Gabriel hanya tersenyum tipis.
“Benar.”
“Lalu memangnya kalian bisa melakukan apa?”
Kalimat itu membuat wajah Paman Jun memerah karena marah. Tangannya mengepal erat, seolah ingin memukulku saat itu juga. Namun sebelum dia sempat bergerak, dua mobil polisi berhenti di depan lobi kondominium.
Semua orang langsung membeku.
Paman Jun memucat.

“Bukankah… polisi datangnya masih nanti siang?” gumamnya.
Aku mengangkat ponselku.
“Aku yang menelepon mereka tiga puluh menit yang lalu.”
Tatapan mereka berubah.
Mark melangkah mundur tanpa sadar.
“Kamu gila? Kamu mau menghancurkan keluarga sendiri?”
Aku menatapnya dingin.
“Bukan aku yang menghancurkan keluarga ini.”
“Orang yang mabuk, menyetir, lalu menabrak orang adalah ayahmu.”
“Orang yang ingin menjebloskan keponakannya ke penjara adalah ayahmu.”
“Dan orang yang selama bertahun-tahun mengambil hakku tanpa rasa bersalah… juga ayahmu.”
Polisi menghampiri kami.
“Siapa yang melaporkan kecelakaan semalam?”
Aku mengangkat tangan.
“Saya.”
Paman Jun langsung menyela.
“Pak, ini salah paham. Kami sedang menyelesaikan secara kekeluargaan.”
Polisi menggeleng.
“Korbannya mengalami luka berat. Kasus ini tetap harus diproses.”
Aku menyerahkan flash disk kepada salah satu petugas.
“Ada rekaman CCTV dari gerbang kondominium dan kamera dashboard mobil lain.”
Paman Jun menatapku seperti melihat hantu.
“Dari mana kamu dapat itu?”
Aku tersenyum.
“Sejak menerima telepon ayah tadi malam, aku tahu kalian akan mencoba mengorbankanku.”
“Aku pergi ke lokasi kecelakaan sebelum datang ke sini.”
“Untungnya ada saksi yang bersedia memberikan salinan rekamannya.”
Wajah Mark berubah pucat.
“Pak… ayo pulang saja.”
Namun semuanya sudah terlambat.
Polisi meminta Paman Jun ikut ke kantor untuk pemeriksaan.
Dia masih mencoba membela diri.
“Mobil itu dipakai Gabriel!”
Aku menggeleng.
“Lihat saja rekamannya.”
Video diputar di tablet polisi.
Terlihat jelas Paman Jun keluar dari restoran dengan langkah sempoyongan.
Dia bahkan hampir jatuh saat membuka pintu BMW.
Lalu mobil melaju zig-zag sebelum akhirnya menabrak seorang pengendara motor.
Tak ada lagi yang bisa dibantah.
Paman Jun langsung diborgol.
Tante Lita menangis histeris.
Mark hanya berdiri membisu.
Saat mobil polisi pergi, ayahku akhirnya turun dari rooftop.
Wajahnya kusut.
Dia berjalan pelan menghampiriku.
“Gabriel…”
Aku tidak menjawab.
“Ayah cuma ingin menyelamatkan adik Ayah.”
“Benarkah?”
Aku menatap matanya.
“Atau Ayah ingin menyelamatkan uang yang selama ini dia berikan?”
Ayah terdiam.
Aku mengeluarkan sebuah map dari mobil.
“Ayah masih ingat rumah tua kita?”
“Tentu.”
“Rumah itu sudah bukan milik Ayah sejak lima tahun lalu.”
Wajahnya berubah bingung.
“Maksudmu?”
Aku membuka fotokopi sertifikat.
“Ketika Ayah meminjam sertifikat rumah untuk membantu Paman Jun.”
“Dia tidak pernah menggadaikannya.”
“Dia memindahkan hak kepemilikannya.”
Ayah langsung gemetar.
“Itu… tidak mungkin.”
“Ayah sendiri yang menandatangani dokumennya.”
“Tapi dia bilang hanya pinjaman.”
Aku menggeleng pelan.
“Ayah bahkan tidak membaca isi kontraknya.”
Tubuh ayah seperti kehilangan tenaga.
Dia terduduk di trotoar.
Air matanya mulai jatuh.
“Ayah… sudah sebodoh itu?”
Aku tidak menjawab.
Karena memang begitu kenyataannya.
Beberapa hari kemudian, berita tentang kecelakaan itu memenuhi media lokal.
Perusahaan tempat Paman Jun menjadi direktur langsung memecatnya.
Saham perusahaan keluarganya anjlok.
Bank mulai menagih seluruh pinjaman.
Mark yang selama ini hidup mewah tiba-tiba harus menjual BMW kesayangannya.
Namun ternyata itu baru permulaan.
Pengacaraku menemukan banyak transaksi mencurigakan.
Selama bertahun-tahun, Paman Jun diam-diam menggunakan nama ayahku untuk mengajukan beberapa pinjaman pribadi.
Jumlahnya mencapai miliaran rupiah.
Semua dokumen memakai tanda tangan ayah.
Sebagian asli.
Sebagian dipalsukan.
Saat polisi menyelidiki lebih dalam, kasusnya berkembang menjadi dugaan penipuan dan pemalsuan dokumen.
Paman Jun tidak lagi hanya menghadapi perkara kecelakaan.
Dia menghadapi ancaman hukuman bertahun-tahun.
Ayah benar-benar hancur.
Setiap hari dia datang ke apartemenku.
Kadang hanya duduk di depan pintu.
Kadang membawa makanan favoritku.
Aku tidak pernah mengusirnya.
Tetapi aku juga tidak pernah mengajaknya masuk.
Suatu sore hujan turun deras.
Ayah masih duduk di kursi lorong.
Saat kubuka pintu, dia berdiri perlahan.
“Gabriel.”
“Ayah minta maaf.”
“Ayah tahu kata maaf tidak akan menghapus semuanya.”
“Tapi Ayah baru sadar…”
“Semenjak ibumu meninggal, Ayah terlalu bergantung pada adik sendiri.”
“Ayah mengira membantu keluarga berarti selalu mengalah.”
“Ternyata Ayah justru terus mengorbankan anak sendiri.”
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, aku melihat ayahku benar-benar menangis.
Bukan tangisan untuk memaksa.
Bukan tangisan penuh ancaman.
Melainkan tangisan seorang ayah yang akhirnya menyadari kesalahannya.
Aku mempersilahkannya masuk.
Kami duduk tanpa bicara cukup lama.
Lalu ayah mengeluarkan sebuah amplop tua.
“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan ibuku.
Tanggalnya dua bulan sebelum beliau meninggal.
Tanganku mulai gemetar saat membacanya.
“Gabriel.”
“Kalau suatu hari Ibu sudah tidak ada, jangan pernah membenci Ayahmu.”
“Dia bukan orang jahat.”
“Dia hanya terlalu mudah percaya kepada keluarganya.”
“Ibu sudah berkali-kali mencoba menghentikannya.”
“Tapi dia selalu merasa adiknya akan berubah.”
“Kalau suatu hari dia sadar, tolong beri dia satu kesempatan.”
Air mataku akhirnya jatuh.
Aku baru tahu ternyata ibu sudah melihat semua ini sejak lama.
Beliau hanya tidak sempat memperbaikinya.
Ayah menundukkan kepala.
“Ibu menitipkan surat itu kepadaku.”
“Tapi aku terlalu malu memberikannya.”
“Mungkin karena aku tahu… semua yang ditulisnya benar.”
Aku menutup surat itu perlahan.
Sudah lama aku hidup dengan kemarahan.
Aku membenci ayah karena selalu memilih adiknya.
Namun saat melihat pria tua di depanku, aku sadar sesuatu.
Orang yang paling banyak kehilangan bukan hanya aku.
Dia juga kehilangan rumah.
Kehilangan adiknya.
Kehilangan harga dirinya.
Dan hampir kehilangan anak satu-satunya.
Beberapa bulan kemudian, sidang Paman Jun selesai.
Dia dijatuhi hukuman penjara atas kasus mengemudi dalam keadaan mabuk yang menyebabkan luka berat, ditambah pemalsuan dokumen dan penipuan.
Tante Lita menjual kondominium untuk membayar utang.
Mark mulai bekerja sebagai staf penjualan di sebuah toko elektronik.
Tak ada lagi kehidupan mewah.
Sementara itu, aku dan ayah memulai hidup baru.
Kami menyewa rumah kecil.
Tidak sebesar rumah lama.
Tidak semewah kondominium.
Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kami makan malam di meja yang sama tanpa membicarakan Paman Jun.
Suatu malam ayah berkata pelan,
“Kalau waktu bisa diputar, Ayah akan memilihmu sejak awal.”
Aku tersenyum tipis.
“Waktu memang tidak bisa diputar.”
“Tapi kita masih bisa memilih untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.”
Ayah mengangguk sambil menghapus air matanya.
Di luar, hujan kembali turun.
Namun kali ini, tidak ada lagi telepon pukul tiga pagi.
Tidak ada lagi ancaman dari atas rooftop.
Yang tersisa hanyalah seorang ayah yang akhirnya belajar bahwa darah memang menghubungkan keluarga, tetapi kasih sayang tidak pernah boleh dibangun dengan mengorbankan anak sendiri.
