“Kamu mau cilok ini? Hah? Makan nih, sekalian sama plastiknya!”

Malam itu, setelah Mas Faiz tertidur sambil mendengkur keras, aku duduk di lantai dapur dengan ponsel di tangan dan Rara terlelap di pangkuanku. Lampu dapur berkedip-kedip seperti hendak mati. Suara kipas angin tua berderit pelan, sementara dari kamar terdengar bunyi televisi yang sengaja dibiarkan menyala.

Aku membaca setiap syarat pendaftaran berulang kali.

Usia memenuhi. Ijazah sesuai. Program studi dibutuhkan. Nilai akademikku bahkan jauh di atas batas minimal.

Masalahnya hanya satu.

Biaya.

Aku harus mencetak dokumen, membuat pasfoto baru, mengurus legalisasi beberapa berkas, membeli kuota internet, dan pergi ke kota untuk mengikuti tahapan seleksi jika lolos administrasi. Jumlahnya mungkin tidak besar bagi orang lain, tetapi bagiku uang seratus ribu rupiah terasa seperti tembok setinggi langit.

Aku menoleh ke arah Rara. Pipinya menempel di pahaku. Anak itu tidur tanpa makan malam karena nasi yang tersisa hanya cukup untuk Mas Faiz. Aku hanya memberinya air gula dari sisa gula di dasar toples.

Tiba-tiba aku merasa malu.

Bukan karena miskin.

Aku malu karena selama ini membiarkan anakku tumbuh dengan ketakutan.

Keesokan paginya, aku bangun sebelum azan Subuh. Aku memasak air, menyapu lantai, mencuci pakaian, lalu membuka laci paling bawah lemari kayu. Di bawah tumpukan kain lap, tersimpan map biru berisi ijazah, transkrip nilai, sertifikat penghargaan, dan surat pengalaman kerja dari biro arsitek tempatku bekerja dulu.

Jari-jariku bergetar saat menyentuh nama lengkapku yang tercetak di lembar ijazah.

Indah Prameswari.

Lulusan terbaik Fakultas Teknik.

Aku hampir lupa bahwa perempuan itu pernah ada.

Dulu aku berdiri di depan layar besar, mempresentasikan rancangan gedung di hadapan direktur perusahaan. Aku pernah mengatur tim, berdebat dengan kontraktor, dan pulang membawa gaji yang bahkan lebih besar daripada penghasilan Mas Faiz sekarang.

Semua itu berhenti setelah aku menikah.

Mas Faiz mengatakan keluarga kami tidak akan utuh jika aku terlalu sibuk bekerja. Dia berjanji akan mencukupi semua kebutuhan. Dia bersumpah aku tidak akan kekurangan apa pun.

Ternyata yang dia maksud dengan cukup adalah sekadar tetap hidup.

Aku memasukkan map itu ke dalam tas belanja tua dan menyelipkannya di bawah pakaian Rara.

Pagi itu Bu Narti datang bersama dua tas besar. Belum sempat aku menyambut, dia sudah mengernyit melihat ruang tamu.

“Ya ampun, sempit sekali. Faiz, kamu tinggal di tempat seperti ini?”

Mas Faiz tertawa kaku. “Sementara saja, Bu. Nanti kalau proyekku cair, Faiz pindah.”

Aku tahu tidak ada proyek besar. Mas Faiz hanya bekerja sebagai staf administrasi di sebuah toko bahan bangunan. Tetapi di depan ibunya, dia selalu menggambarkan dirinya sebagai orang penting.

Bu Narti menatapku dari ujung jilbab sampai kaki.

“Kamu makin kurus. Jangan bilang uang belanja dari Faiz kamu pakai untuk diet.”

Aku menahan napas.

“Indah memang susah makan, Bu,” jawab Mas Faiz cepat. “Kadang sudah disediakan, dia sendiri yang nggak mau.”

Aku menatap suamiku. Dia tidak berkedip sedikit pun.

Hari itu aku memasak ayam goreng dan rendang dari daging yang kubeli dengan berutang di warung Mak Das. Bu Narti makan dengan lahap sambil terus mengkritik.

“Dagingnya kurang empuk.”

“Bumbunya kurang meresap.”

“Nasinya terlalu lembek.”

Rara duduk di sudut meja dengan piring kecil berisi kuah rendang. Ketika tangannya hendak mengambil sepotong daging, Bu Narti menepuk tangannya.

“Jangan rakus. Itu untuk orang dewasa.”

Rara menarik tangannya cepat. Matanya mulai berkaca-kaca.

Aku langsung mengambil sepotong daging dan meletakkannya ke piring Rara.

“Makan, Sayang.”

Bu Narti mendengus. “Anak perempuan jangan terlalu dimanja. Nanti besar jadi nggak tahu diri seperti ibunya.”

Sendok di tanganku berhenti.

Mas Faiz menatapku tajam, memberi peringatan agar aku diam.

Aku menunduk, tetapi bukan karena takut. Aku sedang menghafal rasa sakit itu agar tidak pernah berubah pikiran.

Malamnya, setelah semua tidur, aku keluar lewat pintu belakang. Aku berjalan hampir dua kilometer menuju rumah Siska, teman kuliahku yang tinggal di kecamatan sebelah.

Siska membuka pintu dengan wajah terkejut.

“Indah?”

Aku berdiri di hadapannya dengan sandal tipis dan tas belanja di pundak.

“Aku butuh bantuan.”

Siska memelukku tanpa bertanya. Di ruang tamunya, aku menceritakan semuanya. Tentang uang belanja yang selalu kurang, makanan yang dibatasi, penghinaan, utang warung, dan rencanaku mengikuti seleksi.

Siska menangis sambil menggenggam tanganku.

“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”

“Aku malu.”

“Kamu korban, Ndah. Bukan orang yang harus malu.”

Dia membuka laptop, membantuku mengisi formulir, memindai dokumen, dan mengunggah semua berkas. Ketika tiba pada bagian pembayaran administrasi dokumen, aku menunduk.

“Aku belum punya uang.”

Siska langsung meraih dompet.

“Nggak usah.”

“Anggap saja pinjaman.”

“Aku nggak tahu kapan bisa mengembalikan.”

“Kalau kamu lolos, kembalikan. Kalau nggak, anggap aku membayar utang karena dulu kamu yang membantu skripsiku.”

Malam itu pendaftaranku selesai.

Sebelum pulang, Siska memberiku ponsel bekas yang masih bagus.

“Pakai ini. Nomormu yang lama mungkin diperiksa suamimu.”

Aku menyembunyikan ponsel itu di dalam kaleng biskuit kosong di belakang lemari dapur.

Hari-hari berikutnya terasa seperti menjalani dua kehidupan.

Di depan Mas Faiz dan Bu Narti, aku tetap mencuci, memasak, dan menundukkan kepala. Di belakang mereka, aku belajar setiap malam. Aku membaca materi tes dari ponsel dengan cahaya layar paling redup. Aku mencatat rumus pada kertas bekas bungkus semen yang kudapat dari Mak Das.

Kadang aku hanya tidur dua jam.

Kadang aku belajar sambil menahan lapar.

Rara sering terbangun dan duduk di sampingku.

“Ibu belajar apa?”

“Ibu belajar supaya nanti kita bisa punya rumah yang pintunya nggak pernah dibanting.”

Rara tersenyum kecil. “Di rumah itu boleh makan telur satu?”

Aku membekap mulut agar tangisku tidak terdengar.

“Boleh. Rara boleh makan satu telur utuh.”

Tiga minggu kemudian, pengumuman seleksi administrasi keluar.

Aku lolos.

Tahap berikutnya adalah ujian kompetensi di kota kabupaten. Aku harus pergi pagi-pagi sekali dan baru pulang sore.

Aku mencari alasan.

Kebetulan Bu Narti meminta obat rematik dari rumah saudaranya di kota. Aku menawarkan diri mengambilnya.

Mas Faiz curiga.

“Kenapa rajin sekali?”

“Biar Ibu nggak perlu menunggu.”

Bu Narti justru senang. “Nah, begitu jadi menantu. Ada gunanya sedikit.”

Pada hari ujian, aku memakai blus lama yang dulu kupakai bekerja. Ukurannya kini terlalu longgar. Siska menjemputku di ujung gang dengan motor.

Aku meninggalkan Rara bersama Mak Das. Kepada Mas Faiz, aku mengatakan Rara bermain di rumah tetangga.

Di gedung ujian, tanganku sempat dingin. Ratusan peserta duduk berjejer di depan komputer. Banyak yang masih muda, berpakaian rapi, dan tampak percaya diri.

Aku hampir mundur.

Lalu aku teringat plastik cilok yang menghantam wajahku.

Aku teringat Rara bertanya apakah dia boleh makan satu telur utuh.

Aku menekan tombol mulai.

Nilai sementara muncul sesaat setelah ujian selesai.

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Namaku berada di peringkat kedua.

Siska memelukku sambil menangis.

“Kamu masih sehebat dulu.”

Aku ingin percaya, tetapi perjalanan belum selesai. Masih ada tahap wawancara dan uji keterampilan.

Ketika pulang, Mas Faiz sudah menungguku di ruang tamu.

“Dari mana?”

“Dari kota, ambil obat Ibu.”

“Mana obatnya?”

Aku menyerahkan kantong obat yang memang kubeli setelah ujian.

Mas Faiz mengamati wajahku lama.

“Kamu pakai baju kerja kenapa?”

“Baju lain belum kering.”

Dia mendekat, lalu mencium aroma parfum ringan di bajuku. Parfum itu milik Siska yang tidak sengaja menempel saat kami berpelukan.

Tanpa peringatan, Mas Faiz merampas tasku dan membongkar isinya.

Jantungku berdegup keras.

Untung kartu peserta ujian telah kusimpan di rumah Siska.

Mas Faiz hanya menemukan dompet kosong dan obat.

“Awas kalau kamu bohong.”

Aku menatap matanya. “Aku nggak bohong soal pergi ke kota.”

Jawaban itu cukup benar untuk membuatku tetap tenang.

Sebulan kemudian, aku menjalani wawancara. Kali ini aku berdalih mengantar Mak Das ke rumah sakit. Mak Das ikut membantuku dan bersedia menutup rahasia.

“Dari dulu saya tahu suamimu nggak beres,” katanya. “Tapi saya kira kamu belum siap ditolong.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.

Ternyata begitu banyak orang melihat penderitaanku. Namun mereka menunggu aku sendiri membuka pintu.

Setelah tahap terakhir selesai, penantian terasa lebih menyiksa daripada ujian. Setiap hari aku memeriksa pengumuman. Setiap kali layar ponsel bergetar, dadaku ikut berdebar.

Namun sebelum hasil keluar, rahasiaku terbongkar.

Suatu malam, Mas Faiz menemukan ponsel bekas itu.

Dia sedang mencari uang receh di dapur ketika melihat kaleng biskuit di belakang lemari. Aku baru selesai memandikan Rara saat suara bentakannya mengguncang rumah.

“Indah!”

Aku berlari ke dapur.

Mas Faiz berdiri dengan ponsel di tangan. Layar menampilkan percakapanku dengan Siska.

Wajahnya merah padam.

“Kamu daftar kerja?”

Aku diam.

“Kamu berani bohong sama aku?”

“Kalau aku bilang jujur, apa Mas akan mengizinkan?”

Mas Faiz melempar ponsel itu ke lantai. Layarnya pecah.

“Perempuan nggak tahu diri! Aku suruh kamu di rumah demi keluarga!”

“Demi keluarga atau supaya aku nggak punya uang untuk pergi?”

Tamparannya mendarat di pipiku.

Rara menjerit.

Bu Narti keluar dari kamar sambil mengomel. “Ada apa lagi?”

“Dia diam-diam daftar pegawai negeri, Bu!”

Bu Narti menatapku seolah aku melakukan kejahatan.

“Kamu mau menyaingi suamimu? Mau pamer gaji?”

“Aku mau menghidupi anakku.”

Mas Faiz mencengkeram lenganku.

“Kamu nggak akan pergi ke mana-mana. Besok semua dokumenmu aku bakar.”

Untuk pertama kalinya, aku tidak menunduk.

“Coba saja.”

Mas Faiz terdiam sesaat, mungkin tidak mengenali perempuan di depannya.

Aku menarik Rara ke belakang tubuhku.

“Dokumen aslinya sudah tidak ada di sini. Semua bukti perlakuan Mas juga sudah disimpan Siska.”

Wajah Mas Faiz berubah.

“Bukti apa?”

“Rekaman suara. Foto lebam. Catatan utang. Pesan saat Mas melarangku makan. Semuanya.”

Itu tidak sepenuhnya benar. Aku memang memiliki beberapa rekaman, tetapi tidak sebanyak yang kukatakan. Namun gertakanku berhasil.

Mas Faiz melepaskan tanganku.

Bu Narti mulai panik. “Kamu mau lapor polisi?”

“Aku mau menyelamatkan diriku dan Rara.”

Malam itu aku mengunci diri di kamar bersama Rara. Aku tidak tidur. Aku duduk bersandar di pintu, memegang gagang sapu, menunggu pagi.

Pukul lima, terdengar ketukan dari luar.

Bukan Mas Faiz.

Suara Mak Das memanggil namaku.

Aku membuka pintu perlahan. Di belakang Mak Das berdiri Siska dan seorang perempuan berkerudung hitam yang memperkenalkan diri sebagai pendamping dari layanan perlindungan perempuan dan anak.

Mas Faiz keluar dari kamar dengan wajah marah.

“Siapa yang panggil mereka?”

“Aku,” jawab Mak Das. “Saya dengar teriakan semalam.”

Mas Faiz menunjuk mereka. “Ini urusan rumah tangga saya!”

Perempuan itu menjawab tenang, “Kekerasan bukan urusan pribadi.”

Untuk pertama kalinya, Mas Faiz tidak berhasil membuat semua orang takut.

Aku membawa satu tas pakaian dan menggandeng Rara keluar dari kontrakan. Bu Narti berteriak bahwa aku istri durhaka. Mas Faiz mengancam akan mengambil Rara.

Aku terus berjalan.

Di ujung gang, ponsel Siska berbunyi. Dia melihat layar, lalu berhenti.

“Ndah.”

Aku menoleh.

Siska menyerahkan ponselnya. Di sana ada pengumuman resmi hasil akhir seleksi.

Namaku tercetak di urutan pertama.

Aku membaca berkali-kali sampai huruf-huruf itu kabur oleh air mata.

Rara menarik ujung bajuku.

“Ibu kenapa menangis?”

Aku berjongkok dan memeluknya.

“Karena sebentar lagi Rara bisa makan satu telur utuh.”

Enam bulan kemudian, aku resmi bekerja di kantor pemerintah daerah. Aku menyewa rumah kecil yang memiliki dua kamar dan jendela lebar. Tidak mewah, tetapi cahaya matahari masuk setiap pagi.

Proses perceraian berjalan panjang. Mas Faiz berulang kali menolak hadir. Dia menuduhku meninggalkan rumah tanpa alasan. Namun bukti kekerasan dan kesaksian tetangga membuat pengadilan mengabulkan gugatanku sekaligus memberikan hak asuh Rara kepadaku.

Pada hari putusan dibacakan, Mas Faiz menghadangku di luar ruang sidang.

Tubuhnya terlihat lebih kurus. Bajunya kusut. Belakangan aku mendengar dia kehilangan pekerjaan karena sering tidak masuk dan membuat keributan di kantor.

“Indah,” katanya lirih. “Kita bisa mulai lagi.”

Aku memandang laki-laki yang dulu kuanggap cinta pertama.

“Aku sudah mulai lagi, Mas. Tanpa kamu.”

“Aku khilaf.”

“Khilaf itu sekali. Yang Mas lakukan bertahun-tahun.”

Dia menunduk.

“Ibu sakit. Aku nggak punya siapa-siapa.”

Sesaat, hatiku hampir melunak. Lalu pintu ruang sidang terbuka dan Rara berlari menghampiriku sambil membawa gambar rumah.

Di gambar itu ada dua orang berdiri di depan rumah kecil. Aku dan Rara.

Tidak ada Mas Faiz.

Aku menggenggam tangan anakku dan berjalan pergi.

Setahun setelah kejadian cilok itu, aku kembali melewati minimarket yang sama. Seorang penjual cilok berdiri di pinggir jalan. Aroma bumbu kacang memenuhi udara.

Aku berhenti.

Rara menatapku. “Ibu mau cilok?”

Aku tersenyum.

“Mau.”

Aku membeli dua porsi. Satu untukku, satu untuk Rara. Kami duduk di bangku beton dekat minimarket dan makan perlahan.

Rara mengangkat tusuk ciloknya.

“Ibu, sekarang kita kaya?”

Aku tertawa kecil. “Belum.”

“Tapi Rara bisa makan cilok sendiri.”

“Iya.”

“Berarti kita kaya.”

Aku menatap wajahnya yang cerah. Mungkin benar. Kekayaan bukan hanya tentang berapa banyak uang yang dimiliki. Kadang kekayaan adalah bisa makan tanpa takut, tidur tanpa mendengar bentakan, dan pulang ke rumah tanpa merasa terancam.

Ketika hendak pergi, penjual cilok menyerahkan uang kembalian.

Aku menatap lembar lima ribu rupiah di tanganku.

Dulu, uang sebesar itu digunakan Mas Faiz untuk merendahkanku.

Hari ini, uang yang sama menjadi pengingat bahwa harga kebebasan memang mahal, tetapi keberanian untuk memulainya bisa datang dari sesuatu yang sangat kecil.

Aku memasukkan uang itu ke dalam dompet, lalu menggandeng tangan Rara.

“Ayo pulang, Sayang.”

Rara tersenyum lebar.

“Ke rumah kita?”

Aku mengangguk.

“Ke rumah kita.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang