“Nona Hanum, sudah siap? Mayor Galla sudah memanaskan mesin jip sejak tadi.”

Saat aku menggenggam kembali liontin bunga lili milik almarhum ibuku di dalam jip yang terparkir di bawah hujan deras, kupikir semua penderitaanku akhirnya selesai. Selama tiga tahun aku menyamar menjadi staf dapur di markas militer, memasak untuk ratusan prajurit, mencuci panci hingga larut malam, dan menyembunyikan identitasku sebagai putri tunggal Jenderal Baskoro hanya karena ingin dicintai sebagai Hanum, bukan sebagai anak seorang jenderal. Namun, ternyata pengkhianatan Arga hanyalah pintu pertama dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Aku terus menatap foto-foto yang diberikan Ayah. Di antara dokumen itu terdapat salinan mutasi rekening, kontrak pengadaan logistik, hingga laporan investigasi internal yang belum pernah kulihat sebelumnya. Semua transaksi mengarah pada satu nama yang terus berulang.

Bram Santoso.

Ayah Sarah.

Tanganku langsung mengepal.

“Jadi semua ini memang sudah direncanakan?” tanyaku lirih.

Mayor Galla mengangguk pelan.

“Arga bukan pemain utama. Dia hanya pion.”

Aku menoleh cepat.

“Maksudmu?”

“Perusahaan Bram sudah bertahun-tahun mencoba menguasai proyek logistik TNI. Mereka membutuhkan seorang perwira muda yang mudah dipengaruhi dari dalam. Arga memenuhi semua syarat itu.”

Dadaku terasa sesak.

Selama ini Arga mengkhianatiku bukan karena cinta yang berubah. Ia bahkan sudah lama dipilih sebagai alat.

Kami langsung menuju rumah dinas Ayah malam itu juga.

Begitu memasuki ruang kerja beliau, aroma kopi hitam memenuhi ruangan. Ayah berdiri di depan jendela besar sambil memandangi hujan.

“Ayah…”

Beliau tidak langsung menoleh.

“Kamu akhirnya melihat semuanya.”

Aku mengangguk pelan.

“Kenapa Ayah membiarkan aku bertahan selama tiga tahun?”

Jenderal Baskoro menghela napas panjang.

“Karena kalau Ayah memberitahumu sejak awal, kamu tidak akan pernah percaya. Cinta sering membuat seseorang buta.”

Aku menunduk.

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada semua hinaan Arga.

Ayah akhirnya membalikkan badan.

“Hanum, penyamaranmu memang awalnya untuk melatih mentalmu. Tapi setelah intelijen menemukan adanya permainan proyek logistik, keberadaanmu di dapur justru menjadi keuntungan. Kamu mendengar banyak hal yang tidak pernah terdengar oleh para perwira.”

Aku mengingat kembali begitu banyak percakapan yang dulu kuabaikan. Candaan tentang proyek. Bisik-bisik soal bonus. Nama Bram yang beberapa kali disebut.

Ternyata semuanya sudah ada di depan mataku.

Belum sempat aku berkata apa-apa, telepon di meja Ayah berdering keras.

Wajah beliau langsung berubah.

“Apa?”

Ruangan mendadak sunyi.

“Aku mengerti. Jangan biarkan mereka lolos.”

Telepon ditutup.

“Sarah menghilang.”

Jantungku langsung berdegup.

“Bagaimana mungkin?”

“Dia kabur satu jam setelah kita mengambil kalungmu.”

Mayor Galla langsung berdiri.

“Saya berangkat sekarang.”

“Aku ikut.”

“Tidak.”

“Ayah!”

“Kali ini terlalu berbahaya.”

Aku menatap beliau dengan keras kepala.

“Semua ini bermula karena aku. Biarkan aku mengakhirinya.”

Beberapa detik berlalu sebelum Ayah akhirnya mengangguk.

“Tapi kamu tidak boleh jauh dari Galla.”

Perjalanan malam itu membawa kami keluar Bogor menuju sebuah gudang tua di kawasan industri.

Informasi intelijen menyebut Sarah menemui seseorang di sana.

Lampu gudang remang-remang.

Suasana begitu sunyi.

Saat tim bergerak mengepung bangunan itu, terdengar suara perempuan menangis.

“Itu Sarah.”

Kami masuk perlahan.

Sarah terduduk di lantai dengan kedua tangan terikat.

Aku terpaku.

“Bukan dia yang mengendalikan semuanya.”

Seorang pria tua berjas hitam keluar dari balik bayangan.

Bram Santoso.

Ia tersenyum tipis.

“Selamat malam, Putri Jenderal.”

Aku menatapnya tajam.

“Semua ini ulah Anda.”

“Bukan. Semua ini hanyalah bisnis.”

Ia tertawa pelan.

“Arga terlalu serakah. Sarah terlalu bodoh. Tapi kalian semua terlalu mudah ditebak.”

Mayor Galla mengangkat pistol.

“Jangan bergerak.”

Namun Bram sama sekali tidak panik.

“Mayor, Anda terlambat.”

Tiba-tiba terdengar ledakan kecil di bagian belakang gudang.

Asap putih memenuhi ruangan.

Tim pengawal langsung bergerak.

Dalam kekacauan itu, Bram menghilang.

Saat asap mulai menipis, hanya Sarah yang masih terduduk sambil menangis histeris.

“Ayahku meninggalkanku…”

Ia menangis sejadi-jadinya.

“Dia bahkan tidak mencoba menyelamatkanku.”

Aku memandang perempuan yang dulu begitu angkuh itu.

Kini ia hanyalah anak perempuan yang baru sadar bahwa dirinya juga hanya diperalat.

Seminggu kemudian, penyelidikan berkembang sangat cepat.

Puluhan kontrak fiktif ditemukan.

Beberapa pejabat sipil ikut diperiksa.

Nama Bram menjadi buronan nasional.

Sedangkan Arga resmi diberhentikan tidak hormat.

Hari persidangan disiplin militer tiba.

Aku hadir sebagai saksi.

Arga dibawa masuk dengan wajah jauh lebih kurus.

Begitu melihatku, ia langsung menundukkan kepala.

Majelis hakim mempersilahkanku memberikan keterangan.

Aku menceritakan semuanya.

Tentang tiga tahun.

Tentang dapur.

Tentang pengorbanan.

Tentang kalung ibuku.

Tentang uang yang mengubah manusia.

Ruangan menjadi hening.

Setelah sidang selesai, Arga meminta waktu berbicara empat mata.

Aku mengangguk.

Kami berdiri di lorong yang dijaga dua provost.

“Aku tidak meminta dimaafkan.”

Aku diam.

“Aku hanya ingin mengatakan satu hal.”

Matanya berkaca-kaca.

“Aku benar-benar mencintaimu pada awalnya.”

Aku menatapnya lama.

“Mungkin.”

Ia terlihat sedikit lega.

“Tapi setelah itu, kamu lebih mencintai ambisimu.”

Air matanya jatuh.

“Aku tahu.”

“Kamu kehilangan bukan karena Ayahku.”

Ia mengangkat wajah.

“Kamu kehilangan karena setiap kali dihadapkan pada pilihan, kamu selalu memilih keuntungan daripada orang yang mencintaimu.”

Tidak ada lagi yang perlu kukatakan.

Aku pergi tanpa menoleh.

Sebulan berlalu.

Kehidupanku berubah.

Aku kembali tinggal di rumah dinas.

Tetapi ada satu kebiasaan yang tidak pernah hilang.

Setiap Sabtu pagi aku masih datang ke dapur umum markas.

Masih mengenakan celemek hijau yang sama.

Masih memasak nasi goreng untuk para prajurit.

Bedanya, kini semua orang tahu siapa aku.

Seorang kopral muda pernah bertanya sambil tersenyum.

“Nona Hanum, kenapa masih mau masak? Bukankah sekarang semua orang tahu Anda putri Jenderal?”

Aku tersenyum sambil membolak-balik wajan.

“Karena pekerjaanku tidak pernah membuatku malu.”

Mereka tertawa.

Namun aku benar-benar serius.

Suatu pagi, saat sedang mengaduk kuah soto, Mayor Galla datang membawa dua gelas kopi.

“Ayahmu mencari kamu.”

“Ada masalah?”

“Bukan.”

Ia menyodorkan secarik surat.

Aku membacanya perlahan.

Surat itu berasal dari Kementerian Pertahanan.

Aku diminta memimpin program peningkatan kesejahteraan dapur logistik di seluruh satuan militer.

Aku terdiam.

“Ayah mengusulkan namamu.”

Mataku membulat.

“Ayah?”

“Beliau bilang hanya orang yang pernah benar-benar bekerja di dapur yang tahu bagaimana memperbaikinya.”

Dadaku menghangat.

Untuk pertama kalinya, aku merasa tiga tahun penyamaranku ternyata tidak sia-sia.

Beberapa hari kemudian, Ayah menghampiriku di taman rumah.

“Ibumu pasti bangga.”

Aku menggenggam liontin bunga lili di leherku.

“Ayah… apakah Ibu dulu juga sekuat ini?”

Beliau tersenyum kecil.

“Jauh lebih kuat.”

Aku ikut tersenyum.

Di kejauhan, Mayor Galla sedang berbicara dengan beberapa prajurit.

Entah kenapa, setiap kali melihatnya, rasa aman selalu muncul.

“Ayah…”

“Hm?”

“Galla memang selalu sekaku itu?”

Ayah tertawa pelan.

“Itu karena dia sudah terlalu lama menjadi pengawalmu.”

Aku mengernyit.

“Maksudnya?”

“Sejak kamu masuk akademi kuliner lima tahun lalu, dialah yang diam-diam memastikan kamu selalu aman.”

Aku langsung menoleh ke arah Galla.

Pria itu rupanya mendengar pembicaraan kami.

Ia hanya memberi hormat singkat sebelum kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku baru sadar.

Setiap kali aku pulang malam.

Setiap kali aku sakit.

Setiap kali ada orang asing mendekat.

Galla selalu muncul.

Diam-diam.

Tanpa pernah meminta ucapan terima kasih.

Beberapa minggu kemudian, saat matahari terbenam di halaman markas, aku berdiri sendirian memandangi para prajurit yang sedang berlatih.

Galla menghampiri.

“Programmu dimulai minggu depan.”

Aku mengangguk.

“Gugup?”

“Sedikit.”

Ia menyerahkan sebuah kotak kecil.

“Ini titipan Jenderal.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat celemek hijau lama yang selama ini kupakai di dapur.

Sudah dicuci.

Disetrika rapi.

Di bagian dadanya kini tersulam satu kalimat.

Tidak ada pekerjaan yang lebih rendah daripada hati yang kehilangan kejujuran.

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

Semua luka yang pernah kutanggung tidak benar-benar menghilang.

Tetapi luka itu telah mengajarkanku sesuatu yang jauh lebih berharga.

Status bisa dipalsukan.

Seragam bisa dilepas.

Pangkat bisa dicabut.

Harta bisa dirampas.

Namun karakter seseorang selalu muncul saat tidak ada lagi keuntungan yang bisa ia peroleh.

Dan pada akhirnya, bukan aku yang kehilangan Arga.

Melainkan Arga yang kehilangan satu-satunya orang yang pernah mencintainya tanpa memandang pangkat, jabatan, ataupun kekayaan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang