Tepat dua hari setelah aku menerima surat resmi perceraian, aku langsung menghentikan transfer tunjangan bulanan sebesar Rp500 juta yang selama ini rutin kuberikan kepada mantan ibu mertuaku.

Tepat dua hari setelah surat resmi perceraian itu kuterima, aku menghentikan transfer tunjangan bulanan sebesar Rp500 juta yang selama bertahun-tahun rutin kukirim kepada mantan ibu mertuaku.

Hanya butuh satu panggilan ke bank.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada air mata.

Semua selesai dalam waktu kurang dari lima menit.

Lucunya, setelah bertahun-tahun menjadi mesin ATM berjalan bagi keluarga itu, keputusan yang paling sulit ternyata hanya membutuhkan satu kalimat.

“Tolong hentikan seluruh transfer otomatis mulai hari ini.”

Aku menatap layar ponsel yang kembali gelap.

Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun terakhir, aku merasa hidupku benar-benar kembali menjadi milikku.

Tak sampai satu jam kemudian, Messenger-ku meledak.

Puluhan panggilan tak terjawab.

Belasan voice note.

Ratusan pesan masuk.

Namun bukan dari Gerardo.

Melainkan dari ibunya.

Wanita yang selama ini selalu memanggilku “anak”, tetapi hanya setiap tanggal transfer tiba.

Sementara itu, Gerardo sedang berada di sebuah rumah sakit bersalin premium di Jakarta Selatan, sibuk menemani Vanessa, perempuan yang telah menghancurkan rumah tangga kami. Ia bahkan rela membatalkan rapat penting demi mengantar Vanessa melakukan pemeriksaan kandungan.

Dulu, ketika aku harus menjalani operasi pengangkatan kista, ia hanya mengirim pesan singkat.

“Aku lagi meeting. Kamu kuat sendiri, kan?”

Hari itu aku sadar, cinta memang bisa mati jauh sebelum perceraian terjadi.

Aku mengabaikan semua pesan.

Namun keesokan paginya, suara gaduh terdengar dari depan apartemenku.

Begitu pintu terbuka, kulihat Ibu Elvira sudah berlutut di depan unitku.

Tangisnya keras.

Tubuhnya gemetar.

“Regina… Mama mohon… jangan hentikan uang itu…”

Beberapa penghuni apartemen mulai berkumpul.

Ponsel mulai diarahkan kepada kami.

Seseorang bahkan diam-diam merekam.

Aku tahu persis apa yang sedang ia lakukan.

Ia ingin mempermalukanku di depan umum agar aku menyerah.

Sayangnya, kali ini ia salah orang.

“Aku sudah bukan menantu Ibu.”

Aku berbicara pelan.

“Tidak ada lagi kewajiban apa pun.”

Ia menangis semakin keras.

“Kalau bukan kamu yang menanggung Mama, siapa lagi?”

Aku menatap lurus ke matanya.

“Anak kandung Ibu masih hidup.”

Kalimat itu membuat lorong apartemen mendadak sunyi.

Tak lama kemudian lift terbuka.

Gerardo muncul bersama Vanessa.

Wanita itu mengenakan gaun hamil mahal, sepatu bermerek, dan tas yang harganya mungkin setara mobil baru.

Gerardo masih sempat membawakan minuman hangat untuknya.

Begitu melihat ibunya berlutut, wajahnya langsung berubah.

“Regina! Apa yang kamu lakukan?”

Aku tertawa kecil.

“Aku?”

“Ibumu sendiri yang memilih berlutut.”

Ibu Elvira langsung memeluk kaki Gerardo.

“Dia menghentikan uang Mama.”

“Dia juga menjual rumah kita.”

Gerardo langsung menoleh kepadaku.

“Kamu nggak berhak menjual rumah itu!”

Aku mengeluarkan satu map cokelat dari tasku.

“Benarkah?”

Aku membuka salinan sertifikat rumah.

“Silakan lihat sendiri.”

“Pemilik sahnya siapa?”

Tangannya gemetar ketika membaca namaku yang tercetak jelas sebagai pemilik tunggal.

Vanessa ikut mendekat.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

“Tapi… selama ini kita tinggal di sana….”

“Betul.”

Aku tersenyum.

“Karena aku mengizinkannya.”

“Lalu sekarang aku tidak mengizinkannya lagi.”

Gerardo mencoba mempertahankan harga dirinya.

“Kamu pasti cuma menggertak.”

Aku mengeluarkan dokumen kedua.

Akta jual beli.

Sudah ditandatangani.

Sudah lunas.

Rumah itu resmi berpindah tangan seminggu sebelumnya.

Wajah Gerardo seperti kehilangan seluruh darahnya.

“Apa… pembelinya sudah masuk?”

“Besok.”

“Dan kalian punya waktu kurang dari dua puluh empat jam untuk mengosongkan rumah.”

Vanessa langsung panik.

“Gerardo! Kamu bilang rumah itu milik keluarga kalian!”

Ia tidak menjawab.

Karena ia sendiri baru mengetahui kenyataannya.

Selama bertahun-tahun, ia hidup di rumah yang dibeli oleh kedua orang tuaku.

Ketika kami menikah dulu, ayahku sengaja mencatat seluruh aset atas namaku.

Beliau hanya berkata satu kalimat.

“Kalau suatu hari dia berubah, kamu masih punya tempat pulang.”

Saat itu aku menganggap ayah terlalu curiga.

Kini aku baru memahami maksudnya.

Keributan itu ternyata belum selesai.

Video Ibu Elvira berlutut di apartemenku menyebar ke media sosial sore harinya.

Awalnya banyak orang menghujatku.

“Perempuan nggak tahu balas budi.”

“Kasihan ibu tua.”

“Terlalu kejam.”

Aku tidak memberikan klarifikasi.

Aku hanya menghubungi pengacaraku.

Lalu mengunggah satu dokumen.

Putusan perceraian.

Perjanjian pembagian harta.

Bukti bahwa selama tujuh tahun terakhir seluruh biaya hidup keluarga Gerardo berasal dari rekening pribadiku.

Termasuk pembayaran rumah.

Mobil.

Liburan.

Biaya rumah sakit.

Tagihan kartu kredit.

Bahkan cicilan bisnis Gerardo yang berkali-kali gagal.

Masih belum cukup.

Aku juga mengunggah bukti transfer bulanan kepada Ibu Elvira sejak delapan tahun lalu.

Nominalnya tidak pernah kurang dari Rp500 juta.

Totalnya mencapai puluhan miliar rupiah.

Internet berubah dalam semalam.

Komentar yang sebelumnya menghujat mulai berbalik arah.

“Delapan tahun?”

“Rp500 juta setiap bulan?”

“Itu bukan menantu. Itu investor.”

“Anaknya sendiri ke mana?”

Berita itu semakin membesar ketika seorang mantan karyawan perusahaan Gerardo menghubungi wartawan.

Ia mengungkap bahwa bisnis Gerardo sebenarnya sudah hampir bangkrut selama dua tahun terakhir.

Semua kerugian selalu diam-diam kututup menggunakan uang perusahaan keluargaku.

Tanpa bantuanku, perusahaannya seharusnya sudah tutup sejak lama.

Aku hanya membaca berita itu sambil menikmati secangkir kopi.

Tidak ada rasa puas.

Yang kurasakan hanya lega.

Beberapa hari kemudian, pembeli rumah menghubungiku.

“Bu Regina, mereka belum mau keluar.”

Aku hanya tersenyum.

“Lanjutkan sesuai prosedur.”

Hari berikutnya petugas pengadilan datang bersama aparat.

Seluruh barang keluarga Gerardo dipindahkan keluar.

Ibu Elvira menangis.

Vanessa berteriak histeris karena beberapa tas mewahnya terkena hujan.

Gerardo berdiri mematung.

Ia masih berharap aku berubah pikiran.

Sebelum pergi, ia menghampiriku.

“Regina.”

Aku tidak menjawab.

“Aku salah.”

Aku tetap diam.

“Aku menyesal.”

Aku memandang wajah pria yang dulu sangat kucintai.

Dulu, satu permintaan maaf darinya mungkin sudah cukup membuatku memaafkan semuanya.

Hari itu, rasanya tidak ada bedanya dengan suara kendaraan yang lewat.

Hampa.

“Aku bisa putus sama Vanessa.”

“Tolong kasih aku kesempatan.”

Aku menggeleng pelan.

“Gerardo.”

“Kamu salah paham.”

“Aku tidak meninggalkanmu karena Vanessa.”

Ia mengerutkan dahi.

“Aku meninggalkanmu karena kamu berhenti menghormatiku jauh sebelum mengenal Vanessa.”

Ia tidak sanggup menjawab.

Aku berbalik masuk ke mobil.

Kupikir semua sudah selesai.

Ternyata belum.

Dua minggu kemudian, seorang pria tua datang ke kantorku.

Rambutnya sudah memutih.

Jasnya sederhana.

Ia memperkenalkan diri sebagai ayah Vanessa.

Aku sempat mengira ia datang untuk membela putrinya.

Namun ia justru meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Di dalamnya terdapat hasil tes DNA.

Aku membaca namanya berulang kali.

Gerardo Pratama.

Vanessa Kusuma.

Janin.

Probabilitas hubungan biologis…

0%.

Aku mengangkat kepala perlahan.

Pria tua itu menunduk.

“Anak saya berbohong.”

“Saya baru tahu setelah dia meminta uang kepada saya.”

“Demi Tuhan, saya tidak ingin Anda menjadi korban fitnah lebih lama.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

Sore itu juga Gerardo menelepon puluhan kali.

Aku tidak mengangkat.

Malamnya, berita baru kembali memenuhi media sosial.

Vanessa menghilang membawa seluruh uang perusahaan yang masih tersisa.

Ia kabur ke luar negeri bersama pria lain.

Gerardo pingsan di bandara setelah mengetahui hasil tes DNA.

Anak yang selama ini ia bela mati-matian bahkan bukan darah dagingnya sendiri.

Beberapa bulan kemudian, aku bertemu Ibu Elvira secara tidak sengaja di sebuah pasar tradisional.

Tubuhnya jauh lebih kurus.

Ia mendorong gerobak kecil berisi sayuran.

Saat melihatku, ia menundukkan kepala.

Tidak lagi berteriak.

Tidak lagi memaki.

Hanya berkata lirih.

“Maafkan Mama.”

Aku menatap wajahnya beberapa detik.

“Luka bisa sembuh.”

“Tapi bekasnya akan selalu ada.”

Aku meninggalkan pasar tanpa menoleh lagi.

Memaafkan bukan berarti mengulang masa lalu.

Kadang, bentuk belas kasih terbesar kepada diri sendiri adalah berani menutup pintu yang selama bertahun-tahun hanya membawa luka.

Aku tidak pernah kehilangan keluarga.

Aku hanya berhenti menghidupi orang-orang yang sejak awal tidak pernah benar-benar menganggapku sebagai bagian dari keluarga mereka.

Dan sejak hari itu, setiap rupiah yang dulu habis untuk membeli kesetiaan orang lain, akhirnya bisa kupakai untuk membangun hidup yang benar-benar menjadi milikku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang