Tubuhku langsung lemas saat melihat benda yang ada di dalam laci. Seketika aku terduduk di lantai.

Tubuhku lemas seketika saat melihat benda yang tergeletak di dalam laci. Sebuah test pack dengan dua garis merah berada di antara tumpukan pakaian Mbak Arni. Tanganku gemetar ketika mengambilnya. Dadaku seperti dihantam sesuatu yang berat hingga aku sulit bernapas.

“Mereka….”

Aku terduduk di lantai. Berbagai kejadian selama beberapa bulan terakhir mendadak berputar di kepalaku. Mas Rama yang sering pulang terlambat. Mbak Arni yang tiba-tiba membeli pakaian baru. Percakapan mereka yang selalu berhenti setiap kali aku masuk ke ruangan.

Semua hal yang dahulu kuanggap kebetulan kini terasa seperti potongan teka-teki yang akhirnya tersusun sempurna.

“Tasya.”

Mbak Arni berdiri di ambang pintu. Wajahnya mendadak pucat ketika melihat benda di tanganku.

Aku mengusap air mata, lalu perlahan bangkit.

“Apa ini, Mbak?”

Sebelum Mbak Arni sempat menjawab, langkah kaki terdengar dari luar kamar.

“Ada apa, Sayang?”

Mas Rama masuk dan langsung membeku saat melihat kami.

Aku menatapnya tajam.

“Oh, jadi kamu memanggil Mbak Arni dengan sebutan Sayang saat aku tidak ada, Mas?”

“Tidak, bukan begitu, Sya. Aku memanggil kamu. Aku tahu kamu ada di sini.”

“Pandai sekali kamu berbohong.”

Aku mengangkat test pack itu.

“Kalau memang hanya mencintaiku, lalu ini apa?”

Mas Rama menelan ludah. Tatapannya beralih kepada Mbak Arni.

Perempuan yang selama ini kuanggap sebagai kakak sendiri itu akhirnya menangis.

“Maafkan aku, Sya. Aku khilaf. Setelah Mas Aldi meninggal, aku merasa sendirian. Aku hanya ingin mendapat perlindungan dari seorang pria.”

“Dan pria itu harus suamiku?”

“Sya, dengarkan aku dulu,” kata Mas Rama sambil berusaha memegang tanganku.

Aku menepisnya.

“Jangan sentuh aku.”

“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa? Kalian tinggal satu rumah, diam-diam menjalin hubungan, dan sekarang Mbak Arni hamil. Bagian mana yang harus kupahami secara berbeda?”

Mas Rama mengusap wajahnya dengan kasar.

“Arni, bukankah selama ini aku selalu berhati-hati? Tidak mungkin kamu hamil.”

Mbak Arni menatapnya dengan mata merah.

“Ada satu kali kamu tidak melakukannya. Kamu sendiri yang bilang tidak akan terjadi apa-apa.”

Aku tertawa pahit.

“Oh, jadi kalian sudah melakukannya berkali-kali.”

“Tidak, Sya,” bantah Mas Rama cepat.

“Kalian baru saja mengaku di depanku, tapi masih menyangkal?”

Ruangan itu terasa semakin sempit. Udara seakan berhenti mengalir. Namun, di balik rasa sakit yang menghancurkan, tiba-tiba muncul ketenangan aneh di dalam diriku. Aku sadar, menangis tidak akan mengubah pengkhianatan mereka.

Aku menatap Mas Rama.

“Kamu akan bertanggung jawab?”

“Aku akan memenuhi semua kebutuhan Arni dan anaknya. Tapi aku tidak akan meninggalkanmu, Sya. Kamu adalah istriku.”

“Bagus.”

Mas Rama terlihat sedikit lega.

Namun, kalimat berikutnya membuat wajahnya kembali menegang.

“Kamu harus menikahi Mbak Arni setelah kita bercerai.”

“Kamu serius?” tanya Mbak Arni. Matanya berbinar, meski ia berusaha menyembunyikannya di balik air mata.

Aku memandangnya lama.

“Tentu saja. Aku tidak akan menghalangi kalian. Lagi pula, aku tidak suka mempertahankan sesuatu yang sudah memilih menjadi milik orang lain.”

Aku meninggalkan kamar.

“Tunggu, Sya. Aku tidak bisa hidup tanpamu,” kata Mas Rama sambil menarik lenganku.

Aku berbalik.

“Kalau kamu tidak bisa hidup tanpaku, seharusnya kamu tidak mengkhianatiku. Saat kamu memilih Mbak Arni, berarti kamu juga memilih kehilangan aku, Cira, dan semua yang kita bangun.”

Aku mendorongnya hingga terjatuh, lalu berjalan keluar dengan kepala tegak.

Malam itu juga, aku membawa Cira ke rumah Mama. Putriku yang baru berusia enam tahun tidak bertanya banyak. Ia hanya memeluk bonekanya di kursi belakang sambil sesekali menatapku melalui kaca spion.

“Bunda menangis?” tanyanya pelan.

“Tidak, Sayang. Mata Bunda hanya lelah.”

“Ayah ikut ke rumah Nenek?”

Aku menggenggam kemudi lebih erat.

“Tidak malam ini.”

Mama terkejut melihat kami datang membawa koper. Begitu aku menceritakan semuanya, wajahnya memerah karena marah.

“Sejak awal Mama tidak pernah yakin dengan Arni,” katanya. “Setelah Aldi meninggal, seharusnya dia pulang ke rumah orang tuanya. Bukan tinggal bersama kalian.”

“Aku yang mengajaknya, Ma. Aku kasihan melihat dia sendirian.”

“Kebaikan yang tidak disertai batas kadang justru melukai orang yang memberikannya.”

Aku terdiam. Kalimat Mama terasa seperti teguran sekaligus pelukan.

Keesokan paginya, Mas Rama datang. Ia berdiri di depan pagar sambil membawa bunga dan makanan kesukaanku.

“Sya, tolong buka pintunya. Kita selesaikan baik-baik.”

Mama hendak mengusirnya, tetapi aku menghentikan beliau.

Aku keluar dan berdiri di balik pagar.

“Kamu mau apa?”

“Aku sudah menyuruh Arni pergi.”

“Lalu?”

“Aku memilih kamu dan Cira.”

Aku tertawa pendek.

“Lucu sekali. Kemarin kamu memilihnya saat aku tidak tahu. Hari ini kamu memilihku setelah ketahuan.”

“Aku melakukan kesalahan, Sya. Semua orang bisa khilaf.”

“Khilaf itu terjadi sekali, Mas. Kalian melakukannya berkali-kali, menyembunyikannya berbulan-bulan, lalu tidur nyenyak di bawah atap yang kubayar.”

Wajah Mas Rama berubah.

“Jangan bawa masalah uang ke dalam urusan rumah tangga.”

“Kenapa tidak? Rumah itu kubeli dari hasil kerja kerasku sebelum kita menikah. Mobil yang kamu pakai juga milik perusahaan ayahku. Bahkan bisnis restoran yang selama ini kamu banggakan berdiri dengan modal dari keluargaku.”

Ia terdiam.

Aku melanjutkan, “Mulai hari ini, semua fasilitas itu berhenti.”

“Kamu tidak bisa melakukan itu.”

“Aku bisa. Dokumen kepemilikannya atas namaku.”

Mas Rama menggenggam pagar.

“Tasya, kamu sengaja ingin menghancurkanku?”

“Tidak. Aku hanya mengambil kembali apa yang menjadi milikku. Setelah itu, kamu bebas membangun hidup bersama perempuan pilihanmu.”

Hari itu, pengacaraku mengirim surat gugatan cerai. Aku juga mencabut akses Mas Rama dari rekening perusahaan dan membatalkan kewenangannya sebagai direktur operasional di salah satu cabang usaha keluarga.

Mas Rama tidak menyangka aku akan bertindak begitu cepat. Selama tujuh tahun menikah, ia menganggapku perempuan yang terlalu sibuk bekerja dan selalu mengalah. Ia tidak pernah memahami bahwa diam bukan berarti lemah.

Dua minggu kemudian, Mas Rama pindah ke sebuah rumah kontrakan bersama Mbak Arni. Awalnya, mereka masih terlihat mesra. Foto-foto mereka tersebar di media sosial melalui akun teman-teman Mbak Arni. Mereka makan di restoran, membeli perlengkapan bayi, bahkan mulai membicarakan pernikahan.

Namun, kehidupan tanpa fasilitas dariku ternyata tidak seindah yang mereka bayangkan.

Restoran Mas Rama mulai kehilangan pemasok karena ia tidak mampu melunasi utang. Mobilnya ditarik kembali oleh perusahaan. Tabungannya terkuras untuk membayar kontrakan dan kebutuhan sehari-hari.

Mbak Arni yang terbiasa hidup nyaman di rumahku mulai sering mengeluh.

“Aku tidak bisa tinggal di tempat sempit seperti ini,” katanya suatu malam, seperti yang diceritakan tetangga mereka kepada Mama. “Kamar mandinya bahkan bocor.”

“Kita harus bersabar,” jawab Mas Rama.

“Kamu dulu bilang setelah menikah denganku, kita akan hidup lebih bahagia.”

“Aku tidak tahu Tasya akan mengambil semuanya.”

“Kamu bilang bisnis itu milikmu.”

“Secara operasional memang aku yang menjalankan.”

“Tapi secara hukum bukan milikmu.”

Pertengkaran mereka semakin sering terjadi.

Sementara itu, aku berusaha membangun kembali hidupku. Tidak mudah menjelaskan kepada Cira mengapa ayahnya tidak lagi tinggal bersama kami. Setiap malam ia masih meminta dibacakan cerita melalui panggilan video bersama Mas Rama.

Aku tidak pernah melarangnya. Apa pun kesalahannya sebagai suami, Mas Rama tetap ayah Cira. Aku tidak ingin putriku tumbuh dengan kebencian yang kutanam sendiri.

Suatu sore, setelah sidang perceraian pertama, Mbak Arni menungguku di parkiran pengadilan.

Tubuhnya terlihat lebih kurus. Perutnya belum terlalu besar, tetapi wajahnya tampak pucat.

“Sya, aku ingin bicara.”

“Apa lagi?”

Ia menunduk.

“Mas Rama berubah. Dia sering marah. Dia menyalahkanku karena kehilanganmu dan pekerjaannya.”

“Itu bukan urusanku.”

“Aku tahu. Tapi aku tidak punya tempat lain.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Setelah merebut suamiku, sekarang kamu datang meminta pertolongan?”

“Aku tidak merebutnya. Dia yang pertama mendekatiku.”

“Dan kamu menerimanya.”

Mbak Arni menangis.

“Aku memang salah. Tapi saat itu aku merasa tidak punya siapa-siapa. Setelah Mas Aldi meninggal, semua orang kembali menjalani hidup masing-masing. Hanya Mas Rama yang sering menanyakan kabarku.”

“Jadi perhatian suamiku memberimu hak untuk mengkhianatiku?”

Ia tidak menjawab.

Aku hendak pergi, tetapi ia tiba-tiba memegang tanganku.

“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

Aku berhenti.

“Mengenai kehamilanku.”

Dadaku berdebar.

“Apa?”

“Mas Rama bukan satu-satunya kemungkinan ayah dari bayi ini.”

Aku menatapnya tajam.

“Apa maksudmu?”

Sebelum ia menjawab, suara motor terdengar dari belakang. Seorang pria muda berhenti beberapa meter dari kami. Wajahnya tidak asing. Aku pernah melihatnya di pemakaman Mas Aldi dua tahun lalu.

Namanya Dimas, sepupu jauh Mbak Arni.

Mbak Arni segera melepaskan tanganku.

“Aku harus pergi.”

Namun, aku menahannya.

“Jelaskan sekarang.”

Dimas turun dari motornya.

“Arni, kita tidak bisa terus menyembunyikan ini.”

Wajah Mbak Arni memucat.

Dimas kemudian menatapku.

“Sebelum dekat dengan Mas Rama, Arni sudah menjalin hubungan denganku. Kami pernah berniat menikah, tetapi keluarga menolak karena hubungan kami dianggap terlalu dekat.”

Aku merasa kepalaku berputar.

“Jadi bayi itu mungkin anakmu?”

Dimas mengangguk.

“Aku meminta tes DNA setelah bayi lahir. Tapi Arni menolak karena Mas Rama menjanjikan kehidupan yang lebih baik.”

Aku menatap Mbak Arni.

“Kamu menggunakan kehamilan ini untuk memaksa Mas Rama menikahimu?”

“Aku panik, Sya. Aku tidak tahu harus bagaimana.”

“Lalu kenapa sekarang kamu mengatakannya?”

Air matanya jatuh semakin deras.

“Karena Mas Rama sudah tahu.”

Ternyata seminggu sebelumnya, Mas Rama menemukan percakapan lama antara Mbak Arni dan Dimas. Ia marah besar dan menuduh Mbak Arni menjebaknya. Sejak saat itu, hubungan mereka berubah menjadi pertengkaran tanpa akhir.

Aku tidak merasakan kepuasan. Hanya kehampaan.

Mereka saling mengkhianati, sama seperti mereka pernah mengkhianatiku.

Tiga bulan kemudian, perceraian kami resmi diputuskan. Hak asuh utama Cira berada padaku, sementara Mas Rama mendapat jadwal kunjungan setiap akhir pekan.

Pada hari putusan, Mas Rama menghampiriku di lorong pengadilan.

Ia terlihat jauh lebih tua. Matanya cekung, kemejanya kusut.

“Sya, aku ingin minta maaf.”

“Kamu sudah sering mengatakannya.”

“Tapi kali ini aku tidak meminta kita kembali bersama. Aku tahu aku tidak pantas.”

Aku terdiam.

“Bayi Arni bukan anakku,” lanjutnya. “Hasil tes DNA prenatal sudah keluar.”

Aku tidak terkejut.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku meninggalkannya.”

Aku menatapnya dingin.

“Seperti dulu kamu berniat meninggalkannya ketika kupaksa bertanggung jawab?”

Mas Rama menunduk.

“Aku baru sadar selama ini aku selalu menyalahkan orang lain. Aku menyalahkan kesibukanmu, kesepian Arni, keadaan ekonomi, bahkan godaan. Padahal aku sendiri yang memilih mengkhianatimu.”

Untuk pertama kalinya, aku mendengar pengakuan tanpa alasan.

Namun, penyesalan tidak selalu berarti kesempatan kedua.

“Aku memaafkanmu, Mas.”

Matanya terangkat penuh harapan.

“Tapi aku tidak akan kembali.”

Harapan itu perlahan padam.

“Aku mengerti.”

Beberapa bulan kemudian, Mbak Arni melahirkan seorang bayi laki-laki. Dimas akhirnya mengakui anak itu dan menikahinya secara sederhana. Aku tidak menghadiri pernikahan mereka, tetapi aku mengirim perlengkapan bayi tanpa nama pengirim.

Bukan karena aku melupakan pengkhianatannya. Aku hanya tidak ingin seorang anak menanggung dosa orang dewasa.

Mas Rama memulai hidup dari awal. Ia bekerja sebagai manajer di sebuah warung makan kecil milik temannya. Setiap akhir pekan ia datang menjemput Cira dengan sepeda motor sederhana. Tidak ada lagi mobil mewah, jam mahal, atau pakaian bermerek.

Suatu hari, Cira pulang membawa sebuah kotak kecil.

“Ayah membuat ini untuk Bunda.”

Di dalamnya terdapat sebuah album berisi foto-foto keluarga kami sejak Cira lahir. Pada halaman terakhir, Mas Rama menulis satu kalimat.

Aku kehilangan keluargaku bukan karena kurang cinta, tetapi karena tidak tahu cara menghargai cinta yang sudah kumiliki.

Aku menutup album itu perlahan.

“Bunda sedih?” tanya Cira.

Aku tersenyum dan memeluknya.

“Tidak, Sayang. Bunda hanya sedang mengingat sebuah pelajaran.”

“Apa pelajarannya?”

Aku menatap wajah polos putriku.

“Bahwa memaafkan seseorang tidak selalu berarti kita harus menerimanya kembali. Kadang, memaafkan adalah cara agar kita bisa berjalan maju tanpa membawa luka.”

Cira mungkin belum sepenuhnya memahami kalimatku. Namun, ia tersenyum lalu memelukku lebih erat.

Di luar jendela, matahari sore menyinari taman. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tidak lagi merasa kehilangan.

Aku memang kehilangan seorang suami.

Namun, dari kehancuran itu, aku menemukan kembali diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang