maaf. Yang seharusnya meminta maaf adalah aku.”

Aku memeluknya sekuat tenaga.

Selama beberapa menit kami hanya menangis.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa telah gagal menjadi suami.

“Aku takut,” bisiknya lirih. “Aku ingin bercerita berkali-kali, tapi setiap kali aku mencoba, Ibu selalu bilang kamu akan membenciku karena memfitnah ibumu. Aku takut menghancurkan hubungan kalian.”

Aku mengecup dahinya.

“Hubungan yang dibangun di atas kebohongan memang harus dihancurkan.”

Pagi harinya aku bangun lebih awal.

Aku menyiapkan koper besar.

Ketika ibuku turun ke ruang makan sambil tersenyum seperti biasa, ia tampak terkejut melihat koper itu.

“Mau liburan?”

Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Bukan. Ibu yang akan pergi.”

Senyumnya perlahan menghilang.

“Apa maksudmu?”

Aku memutar rekaman di televisi ruang keluarga.

Suara bentakannya menggema memenuhi rumah.

Video ketika ia menarik rambut Clara membuat wajahnya berubah pucat.

“Aku… aku hanya mendidiknya.”

“Menarik rambut perempuan yang baru melahirkan itu mendidik?”

“Dia malas.”

“Malas?”

Aku mengambil map berisi hasil pemeriksaan dokter.

“Dokter melarang Clara mengangkat beban berat selama enam minggu. Tapi Ibu menyuruhnya mengepel, mencuci, membersihkan kamar mandi, bahkan mencuci selimut.”

Ibuku mulai panik.

“Dia yang berlebihan.”

Aku membuka rekaman lain.

Video ketika ia membuang makanan ke tempat sampah.

Video ketika ia berkata bahwa Clara tidak pantas makan daging.

Video ketika ia sengaja mematikan pendingin ruangan di kamar bayi agar Clara terus terbangun.

Satu demi satu.

Tidak ada yang bisa dibantah.

“Aku ibumu!” teriaknya.

“Dan Clara adalah istriku.”

“Aku membesarkanmu!”

“Benar. Karena itu aku selalu menghormatimu. Tapi rasa hormat bukan izin untuk menyiksa keluargaku.”

Ia mulai menangis.

“Kamu memilih perempuan ini daripada darah dagingmu sendiri?”

Aku menjawab dengan tenang.

“Aku memilih kebenaran.”

Suasana menjadi sunyi.

Aku mengangkat koper itu, meletakkannya di depan pintu.

“Ibu punya waktu lima belas menit.”

“Aku tidak punya tempat tinggal!”

“Aku sudah memesan apartemen untuk Ibu selama satu bulan. Setelah itu, hidup Ibu adalah tanggung jawab Ibu sendiri.”

Wajahnya benar-benar tidak percaya.

“Kamu mengusir ibumu sendiri?”

“Aku mengeluarkan orang yang menyiksa istriku.”

Ia mencoba mendekati Clara.

“Aku minta maaf.”

Namun Clara mundur sambil memeluk Leo.

Tatapan matanya tidak lagi penuh ketakutan.

Hanya ada luka yang belum sembuh.

Ibuku akhirnya pergi.

Saat pintu tertutup, Clara langsung menangis dalam pelukanku.

Kupikir semuanya telah selesai.

Ternyata aku salah.

Dua hari kemudian, bibiku menelepon.

“Mark, apa benar kamu mengusir ibumu?”

“Iya.”

“Kamu anak durhaka!”

Ternyata ibuku telah lebih dulu menghubungi seluruh keluarga.

Versinya sangat berbeda.

Ia mengatakan Clara memfitnahnya.

Ia mengaku diusir tanpa alasan.

Dalam beberapa jam, ponselku dipenuhi puluhan pesan.

Sebagian menyuruhku meminta maaf.

Sebagian lagi menghina Clara.

Aku tidak membalas satu pun.

Hari Minggu, seluruh keluarga besar berkumpul di rumah paman.

Aku datang bersama Clara.

Begitu kami masuk, suasana langsung memanas.

“Berani sekali kalian datang,” kata seorang sepupu.

Ibuku duduk di tengah ruang tamu sambil berpura-pura menangis.

“Lihatlah anak yang kubesarkan.”

Aku berdiri di depan semua orang.

“Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu.”

Aku menyambungkan laptop ke televisi.

Ruangan mendadak sunyi.

Rekaman pertama diputar.

Kemudian rekaman kedua.

Ketiga.

Keempat.

Tidak ada yang berbicara.

Semakin lama, wajah-wajah yang semula marah berubah menjadi malu.

Bibiku yang paling keras membelaku sebelumnya perlahan menundukkan kepala.

Pamanku menghela napas panjang.

Ibuku berusaha merebut remote.

“Itu hasil editan!”

Aku mengeluarkan hard disk.

“Ada rekaman selama tujuh hari penuh. Silakan diperiksa siapa pun.”

Tak seorang pun bergerak.

Pamanku berdiri, berjalan ke arah Clara, lalu membungkukkan badan.

“Maafkan keluarga kami.”

Satu per satu anggota keluarga ikut meminta maaf.

Hanya ibuku yang tetap diam.

Ia menatapku dengan kebencian yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Aku ibumu,” katanya pelan.

“Aku tidak pernah berhenti menjadi anakmu,” jawabku. “Tapi mulai hari ini, aku juga tidak akan berhenti menjadi pelindung keluargaku.”

Kami pulang tanpa berkata-kata.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Leo lahir, Clara bisa tidur selama lima jam penuh.

Aku yang mengganti popok.

Aku yang menyiapkan susu perah.

Aku yang menidurkan Leo.

Saat melihat wajah istriku yang akhirnya damai, dadaku terasa sesak.

Selama ini aku terlalu sibuk mengejar proyek besar, tetapi gagal melihat penderitaan yang terjadi hanya beberapa meter dari tempat tidurku sendiri.

Beberapa bulan berlalu.

Clara perlahan kembali tersenyum.

Ia mulai membuka usaha kecil membuat kue rumahan.

Pesanannya terus bertambah.

Rumah kami kembali dipenuhi tawa.

Suatu sore, saat sedang bermain dengan Leo di halaman, seorang kurir datang membawa sebuah amplop.

Di dalamnya ada sepucuk surat tulisan tangan.

Itu dari ibuku.

Isinya hanya beberapa kalimat.

“Aku mulai menjalani terapi. Psikolog mengatakan selama bertahun-tahun aku melampiaskan rasa sakitku sendiri kepada orang lain. Aku tidak meminta kalian menerimaku kembali. Aku hanya ingin mengatakan bahwa setiap kali menutup mata, aku masih melihat tatapan Clara malam itu. Baru sekarang aku mengerti, yang sebenarnya kehilangan harga diri bukan dia, melainkan aku.”

Aku membaca surat itu dua kali.

Lalu melipatnya kembali.

Clara menghampiriku.

“Dari Ibu?”

Aku mengangguk.

Ia tidak bertanya lebih jauh.

Ia hanya menggenggam tanganku.

Aku menatap Leo yang sedang tertawa mengejar gelembung sabun di halaman.

Saat itulah aku menyadari satu hal yang mengubah hidupku selamanya.

Seorang anak memang tidak bisa memilih orang tua yang melahirkannya.

Namun seorang suami selalu memiliki pilihan.

Pilihan untuk menutup mata demi kenyamanan.

Atau membuka mata, meski harus kehilangan seseorang yang paling dekat.

Hari itu aku kehilangan seorang ibu yang selama ini kukenal.

Tetapi pada hari yang sama, aku akhirnya benar-benar menjadi seorang suami dan ayah yang layak bagi keluargaku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang