Selama dua tahun, suamiku menyuruhku tidur di lantai karena katanya ibu mertuaku menderita insomnia.

Selama dua tahun, suamiku menyuruhku tidur di lantai karena katanya ibu mertuaku menderita insomnia.

Aku diam dan bertahan karena mengira itu adalah bentuk baktinya kepada sang ibu.

Sampai suatu hari aku pulang lebih awal dan melihat seorang wanita tidur di ranjang pernikahanku sendiri, lalu dunia seolah runtuh tepat di depan mataku.

Namaku Mara Santos. Usia dua puluh sembilan tahun. Aku bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan logistik di kawasan Sudirman, Jakarta.

Dua tahun lalu aku menikah dengan Adrian Reyes setelah empat tahun menjalin hubungan. Sebelum menikah, dia menggenggam tanganku di halaman gereja dan berkata dengan mata penuh keyakinan.

“Aku akan memberimu keluarga yang selama ini kamu impikan.”

Aku mempercayainya tanpa ragu.

Aku menjual sebagian investasiku demi membantu merenovasi rumah ibunya di Jakarta Selatan. Aku membayar biaya pengobatan ibu mertuaku setiap bulan. Aku bahkan membiayai kursus adik laki-lakinya agar bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik.

Kupikir pengorbanan adalah bagian dari cinta.

Ternyata pengorbananku hanya dijadikan alat untuk memanfaatkanku.

Ketika Jasmine, sepupuku dari Surabaya, datang ke Jakarta enam bulan sebelumnya karena mengaku mencari pekerjaan, aku menerimanya dengan tangan terbuka. Aku mencarikannya kamar kecil di rumah kami dan membantunya membuat lamaran kerja.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa perempuan yang sering memanggilku “Kak Mara” itu sedang menghancurkan hidupku dari dalam rumahku sendiri.

Saat pintu kamar terbuka dan mereka semua menoleh kepadaku, tidak ada seorang pun yang tampak terkejut.

Seolah-olah mereka memang sudah menunggu hari ketika semuanya terbongkar.

Jasmine hanya tersenyum tipis.

“Kak, kamu pulang lebih cepat.”

Adrian berdiri perlahan dari tempat tidur.

“Mara… dengarkan dulu.”

Aku menatap bayi yang digendong ibu mertuaku. Anak itu berusia sekitar lima bulan. Mata, hidung, bahkan lesung pipinya sangat mirip Adrian.

Tanganku gemetar.

“Itu… anak siapa?”

Tidak ada yang menjawab.

Rosalinda justru berdiri sambil memeluk bayi itu lebih erat.

“Kamu sudah tahu juga akhirnya. Bagus. Jadi kita tidak perlu berpura-pura lagi.”

Aku menatap Adrian.

“Katakan padaku kalau ini tidak benar.”

Dia menghela napas panjang.

“Aku memang ayah anak itu.”

Dadaku seperti dihantam sesuatu yang tak terlihat.

“Sejak kapan?”

“Sejak sebelum kita menikah.”

Aku merasa seluruh tubuhku mati rasa.

“Jadi… selama ini?”

Jasmine menjawab dengan nada santai.

“Kami tidak pernah benar-benar putus.”

Aku menatap mereka bergantian. Tidak ada penyesalan di wajah siapa pun.

Yang lebih menyakitkan adalah ekspresi ibu mertuaku.

Dia tersenyum bangga.

“Akhirnya cucuku tumbuh bersama keluarga yang benar.”

Aku memandang wanita yang selama dua tahun kupanggil Mama.

“Jadi penyakit insomnia itu?”

Rosalinda tertawa kecil.

“Itu hanya alasan supaya Adrian bisa menghindar darimu.”

Aku tidak mampu berkata apa-apa.

Semua malam ketika aku menggigil di atas kasur tipis di ruang tamu.

Semua malam ketika aku mendengar pintu kamar dikunci.

Semua malam ketika aku merasa bersalah karena mengira aku adalah istri yang egois.

Ternyata semuanya hanyalah sandiwara.

Adrian mendekat.

“Kita bisa bicara baik-baik.”

Aku mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Dia menarik napas.

“Rumah ini sebentar lagi akan menjadi milikku. Lebih baik kita selesaikan secara dewasa.”

Aku mengerutkan dahi.

“Maksudmu?”

Rosalinda menjawab lebih dulu.

“Surat pengalihan rumah tinggal menunggu tanda tanganmu.”

Aku baru teringat.

Seminggu sebelumnya Adrian memintaku menandatangani beberapa dokumen.

Katanya hanya untuk pengurusan pajak rumah.

Untungnya saat itu aku terlalu sibuk sehingga belum sempat membaca ataupun menandatanganinya.

Aku tersenyum untuk pertama kalinya sejak masuk ke kamar itu.

“Ternyata kalian terlalu percaya diri.”

Mereka saling berpandangan.

“Aku belum menandatangani apa pun.”

Wajah Adrian langsung berubah.

“Apa?”

“Aku belum pernah menyerahkan rumah itu.”

Rumah tersebut memang dibeli menggunakan tabunganku sebelum kami menikah. Sertifikatnya atas namaku sendiri.

Selama ini Adrian mengira semua proses tinggal menunggu formalitas.

Dia salah besar.

Aku mengambil ponsel.

“Kalian lanjutkan saja pertunjukan ini.”

Aku keluar dari rumah tanpa menoleh lagi.

Malam itu aku menginap di apartemen sahabatku, Liza.

Aku tidak menangis.

Aku terlalu hancur untuk menangis.

Keesokan paginya aku langsung menemui seorang pengacara.

Semua bukti mulai kukumpulkan.

Rekening bank.

Transfer biaya renovasi.

Tagihan rumah sakit.

Percakapan WhatsApp.

Foto.

Rekaman CCTV dari ruang tamu yang tanpa sengaja masih tersimpan di cloud.

Di dalam rekaman itu terlihat jelas selama berbulan-bulan Adrian keluar dari kamar ibunya setiap pagi, sementara Jasmine beberapa kali masuk ke kamar yang sama pada malam hari.

Yang lebih mengejutkan, pengacaraku menemukan sesuatu.

Beberapa bulan sebelumnya Adrian diam-diam mengajukan pinjaman bank menggunakan fotokopi sertifikat rumahku.

Permohonannya ditolak karena bukan pemilik sah.

Artinya, mereka memang sudah lama berencana mengambil rumahku.

Aku mengajukan gugatan cerai.

Namun aku belum memberi tahu mereka.

Sebaliknya, aku berpura-pura ingin berdamai.

Ketika Adrian menghubungiku, aku berkata pelan.

“Aku mau pulang. Kita selesaikan semuanya.”

Dia langsung setuju.

Saat aku kembali ke rumah tiga hari kemudian, suasananya berbeda.

Jasmine sudah menempati lemari pakaianku.

Foto pernikahanku disimpan di gudang.

Bayi itu tidur di kamar yang dulu menjadi impianku.

Rosalinda berkata tanpa rasa malu.

“Kalau kamu mau tetap tinggal, anggap saja Jasmine adikmu.”

Aku tersenyum.

“Tentu.”

Mereka mengira aku sudah menyerah.

Padahal sore itu juga pengadilan telah menerima gugatan cerai beserta seluruh bukti.

Seminggu kemudian surat panggilan sidang tiba.

Adrian membukanya sambil tertawa.

“Kamu pikir kamu bisa menang?”

Aku hanya berkata singkat.

“Kita lihat nanti.”

Sidang pertama berlangsung singkat.

Namun pada sidang kedua, pengacaraku memutar rekaman CCTV.

Ruangan menjadi sunyi.

Hakim memperhatikan dengan serius ketika video menunjukkan Jasmine keluar dari kamar Adrian pada dini hari berkali-kali.

Kemudian ditampilkan bukti transfer uangku yang selama dua tahun membiayai seluruh kebutuhan rumah.

Lalu muncul rekaman suara yang secara otomatis tersimpan di ponselku pada hari aku memergoki mereka.

Suara Rosalinda terdengar sangat jelas.

“Tunggu sampai rumah ini sudah atas namamu, baru usir dia.”

Wajah Adrian langsung pucat.

Rosalinda menunduk.

Jasmine mulai menangis.

Namun semuanya sudah terlambat.

Hakim menyatakan Adrian terbukti melakukan perselingkuhan dan memiliki itikad buruk untuk menguasai aset milikku.

Perceraian dikabulkan.

Rumah tetap menjadi hakku sepenuhnya.

Selain itu, Adrian diwajibkan mengganti sebagian kerugian finansial yang dapat dibuktikan selama perkawinan.

Aku mengira semuanya selesai.

Ternyata belum.

Sebulan kemudian aku menerima telepon dari seorang perempuan yang tidak kukenal.

Namanya Clara.

Dia memperkenalkan diri sebagai mantan tunangan Adrian.

“Aku baru melihat berita sidang kalian.”

Aku terdiam.

Clara lalu mengirim beberapa foto lama.

Di dalam foto itu terlihat Adrian bersama Jasmine.

Tanggalnya lima tahun lalu.

Artinya, hubungan mereka sudah berlangsung bahkan sebelum Adrian mengenalku.

Yang membuatku semakin merinding adalah pesan terakhir Clara.

“Hati-hati. Kamu bukan korban pertama.”

Belakangan aku mengetahui bahwa Adrian pernah menjalin hubungan dengan beberapa perempuan mapan.

Polanya selalu sama.

Mendekati.

Membuat jatuh cinta.

Memanfaatkan uang.

Lalu mencoba mengambil aset mereka.

Jasmine ternyata selalu menjadi pasangan rahasianya.

Mereka berpura-pura menjadi saudara jauh atau teman keluarga agar tidak dicurigai.

Aku bukan satu-satunya korban.

Aku hanya orang pertama yang berhasil menghentikan mereka melalui jalur hukum.

Enam bulan kemudian aku menjual rumah itu.

Uangnya kugunakan untuk membuka kantor konsultan keuangan kecil bersama Liza.

Kami membantu perempuan-perempuan yang mengalami penipuan finansial dalam rumah tangga agar memahami hak mereka.

Suatu sore, ketika aku selesai memberikan seminar tentang kemandirian finansial, seorang perempuan muda menghampiriku sambil menggendong bayi.

Dia memperkenalkan diri.

“Aku Jasmine.”

Aku hampir tidak mengenalinya.

Wajahnya jauh lebih tua daripada usianya.

Matanya sembab.

“Aku sudah meninggalkan Adrian.”

Aku diam.

“Dia ternyata juga berselingkuh dengan perempuan lain.”

Aku tidak merasa puas.

Aku juga tidak merasa senang.

Aku hanya memandang bayi yang dulu menjadi simbol kehancuranku.

Anak itu tidak bersalah.

Jasmine menangis.

“Aku akhirnya merasakan apa yang dulu kulakukan padamu.”

Aku menghela napas panjang.

“Hidup memang selalu menemukan caranya sendiri untuk mengajarkan sesuatu.”

Dia meminta maaf berkali-kali.

Aku memaafkannya, tetapi aku tidak pernah melupakan semuanya.

Karena memaafkan bukan berarti membuka kembali pintu yang pernah menghancurkan hidup kita.

Saat dia pergi, aku berdiri memandangi langit Jakarta yang mulai berubah jingga.

Dulu aku mengira rumah adalah tempat di mana seseorang tidur dengan nyaman.

Kini aku tahu, rumah yang sesungguhnya bukan dibangun oleh tembok, kasur, atau janji manis.

Rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu mengorbankan harga diri demi dianggap pantas untuk dicintai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang