Pukulanku perlahan melemah. Tanganku jatuh di sisi tubuh, sementara napasku tersengal-sengal seperti baru berlari jauh. Dimas tidak membalas. Dia hanya berdiri kaku, membiarkan aku memukulnya hingga seluruh tenagaku habis.
Namun anehnya, diamnya bukan membuatku merasa lega. Justru aku semakin muak.
Aku mundur dua langkah, lalu mengusap air mata dengan kasar.
“Aku mau pulang,” kataku pelan.
Dimas mendongak cepat. “Reva, tunggu. Kita belum selesai bicara.”
“Aku sudah selesai.”
“Kita harus menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin.”

Aku tersenyum getir. “Kepala dingin? Kamu berselingkuh selama berbulan-bulan, lalu sekarang menyuruhku berpikir dengan kepala dingin?”
Dimas mengusap wajahnya, meninggalkan bekas nasi di pipinya. “Aku tidak mau rumah tangga kita hancur.”
Kalimat itu membuatku berhenti di depan pintu.
Aku menoleh perlahan. “Kamu tidak mau rumah tangga kita hancur?”
“Iya.”
“Kalau begitu, seharusnya kamu memikirkan itu sebelum menyentuh perempuan lain.”
Wajah Dimas berubah tegang.
“Aku akan pulang ke rumah Mama bersama anak-anak,” lanjutku. “Jangan cari aku malam ini.”
“Reva, jangan bawa anak-anak.”
Aku menatapnya tajam. “Kenapa? Supaya kamu bisa membawa selingkuhanmu ke rumah?”
“Jangan bicara sembarangan!”
“Aku bicara berdasarkan apa yang kulihat sendiri.”
Tanpa memberinya kesempatan menjawab, aku membuka pintu ruangan. Di luar, beberapa perawat dan staf rumah sakit berdiri tidak jauh dari sana, berpura-pura sibuk meski jelas sejak tadi mereka mendengar keributan kami.
Di antara mereka, aku melihat wanita itu.
Namanya Nadine.
Dia berdiri dengan wajah pucat, rambutnya masih sedikit basah karena siraman jus mangga yang kulemparkan tadi. Jas dokternya sudah dilepas, menyisakan blus krem yang kusut. Tatapan kami bertemu.
Alih-alih menunduk karena malu, dia justru menatapku dengan ekspresi aneh. Bukan takut, bukan pula menyesal.
Seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu.
Aku berjalan melewatinya tanpa berhenti.
“Bu Reva,” panggilnya tiba-tiba.
Langkahku terhenti.
“Jangan sekarang, Nadine,” bentak Dimas dari dalam ruangan.
Aku menoleh. Nadine mengabaikan Dimas dan mendekat kepadaku.
“Ada hal yang harus Ibu ketahui.”
Dimas langsung keluar dari ruangan. “Nadine, cukup!”
Nadine menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Tidak, Dok. Saya tidak mau terus dijadikan satu-satunya orang jahat.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
Nadine menarik napas. Tangannya gemetar saat membuka ponselnya. Dia menekan beberapa kali layar, lalu menyodorkannya kepadaku.
Di sana ada tangkapan layar percakapan antara dirinya dan Dimas.
Tanggalnya dimulai sembilan bulan lalu.
Sebelum aku melahirkan.
Aku membaca satu per satu pesan itu dengan tubuh membeku.
Dimas menulis bahwa pernikahan kami sudah lama tidak bahagia. Dia mengaku kami menikah karena tekanan keluarga. Dia mengatakan aku terlalu sibuk dengan kehidupanku sendiri, tidak pernah memperhatikannya, dan hanya memanfaatkan statusnya sebagai dokter.
Lalu ada pesan yang membuat pandanganku mendadak gelap.
Dimas mengaku bahwa anak-anak yang sedang kukandung saat itu belum tentu anaknya.
Tanganku gemetar hebat.
“Kamu bilang apa kepada dia?” suaraku hampir tidak terdengar.
Dimas mendekat dan mencoba mengambil ponsel itu. Aku langsung mundur.
“Reva, aku bisa jelaskan.”
“Apa yang mau kamu jelaskan?”
“Itu hanya kata-kata saat aku sedang marah.”
“Marah kepada siapa? Kepadaku yang sedang mengandung anakmu?”
Nadine menunduk. “Saya percaya kepada semua ceritanya. Dokter Dimas bilang dia akan menceraikan Ibu setelah bayi-bayi itu lahir.”
Aku menatap Dimas, berharap dia membantah. Namun laki-laki itu justru terdiam.
Diamnya adalah jawaban paling menyakitkan.
“Jadi,” kataku dengan suara serak, “kamu bukan hanya berselingkuh. Kamu juga mencemarkan namaku agar perempuan ini mau menerimamu.”
“Reva, aku tidak sungguh-sungguh bermaksud begitu.”
“Kamu bilang anak-anak kita belum tentu anakmu.”
“Aku tahu mereka anakku.”
“Tapi kamu tetap mengatakannya.”
Dimas menekan pelipisnya. “Aku hanya ingin Nadine berhenti merasa bersalah.”
Aku tertawa, tetapi kali ini tidak ada suara yang keluar. Air mata kembali mengalir di pipiku.
“Kamu melindungi perasaan selingkuhanmu dengan menghancurkan harga diri istrimu.”
“Reva…”
Aku mengangkat telapak tangan. “Jangan sebut namaku.”
Aku mengembalikan ponsel Nadine, lalu berjalan pergi. Namun baru beberapa langkah, Nadine kembali berbicara.
“Bu Reva, ada satu hal lagi.”
Aku berhenti tanpa menoleh.
“Saya terlambat datang bulan.”
Koridor rumah sakit mendadak terasa sunyi.
Aku menoleh perlahan. Wajah Nadine semakin pucat.
“Apa?”
“Saya belum memeriksakan diri, tetapi sudah hampir enam minggu.”
Dimas langsung menatapnya dengan kaget. “Kenapa kamu baru bilang?”
Nadine tersenyum pahit. “Karena saya sendiri baru sadar beberapa hari lalu.”
Aku memandang mereka bergantian. Rasanya seperti sedang menonton kehancuran hidup orang lain, bukan kehidupanku sendiri.
Anehnya, setelah mendengar kabar itu, aku tidak berteriak lagi. Tidak menangis. Tidak memukul siapa pun.
Ada sesuatu di dalam diriku yang mendadak mati.
Aku hanya mengangguk kecil.
“Baik,” kataku.
“Reva…” Dimas melangkah mendekat.
Aku mundur.
“Mulai hari ini, jangan sentuh aku lagi.”
Aku pergi meninggalkan mereka di koridor itu.
Malam itu, aku pulang ke rumah bukan untuk berkemas, melainkan untuk melihat anak-anakku.
Si kembar, Arka dan Aruna, sedang tidur di ranjang bayi. Wajah mereka tampak damai, sama sekali tidak tahu bahwa kehidupan yang seharusnya melindungi mereka sedang retak dari segala arah.
Aku duduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang, lalu menangis tanpa suara.
Selama ini aku selalu merasa gagal menjadi ibu.
Aku sering lelah. Kadang aku menangis ketika kedua bayi terbangun bersamaan. Kadang aku berharap bisa tidur satu malam penuh tanpa suara tangisan. Pikiran-pikiran kecil itu membuatku merasa bersalah.
Namun malam itu aku menyadari sesuatu.
Aku bukan ibu yang gagal.
Aku hanya ibu yang dipaksa berjuang sendirian.
Sekitar pukul dua dini hari, Dimas pulang. Aku mendengar suara pintu terbuka, tetapi tidak keluar dari kamar bayi. Beberapa menit kemudian, dia berdiri di ambang pintu.
Dia sudah mandi dan berganti pakaian. Penampilannya kembali bersih, tetapi wajahnya terlihat jauh lebih tua.
“Aku tidak tidur dengan Nadine malam ini,” katanya pelan.
Aku tidak menjawab.
“Aku menyuruhnya pulang.”
Aku tetap menatap kedua anak kami.
Dimas duduk di lantai dengan jarak beberapa langkah dariku.
“Aku memang salah,” katanya. “Aku tidak punya pembelaan.”
“Bagus. Akhirnya kamu berhenti mencari alasan.”
“Aku akan mengakhiri semuanya dengan Nadine.”
Aku menoleh. “Terlambat.”
“Kalau dia hamil, aku akan bertanggung jawab secara finansial. Tapi aku tidak akan meninggalkanmu dan anak-anak.”
“Siapa bilang aku masih mau bersamamu?”
Dimas terdiam.
“Aku mau bercerai.”
Wajahnya menegang. “Jangan mengambil keputusan saat emosi.”
“Aku tidak sedang emosi.”
“Kamu baru saja mengetahui semuanya.”
“Justru sekarang aku akhirnya melihat semuanya dengan jelas.”
Dimas berdiri. “Reva, pikirkan Arka dan Aruna.”
Aku ikut berdiri.
“Jangan bersembunyi di balik anak-anak setelah kamu sendiri tidak pernah memikirkan mereka.”
“Aku ayah mereka.”
“Secara biologis, iya.”
Ucapan itu membuat Dimas tersentak.
Aku berjalan menuju lemari kecil dan mengeluarkan sebuah map berwarna cokelat. Map itu sudah kusimpan selama beberapa bulan, tanpa pernah berani membukanya di depan Dimas.
Aku menyerahkannya kepadanya.
“Apa ini?”
“Baca.”
Dimas membuka map itu. Dahinya berkerut ketika melihat lembaran-lembaran di dalamnya.
Itu adalah surat penerimaan kerja dari sebuah perusahaan farmasi besar di Jakarta.
Sebelum menikah, aku bekerja sebagai peneliti di sana. Aku meninggalkan karierku setelah Dimas memintaku fokus pada rumah tangga. Beberapa bulan setelah melahirkan, mantan atasanku kembali menawariku posisi baru sebagai kepala divisi riset dengan gaji yang jauh lebih besar dari penghasilanku sebelumnya.
Aku sempat menolaknya karena Dimas berkata anak-anak membutuhkan ibunya di rumah.
Namun diam-diam, seminggu lalu aku menghubungi perusahaan itu lagi.
Mereka masih menungguku.
“Aku mulai bekerja bulan depan,” kataku.
Dimas menatapku tidak percaya. “Bagaimana dengan anak-anak?”
“Aku akan membawa mereka tinggal bersama Mama untuk sementara. Aku sudah mengatur pengasuh.”
“Kamu merencanakan ini tanpa bicara denganku?”
Aku tertawa kecil. “Lucu sekali kamu bertanya begitu.”
“Reva, kamu tidak bisa mengambil anak-anak begitu saja.”
“Aku tidak mengambil mereka dari ayah yang hadir. Aku membawa mereka dari rumah yang sudah lama tidak memiliki seorang ayah.”
Dimas meremas surat itu. “Aku tidak akan menyetujui perceraian.”
“Kamu tidak harus setuju untuk membuatku berhenti mencintaimu.”
Kalimat itu membuatnya membisu.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti kabut.
Aku pindah ke rumah Mama bersama anak-anak. Dimas datang hampir setiap malam, meminta bicara, membawa bunga, makanan, bahkan hadiah untuk bayi. Aku menolak semuanya.
Mama tidak banyak bertanya. Dia hanya memelukku dan berkata bahwa aku tidak perlu merasa malu atas dosa orang lain.
Dua minggu kemudian, Nadine menghubungiku.
Dia meminta bertemu.
Awalnya aku menolak, tetapi rasa penasaran akhirnya menang. Kami bertemu di sebuah kafe kecil yang sepi.
Nadine datang tanpa riasan. Matanya sembap.
“Saya sudah periksa,” katanya setelah duduk.
Aku menunggu.
“Saya tidak hamil.”
Aku mengembuskan napas perlahan.
“Tes pertama saya salah. Dokter bilang keterlambatan itu karena stres dan gangguan hormon.”
“Lalu kenapa kamu ingin menemuiku?”
Nadine mengeluarkan sebuah amplop putih.
“Saya mengundurkan diri dari rumah sakit.”
“Itu urusanmu.”
“Saya juga sudah memutuskan hubungan dengan Dokter Dimas.”
Aku menatapnya datar. “Kamu berharap aku berterima kasih?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Nadine mendorong amplop itu ke arahku.
“Ini salinan laporan audit internal rumah sakit.”
Aku tidak menyentuhnya.
“Apa hubungannya denganku?”
“Dokter Dimas sedang diperiksa.”
Darahku terasa dingin.
Nadine menjelaskan bahwa selama hampir setahun, Dimas terlibat dalam manipulasi pengadaan alat medis. Dia menerima sejumlah uang dari pemasok tertentu untuk memengaruhi keputusan pembelian rumah sakit.
Perselingkuhan mereka bermula karena Nadine mengetahui transaksi itu. Awalnya Dimas mendekatinya untuk memastikan dia diam. Hubungan profesional itu kemudian berubah menjadi hubungan terlarang.
“Saya tahu saya bersalah,” ujar Nadine. “Tapi saya juga tahu kalau saya terus diam, akan ada lebih banyak orang yang dirugikan.”
Aku membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat catatan transfer, rekaman percakapan, dan salinan dokumen pengadaan.
“Kenapa kamu memberikan ini kepadaku?”
“Karena ada satu rekening atas nama Ibu.”
Aku langsung membalik halaman.
Benar.
Namaku tercantum sebagai penerima dana sebesar ratusan juta rupiah.
“Aku tidak pernah menerima uang ini.”
“Saya tahu. Dokter Dimas menggunakan salinan identitas Ibu untuk membuka rekening digital dan memindahkan dana.”
Aku merasa mual.
Jadi pengkhianatan Dimas bukan hanya tentang perempuan lain.
Dia juga telah menyeret namaku ke dalam kejahatan yang tidak kuketahui.
Malam itu juga, aku menemui pengacara.
Seminggu kemudian, pemeriksaan resmi dimulai. Dimas sempat mendatangiku dengan wajah panik. Untuk pertama kalinya, laki-laki itu tidak datang membawa bunga atau permintaan maaf.
Dia datang membawa ancaman.
“Kalau kamu menyerahkan dokumen itu, aku bisa kehilangan izin praktik.”
“Aku tahu.”
“Aku bisa dipenjara.”
“Aku juga tahu.”
“Reva, aku suamimu.”
Aku menatapnya lama.
“Tidak. Kamu hanya laki-laki yang pernah kunikahi.”
Dimas mencoba menggenggam tanganku, tetapi aku menepisnya.
“Aku melakukan semua ini untuk keluarga kita,” katanya putus asa. “Uang itu untuk membeli rumah yang lebih besar. Untuk masa depan anak-anak.”
“Jangan gunakan anak-anak sebagai alasan atas keserakahanmu.”
“Kamu tidak mengerti tekananku.”
“Aku mengerti. Kamu hanya tidak pernah merasa cukup.”
Beberapa bulan kemudian, perceraian kami resmi diputuskan.
Dimas juga resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap dan pemalsuan identitas. Izin praktiknya dibekukan selama proses hukum berlangsung.
Banyak orang bertanya apakah aku menyesal melaporkan ayah dari anak-anakku sendiri.
Jawabanku selalu sama.
Aku tidak melaporkan seorang ayah.
Aku menghentikan seorang laki-laki yang menggunakan keluarganya sebagai tameng.
Setahun berlalu.
Aku kembali bekerja di laboratorium. Hari-hariku sibuk, tetapi untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku merasa hidup. Arka dan Aruna tumbuh sehat, aktif, dan selalu berebut memelukku setiap kali aku pulang.
Pada suatu sore, aku menerima surat dari Dimas.
Dia menulis dari rumah tahanan.
Surat itu panjang, dipenuhi permintaan maaf dan penyesalan. Di bagian akhir, ada satu kalimat yang membuatku terdiam.
“Aku baru menyadari bahwa selama ini aku takut kehilanganmu, tetapi tidak pernah benar-benar belajar menghargaimu.”
Aku melipat surat itu kembali.
Aku tidak membalasnya.
Bukan karena aku masih membenci Dimas, melainkan karena aku sudah berhenti membutuhkan penjelasan darinya.
Malam itu, aku duduk di balkon sambil memandangi kedua anakku bermain dengan balok warna-warni. Aruna tertawa saat bangunannya roboh, sementara Arka sibuk membangunnya kembali.
Melihat mereka, aku menyadari bahwa hidup juga bekerja dengan cara yang sama.
Ada sesuatu yang harus roboh agar kita tahu bagian mana yang selama ini rapuh.
Dan ada sesuatu yang harus dibangun ulang, bukan untuk kembali seperti semula, melainkan agar menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Aku pernah mengira kehancuran rumah tanggaku adalah akhir dari segalanya.
Ternyata, itu adalah awal ketika aku akhirnya kembali menemukan diriku sendiri.
