Hari ketika aku melahirkan seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupku. Namun justru pada hari itulah aku mulai melihat wajah asli orang-orang yang selama ini kuanggap keluarga.
Ibuku menempuh perjalanan delapan belas jam dengan bus dari sebuah desa kecil di Jawa Tengah menuju Jakarta hanya untuk menemaniku setelah operasi caesar. Ketika beliau tiba di rumah sakit, wajahnya tampak pucat karena kelelahan, tetapi begitu melihatku, senyumnya langsung mengembang.
“Jangan takut, Nak. Ibu sudah datang.”
Kalimat sederhana itu membuat air mataku mengalir.

Sebaliknya, ibu mertuaku hanya muncul sebentar. Ia mengambil beberapa foto cucunya, mengunggahnya ke media sosial dengan caption penuh kebanggaan, lalu pergi berlibur bersama teman-temannya ke Bali.
Sebelum menikah, beliau berkali-kali berkata bahwa jika aku punya anak nanti, beliau akan tinggal bersama kami untuk membantu merawat bayi.
Nyatanya, semua janji itu hilang begitu cucunya lahir.
Selama tiga puluh hari berikutnya, hanya ibuku yang benar-benar mengurus semuanya.
Beliau bangun sebelum subuh untuk memasak makanan bergizi agar ASI-ku lancar. Siang hari beliau mencuci pakaian bayi dengan tangan karena khawatir kulit cucunya terlalu sensitif. Malam hari beliau bergantian menggendong bayi ketika aku masih kesakitan akibat bekas operasi.
Aku sering terbangun tengah malam dan melihat beliau tertidur sambil duduk di kursi, kepala bersandar ke dinding, karena takut bayiku menangis.
Dalam satu bulan itu, berat badannya turun drastis.
Namun beliau tidak pernah sekalipun mengeluh.
Lalu datanglah hari ketiga puluh.
Hari ketika ibu mertuaku kembali.
Beliau masuk ke rumah sambil menarik koper mahalnya, memandangi setiap sudut rumah, lalu berkata seolah tidak terjadi apa-apa.
“Vanessa, masa pemulihanmu sudah selesai. Sekarang ibumu bisa pulang.”
Aku mengangguk pelan.
Ibuku memang sudah berencana pulang sore itu.
Namun beberapa detik kemudian, ibu mertuaku mengeluarkan buku kecil dari dalam tasnya.
“Oh ya, sebelum pulang, ada yang harus diselesaikan.”
Beliau menghitung sesuatu menggunakan ponselnya.
“Tiga puluh hari menginap. Biaya tempat tinggal tiga ratus ribu sehari. Listrik dan air dua ratus ribu sehari. Total lima belas juta rupiah.”
Ruangan langsung sunyi.
Ibuku menatapku bingung.
“Apa maksudnya?”
“Ya biaya tinggal di rumah saya.”
Aku benar-benar tidak percaya.
“Waktu aku melahirkan, Mama malah pergi liburan. Ibuku datang mengurusku siang malam. Bahkan makan pun beliau beli sendiri. Sekarang Mama malah menagih uang sewa?”
“Itu urusan berbeda,” jawabnya dingin. “Merawat anak adalah tanggung jawab orang tua kandung. Tapi rumah tetap rumah. Semua ada biayanya.”
Aku menoleh kepada Mark.
Suamiku.
Orang yang paling kuharapkan akan menghentikan semua ini.
Namun dia malah berkata pelan, “Menurutku Mama benar. Dalam urusan uang memang harus jelas.”
Kalimat berikutnya lebih menyakitkan.
“Lagipula ibumu bukan pemilik rumah ini.”
Aku memandang wajah laki-laki yang sudah lima tahun menjadi suamiku.
Entah sejak kapan dia berubah menjadi orang asing.
Aku membuka aplikasi mobile banking.
Lalu mentransfer lima belas juta rupiah.
Ibu mertuaku tersenyum puas.
“Nah begitu dong.”
Aku hanya berkata singkat.
“Simpan baik-baik uang itu.”
Beliau mengira semuanya sudah selesai.
Padahal semuanya baru dimulai.
Malam itu aku mengantar ibuku ke terminal.
Di sepanjang perjalanan, beliau terus meminta maaf.
“Maaf ya, Nak. Gara-gara Ibu kalian jadi bertengkar.”
Aku menggenggam tangannya.
“Bukan karena Ibu. Justru hari ini aku akhirnya tahu siapa yang benar-benar menyayangiku.”
Ibuku hanya tersenyum.
Sebelum naik bus, beliau membuka tas kain lusuhnya.
Ada sebuah amplop putih.
“Apa ini?”
“Ibu sebenarnya menabung sedikit demi sedikit untuk cucu Ibu.”
Aku membuka amplop itu.
Di dalamnya ada uang dua belas juta rupiah.
Aku langsung menangis.
Beliau datang mengurusku sambil membawa tabungan untuk anakku.
Sementara orang-orang yang tinggal serumah denganku malah menghitung biaya listrik dan air.
Malam itu juga aku mengambil keputusan terbesar dalam hidupku.
Selama ini aku dan Mark memiliki usaha desain interior yang berkembang cukup pesat.
Semua orang mengira Mark adalah pemilik perusahaan.
Padahal kenyataannya berbeda.
Perusahaan itu berdiri menggunakan warisan ayahku.
Saham terbesar juga atas namaku.
Mark hanya menjadi direktur operasional.
Selama bertahun-tahun aku membiarkannya mengambil semua sorotan karena aku percaya kepada suamiku.
Aku bahkan tidak pernah menceritakan struktur kepemilikan perusahaan kepada ibu mertuaku.
Keesokan paginya aku datang ke kantor.
Aku meminta bagian keuangan menunjukkan seluruh laporan selama dua tahun terakhir.
Yang kutemukan membuat darahku mendidih.
Ada puluhan transfer ke rekening pribadi ibu mertuaku.
Nominalnya tidak kecil.
Totalnya hampir satu miliar rupiah.
Semuanya dicatat sebagai biaya operasional.
Aku memanggil kepala keuangan.
“Siapa yang menyetujui transaksi ini?”
“Pak Mark, Bu.”
Aku menarik napas panjang.
Lalu meminta seluruh bukti transfer.
Siang harinya aku bertemu pengacara perusahaan.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku mulai melindungi apa yang menjadi hakku.
Beberapa hari kemudian, ibu mertuaku mengadakan arisan di rumah.
Dengan bangga beliau memamerkan tas baru dan perhiasan yang dibelinya.
“Kebetulan ada rezeki,” katanya kepada teman-temannya.
Aku datang membawa map biru.
Beliau tersenyum sinis.
“Mau apa lagi?”
Aku mengeluarkan satu lembar bukti transfer.
“Lima belas juta.”
Beliau mengangguk.
“Itu kan uang sewa.”
Aku tersenyum.
“Lalu bagaimana dengan delapan ratus tujuh puluh juta yang Mama terima dari perusahaan kami selama dua tahun terakhir?”
Wajahnya langsung berubah.
Teman-temannya saling berpandangan.
“Apa maksudmu?”
Aku meletakkan seluruh bukti transaksi di atas meja.
“Semuanya ada tanda tangan Mark.”
Suamiku yang baru pulang langsung membeku melihat dokumen-dokumen itu.
Aku menatapnya.
“Aku sudah memeriksa semua rekening perusahaan.”
Dia mencoba menjelaskan.
“Itu hanya pinjaman sementara.”
“Pinjaman?”
Aku membuka dokumen berikutnya.
“Tidak ada satu pun perjanjian pinjaman.”
Ibu mertuaku mulai panik.
“Itu uang anak saya.”
Aku tersenyum tipis.
“Perusahaan ini bukan milik Mark.”
Beliau tertawa mengejek.
“Jangan bercanda.”
Aku mengeluarkan akta pendirian perusahaan.
“Delapan puluh persen saham atas namaku.”
Ruangan kembali sunyi.
Mark menatapku seolah baru mengenalku.
“Aku sengaja tidak pernah mempermalukanmu selama ini,” kataku pelan. “Karena aku percaya kita adalah pasangan.”
“Tapi hari ketika ibuku ditagih uang sewa karena merawatku… kepercayaan itu selesai.”
Seminggu kemudian, audit internal selesai dilakukan.
Nilainya ternyata jauh lebih besar daripada perkiraanku.
Selama bertahun-tahun Mark menggunakan uang perusahaan untuk membayar cicilan rumah ibu mertuanya, membeli mobil, liburan ke luar negeri, bahkan investasi atas nama keluarganya.
Semuanya tanpa persetujuanku.
Pengacara menyusun gugatan perdata.
Aku juga mengajukan gugatan cerai.
Mark datang ke apartemenku malam itu.
Dia menangis.
“Aku salah.”
Aku hanya bertanya satu hal.
“Kalau hari itu yang datang merawatku adalah ibumu, apakah kamu akan menagih uang sewa juga?”
Dia tidak mampu menjawab.
Karena kami sama-sama tahu jawabannya.
Beberapa bulan kemudian, pengadilan memutuskan sebagian besar aset yang dibeli menggunakan dana perusahaan harus dikembalikan.
Rumah ibu mertuaku ikut disita karena terbukti dibayar menggunakan uang perusahaan.
Ironisnya, rumah yang dulu katanya miliknya sepenuhnya kini harus dijual untuk mengganti kerugian.
Pada hari pelelangan, aku melihat ibu mertuaku berdiri di depan pagar rumah sambil menangis.
Beliau memandangku dari kejauhan.
Aku mendekat.
Beliau berkata lirih, “Kamu puas?”
Aku menggeleng.
“Aku tidak pernah ingin mengambil rumah Mama.”
“Lalu kenapa melakukan semua ini?”
Aku menatapnya dengan tenang.
“Karena hari itu Mama mengajarkan bahwa semua harus dihitung.”
Aku mengeluarkan sebuah amplop.
Di dalamnya ada uang lima belas juta rupiah.
Uang itu masih utuh.
“Ini uang sewa yang dulu Mama tagih.”
Beliau menatapku bingung.
“Aku kembalikan.”
“Lalu kenapa?”
“Karena ibuku tidak pernah benar-benar menyewa rumah siapa pun.”
Aku berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Beliau sedang menyelamatkan putrinya.”
Aku berbalik pergi.
Di parkiran, ibuku sedang memangku cucunya sambil menyanyikan lagu pengantar tidur yang dulu sering beliau nyanyikan untukku.
Rumah bisa dibangun dengan uang.
Harta bisa dicari kembali.
Tetapi kasih sayang yang tulus tidak pernah bisa dibeli, disewa, atau ditagih.
Hari itu aku akhirnya memahami bahwa keluarga bukanlah orang yang paling dekat hubungan darah atau statusnya, melainkan mereka yang tetap memilih tinggal di sisimu ketika hidupmu sedang berada pada titik paling rapuh. Dan orang yang paling kaya dalam hidupku ternyata adalah perempuan sederhana yang datang dengan bus tua, membawa tas lusuh, serta hati yang tak pernah menghitung pengorbanannya sendiri.
