Status WhatsApp itu baru tayang beberapa menit ketika ponselku mulai bergetar tanpa henti.
Satu per satu notifikasi bermunculan.
Teman-teman lama mengirim emoji hati, ucapan selamat, bahkan ada yang bercanda karena akhirnya aku menikah diam-diam. Namun satu nama membuat senyumku perlahan memudar.
Disha.
Ia tidak hanya melihat statusku. Ia langsung mengirim pesan.

“Kak, itu cincin baru?”
Aku membalas singkat.
“Iya.”
Tidak sampai lima detik, balon chat berikutnya muncul.
“Bagus banget. Mahal ya?”
Aku tersenyum tipis.
“Biasa saja.”
Aku sengaja tidak menjelaskan apa pun. Entah mengapa, setelah semua yang terjadi, aku tidak lagi memiliki keinginan untuk berbagi cerita dengannya.
Mobil yang dikendarai Pak Sabda melaju tenang.
“Kamu sengaja ya?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
“Sengaja apa?”
“Pamer.”
Aku menoleh sambil tertawa kecil.
“Katanya cincin ini kompensasi. Masa kompensasi disimpan di kotak?”
Pak Sabda menggeleng pelan.
“Kamu ternyata cukup usil.”
“Belajar dari pengalaman.”
Sesampainya di rumah, suasana terasa hangat. Mama Rara sudah menyiapkan buah dan teh hangat di ruang keluarga.
“Wah, cocok sekali cincin kalian,” pujinya.
Aku tersenyum tulus.
“Terima kasih, Ma.”
Malam itu untuk pertama kalinya aku merasa rumah besar itu tidak lagi terasa asing.
Mama Rara memperlakukanku seperti anak kandung.
Pak Sabda memang masih dingin, tetapi setidaknya tidak lagi memasang wajah seolah terpaksa setiap kali berbicara denganku.
Aku mulai berpikir, mungkin hidupku memang sedang diberi kesempatan kedua.
Namun ternyata, kesempatan kedua selalu datang bersama ujian baru.
Keesokan paginya, saat sedang membantu Mama Rara menyiram tanaman, sebuah mobil putih berhenti tepat di depan rumah.
Seorang perempuan turun dengan langkah cepat.
Tinggi.
Cantik.
Rambut panjang bergelombang.
Kacamata hitam mahal menutupi sebagian wajahnya.
Begitu melihatnya, Mama Rara langsung menarik napas panjang.
“Vivian…”
Aku membeku.
Jadi inilah Vivian.
Perempuan yang selama ini hanya kudengar namanya.
Mantan tunangan Pak Sabda.
Vivian melepas kacamatanya.
Tatapannya langsung jatuh ke arahku.
“Jadi ini penggantiku?”
Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya membuat udara seolah berhenti.
Mama Rara segera berdiri.
“Vivian, kamu datang tanpa kabar.”
“Aku dengar Sabda menikah.”
Tatapannya tidak pernah lepas dariku.
“Aku cuma penasaran perempuan seperti apa yang bisa menggantikanku.”
Aku tersenyum sopan.
“Selamat pagi.”
Vivian tidak menjawab.
Ia malah melangkah masuk begitu saja.
Pak Sabda yang baru keluar dari rumah langsung menghentikan langkahnya ketika melihat Vivian.
“Kamu ngapain ke sini?”
“Aku cuma ingin mengucapkan selamat.”
Nada suaranya terdengar santai.
Tetapi matanya mengatakan hal yang berbeda.
Ia masih menyimpan sesuatu.
Entah penyesalan atau ambisi.
Mama Rara mengajak semua orang duduk.
Aku memilih diam.
Percakapan mereka dipenuhi masa lalu yang tidak kukenal.
Tentang proyek.
Tentang perusahaan.
Tentang rencana pernikahan yang batal.
Aku hanya menjadi pendengar.
Sampai Vivian tiba-tiba berkata,
“Sabda, ternyata seleramu berubah jauh.”
Ruangan langsung sunyi.
Aku tahu kalimat itu ditujukan kepadaku.
Pak Sabda meletakkan cangkirnya.
“Jaga ucapanmu.”
“Aku cuma jujur.”
Vivian tersenyum tipis.
“Dulu kamu bilang perempuan yang akan jadi istrimu harus selevel.”
Aku menundukkan kepala.
Benar.
Aku memang bukan siapa-siapa.
Namun sebelum rasa minder kembali menguasai pikiranku, suara Mama Rara terdengar tegas.
“Vivian.”
Perempuan itu menoleh.
“Kalau kamu datang hanya untuk merendahkan menantu Mama, lebih baik pulang.”
Wajah Vivian berubah.
“Menantu?”
“Iya.”
Mama Rara menggenggam tanganku.
“Katya sudah menjadi keluarga kami.”
Dadaku terasa hangat.
Tidak pernah ada yang membelaku secepat itu.
Vivian akhirnya berdiri.
“Sampai ketemu lagi.”
Sebelum keluar, ia sempat melihat cincin di jariku.
Ekspresinya berubah sesaat.
Aku tidak mengerti arti tatapan itu.
Baru setelah ia pergi, Pak Sabda mengembuskan napas panjang.
“Maaf.”
Aku menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Namun sejak hari itu, aku sadar satu hal.
Masalahku ternyata belum selesai.
Tiga hari kemudian, aku mendapat telepon dari nomor tak dikenal.
“Halo?”
“Katya?”
“Iya.”
“Aku Vivian.”
Aku terdiam.
“Ada yang ingin kubicarakan. Jangan bilang Sabda.”
Aku hampir menolak.
Tetapi rasa penasaran menang.
Kami bertemu di sebuah kafe.
Vivian datang seorang diri.
Tidak ada lagi senyum sinis seperti beberapa hari lalu.
Justru wajahnya tampak lelah.
“Aku mau minta maaf.”
Aku terkejut.
“Kamu pasti heran.”
Aku mengangguk.
Vivian mengeluarkan sebuah map cokelat.
“Sabda bukan orang yang bersalah.”
“Apa maksudmu?”
“Yang membatalkan pernikahan kami bukan dia.”
Aku mengernyit.
Vivian menatap ke luar jendela.
“Dulu aku memilih laki-laki lain yang lebih kaya.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Aku pikir uang bisa membeli kebahagiaan.”
“Ternyata?”
“Aku ditipu.”
Suasana menjadi sunyi.
“Perusahaanku bangkrut. Tunanganku kabur membawa semua aset.”
Tangannya gemetar.
“Aku kehilangan segalanya.”
Aku mulai memahami.
“Makanya kamu datang?”
“Aku cuma ingin memastikan Sabda benar-benar bahagia.”
Aku tersenyum tipis.
“Kalau begitu, kenapa kamu menghina aku?”
Vivian tertawa pahit.
“Karena aku iri.”
Jawaban yang sangat jujur.
“Aku iri melihat perempuan biasa seperti kamu mendapatkan laki-laki yang dulu tidak pernah benar-benar bisa kuhargai.”
Aku pulang dengan pikiran yang campur aduk.
Sesampainya di rumah, Pak Sabda duduk sendirian di teras.
“Kamu habis dari mana?”
Aku memutuskan jujur.
“Ketemu Vivian.”
Ia langsung berdiri.
“Dia ngapain?”
“Cuma ngobrol.”
Pak Sabda tampak kesal.
“Aku sudah bilang jangan berhubungan sama dia.”
Aku menghela napas.
“Dia minta maaf.”
Pak Sabda terdiam.
Lalu perlahan duduk kembali.
“Aku nggak benci Vivian.”
“Lalu?”
“Aku cuma nggak mau masa lalu terus mengganggu hidup kita.”
Untuk pertama kalinya, ia mengucapkan kata “kita”.
Entah mengapa, satu kata sederhana itu terdengar begitu berarti.
Hari-hari berikutnya berjalan lebih tenang.
Mama Rara benar-benar menepati janjinya.
Beliau mendaftarkanku kuliah.
Aku juga mengikuti kursus bahasa Inggris dan kelas etika bisnis.
Setiap sore aku belajar.
Pak Sabda sering pulang larut.
Namun suatu malam, saat aku masih belajar di ruang keluarga, ia duduk di depanku.
“Katy.”
“Iya?”
“Aku mau minta maaf.”
Aku menatapnya bingung.
“Selama ini aku menikahimu karena terpaksa.”
Aku mengangguk.
“Aku tahu.”
“Tapi sekarang…”
Ia berhenti cukup lama.
“…aku mulai merasa rumah ini beda kalau kamu nggak ada.”
Aku menahan napas.
Ia melanjutkan,
“Kamu bikin Mama lebih sering tertawa.”
“Kamu bikin rumah jadi hidup.”
“Kamu juga nggak pernah mengeluh.”
Aku tersenyum.
“Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.”
“Lalu?”
“Itu pengakuan.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
Pak Sabda mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Aku mengernyit.
“Bukannya aku sudah punya cincin?”
“Buka saja.”
Di dalamnya terdapat sepasang cincin sederhana dari emas putih.
Tanpa berlian.
Tanpa batu permata.
Hanya ada ukiran kecil di bagian dalam.
Aku membacanya pelan.
“Mulai dari nol.”
Aku menatapnya.
“Dulu cincin yang kubelikan itu memang kompensasi.”
“Tapi yang ini…”
Ia menarik napas panjang.
“…hadiah karena kamu memilih bertahan.”
Air mataku langsung jatuh.
“Pak…”
“Kalau kamu masih mau…”
Ia tersenyum canggung.
“…boleh nggak kita mulai pernikahan ini dari awal?”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya mengangguk sambil menangis.
Mama Rara yang ternyata mengintip dari balik dapur langsung ikut menangis.
“Ya ampun, akhirnya juga!”
Pak Sabda menutup wajahnya karena malu.
Aku tertawa di sela tangis.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia sendiri yang menggenggam tanganku.
Bukan karena keadaan.
Bukan karena sandiwara.
Melainkan karena pilihan.
Beberapa bulan kemudian aku resmi menjadi mahasiswi.
Aku juga mulai membantu mengelola salah satu unit usaha keluarga.
Mama Rara sering berkata bahwa kepercayaan diri bukan berasal dari mahalnya pakaian atau tingginya pendidikan, melainkan dari keberanian untuk terus bertumbuh.
Suatu sore, saat sedang membereskan ruang kerja, aku melihat foto lama Pak Sabda bersama Vivian.
Aku menatapnya beberapa saat.
Lalu kusimpan kembali ke dalam album.
Bukan untuk dilupakan.
Melainkan sebagai pengingat.
Bahwa setiap orang memiliki masa lalu.
Yang membedakan hanyalah apakah kita memilih hidup di dalamnya, atau melangkah menuju masa depan.
Malam itu aku kembali membuka status WhatsApp yang dulu sempat membuat Disha iri.
Foto cincin berlian itu masih ada.
Aku tersenyum, lalu menghapusnya.
Sebagai gantinya, aku mengunggah foto dua tangan yang saling menggenggam dengan cincin emas putih sederhana.
Caption-nya hanya satu kalimat.
“Kebahagiaan bukan tentang siapa yang datang dengan segala kesempurnaannya, melainkan tentang siapa yang memilih bertahan dan tumbuh bersama saat hidup belum sempurna.”
